NovelToon NovelToon
Flight To Your Heart

Flight To Your Heart

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Perjodohan
Popularitas:5.3k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Prabu, seorang pria yang dulunya penuh ambisi, kini tenggelam dalam depresi berat yang merenggut gairah hidupnya. Melihat kondisi sang putra yang kian memprihatinkan, ayahnya yang merupakan seorang pilot senior, merasa hanya ada satu orang yang mampu menarik Prabu keluar dari kegelapan: Xena.
Xena bukan sekadar wanita dari masa lalu yang pernah mengejar-ngejar Prabu saat SMA, ia kini adalah seorang dokter spesialis jiwa yang handal. Sang ayah yakin bahwa kombinasi antara keahlian medis dan ketulusan hati Xena adalah kunci kesembuhan Prabu.
Meski dipenuhi penolakan dan sikap dingin yang membeku, Prabu akhirnya menyerah pada desakan orang tuanya. Ia menyetujui pernikahan tersebut dengan satu syarat mutlak di kepalanya: pernikahan ini tak lebih dari sekadar sesi pengobatan.
Xena pun melangkah masuk ke dalam hidup Prabu, bukan lagi sebagai gadis remaja yang naif, melainkan sebagai penyembuh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11

Di balik pintu yang terkunci rapat, Xena jatuh terduduk.

Tubuhnya yang masih basah dan dingin karena air laut kini gemetar hebat, bukan karena suhu udara, melainkan karena luka yang baru saja ditorehkan Prabu tepat di ulu hatinya.

Isak tangis yang sejak tadi ia tahan akhirnya pecah juga.

Ia membekap mulutnya sendiri dengan tangan, berusaha meredam suara tangisnya agar tidak terdengar hingga ke luar.

"Aku mencintaimu dari dulu, Pra. Bukan karena apa yang kamu pikirkan," ucap Xena dalam hati di sela tangis sesenggukannya.

Pikirannya melayang jauh ke masa lalu, ke saat-saat ia hanya bisa memandang Prabu dari kejauhan.

Cintanya tumbuh bukan pada seragam pilot yang gagah atau kekayaan keluarga Prabu, melainkan pada sosok pria yang dulu pernah memberinya semangat saat ia hampir menyerah pada studinya. Namun kini, pria yang sama justru menjadi orang yang paling rajin menguliti harga dirinya.

"Kenapa kamu harus sekejam ini, Pra?" bisiknya lirih, nyaris tak terdengar.

Air matanya terus mengalir, membasahi lantai kayu vila.

Rasanya begitu sesak saat niat tulus untuk menyembuhkan justru dibalas dengan penghinaan yang merendahkan martabatnya sebagai seorang wanita.

Xena merasa seolah-olah ia sedang mencoba menyalakan api di tengah badai; setiap kali ia memberi kehangatan, badai kebencian Prabu selalu datang memadamkannya.

Namun, di tengah rasa perih itu, Xena menghapus air matanya dengan kasar.

Ia menatap tas medisnya yang tergeletak di meja sudut. Ia tahu Prabu sedang sakit secara mental, dan serangan tadi adalah bentuk pertahanan diri dari jiwa yang hancur.

Meskipun hatinya hancur berkeping-keping, Xena menarik napas panjang dan mencoba menguatkan kembali puing-puing tekadnya.

Ia tidak akan membiarkan kemarahan Prabu menghentikan misinya, karena ia tahu, jika ia menyerah sekarang, maka Prabu akan benar-benar hilang selamanya dalam kegelapan.

Tangis Xena di balik pintu membawanya meluncur kembali ke lorong-lorong SMA sepuluh tahun yang lalu.

Kenangan itu terputar seperti film lama yang sudah usang, namun masih mampu menyayat hati.

Saat itu, Xena adalah gadis pendiam dengan kacamata tebal, selalu membawa buku tebal dan duduk di barisan depan.

Sementara Prabu, dia adalah pusat tata surya di sekolah mereka—kapten tim basket yang karismatik dan masa depannya sudah terarah jelas menuju sekolah penerbangan.

Xena mulai jatuh cinta saat Prabu, entah karena kasihan atau sekadar iseng, pernah membantunya mengambilkan tumpukan buku yang jatuh di perpustakaan.

Hanya dengan satu senyuman tipis dan ucapan, "Belajarnya jangan rajin-rajin, nanti matamu makin besar," hati Xena terkunci selamanya.

Namun, cinta monyet itu berubah menjadi bencana.

Suatu hari, surat cinta yang Xena tulis dengan penuh keraguan tersebar di mading sekolah.

