Catherina Lawrence (24 tahun) mengira pernikahannya dengan Adrian Mettond, senior di kampusnya dulu, adalah pelabuhan tenang setelah badai masa lalu yang kelam. Namun, belum genap satu tahun berjalan, kenyataan pahit menghantamnya. Adrian ternyata tidak siap menjadi ayah bagi putra mereka, Liam, dan sang ibu mertua terus memperlakukannya layaknya orang asing yang tak diinginkan.
Di tengah dinginnya sikap Adrian, Catherina dihantui oleh bayang-bayang Everest Cavanaught—mantan kekasih sekaligus "pangeran berandalan" dari masa Lalunya. Hubungan Empat tahun itu berakhir karena keegoisan Catherina, meninggalkan luka yang belum sembuh. Ironisnya, semakin Liam tumbuh, wajah sang bayi justru semakin menyerupai Everest, bukan Adrian.
Terjebak dalam rumah tangga yang hampa dan penuh tuntutan, Catherina mulai mempertanyakan segalanya.
Apakah Adrian benar-benar mencintainya?
.
.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#11
Malam itu, sudut kota terasa jauh lebih sunyi di mata Catherina. Ia tidak kembali ke hotel mewah atau apartemen rekanannya. Ia membawa Liam ke satu-satunya tempat yang masih memiliki sisa-sisa napas kemurnian dalam hidupnya: rumah peninggalan orang tuanya.
Rumah itu tidak besar, jauh dari kemegahan mansion Mettond yang dingin. Namun, rumah bergaya kolonial minimalis dengan taman luas yang sedikit tidak terurus itu memberikan rasa aman yang telah lama hilang. Catherina meletakkan Liam di atas ranjang dan kenangan.
Ia terduduk di tepi ranjang, menatap langit-langit kamar. Catherina sadar diri. Ia bukan lagi gadis populer yang menjadi pusat semesta Everest Cavanaught. Ia adalah seorang wanita yang telah dinikahi pria lain, wanita yang mengandung dan melahirkan seorang anak yang hingga detik ini ia percayai sebagai darah daging Adrian—meski hatinya terus berkhianat setiap kali melihat wajah Liam.
"Aku tidak ingin mengganggu hidupmu yang sempurna, Everest," bisiknya pada kegelapan. "Aku hanya ingin meminta maaf. Maaf yang tulus karena telah meragukanmu, karena telah lari pada pria yang salah, dan karena telah membiarkan ego menghancurkan kita."
Ia tahu ia tidak punya hak untuk meminta Everest kembali. Ia hanya ingin hatinya lega. Besok, ia akan menemui Everest. Jika perlu, ia akan berlutut di depan pria itu, mengabaikan martabatnya yang sudah hancur demi sebuah pengakuan dosa.
"Liam, anakku..." Catherina membelai pipi bayinya yang terlelap. "Besok kita berjuang sekali lagi, ya? Kita akan menemui orang yang wajahnya sangat mirip denganmu. Semoga dia tidak sekejam yang kubayangkan."
Di sisi lain kota, di dalam sebuah penthouse mewah yang menghadap langsung ke kerlap-kerlip lampu gedung pencakar langit, Everest Cavanaught duduk sendirian. Hanya ada suara denting es batu yang beradu dengan gelas kristal berisi whisky mahal.
Di atas meja kerja jati yang gelap, sebuah album foto terbuka lebar. Itu adalah satu-satunya benda yang tetap ia simpan meski ia telah mencoba membuang segala hal tentang Catherina Lawrence dari hidupnya. Foto-foto di sana memperlihatkan mereka yang sedang tertawa, Catherina yang menyandarkan kepala di bahunya, dan tatapan matanya sendiri yang penuh dengan pemujaan.
Everest meneguk whisky-nya hingga tenggorokannya terasa terbakar. Rasa sakit itu belum hilang. Setiap kali ia mengingat kabar pernikahan Catherina, ia merasa dunianya runtuh berkali-kali.
