Wu Xuan telah mencapai puncak alam surgawi dan hanya selangkah lagi naik ke alam dewa. Namun saat ia mencoba kembali ke Bumi demi menebus hutang karma kepada kedua orang tuanya, tubuh fananya justru terhempas ke tengah badai kehampaan dimensi.
Dan ketika ia membuka matanya kembali…
Bumi yang ia kenal telah berubah menjadi dunia dungeon dan para hunter.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EGGY ARIYA WINANDA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cawan Anggur dan Panggilan Nasional
Beberapa jam telah berlalu sejak keajaiban penyembuhan Bu Yue di ruang medis bawah tanah.
Di lantai teratas menara utama Wu Imperial Guild, di dalam sebuah suite pribadi yang dirancang dengan kemewahan aristokrat yang kaku dan minim cahaya, Wu Xuan duduk di atas sofa kulit hitam. Kemejanya sedikit terbuka di bagian kerah, membiarkan udara malam Shanghai menyapu kulitnya.
Di atas meja kaca di depannya, tergeletak sebuah tablet holografik yang memancarkan pendar merah tanda urgensi tingkat tinggi.
Itu adalah sebuah dekrit. Sebuah 'Panggilan Nasional' yang diterbitkan oleh dewan tertinggi Asosiasi Hunter Pusat di ibukota. Isi dokumen itu sangat formal, dihiasi dengan stempel-stempel otoritas yang mengatasnamakan keselamatan dunia. Mereka "mengundang" Wu Xuan, sang pewaris yang baru kembali, untuk datang ke markas besar Asosiasi dan melakukan serangkaian tes, evaluasi bakat, serta pelaporan kondisinya. Semua itu dibalut dengan kalimat manis: Untuk kepentingan dan masa depan umat manusia.
Membaca deretan kalimat hipokrit tersebut, sebuah senyum tipis perlahan mengembang di bibir Wu Xuan. Senyum itu tenang, sunyi, namun memancarkan aura arogansi yang sangat mematikan.
"Kepentingan umat manusia," gumam Wu Xuan di dalam kesunyian pikirannya, sebuah tawa sarkastis bergema di benaknya. "Alasan rendahan ini tidak pernah berubah. Ketika sekumpulan penguasa tua melihat sebuah kejanggalan yang tidak bisa mereka pahami, mereka tidak akan membiarkannya bebas. Mereka akan mencoba mengurungnya dengan dalih keselamatan bersama, menganalisisnya, lalu menjadikannya senjata atau menghancurkannya jika tak bisa dikendalikan."
Wu Xuan mematikan layar holografik itu dengan satu jentikan jari yang malas.
Ia tidak peduli pada Asosiasi. Ia tidak peduli pada dewan tertinggi, maupun para pahlawan yang mengklaim diri mereka sebagai pelindung bumi. Bagi seorang Dao Agung, dunia kecil seperti bumi tidak lebih dari debu di ujung sepatu.
Wu Xuan lalu bangkit berdiri. Langkah kakinya yang tanpa suara membawanya keluar dari suite pribadi, menyusuri koridor marmer menuju ruang keluarga utama tempat kedua orang tuanya berada.
Pintu bergeser terbuka. Di dalam ruangan luas yang dihiasi oleh foto-foto Wu Xuan dari bayi hingga perguruan tinggi.
Wu Jiang dan Wu Yuena sedang duduk berdampingan. Keduanya tampak sedang berdiskusi dengan nada rendah, raut wajah mereka dipenuhi ketegangan setelah mendengar peringatan Wu Xuan tentang 'Dewa Luar' di dalam elevator tadi.
Melihat putra mereka masuk, sepasang pilar umat manusia itu seketika menghentikan pembicaraan mereka. Sorot mata mereka melembut.
"Xuan'er, apa kau sudah istirahat? Kau harus—" Yuena memulai dengan nada keibuan yang cemas.
"Aku baik-baik saja, Ma," potong Wu Xuan dengan nada lembut, tersenyum kecil untuk menenangkan ibunya.