Prabu berdiri di sana, dikelilingi teman-temannya dan tentu saja, Tryas—gadis tercantik di sekolah yang sudah lama menjadi kekasihnya.

Tryas menatap Xena dengan pandangan merendahkan.

"Prabu, lihat deh. Si kutu buku ini ternyata naksir kamu. Duh, Prabu, kamu kan butuh pendamping yang asyik, bukan yang cuma tahu rumus fisika kayak dia. Orang pintar kayak Xena itu membosankan dan sok tahu."

Tryas memang membenci Xena karena Xena selalu mengunggulinya dalam hal akademik. Dan Prabu, demi menjaga perasaan Tryas yang egois, memilih untuk ikut membenci Xena.

Di depan semua orang, Prabu meremas surat itu dan membuangnya ke tempat sampah tepat di hadapan Xena.

"Jangan pernah bermimpi, Xena. Aku benci wanita yang merasa dirinya paling pintar tapi tidak tahu diri. Kamu itu pengganggu hubungan kami," ucap Prabu tajam waktu itu.

Sejak saat itu, setiap kali mereka berpapasan di koridor, Prabu selalu menatapnya dengan pandangan penuh kebencian yang sama—pandangan yang masih ia simpan hingga hari ini di dalam vila ini.

Xena memeluk lututnya semakin erat di lantai kamar yang dingin.

Sepuluh tahun berlalu, status mereka sudah berubah menjadi suami istri, namun bagi Prabu, Xena tetaplah gadis "sok pintar" yang mengganggu hidupnya, sementara Tryas tetap menjadi bidadari yang tak tergantikan—bahkan setelah kematian menjemputnya.

Keesokan paginya dimana rona merah jambu baru sedikit mengintip di cakrawala.

Udara pantai yang lembap dan dingin menusuk tulang, namun Xena sudah berdiri tegak dengan setelan olahraga dan sepatu lari yang terikat kencang.

Ia menghapus sisa-sisa kesedihan semalam, menggantinya dengan masker ketegaran yang baru.

Tok! Tok! Tok!

Xena mengetuk pintu kamar Prabu dengan ritme yang penuh semangat, seolah tidak terjadi apa-apa semalam.

Pintu terbuka sedikit, menampilkan wajah Prabu yang kusut dengan mata merah karena kurang tidur.

Begitu melihat Xena, sebuah seringai sinis kembali muncul di bibirnya.

"Ada apa? Mau aku cium lagi?" sindir Prabu dengan suara serak khas orang baru bangun tidur.

Xena tidak terpancing. Ia menatap Prabu datar, mengabaikan denyut nyeri di hatinya.

"Pra, lekas ganti pakaianmu dan ikut aku."

"Ke mana lagi? Ini masih jam lima pagi, Xena!"

"Ganti saja pakaianmu. Lima menit, atau aku sendiri yang akan menyeretmu keluar," ancam Xena tegas.

"Kamu itu ribet, Xen!" gerutu Prabu.

Ia membanting pintu, namun Xena bisa mendengar suara air dari dalam kamar mandi.

Tak lama kemudian, Prabu keluar dengan kaos olahraga dan celana pendek, wajahnya masih basah karena baru saja dicuci.

Di teras vila, Xena mulai melakukan gerakan pemanasan.

"Ayo, gerakkan badanmu. Jangan biarkan ototmu kaku."

Prabu mengikuti dengan malas, gerakannya setengah hati.

Setelah beberapa menit, Xena langsung memimpin jalan menuju hamparan pasir pantai yang luas.

"Sekarang, ayo lari pagi!" seru Xena.

Baru beberapa ratus meter, Prabu mulai terlihat kewalahan.

Napasnya terengah-engah, langkahnya berat seolah membawa beban berton-ton di pundaknya.

Ia berhenti, membungkuk sambil memegang lututnya.

"Aku, tidak kuat lagi. Berhenti, Xena!"

Xena berhenti sejenak, lalu berbalik menatap suaminya dengan tatapan mengejek yang dibuat-buat. Ia ingin memancing harga diri pria itu.

"Kamu itu pilot, Pra, bukan keong! Masa baru lari sebentar saja sudah menyerah? Ayo lari!" seru Xena sambil berkacak pinggang.

Melihat wajah Prabu yang kaget karena diejek, Xena justru tertawa terbahak-bahak.

Tawanya lepas, memecah kesunyian pantai pagi itu.

Tanpa menunggu balasan dari Prabu, Xena kembali berlari kencang, meninggalkan suaminya yang masih terpaku.

"Xena! Tunggu!" teriak Prabu kesal, namun ia akhirnya memaksakan kakinya untuk kembali melangkah, mencoba mengejar sosok wanita yang kini terlihat begitu lincah di depannya.

