NovelToon NovelToon
GIGOLO TAMPAN ITU TERNYATA ORANG TERKAYA DI MEXICO

GIGOLO TAMPAN ITU TERNYATA ORANG TERKAYA DI MEXICO

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta Seiring Waktu / Romansa Fantasi / Tamat
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Moms Celina

Valerie bertemu Mario, pria tampan yang dikiranya gigolo di klub malam. Ia jatuh hati pada sosok sederhana itu, hingga kebenaran terungkap: Mario adalah orang terkaya dan paling berkuasa di Meksiko yang menyamar mencari cinta tulus. Dikhianati oleh kebohongan, Valerie ragu memberi maaf. Di tengah bahaya dan intrik kekuasaan, Mario berjuang membuktikan ketulusannya. Kini, keduanya harus memilih: melepaskan, atau mempertahankan cinta yang lahir dari kesalahpahaman di tengah kemewahan dan risiko nyawa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moms Celina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Di Pusat Segala Pengetahuan

Perjalanan panjang melintasi ruang dan waktu akhirnya membawa Rian dan Lyra ke tujuan terakhir yang paling agung dan misterius: Pusat Galaksi, tempat beradanya Dunia Sentral. Ini adalah peradaban tertua, tercanggih, dan terkuat yang pernah dikenal oleh umat manusia. Di sini, ilmu pengetahuan telah mencapai puncaknya, teknologi menguasai segala aspek kehidupan, dan manusia telah mampu menaklukkan alam, mengendalikan energi, serta menciptakan kenyataan sesuai keinginan mereka sendiri.

Dunia Sentral adalah tempat yang luar biasa indah namun sekaligus menakutkan. Bangunan-bangunannya menjulang tinggi, berkilauan dengan cahaya energi murni yang tak pernah padam. Di sini, tidak ada rasa sakit, tidak ada penyakit, tidak ada kelaparan, dan hampir tidak ada kematian fisik. Segala keinginan dapat terpenuhi seketika dengan bantuan sistem canggih yang terhubung langsung ke pikiran setiap penduduknya. Manusia di sini hidup dalam kemakmuran mutlak, pengetahuan tak terbatas, dan kekuasaan yang hampir setara dewa.

Namun, saat Rian dan Lyra turun dari kapal Valerie & Mario, mereka merasakan sesuatu yang aneh dan mencekam. Di tengah kemegahan dan kesempurnaan itu, udara terasa dingin, hening, dan kosong. Warga Dunia Sentral berjalan dengan gerakan halus dan tepat, wajah mereka tenang dan tanpa ekspresi, seolah-olah mereka sudah tahu segalanya dan tidak ada lagi hal yang bisa mengejutkan atau menggembirakan mereka. Tidak ada tawa lepas, tidak ada percakapan hangat, tidak ada pelukan erat. Semuanya berjalan dengan efisien, sempurna, namun hampa.

Mereka disambut oleh Kepala Penatara Arion, pemimpin tertinggi dan ilmuwan terhebat di dunia ini. Arion adalah sosok yang tampak muda abadi, berpenampilan sangat rapi, dan matanya bersinar cerdas namun jauh dan dingin. Di sebelahnya berdiri para Penatara lain, para penguasa pengetahuan yang memegang kunci segala rahasia alam semesta.

"Selamat datang di puncak peradaban manusia," sapa Arion dengan suara yang lembut namun tanpa nada perasaan. "Kami sudah memantau perjalanan kalian sejak lama. Kami tahu pesan yang kalian bawa: kisah tentang hati, tentang perasaan, tentang pencarian makna, dan tentang nilai manusia. Jujur saja, bagi kami yang hidup di sini, pesan-pesan itu terdengar indah namun... sederhana, primitif, dan tidak lagi relevan."

Arion berjalan di depan, mempersilakan mereka berkeliling.

"Lihatlah sekelilingmu," lanjut Arion sambil menunjuk ke arah gedung-gedung megah dan layar-layar cahaya raksasa yang menampilkan segala pengetahuan alam semesta. "Kami sudah memecahkan segala misteri kehidupan. Kami sudah mengatasi segala penderitaan. Kami sudah memiliki segalanya yang pernah dicita-citakan manusia sejak awal sejarah. Kami tidak lagi berjuang, kami tidak lagi kekurangan, kami tidak lagi takut. Kami hidup dalam kesempurnaan abadi. Lalu, untuk apa kami membutuhkan ajaran tentang 'kekayaan hati' atau 'cinta sejati'? Kami sudah sempurna, kami sudah lengkap."

Lyra mengamati sekeliling dengan hati-hati. Sebagai ilmuwan, ia kagum dengan pencapaian mereka. Tapi sebagai manusia, ia merasakan kekosongan yang mengerikan di sana. Ia melihat dua orang bertemu, mereka saling tahu segalanya tentang satu sama lain lewat akses data instan, lalu berpisah tanpa menukar satu kata pun. Ia melihat taman-taman indah yang dibuat sempurna, namun tidak ada yang duduk menikmatinya. Ia melihat bahwa di sini, manusia telah menjadi seperti mesin yang sangat cerdas, canggih, dan kuat, namun kehilangan jiwanya.

