NovelToon NovelToon
Legenda Kebangkitan Wang Fei

Legenda Kebangkitan Wang Fei

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Mengubah Takdir / Epik Petualangan
Popularitas:3.4k
Nilai: 5
Nama Author: Jin kazama

Seorang pemuda bernama Wang Fei yang dianggap lemah dan tertindas berusaha mendobrak batasan dan ingin menentukan nasibnya sendiri dengan menjadi lebih kuat.



"Jika langit tidak adil dan ingin membatasi takdirku, maka aku bersumpah akan meruntuhkan langit itu.”

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jin kazama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27. Tiba Di Kediaman Klan Shi.

Bab 27. Tiba Di Kediaman Klan Shi.

Seorang pemuda tampan berdiri di sebuah kediaman yang sangat besar dan megah. Di hadapannya ada sebuah gapura dengan dua pilar yang tingginya hampir sekitar 5 meter.

Di tengah-tengah pilar ada sebuah plakat nama dengan ukiran yang sangat indah, tegas, dan artistik bertuliskan:

Kediaman Klan Shi.

Dialah Wang Fei. Namun, berbeda dengan dua penjaga yang ada di gerbang sebelumnya, kali ini dia tidak diremehkan oleh penjaga gerbang di pintu kediaman.

Ini jelas karena mereka sudah diberikan instruksi serta sudah melihat seperti apa potret Wang Fei sebelumnya melalui lukisan.

Jadi, ketika dua penjaga melihatnya, dia langsung disambut dengan ramah dan sopan.

"Ah... ternyata ini Tuan Muda Wang Fei. Silakan masuk. Nona Shi Meilan sudah berpesan, jika Anda datang, kami harus segera menyambut Anda," ucap salah satu penjaga.

Kemudian dia menoleh kepada temannya.

"Hai, kau cepat masuk ke dalam. Katakan pada Nona bahwa Tuan Muda Wang Fei sudah tiba."

Penjaga itu mengangguk.

"Baik, aku akan segera melapor."

Perbuatan keduanya membuat Wang Fei yang sebelumnya agak waspada karena sering diremehkan menjadi sangat terkejut. Maka mulutnya sedikit terbuka hingga membentuk huruf O, saking terkejutnya.

Dia bermonolog.

"Hah... apakah aku tidak salah dengar? Apakah mereka baru saja memanggilku Tuan Muda Wang Fei? Kenapa rasanya terdengar sangat canggung, ya?" gumamnya sambil menggelengkan kepala.

Tak bisa dipungkiri, panggilan seperti itu dan perlakuan hormat yang baru saja dia terima sungguh membuatnya merasa canggung dan asing, hingga tidak tahu harus berbuat apa.

Namun, itu hanya dia simpan di dalam pikirannya. Di permukaan, ekspresinya tetap tenang. Bersikap sewajarnya jauh lebih baik daripada bereaksi berlebihan yang ujung-ujungnya bisa menurunkan nilainya di mata orang lain.

Tidak lama kemudian, penjaga yang sebelumnya melapor pun kembali.

"Tuan Muda, silakan masuk. Nona Muda dan Tuan Besar sudah menunggu Anda di dalam. Ayo, mari saya antar," ucapnya dengan gestur mengundang.

"Hmm... baiklah, terima kasih."

Karena sudah dipersilakan masuk, Wang Fei pun segera melangkah menuju tempat yang ditentukan di bawah bimbingan seorang penjaga.

Ketika memasuki kediaman itu, mata Wang Fei langsung dimanjakan oleh pemandangan yang sangat indah. Rumah itu begitu megah. Di samping terdapat taman bunga, lalu di sudut lain ada kolam melingkar dengan sebuah jembatan kayu yang membentang di tengahnya.

Air kolam tersebut sangat jernih. Banyak sekali ikan koi berenang ke sana kemari, sedangkan di permukaannya bunga-bunga teratai mekar, menciptakan pemandangan yang sangat indah, alami, sekaligus memanjakan mata.