Ia berjalan mendekat, lalu duduk di kursi tunggal di seberang kedua orang tuanya. Ada sebuah pertanyaan yang sejak tadi menahan laju logikanya. Sebuah detail dari masa lalu yang belum ia lihat sejak ia membuka mata di dunia ini. Keluarganya adalah keluarga besar, namun sejak ia siuman, ia hanya melihat ayah dan ibunya.
Wu Xuan menatap lurus ke arah ayahnya. "Pa, Ma. Di mana Kakek?"
Pertanyaan itu diajukan dengan nada yang sangat biasa, tenang, layaknya seorang cucu yang menanyakan keberadaan kakeknya yang mungkin sedang pergi berlibur atau mengurus bisnis.
Namun, efek dari pertanyaan itu sangat menghancurkan.
Seketika, suhu di dalam ruangan itu terasa anjlok. Bukan karena aura es milik Wu Jiang, melainkan karena kesedihan yang tiba-tiba menimpa mereka. Wu Jiang membeku. Otot-otot di rahang pria raksasa itu menegang hebat. Wu Yuena menundukkan kepalanya, tangannya secara refleks mencengkeram lututnya sendiri, menghindari tatapan putranya.
Melihat reaksi itu, kemampuan analisis Wu Xuan mendadak berhenti berputar. Sebuah hawa dingin yang jauh lebih menusuk dari es mana pun di dunia ini merayap naik ke tulang punggungnya.
"Pa...?" suara Wu Xuan merendah, menuntut kepastian dari kebisuan tersebut.
Wu Jiang menarik napas panjang yang terdengar sangat menyakitkan. Sang penguasa yang tak pernah menundukkan kepalanya pada siapapun itu, kini menatap putranya dengan mata yang memerah.
"Kakekmu... sudah meninggal, Xuan'er," ucap Wu Jiang, suaranya serak dan berat, seolah setiap kata yang keluar mengiris pita suaranya.
Dunia di sekitar Wu Xuan terasa berhenti berdetak.
"Apa...?" bisik Wu Xuan, matanya yang biasa memancarkan kalkulasi tajam kini membelalak kosong.
"Bukan hanya kakekmu," lanjut Wu Jiang, menutup matanya kuat-kuat menahan kepedihan yang kembali menganga. "Paman ketigamu... dan adik sepupumu, Wu Yi. Mereka telah gugur."
Tubuh Wu Xuan bergetar. Untuk pertama kalinya sejak ia terlempar dari alam surgawi, sejak ia menghadapi Mata Merah raksasa di lorong dimensi, sejak ia merajut kembali kesadarannya di dalam tubuh ini... rasa sakit yang sesungguhnya menghantam telak tepat di dadanya.
Itu bukan rasa sakit fisik. Itu adalah karma yang merobek kewarasannya.
Wu Xuan memegangi kepalanya dengan kedua tangan. Jantungnya berdegup liar, memompa darah yang terasa sepanas magma. "Meninggal...? Bagaimana mungkin... kapan?"
Wu Yuena tidak sanggup berbicara, ia hanya terisak dalam diam. Wu Jiang mencondongkan tubuhnya ke depan, menatap putranya dengan rasa bersalah yang tak terhingga.
"Lima belas tahun lalu. Tepat saat bencana turun ke bumi," jelas Wu Jiang dengan nada getir.
Tangan Wu Jiang mengepal erat hingga buku-buku jarinya memutih. "Saat kami menyadari kau hilang... Kakekmu menjadi gila. Dia mengabaikan evakuasi. Dia membawa paman ketigamu, adik sepupumu juga mengikutinya, dan puluhan penjaga pribadi keluarga kita untuk menerobos langsung ke pusat distorsi ruang demi mencarimu. Dia tidak memiliki kekuatan Awakening saat itu, Xuan'er. Dia hanya seorang pria tua yang putus asa mencari cucu kesayangannya. Mereka... mereka dicegat oleh gelombang monster pertama. Tidak ada yang selamat."
BAM.
Wu Xuan merasa seolah sebuah palu godam baru saja menghancurkan tempurung kepalanya.
