Aletha merupahan remaja yang sangat senang akan dunia malam. Ia juga merupakan anak konglomerat yang terkenal di kota Metropolitan. Tapi kini dirinya harus di hadapkan dengan perjanjian kontrak dengan Danny yang sepertinya menguntungkan? atau malah merugikan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mooniecaa_moon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kamar Hotel—25
Gema tepuk tangan, dentingan gelas kristal, dan kilatan lampu jepretan media akhirnya memudar seiring berjalannya malam. Satu per satu tamu undangan penting dari kalangan pejabat dan konglomerat mulai meninggalkan Grand Pagoda Mega Bintang. Di area lobi privat, keluarga besar mereka berkumpul untuk berpamitan.
Amara memeluk Aletha dengan sangat erat, menyalurkan rasa bahagianya yang meluap-luap, diikuti oleh Cassandra yang sempat membisikkan godaan kecil di telinga Aletha sebelum berjalan menjauh. Pak Adinata dan Om Pramoedya berdiri berdampingan, menatap Aletha dengan pandangan yang jauh lebih tenang dibandingkan beberapa hari lalu.
"Danny, jaga putriku," ucap Pak Adinata pendek sembari menjabat tangan calon menantunya dengan remasan yang kuat. Danny mengangguk tegas, mengunci janji itu dalam sebuah tatapan mata yang tidak ragu sedikit pun. Setelah semua orang tua dan kerabat memastikan diri masuk ke dalam mobil jemputan masing-masing, atmosfer megah yang melelahkan itu akhirnya resmi berakhir.
Danny dan Aletha tidak pulang ke penthouse maupun mansion. Demi kepraktisan setelah acara yang menguras energi hingga tengah malam, mereka memilih untuk langsung naik ke lantai teratas hotel, menuju kamar Presidential Suite mewah yang sudah dipesan khusus atas nama Danny.
Cklek.
Pintu kayu jati tebal kamar tertutup rapat, otomatis mengunci dengan bunyi klik. Begitu menyadari bahwa tidak ada lagi kamera media, tidak ada lagi pelayan, dan tidak ada lagi mata yang mengawasi, Aletha langsung mengembuskan napas panjang yang sudah ia tahan sejak sore. Topeng keanggunannya menguap begitu saja di udara.
Tanpa membuang waktu, Aletha berjalan menuju area tengah kamar yang dilapisi karpet bulu tebal. Kepalanya terasa pening oleh sanggul modern yang menjepit rambutnya, dan tubuhnya terasa sangat terkekang oleh kain sutra tafeta dari gaun ballgown maroon megah yang melekat erat di tubuhnya sejak berjam-jam lalu. Suhu AC kamar yang dingin seolah tidak mampu meredam rasa gerah yang membakar kulitnya akibat terlalu lama berdiri di bawah sorotan lampu panggung yang panas.
"Sialan, ini baju berat banget," gerutu Aletha kesal.
Dengan gerakan yang sangat santai dan tanpa beban, tangan lentik Aletha bergerak ke belakang punggungnya. Ia menurunkan ritsleting panjang gaunnya dengan sekali tarikan kasar. Kain mahal itu melonggar seketika. Tanpa ragu, Aletha melangkah mundur, membiarkan gaun maroon seharga ratusan juta itu merosot jatuh begitu saja ke atas lantai, menumpuk seperti kain usang di dekat kakinya.
Di balik gaun megah itu, Aletha kini hanya mengenakan celana dalam tipis berenda hitam dan bra tempel silikon yang melekat di dadanya. Kulitnya yang putih bersih langsung terekspos bebas di bawah temaramnya lampu kamar. Ia meregangkan kedua tangannya ke atas, mengabaikan fakta bahwa dirinya saat ini nyaris telanjang bulat di depan seorang pria.
Danny yang baru saja melepas kancing tuksedo hitamnya dan hendak menaruh jam tangan di atas meja nakas, seketika menghentikan gerakannya. Sepasang mata elangnya melebar sempurna. Pria kaku yang biasanya selalu mengontrol ekspresi wajahnya itu membeku di tempat, memandangi siluet tubuh Aletha yang terpampang nyata tanpa sensor di depannya. Jantung Danny memberikan dentukan keras yang tak terduga, membuat tenggorokannya mendadak terasa kering dalam hitungan detik.
Aletha yang menyadari perubahan ekspresi Danny justru menoleh. Ia menatap samping wajah tegas sang CEO, lalu mendengus geli melihat bagaimana pria jangkung itu mematung dengan pandangan yang kaku.
"Lo mikirin apa sih? Udahlah, biasa aja. Lagian juga gue gerah banget, Dan," ucap Aletha dengan nada suara yang teramat santai, seolah-olah bertelanjang di depan seorang pria asing adalah rutinitas hariannya. Ia berjalan melewati Danny begitu saja menuju meja rias untuk mencopot jepitan rambutnya, sama sekali tidak berniat menutupi tubuhnya dengan handuk atau jubah mandi.
Mendengar teguran santai dari Aletha, Danny menarik napas dalam-dalam, memaksa detak jantungnya kembali ke ritme normal. Pria itu berdeham pendek, lalu memalingkan wajahnya sejenak untuk menaruh jas tuksedonya ke gantungan. Di balik kekagetannya yang sempat mendominasi, akal sehat Danny dengan cepat mengambil alih. Dia tahu Aletha bukan gadis biasa yang bisa ditebak dengan norma-norma umum—gadis ini adalah perpaduan antara kepolosan yang nekat dan manipulasi yang berani.