Dalam tawa Xena yang menggema, ada doa yang ia sembunyikan; ia ingin Prabu kembali merasakan hidup, meski harus dimulai dengan amarah dan kelelahan fisik.

Prabu akhirnya ambruk di atas pasir putih, napasnya memburu dengan dada yang naik-turun tak beraturan.

Keringat membasahi seluruh kaosnya, membuat tubuh atletisnya terlihat gemetar karena kelelahan yang luar biasa.

Xena menghampirinya dengan napas yang jauh lebih stabil.

Ia menyodorkan sebotol air mineral yang sejak tadi ia bawa.

"Minumlah," ucap Xena. Namun, ia tidak bisa menahan diri untuk tidak menggoda lagi.

"Pilot pesawat apa lari seperti keong? Baru satu putaran sudah mau pingsan."

Prabu yang sedang meneguk air hingga sisa di dagunya langsung menoleh dengan tatapan jengkel.

Rasa lelahnya mendadak berganti menjadi gemas yang berbahaya.

Tanpa peringatan, ia menarik tangan Xena hingga wanita itu terduduk di sampingnya, lalu dengan cepat jemari Prabu menyerang pinggang Xena.

"Oh, berani ya sekarang? Rasakan ini!" seru Prabu.

Xena yang memang sangat sensitif terhadap sentuhan di pinggangnya langsung menggeliat hebat.

Tawanya pecah, memenuhi udara pagi yang segar.

"Pra! Hahaha! Berhenti! Mas Prabu, geli!"

Untuk sejenak, wajah Prabu ikut cerah. Ada kilatan jenaka di matanya yang selama ini selalu redup. Namun, di tengah tawa itu, Prabu tiba-tiba bergumam dengan suara yang sangat lembut, hampir seperti bisikan.

"Kapok nggak kamu, Tryas..."

Tawa Xena terhenti seketika. Seperti mesin yang mendadak mati, keceriaan di wajahnya lenyap, menyisakan kekosongan yang menyesakkan.

Ia melepaskan tangan Prabu dari pinggangnya dengan gerakan pelan namun pasti.

"Aku Xena, Pra. Bukan Tryas," ucap Xena dengan suara yang bergetar rendah.

Suasana seketika berubah menjadi sangat canggung.

Prabu tertegun, tangannya masih menggantung di udara.

Kesadaran menghantamnya seperti ombak dingin; ia baru saja menyadari bahwa tawa yang baru saja ia dengar, kehangatan yang baru saja ia rasakan, bukanlah berasal dari masa lalunya, melainkan dari wanita yang selalu ia maki.

Xena segera bangkit dari duduknya. Ia membelakangi Prabu agar pria itu tidak melihat matanya yang mulai berkaca-kaca.

"Aku, lari duluan ya. Masih ada target satu putaran lagi," ucap Xena tanpa menoleh.

Ia mulai berlari lagi, kali ini lebih kencang dari sebelumnya.

Di bawah sinar matahari pagi yang mulai menghangat, Xena mencoba menghapus air mata yang jatuh di pipinya dengan punggung tangan.

Ia berlari sekuat tenaga, mencoba meninggalkan rasa perih di dadanya, menyadari bahwa sekeras apa pun ia berusaha, di mata Prabu, ia masih merupakan bayangan dari orang lain.

1
Nur Asiah
sepertinya perjalanan meraih cinta Xena masih panjang,prabu semangat
Alex
ini hari libur Thor, knpa bawangnya sebanyak ini😭😭😭😭😭
Nur Asiah
setelah kesekian bab aku baja akhirnya nyesek juga rasanya,selamat prabu impianmu kembali dengan lepasnya Xena darimu
Rian Moontero
lanjooott👍👍
miesui jazz jeff n jexx
sgt bgs...
my name is pho: terima kasih kak 🥰
total 1 replies
Alex
kapok kamu pra
wwkwkwkwk
Alex
xena😭😭😭😭
Alex
kok kmu yg nonjok sih pra, harusnya ku tonjok duluan atau ku benturkan palamu di karang yg ada di pantai biar agak encer🤭
gemes bgt sama nie orang dech
my name is pho: sabar kak🤭
total 1 replies
Alex
pra, kmu mau ku getok pakai palu apa pakai kentongan, heran dech, emosi Mulu 😄
my name is pho: sabar kak🤭🥰
total 1 replies
Alex
siap menunggumu untuk lari aku pra, hbis itu Xena akn meninggalkanmu
hahahahaha
ketawa jahat ini🤭
Alex
awas gue tandain loe prabu
nanti kalau bucin Kutendang dari pesawat🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!