Napasnya tersengal. Kepingan-kepingan ingatan dari kehidupan masa lalunya, sebelum ia menjadi Dao Agung, tiba-tiba membanjiri pikirannya dengan brutal.
Sebuah bayangan flashback memutar paksa di dalam retinanya.
Aroma teh melati tua dan anggur Baijiu yang khas. Tawa serak namun hangat dari seorang pria tua. Wu Xuan kecil, yang baru berusia lima tahun, tertawa lepas saat ia diangkat tinggi-tinggi dan didudukkan di atas pundak kakeknya yang lebar.
"Lihat ke bawah sana, Xuan'er!" suara kakeknya menggema penuh kebanggaan di aula pertemuan keluarga, mengabaikan tatapan protes dari paman-paman dan sepupu yang lain. "Dunia ini terlalu kecil untuk otakmu yang pintar itu! Kakek akan meratakan semua rintangan, dan kau hanya perlu berjalan di atas karpet merahnya. Ingat, kau adalah kesayangan Kakek. Seluruh keluarga ini harus tunduk padamu!"
Kakeknya adalah sosok yang kejam di dunia luar, seorang kapitalis yang membangun pondasi keluarga dari darah dan intrik. Namun bagi Wu Xuan, pria tua itu adalah sosok yang selalu melindunginya, memanjakannya, dan memberinya cinta yang tidak masuk akal.
Dan pria tua itu mati... karena mencarinya. Karena kelemahan Wu Xuan saat itu yang tak mampu menghindari celah dimensi.
Setetes air yang sangat asing terasa hangat di pelupuk matanya. Wu Xuan menundukkan kepalanya, dan air mata jatuh menetes ke atas karpet tebal di bawahnya.
Sang penakluk alam surgawi itu menangis.
Ia mengusap air mata itu dengan kasar menggunakan punggung tangannya. Rasa duka itu dengan cepat ia telan, ia kompresi, dan ia ubah menjadi sebuah tekad yang lebih gelap dan lebih padat.
Wu Xuan mengangkat wajahnya. Matanya kini tidak lagi memancarkan kedamaian. Di dalam pupil hitam kecoklatan itu, badai sedang berkecamuk.
"Pa," suara Wu Xuan sangat pelan, nyaris seperti bisikan angin musim dingin, namun ketegasannya tak bisa diganggu gugat. "Bawa aku ke makam Kakek."
Satu jam kemudian. Di pinggiran kota Shanghai yang terisolasi.
Langit malam mendung, menurunkan gerimis halus yang membasahi bumi. Di sebuah bukit pribadi yang dijaga ketat oleh ratusan Pengawal, terletak sebuah kompleks pemakaman keluarga Wu. Tempat ini sunyi, gelap, dan memancarkan aura kesedihan yang berat. Angin malam berhembus, membawa aroma tanah basah dan pinus.
Wu Jiang berjalan perlahan di samping putranya, memegang sebuah payung hitam untuk melindungi Wu Xuan dari rintik hujan. Wu Yuena memilih untuk menunggu di dalam mobil, tidak sanggup kembali menghadapi pusara yang selama lima belas tahun menjadi monumen penyesalan keluarganya.
Mereka berhenti di depan sebuah monumen pualam hitam raksasa yang berdiri kokoh di tengah bukit. Di atas batu dingin itu, terukir tiga nama dengan tinta perak yang mengkilap.
Nama kakeknya. Nama paman ketiganya. Dan nama adik sepupunya.
Tidak ada jasad di bawah batu ini. Hanya pakaian yang tersisa dari pembantaian hari itu.
Wu Xuan melangkah maju, keluar dari perlindungan payung ayahnya. Hujan membasahi rambut hitamnya dan kemejanya. Ia menatap lekat pada nama yang terukir di atas pualam itu, membiarkan gerimis menyamarkan air mata yang tertahan di pelupuk matanya.
Wu Jiang dengan diam menyerahkan sebuah kotak kayu berukir naga. Wu Xuan membukanya. Di dalamnya terdapat dupa berkualitas tinggi dan sebotol anggur Baijiu kuno kesukaan kakeknya, minuman keras yang harganya mungkin bisa membeli sebuah kota kecil saat ini.
