cinta pertama jaman aku SMP sulit sekali aku lupakan... kenangan manis nya masih sama dan luka semasa SMA juga yang sulit aku lupa.. hingga suatu hari sahabat terdekat yang dari lahir udah barengan sama aku! kenalkan aku sama dia.. Tutor nakal ku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jee Jee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
34
Udara dingin Sukabumi yang menembus sela-sela dinding kaca villa mewah itu seolah tak berdaya melawan kehangatan yang tercipta di dalam. Di atas bukit yang paling sunyi, di tempat yang hanya dihuni oleh kabut dan gemintang, Langit dan Jelita seolah sedang berada di sebuah semesta yang berbeda. Tidak ada Jakarta yang bising, tidak ada Fakultas Ekonomi yang penuh intrik, dan yang paling penting—tidak ada bayangan Aston Martin abu-abu yang menghantui.
Jelita terbangun saat cahaya fajar baru saja menyentuh garis cakrawala di balik hamparan kebun teh. Dia merasakan tangan kokoh Langit masih melingkar protektif di perutnya, menariknya sangat rapat ke arah dada bidang pria itu. Hangat. Sangat hangat. Jelita bisa merasakan setiap hembusan napas Langit yang teratur di ceruk lehernya.
Perlahan, Jelita memutar tubuhnya, menatap wajah pria yang selama hampir dua tahun ini telah menjadi tutor, pelindung, sekaligus "perusak" ketenangannya. Dalam kondisi tidur tanpa kacamata hitam dan seringai miringnya, Langit terlihat sangat damai. Tidak ada aura sombong, yang ada hanyalah ketulusan yang terpancar dari garis wajahnya yang tegas.
"Gue tau gue ganteng, Jee. Nggak usah diliatin sampe segitunya juga kali," gumam Langit dengan suara serak khas bangun tidur, matanya masih terpejam tapi senyum nakalnya sudah muncul.
Jelita tersentak, wajahnya langsung merona. "Dih, pede banget! Siapa juga yang liatin lo!"
Langit membuka matanya, menatap Jelita dengan pandangan yang begitu intens hingga Jelita merasa oksigen di sekitarnya mendadak menipis. Tanpa peringatan, Langit menarik tubuh Jelita hingga posisi gadis itu kini berada di atasnya. Ia mengunci pinggang Jelita dengan kakinya, memenjarakan gadis itu dalam pelukannya yang posesif.
"Pagi, Tembok Beton," bisik Langit, tangannya merayap masuk ke balik kaos putih kebesaran yang Jelita pakai, mengusap punggung polosnya dengan gerakan yang sangat lembut. "Gimana tidur lo? Nyenyak kan setelah sesi 'latihan fisik' semalam?"
Jelita menyembunyikan wajahnya di dada Langit, memukul pelan bahu pria itu. "Lang... bisa nggak sih pagi-pagi jangan mesum dulu? Gue laper!"
Langit tertawa terbahak-bahak, suara tawanya yang bariton menggema memenuhi kamar luas itu. "Laper ya? Ya udah, karena gue adalah tutor yang paling pengertian di dunia, gue bakal masakin lo sarapan yang paling enak. Tapi ada syaratnya."
"Syarat apalagi, Langit?" Jelita mendongak, menatap Langit dengan mata yang masih sedikit mengantuk.
"Mandi bareng," jawab Langit enteng dengan wajah tanpa dosa.
"Nggak! Langit, mesum lo bener-bener nggak ada obat!" Jelita mencoba berontak, tapi Langit justru semakin erat memeluknya.
"Bukan mesum, Sayang. Ini namanya efisiensi waktu dan air. Kan gue udah bilang, gue peduli lingkungan," Langit menyeringai nakal, lalu dengan satu gerakan gesit dia menggendong Jelita ala bridal style menuju kamar mandi yang memiliki bathtub besar dengan pemandangan langsung ke lembah.
Sesi mandi yang harusnya hanya memakan waktu lima belas menit itu akhirnya molor menjadi satu jam. Di dalam air hangat yang bertabur busa, Langit benar-benar memanjakan Jelita. Tidak ada tuntutan gairah yang meledak-ledak seperti semalam, yang ada hanyalah sentuhan-sentuhan lembut penuh pemujaan. Langit menyabuni punggung Jelita, memijat bahunya yang lelah, dan sesekali mengecup pundaknya yang kini masih menyisakan jejak merah pemberiannya semalam.
"Jee..." panggil Langit lembut, tangannya kini sibuk memainkan rambut basah Jelita.
"Hmm?" Jelita menyandarkan kepalanya di dada Langit, menikmati sensasi hangat air dan dekapan pria itu.