"Kepala Penatara Arion," sapa Rian pelan namun tegas, suaranya bergema di lorong cahaya itu. "Kalian memang telah mencapai puncak kekuasaan dan pengetahuan. Kalian telah menaklukkan alam semesta di luar dirian kalian. Tapi... apakah kalian sudah menaklukkan alam semesta di dalam diri kalian sendiri?"

Arion berhenti melangkah, menoleh dengan sedikit kerutan kening. "Maksudmu?"

"Kalian tahu segalanya tentang bintang, tentang energi, tentang materi," jawab Rian. "Tapi apakah kalian masih tahu apa rasanya rindu? Apa rasanya berharap? Apa rasanya bangga karena telah berjuang? Apa rasanya bahagia sederhana karena hal kecil? Kalian menghapus rasa sakit, tapi bersamaan dengan itu, apakah kalian tidak juga menghapus rasa senang yang mendalam? Kalian menghapus kekurangan, tapi apakah kalian tidak juga menghapus rasa syukur?"

Arion terdiam. Untuk pertama kalinya, ada keraguan yang muncul di matanya. Pertanyaan itu belum pernah diajukan kepadanya selama ribuan tahun hidupnya di dunia yang sempurna ini.

"Di sini," Rian melanjutkan, matanya menatap tajam namun penuh kasih sayang ke arah para Penatara yang berkumpul mendengarkan, "kalian memiliki segalanya dalam genggaman. Kalian bisa mendapatkan apa saja dalam sekejap. Kalian tahu apa yang akan terjadi sebelum itu terjadi. Dan karena itu... kalian kehilangan satu hal yang paling berharga dalam kehidupan: Kejutan. Kalian kehilangan pengharapan. Kalian kehilangan perjalanan."

Rian mengangkat tangannya, membiarkan cahaya-cahaya indah dunia itu memantul di wajahnya.

"Dulu, di Bumi, ada seorang pria bernama Mario Whashington. Beliau adalah orang yang paling beruntung dan paling sial sekaligus. Beruntung karena beliau memiliki segalanya. Sial karena saat beliau memiliki segalanya, beliau merasa hidupnya tidak berarti. Beliau merasa hidupnya seperti buku yang sudah dibaca sampai habis, tidak ada lagi halaman baru, tidak ada lagi kejutan, tidak ada lagi rasa ingin tahu. Persis seperti apa yang kalian rasakan di sini sekarang, meski kalian mungkin tidak menyadarinya."

"Beliau melepas kekayaannya bukan karena harta itu buruk, tapi karena harta itu membuatnya kehilangan proses menjadi manusia. Beliau menjadi miskin, berjuang, bekerja keras, tidak tahu apa yang akan terjadi esok hari... dan di dalam ketidaktahuan, di dalam perjuangan, di dalam keterbatasan itu, beliau menemukan kembali rasa hidup yang nyata."

Rian berhenti sejenak, lalu mengucapkan kata-kata yang menyentuh lubuk hati terdalam mereka.

"Kalian di sini sudah terlalu sempurna. Kalian sudah terlalu kuat, terlalu tahu, terlalu lengkap. Kalian sudah menjadi dewa bagi alam semesta materi. Tapi kalian lupa satu kebenaran abadi yang paling sederhana: Nilai dari sesuatu tidak ada pada kesempurnaannya, tapi ada pada perjalanan untuk mencapainya."

"Keindahan sebuah bintang bukan karena ia selalu ada dan selalu bersinar. Keindahannya ada pada perjalanan pembentukannya yang panjang, panas, dan dahsyat. Keindahan sebuah lukisan bukan karena warnanya indah saja, tapi karena ada keringat, perasaan, dan waktu yang dicurahkan pelukisnya di sana. Dan keindahan hidup manusia... tidak ada pada keadaan akhirnya yang sempurna, tapi ada pada perjalanan panjangnya yang penuh naik turun, suka duka, bertemu perpisahan, kalah menang, mencari dan menemukan."

Arion dan para Penatara saling pandang. Kata-kata itu merobek tabir kesempurnaan yang selama ini mereka bangga-banggakan. Mereka sadar, selama ribuan tahun, mereka hidup abadi dalam keadaan yang sama: nyaman, aman, tahu segalanya, namun hampa. Tidak ada yang benar-benar berharga bagi mereka karena semuanya bisa didapatkan dengan begitu mudah dan instan. Tidak ada kenangan yang mendalam karena tidak ada kesulitan yang harus dihadapi. Tidak ada ikatan yang kuat karena tidak ada ketergantungan atau kebutuhan satu sama lain.

"Kalian bertanya untuk apa pesan Mario dibawa ke sini?" lanjut Rian, suaranya melembut namun penuh wibawa. "Pesan ini adalah obat untuk penyakit kesempurnaan. Mario mengajarkan kami: Keterbatasan, perjuangan, dan waktu... adalah bahan baku keindahan dan makna hidup."