Di sudut lainnya ada sebuah taman batu dengan air mancur yang mengalir seolah merupakan tebing pegunungan yang sangat alami. Yang lebih penting lagi, kepadatan energi spiritual di kediaman ini ternyata jauh lebih besar dibandingkan wilayah tempat para murid pelayan tinggal.

"Huft... benar-benar tempat yang sangat nyaman untuk berkultivasi," pikirnya sambil menghela napas.

Kini tekadnya untuk meningkatkan statusnya menjadi murid luar semakin kuat. Karena hanya dengan menjadi lebih kuatlah dirinya akan lebih dihargai oleh para petinggi sekte.

Ketika matanya masih menatap sekeliling dengan penuh kekaguman, tiba-tiba kesadarannya merasakan sosok yang mendekat dengan cepat. Merasakan aura yang sangat familiar, seketika senyum tipis terukir di bibirnya.

Benar saja, pada saat itu seorang gadis cantik berusia delapan belas tahun muncul di hadapan Wang Fei.

Benar sekali, gadis itu tidak lain adalah Shi Meilan.

"Adik Wang, akhirnya kamu datang juga," ucapnya dengan senyum ceria.

"Halo, Saudari Meilan," balas Wang Fei sambil tersenyum.

Interaksi akrab antara keduanya pun tak luput dari pandangan terkejut penjaga yang ada di samping mereka. Dia tidak menyadari bahwa saat ini punggungnya sudah sedikit basah oleh keringat dingin.

Dalam hati dia berpikir,

"Fiuh... untung saja kami menyambutnya dengan sopan. Jika sampai membuat Nona Muda marah, maka habislah riwayat kami."

Begitulah. Tanpa memedulikan penjaga itu yang sudah kembali ke tempatnya, Shi Meilan dengan agresif segera mengapit lengan Wang Fei.

"Adikku yang tampan, mari kita masuk. Ayah sudah menunggumu di meja makan."

Seketika wajah Wang Fei langsung merah padam seperti kepiting rebus. Ini adalah pertama kalinya dalam hidupnya digandeng oleh gadis secantik peri. Mau tak mau, hatinya menjadi campur aduk antara canggung, senang, malu, dan enggan melepaskannya. Singkatnya, dia cukup menikmati momen tersebut.

"Baiklah, aku juga sudah tidak sabar untuk bertemu dengan Paman Shi," kata Wang Fei dengan lugas.

Tidak lama kemudian mereka pun memasuki ruangan. Tanpa banyak menunda waktu, Shi Meilan menggiring Wang Fei menuju ruang khusus untuk jamuan makan malam.

Belum sempat Wang Fei mengatakan apa pun, tiba-tiba aura yang luar biasa dahsyat langsung menyerbunya seperti badai.

"WUSH! BOOM!"

Aura itu memang tidak menekan maupun mengintimidasi, tetapi menyelimuti seluruh tubuhnya seolah ingin menggali setiap detail tersembunyi yang ada pada dirinya.

Dialah Shi Bai Xuan, ayah sekaligus patriark dari keluarga Shi.

Di sana juga hadir beberapa tetua yang sangat dihormati dan bertanggung jawab mengurus berbagai urusan keluarga Shi.

Kejadian ini seketika membuat Wang Fei maupun Shi Meilan sangat terkejut. Khususnya bagi Wang Fei sendiri.

Xue Jian yang sangat protektif terhadap kakaknya merasa geram dengan apa yang dilakukan oleh Shi Bai Xuan.

"Sialan! Apa-apaan pak tua satu ini?! Apakah dia masih masuk akal?!" raungnya penuh amarah.

Begitu juga dengan Wang Fei. Dia cukup tidak nyaman dengan apa yang dilakukan oleh ayah Shi Meilan.

Detik itu juga, Wang Fei dan Xue Jian bersatu. Saat itu juga aura dahsyat meletus. Api petir tiga warna berkobar hebat. Di saat yang sama, niat membunuh yang haus darah serta energi pembantaian dilepaskan tanpa ampun. Ketika Tubuh Iblis Pedang Penelan Langit dikerahkan sepenuhnya, auranya kembali melonjak dengan liar dan kekuatan fisik yang setara dengan ranah Pembangunan Inti level 2 tahap menengah pun meledak.