Dengan gerakan yang sangat tenang dan elegan, Wu Xuan menyalakan tiga batang dupa. Ia menancapkannya ke dalam wadah abu di depan makam. Asap putih tipis membumbung naik, melawan rintik hujan, membawa doa yang tak terucapkan menuju langit.
Kemudian, Wu Xuan membuka sumbat botol anggur tersebut. Aroma tajam yang sangat familiar menguar di udara, memicu kembali ingatan-ingatan masa kecilnya.
Ia memiringkan botol itu, menuangkan separuh dari anggur emas tersebut ke atas tanah yang dingin di depan pusara.
"Maafkan Xuan'er, Kek," suara pemuda itu akhirnya memecah kesunyian malam. Nadanya bergetar tipis, sarat akan penyesalan yang mendalam. "Aku datang terlalu lama... hingga membuatmu harus menyeberang ke alam sana."
Wu Xuan menatap nama kakeknya dengan tatapan yang sangat kosong namun tajam.
"Aku tahu, Kakek pasti memaksakan diri. Kakek pasti mengumpat dan memaki semua orang yang mencoba menahanmu hari itu. Kakek menerobos neraka hanya untuk mencari cucu bodoh ini, bukan?" sebuah senyum getir dan pedih terukir di wajah Wu Xuan. "Kakek selalu begitu. Keras kepala. Arogan. Dan selalu merasa bisa melindungiku."
Angin berhembus semakin kencang, seolah merespons kata-kata sang cucu. Wu Jiang memalingkan wajahnya, rahangnya mengeras menahan kepedihan yang kembali mengoyak hatinya.
Wu Xuan mengangkat sisa botol anggur itu ke bibirnya. Ia menenggak minuman keras yang membakar tenggorokannya itu dalam satu tarikan napas, membiarkan sensasi perihnya menjalar ke seluruh tubuhnya yang masih lemah.
Ia tidak batuk. Ia hanya menundukkan wajahnya, membiarkan hujan membasuh wajahnya.
Bagi umat manusia di dunia ini, kematian adalah batas akhir. Tidak ada hunter tingkat yang bisa melawan kehendak kematian. Kematian adalah garis mutlak yang tidak bisa dilompati.
Namun, Wu Xuan bukanlah manusia dari tatanan dunia ini. Ia adalah sang Dao Agung. Eksistensi yang pernah merobek hukum kausalitas dan memutarbalikkan roda reinkarnasi di alam surgawi. Ia tahu bahwa jiwa tidak pernah benar-benar lenyap; mereka hanya berpindah ke sungai realitas yang berbeda.
Sambil menggenggam botol kaca kosong itu erat-erat hingga buku-buku jarinya memutih, Wu Xuan menatap pusara kakeknya. Di balik raut wajahnya yang dipenuhi rasa kehilangan, sebuah tekad yang sangat gelap, menentang hukum, dan moral meledak di dalam ruang batinnya.
"Dunia ini menganggap batas akhir dari kehidupan adalah kematian," bisik Wu Xuan di dalam keheningan jiwanya, suaranya kini berubah menjadi gema kosmik yang dipenuhi oleh otoritas mutlak seorang tiran. "Tetapi bagi seorang Dao Agung sepertiku, kematian bukanlah aturan melainkan pilihan."
Mata hitam kecoklatan Wu Xuan menyipit, memancarkan kengerian yang bisa membuat dewa-dewa di balik Tower bergidik ketakutan.
"Tunggulah sebentar, Kek..." janji batin Wu Xuan bergema, sebuah sumpah yang diikat dengan darah dan jiwanya. "Biarkan cucumu ini mengambil alih hukum realitas dunia ini terlebih dahulu. Dan saat fondasiku sudah utuh, saat kekuatanku kembali... aku akan merobek tabir dimensi, dan menyeret jiwamu kembali ke dunia ini."
Di bawah langit Shanghai, seorang tiran baru saja mendeklarasikan perang, bukan melawan monster, melainkan melawan hukum kematian itu sendiri.
Bersambung...