"Kalian ingin tahu kenapa Mario yang pernah menjadi orang terkaya dan paling berkuasa itu akhirnya jauh lebih bahagia, lebih berarti, dan lebih agung daripada kalian yang memiliki segalanya di sini? Karena Mario pernah melepas segalanya, pernah berjuang mendapatkan kembali segalanya lewat jalan yang sulit, dan akhirnya memahami nilai dari setiap detik, setiap rasa, dan setiap pertemuan dalam hidupnya. Bagi Mario, setiap nafas adalah anugerah, setiap pertemuan adalah kejutan, dan setiap pencapaian adalah kemenangan besar."

Lyra melangkah maju, menambahkan dengan kebijaksanaan logisnya yang mendalam.

"Kalian menciptakan surga materi, Penatara Arion. Tapi tanpa rasa kurang, tanpa rasa ingin tahu, tanpa perjuangan, dan tanpa ketidaktahuan akan masa depan... surga itu perlahan berubah menjadi neraka kebosanan dan kekosongan. Mario mengajarkan kami bahwa kekayaan sejati bukanlah memiliki segalanya, tapi memiliki rasa menghargai terhadap apa pun yang ada."

Keheningan yang panjang dan dalam menyelimuti seluruh ruangan luas itu. Perlahan, air mata — sesuatu yang sudah lama hilang dari wajah-wajah di Dunia Sentral — mulai menetes dari mata Arion. Ia mengerti sekarang. Ia mengerti mengapa rasa hidupnya perlahan hilang meski ia memiliki kekuatan dewa. Ia mengerti mengapa peradaban terkuat ini perlahan berhenti berkembang dan mulai layu, bukan karena kalah perang atau kekurangan sumber daya, tapi karena kekurangan makna.

"Kalian benar," ucap Arion dengan suara bergetar, suara yang terdengar lebih manusiawi dan hidup daripada sebelumnya. "Kami sudah menangkap segala bintang, tapi kami kehilangan keajaiban memandanginya. Kami sudah menguasai waktu, tapi kami kehilangan rasa menghargainya. Kami sudah menjadi dewa, tapi kami lupa rasanya menjadi manusia yang sedang berjalan dan mencari."

Arion berjalan mendekati Rian, menundukkan kepalanya sebagai tanda penghormatan tertinggi.

"Warisan Mario Whashington bukanlah pelajaran masa lalu, bukan pula dongeng sederhana. Itu adalah kebenaran terakhir yang melengkapi pengetahuan kami. Kami tahu cara mengatur alam semesta, tapi kami lupa cara mengatur rasa hati kami sendiri. Beliau mengajarkan kami: Bahwa untuk menjadi kaya dan bahagia, kita tidak harus selalu menambah apa yang kita punya, tapi cukup dengan menambah rasa menghargai atas apa yang ada."

Sore itu, di dunia yang paling canggih dan sempurna itu, terjadi perubahan besar yang tak terbayangkan. Para Penatara memutuskan untuk tidak lagi hidup dalam kenyamanan mutlak dan pengetahuan instan. Mereka mulai kembali merasakan proses hidup. Mereka mulai berinteraksi, berbagi cerita, menciptakan hal-hal baru dengan usaha sendiri, dan merasakan kebahagiaan yang murni karena rasa syukur dan penghargaan. Dunia Sentral yang dingin dan kaku itu kini berubah menjadi tempat yang hangat, hidup, dan penuh makna. Kekuasaan mereka tetap besar, pengetahuan mereka tetap luas, namun kini mereka tahu cara menggunakannya dengan hati, dengan rasa, dan dengan keindahan.

 

Malam itu, Rian dan Lyra berdiri di atap bangunan tertinggi di Dunia Sentral, memandangi seluruh alam semesta yang terbentang luas di bawah mereka. Misi mereka telah selesai sepenuhnya.

"Kita sudah menyampaikan pesan itu ke segala sisi," ucap Rian pelan, suaranya penuh kepuasan mendalam.

"Ke Bumi yang kaya raya: Jangan sampai harta menguasaimu, hiduplah dengan hati.

"Ke Nova yang sedang membangun: Bekerjalah keras, tapi ingat nilai aslimu ada di dalam diri.

"Ke Zona yang serba kekurangan: Bersyukurlah dan hargai sedikit yang ada, karena di situlah kekayaan sejati.

"Dan ke Dunia Sentral yang sudah sempurna: Hidupkan kembali rasa perjalanan dan penghargaan, karena di situlah letak keindahan hidup."

Lyra mengangguk, matanya berkaca-kaca menatap bintang-bintang yang berkelip indah.

"Kisah Mario yang dimulai dari satu langkah nekat masuk ke Vela Nera, kini telah menjadi hukum kehidupan bagi seluruh umat manusia di seluruh penjuru alam semesta. Beliau tidak hanya mengubah satu kota, satu negara, atau satu planet. Beliau mengubah cara pandang seluruh manusia tentang apa itu kekayaan, apa itu cinta, dan apa itu kebahagiaan sejati."

Rian merangkul bahu rekannya itu dengan erat.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!