"Kau menodai perasaanku, Cathe," desisnya, jemarinya mengusap permukaan foto Catherina.
Ia benci membayangkan Catherina berada di bawah kendali Adrian Mettond. Selama beberapa bulan terakhir, Everest sering terbangun dengan peluh dingin karena mimpi buruk yang sama: Catherina yang berteriak, Catherina yang mendesah dalam dekapan Adrian, Catherina yang menyerahkan segalanya pada pria yang ia tahu tidak akan pernah menghargainya seujung kuku pun. Pikiran itu membuatnya ingin menghancurkan dunia, sekaligus membuat rasa bencinya pada Catherina memuncak.
Namun, amarah itu seketika luruh saat dia mencoba membayangan wajah Liam yang tidak pernah dilihat dan hanya ada di benaknya. Jejak-jejak genetiknya pasti ada di sana. Liam adalah hasil dari malam nekat di asrama itu, malam di mana ia memaksakan takdir agar Catherina tetap memiliki bagian darinya meski wanita itu memilih pergi.
Tatapan Everest melembut. Aura dinginnya berganti menjadi kerinduan yang menyiksa.
"Seperti apa masa mengidammu dulu, Sayang?" tanyanya pada foto itu, suaranya parau dan penuh luka.
"Apa kau pernah merindukanku saat perutmu mulai membesar? Apa kau pernah menyebut namaku saat kau merasa kesakitan?"
Ia membayangkan Catherina yang berjuang sendirian di tengah dinginnya keluarga Mettond. Rasa bersalah mulai menyelinap di antara dendamnya. Ia tahu Adrian adalah pria brengsek, namun ia tidak menyangka Catherina akan sehancur itu.
"Apa anakku tidak merindukan Daddy-nya?" gumam Everest lagi, menyentuh dadanya yang berdenyut.
"Kuharap Dia memiliki mataku, Cathe. Dan memiliki garis rahangku. Kau boleh membohongi dunia, kau boleh membohongi Adrian, tapi kau tidak bisa membohongi darah yang mengalir di tubuh Liam."
Everest menutup album itu dengan sentakan kasar. Ia berdiri, menatap bayangannya sendiri di kaca jendela yang besar.
Besok, dia tahu Catherina akan datang. Dia bisa merasakannya. Dan kali ini, dia tidak akan membiarkan wanita itu pergi lagi—tidak dengan air mata, dan tidak dengan anak yang seharusnya memanggilnya 'Daddy'.
Jika Catherina datang untuk meminta maaf, maka Everest akan memberikan maaf itu, namun dengan satu syarat: Catherina dan Liam harus masuk kembali ke dalam sangkarnya, kali ini dengan gembok yang kuncinya hanya dipegang oleh seorang Everest Cavanaught.
"Bersiaplah, Catherina," bisik Everest pada pantulan dirinya. "Karena permainan ini baru saja dimulai, dan kali ini, tidak akan ada pelarian lagi."
Selain kerinduan yang menyiksa di apartemennya yang sunyi, ponsel Everest tidak berhenti bergetar sejak makan malam di The Obsidian berakhir.
Sebuah grup percakapan di aplikasi pesan singkat—berisi para pewaris takhta bisnis dan pemuda paling berpengaruh di Los Angeles—sedang meledak dengan rentetan pertanyaan yang menyudutkan.
Nama grup itu sederhana namun sombong: The Throne. Dan malam ini, Everest Cavanaught adalah target utama mereka.
[Rick]: “Yo, Everest! Aku tidak salah dengar? kemarin ada yang melihatmu makan malam dengan Adrian Mettond dan... Si Gadis Emas kita, Catherina Lawrence?”
[Julian]: “Catherina? Maksudmu mantan Everest itu? Bukankah dia sudah jadi milik Mettond sekarang?”