"BOOM!"

Dalam sekejap, tekanan yang menindih Wang Fei langsung diimbangi. Tubuhnya yang semula terasa berat langsung menjadi ringan.

Pemandangan ini membuat semua orang yang ada di ruangan itu tercengang. Khususnya para tetua klan dan juga Shi Bai Xuan sendiri.

"Hmm... Apakah itu berhasil diimbangi? Apakah ini benar-benar kekuatan seorang kultivator yang berada di ranah Penempaan Tubuh level 7? Sepertinya bocah ini memang tidak sederhana," pikirnya sambil terus memperhatikan Wang Fei.

Di saat yang sama, dia juga segera menarik auranya. Dan Wang Fei yang merasakan tekanan itu menghilang juga segera kembali normal. Api petir tiga warna segera menghilang, disertai dengan niat membunuh dan energi pembantaian yang awalnya menggelora kini kembali terserap ke dalam tubuhnya.

Hanya dalam waktu yang sangat singkat saja, suasana yang tadinya penuh dengan ketegangan kini kembali menjadi normal seperti sediakala.

Pada saat itu salah satu tetua berkomentar.

"Apa-apaan ini? Apakah benar dia berada di ranah Penempaan Tubuh level 7? Tapi kenapa auranya terasa seperti seseorang yang sudah berada di ranah Pembangunan Inti? Berapa usianya? Kenapa sampai sekarang para petinggi sekte tidak mengetahui bakatnya?" ucapnya sambil mengerutkan kening.

Para tetua di sekitarnya, meskipun tidak mengatakan apa pun, juga menyetujui apa yang dikatakan oleh tetua tersebut.

Untuk sesaat, keheningan menyelimuti udara.

Yang paling syok tentu saja adalah Shi Meilan. Dia sama sekali tidak mengerti bagaimana aura Wang Fei bisa menjadi begitu mengerikan. Sejak kapan? Apakah kultivasinya bukan lagi berada di ranah Penempaan Tubuh?

Pertanyaan demi pertanyaan terus berputar-putar di kepala kecilnya.

Hingga akhirnya suara tawa yang menggema pun memecah keheningan tersebut.

"Hahaha! Benar-benar persis seperti apa yang diceritakan oleh putriku. Kau sama sekali tidak sederhana, Nak," kata Shi Bai Xuan sambil terkekeh.

Kemudian dia melanjutkan.

"Jadi, kamukah yang bernama Wang Fei? Selamat datang di Kediaman Keluarga Shi. Dan aku juga meminta maaf jika tiba-tiba aku tidak bisa menahan diri untuk mengetesmu secara langsung. Bagaimanapun juga, memastikan sendiri dan mendengar cerita orang lain adalah dua hal yang berbeda, bukan?"

Shi Bai Xuan tersenyum simpul sambil menatap lurus ke arah Wang Fei.

Mendengar hal itu, Wang Fei yang sebelumnya merasa waspada kini sedikit merilekskan tubuhnya. Asal itu bukan niat membunuh, maka perbuatan yang dilakukan oleh Shi Bai Xuan masih dalam batas kewajaran yang bisa dia terima.

Tiba-tiba terdengar suara tidak puas dari Xue Jian yang menggema di kepalanya.

"Ck... Alasan konyol macam apa itu? Untung saja kakak bukan orang biasa. Jika itu benar-benar seseorang yang berada di ranah Penempaan Tubuh level 7, bisa dipastikan dia akan lumpuh atau hancur kapan saja!" cibirnya sinis.

Mendengar itu, Wang Fei hanya tersenyum kecil.