"Gue cuma kaget lo gak punya urat malu sama sekali," sahut Danny dengan nada datar yang dibuat sebiasa mungkin, meski ekor matanya tidak bisa berbohong untuk tidak melirik garis pinggang lentik Aletha yang sedang sibuk mengurai rambutnya hingga tergerai jatuh ke bahu.
Danny berjalan menuju sofa panjang di dekat jendela besar yang menampilkan gemerlap lampu malam Jakarta dari ketinggian lantai 42. Ia melonggarkan dasi kupu-kupunya, lalu mendudukkan diri di sana dengan melipat satu kakinya di atas lutut. Pandangannya kini berubah, tidak lagi dipenuhi oleh keterkejutan, melainkan kembali menjadi sorot mata tajam seorang penguasa yang sedang memikirkan hal serius.
"Aletha," panggil Danny, memecah kesunyian suara gemerisik perhiasan yang dilepas Aletha di meja rias.
"Apa?" sahut Aletha tanpa berbalik, matanya fokus menatap pantulan dirinya sendiri di cermin yang kini sedang membersihkan sisa riasan wajah dengan kapas kosmetik.
"Soal ucapan gue di panggung tadi..." Danny menjeda kalimatnya, memperbaiki posisi duduknya hingga bersandar penuh pada sandaran sofa. "Gue gak main-main. Gue berniat buat mulai menyelidiki kasus kematian mama lo. Gimana? Lo keberatan?"
Gerakan tangan Aletha yang sedang mengusap pipinya seketika terhenti. Kapas di jemarinya tertahan di udara. Perlahan, Aletha membalikkan tubuhnya, menghadap langsung ke arah Danny yang sedang menatapnya dari seberang ruangan. Rambutnya yang acak-acakan dan tubuhnya yang hanya dibalut bra tempel serta celana dalam tidak lagi menjadi fokus utama—atmosfer di dalam kamar itu mendadak berubah menjadi sangat dingin.
Aletha menatap lekat-lekat ke dalam manik mata elang Danny, mencari tahu apakah ada kebohongan atau sekadar basa-basi bisnis di sana. Namun, yang ia temukan hanyalah kegelapan dan keseriusan mutlak. Pria ini beneran ingin membuka kotak pandora yang selama ini ditakuti oleh ayahnya sendiri.
Sebuah senyuman tipis, kali ini tanpa ada unsur manipulasi atau kepalsuan, perlahan terukir di bibir ranum Aletha. Ada rasa lega dan binar kebahagiaan yang samar yang menyusup ke dalam sepasang mata-nya. Selama dua tahun ini, dia berjuang sendirian di antara sunyi, berteriak pada ombak yang tidak pernah memberi jawaban. Dan sekarang, pria kaku di depannya ini menawarkan diri untuk menjadi senjatanya mencari keadilan.
"Gue sama sekali gak keberatan, Dan," jawab Aletha, suaranya mengalun rendah namun terdengar sangat jelas. Ia berjalan mendekati sofa tempat Danny duduk, langkah kakinya yang tanpa alas kaki tidak bersuara di atas karpet.
Aletha berdiri tepat di depan Danny, melipat kedua tangannya di depan dada, membiarkan dirinya ditatap secara utuh oleh sang CEO. "Lagian... gue justru senang kalau lo mau ikut campur dalam hal ini. Selama ini Papa selalu bilang kalau ini percuma dan buang-buang waktu karena takut hancur. Tapi gue... gue butuh jawaban, Dan. Gue butuh tahu siapa bajingan yang udah berani ledakin kapal selam Mama di palung itu."
Danny mendongak, menatap lurus ke arah Aletha yang berdiri sangat dekat di depannya. Jarak yang minim membuat Danny bisa merasakan kebulatan tekad dan sisa-sisa dendam yang membakar jiwa gadis di hadapannya.
"Oke," sahut Danny rendah, sebuah janji tersirat kembali diucapkan. "Tim intelijen Dirgantara Group di Eropa udah mulai membuka berkas lama itu secara rahasia sejak dua hari lalu. Siapa pun rekan bisnis bokap lo yang bermain di belakang layar... gue bakal mastiin mereka dapet balasan yang setimpal."
Aletha terkekeh pelan, lalu mendudukkan dirinya di ujung sofa yang sama dengan Danny, meluruskan kakinya yang jenjang tanpa canggung sedikit pun. "Gue pegang omongan lo. Jangan sampai di tengah jalan lo malah angkat tangan karena musuh kita ternyata lebih kotor dari yang lo bayangin."
"Lo meragukan kemampuan gue?" tanya Danny dengan seringai tipisnya yang menawan, menaikkan sebelah alisnya menantang.
"Gak juga sih. Tapi setidaknya... malam ini gue tahu kalau kontrak nikah kita gak se-merugikan itu buat gue," balas Aletha santai sembari menyandarkan kepalanya di bantalan sofa, menatap langit-langit kamar dengan perasaan yang jauh lebih ringan dari hari-hari sebelumnya.
Di dalam kamar yang mewah itu, malam terus berjalan membawa mereka masuk ke dalam pusaran rencana baru. Di balik pakaian mereka yang minimalis dan pembicaraan yang kaku, benang tak kasat mata di antara Danny dan Aletha kini telah terikat mati—bukan lagi karena perjodohan atau taruhan kampus, melainkan karena sebuah misi balas dendam yang siap mereka selesaikan bersama di atas papan catur Jakarta.