[Brandon]: “Kudengar dia baru saja punya bayi. Everest, apa rasanya melihat mantan terindahmu menggendong pewaris keluarga Mettond? Apakah kau masih sanggup menelan steakmu tadi?”
Everest menatap layar ponselnya dengan mata menyipit. Rahangnya mengeras. Noah, asisten kedua, sekaligus sahabatnya yang duduk di sudut ruangan sambil memeriksa laporan kerja, menyadari perubahan aura bosnya itu.
Noah tidak mengenal Catherina secara langsung. Dia baru masuk ke dalam lingkaran terdalam Everest tepat setelah Everest kembali dari London, jauh setelah perpisahan menyakitkan dengan Cathe. Namun, Noah bukan orang bodoh. Selama ini, dia sering mendengar cerita dari teman-teman lama Everest di High School tentang bagaimana Everest dulu memperlakukan Catherina seperti dewi.
"Grup itu sedang ramai, ya?" suara Noah memecah keheningan. "Mereka bertanya tentang Catherina?"
Everest melempar ponselnya ke sofa dengan kasar. "Mereka hanya sekumpulan burung pemakan bangkai yang menunggu seseorang jatuh," desisnya.
Noah menghela napas, ia teringat cerita dari Rick—teman masa sekolah Everest—yang pernah bercerita kepadanya: “Everest itu gila kalau soal Cathe. Dia pernah menghajar kapten tim football hanya karena pria itu berani menggoda Cathe di kantin. Baginya, Cathe adalah hukum mati. Siapa pun yang menyentuh, harus hancur.”
Melihat Everest yang sekarang begitu dingin, Noah memberanikan diri bertanya. "Apa dia secantik yang mereka bicarakan, Ev? Rick bilang dia adalah satu-satunya alasan kau tidak pernah melirik wanita lain selama bertahun-tahun."
Everest terdiam. Ingatannya kembali ke wajah Catherina yang pucat di restoran malam itu—wajah yang menanggung beban berat, namun kecantikannya tetap menusuk jantungnya.
"Dia lebih dari sekadar cantik, Noah," jawab Everest pelan, suaranya terdengar seperti bisikan hantu. "Dia adalah satu-satunya wanita yang bisa menghancurkanku hanya dengan air matanya. Dan sekarang... aku harus melihatnya menderita karena kebodohan pria bernama Adrian itu."
Ponsel Everest kembali berdenting. Sebuah pesan baru masuk dari Julian.
[Julian]: “By the way, Everest. Kudengar bayi itu... wajahnya sangat kuat. Ada yang bilang dia sama sekali tidak mirip Adrian. Jangan bilang kau meninggalkan 'hadiah' sebelum kau pergi dulu?”
Mata Everest berkilat. Ia tidak membalas pesan itu, tapi tangannya mengepal hingga buku-bukunya memutih. Noah yang melihat itu hanya bisa membatin dalam diam. Dia mulai mengerti bahwa kembalinya Everest ke kota ini bukan hanya soal bisnis Cavanaught Group. Ada sesuatu yang lebih besar, sesuatu yang menyangkut darah dan kehormatan yang sedang dipertaruhkan.
"Siapkan pertemuan untuk besok pagi, Noah," perintah Everest tiba-tiba.
"Pertemuan dengan siapa? Mettond?"
"Bukan. Kosongkan jadwal siangku," Everest berdiri, menatap jendela besar yang menampilkan siluet kota. "Seorang tamu penting akan datang padaku untuk meminta maaf. Dan aku ingin memastikan dia tidak akan pernah bisa pergi lagi setelah kata maaf itu terucap."
Noah mengangguk paham. Dia tahu, badai besar akan segera datang, dan pusat badai itu bernama Catherina Lawrence.
Sementara itu, di grup The Throne, spekulasi terus bergulir, tidak menyadari bahwa sang Pangeran Kota sudah menyiapkan rencana yang akan membuat seluruh Los Angeles gempar.
🌷🌷🌷🌷
Happy Reading dear😍