"Tenanglah, Xue Jian. Aku tidak apa-apa. Lagi pula memang sulit dipercaya, bukan? Jika seorang kultivator yang berada di ranah Penempaan Tubuh level 7 berhasil membunuh binatang iblis yang setara dengan bintang 3. Wajar jika dia ingin mengujinya. Asal itu bukan niat membunuh, maka kita maklumi saja. Toh saat ini pihak lain berada di posisi yang lebih kuat. Meskipun kita bergabung dan mengerahkan segalanya, kita juga tidak akan bisa menang melawannya," jelas Wang Fei panjang lebar.

Seketika Xue Jian pun terdiam.

Dia sangat menyadari bahwa apa yang dikatakan oleh Wang Fei itu memang benar adanya.

Setelah menarik napas dalam-dalam, Wang Fei membungkuk hormat dan menangkupkan kedua tangan.

"Salam, Paman Shi! Salam para tetua sekalian! Perkenalkan, nama saya Wang Fei," ucapnya sopan.

Melihat pemuda yang begitu sopan dan rendah hati di hadapan mereka, seketika semua orang mengangguk-anggukkan kepala dengan puas.

Begitu juga dengan Shi Bai Xuan. Dia kembali tertawa sambil menunjukkan gestur mengundang.

"Hahaha! Ya, ya... Ayo kemarilah. Silakan duduk. Asal kau tahu, jamuan makan malam hari ini khusus disediakan untukmu sebagai ucapan terima kasihku mewakili seluruh Klan Shi karena kamu telah menyelamatkan putriku satu-satunya, yaitu Shi Meilan. Jadi bersikaplah biasa saja, tidak perlu sungkan. Anggap saja aku adalah pamanmu, begitu juga dengan semua tetua yang ada di sini."

Di sisi lain, Wang Fei cukup terkejut. Dia tidak menyangka bahwa undangan makan malam itu ternyata merupakan acara yang khusus disediakan untuknya.

Dia menjadi agak canggung.

"Hehehe... Kalau begitu terima kasih, Paman, atas sambutannya. Dan juga... masalah menyelamatkan Saudari Meilan, bagiku itu sudah sewajarnya. Siapa pun yang memiliki hati nurani, jika melihat ketidakadilan seperti itu, pasti juga akan turun tangan menyelamatkan, bukan?" ucapnya dengan polos.

Namun, karena jawaban itu benar-benar terlihat sangat tulus tanpa kepura-puraan, semua orang hanya menggelengkan kepala sambil tersenyum kecut.

Apa yang dikatakan oleh Wang Fei sebenarnya sangatlah naif. Di dunia yang penuh dengan kekejaman dan tipu daya seperti ini, saling menikam satu sama lain bukanlah hal yang baru. Akan tetapi, justru dari jawaban yang naif itulah muncul rasa kagum dari lubuk hati mereka semua.

Mengapa demikian?

Itu hanya menandakan satu hal, yaitu hati dan jiwa Wang Fei sangat lurus dan bersih. Selain itu, dilihat dari kekuatan yang sebelumnya dia keluarkan, dia bukanlah tipe orang yang lemah. Dia hanya tidak suka mencari masalah, tetapi juga tidak pernah takut menghadapi masalah.

Mentalitas seperti itu adalah hal yang sangat penting di dunia bela diri yang penuh dengan tipu daya dan kepentingan pribadi.

1
Dewa Malaikat
Lanjuut ya thor
Ilham Akbar
Bahasanya mudah dimengerti & semoga ceritanya bagus
utk itu saya uplaus satu vote
Dewa Malaikat
lanjut ya thor. jangan mandek tengah jalan
Dewa Malaikat
mantul thor ceritanya.
Jojo Shua
😍🔥
Jojo Shua
😍
Aman Wijaya
gaaas njeduk Thor lanjut terus
Aman Wijaya
jooooz pooolll lanjut terus Thor
Aman Wijaya
semangat semangat semangat Thor lanjut
Aman Wijaya
lanjut
Aman Wijaya
gaaas pooolll terus
Aman Wijaya
lanjut terus Thor
Jerry K-el
nunggu banyak dulu, minimal 100 bab br sy coba baca💪💪💪💪thorrrr
Night Guard
menarik
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!