"Makasih ya udah mau ikut gue ke sini. Gue tau gue egois, gue tau gue maksa lo buat kabur dari tugas-tugas lo. Tapi gue bener-bener butuh ini. Gue butuh lo yang cuma milik gue, tanpa ada gangguan siapa pun," Langit mengecup puncak kepala Jelita.
Jelita terdiam, ia meraih tangan Langit yang ada di atas perutnya dan menggenggamnya erat. "Gue juga butuh ini, Lang. Gue rasa... selama beberapa hari terakhir, ini adalah momen paling tenang yang pernah gue rasain."
Setelah selesai dengan "ritual" mandi yang penuh drama godaan, Langit benar-benar menepati janjinya. Dia mengenakan celemek tanpa baju atasan—yang menurut Jelita adalah pemandangan paling ilegal dan berbahaya bagi kesehatan jantungnya—dan mulai berkutat di dapur kecil villa tersebut.
Aroma roti panggang, mentega, dan kopi pilihan mulai memenuhi ruangan. Langit menyiapkan sarapan yang cukup lengkap: sunny side up, sosis bakar, dan salad buah segar. Dia menatanya di atas meja balkon yang menghadap langsung ke arah perbukitan yang kini sudah diterangi cahaya matahari pagi yang cerah.
"Silakan dinikmati, Tuan Putri," Langit menarik kursi untuk Jelita dengan gaya gentleman yang sangat manis.
Mereka sarapan dalam keheningan yang sangat nyaman. Sesekali Langit menyuapi Jelita potongan sosisnya, atau Jelita yang mengelap sisa mentega di sudut bibir Langit. Tidak ada ponsel yang bergetar, tidak ada notifikasi grup kelas yang berisik. Hanya ada suara kicauan burung dan desir angin di antara pohon-pohon teh.
"Lang, liat deh," Jelita menunjuk ke arah sekumpulan burung yang terbang rendah di atas lembah. "Cantik banget ya. Rasanya gue pengen tinggal di sini aja, nggak usah balik ke Jakarta."
Langit menyesap kopi hitamnya, matanya menatap Jelita dengan tatapan yang sangat dalam. "Kalau lo mau, gue bisa beli villa ini sekarang juga, Jee. Kita tinggal di sini, lo nggak usah pusing sama neraca saldo, dan gue nggak usah pusing sama kodingan skripsi."
Jelita tertawa kecil. "Pede banget! Emang lo punya duit sebanyak itu?"
Langit menyeringai, mengeluarkan kartu kredit hitamnya dan memutarnya di atas meja. "Apapun buat lo, Tembok Beton. Tapi masalahnya, kalau kita tinggal di sini, siapa yang bakal jadi penonton kemesraan kita? Nanti Windi sama Haikel kangen berat loh."
"Dih, dasar sombong!"
Selesai sarapan, Langit mengajak Jelita berjalan-jalan kecil di sekitar area privat kebun teh milik resort. Dia menggandeng tangan Jelita sangat erat, seolah-olah jika dia melonggarkannya sedikit saja, Jelita akan diculik oleh peri hutan.
Mereka berhenti di sebuah gazebo kayu di tengah hamparan hijau. Langit duduk di lantai kayu, lalu menarik Jelita untuk duduk di antara kedua kakinya, bersandar di dadanya.
"Jee, lo tau nggak kenapa gue suka banget bawa lo ke tempat yang tinggi kayak gini?" tanya Langit pelan, tangannya melingkar di bahu Jelita, melindungi gadis itu dari angin pegunungan yang mulai dingin.
"Kenapa? Biar bisa liat pemandangan?"
"Bukan cuma itu. Karena di tempat setinggi ini, gue ngerasa dunia cuma isinya kita berdua. Gue ngerasa semua masalah di bawah sana—semua ketakutan lo, semua rahasia yang lo simpen—nggak punya kekuatan buat nyampe ke sini. Di sini, lo bener-bener cuma Jelita milik Langit," Langit menciumi pelipis Jelita dengan lembut.
Jelita memejamkan mata, menghirup aroma maskulin Langit yang kini bercampur dengan wangi pegunungan yang segar. "Lang... makasih ya udah sabar sama gue. Makasih udah ngeruntuhin tembok gue dengan cara lo yang sesat tapi berhasil."
Langit terkekeh rendah. "Berhasil banget kan? Buktinya sekarang lo udah pinter protes, udah bisa manja, dan udah bisa bikin gue gila tiap malem."
Suasana mendadak menjadi sangat romantis dan intim. Langit memutar tubuh Jelita agar menghadapnya. Dia menatap mata Jelita dengan kejujuran yang sangat murni. Tidak ada lagi Langit yang hobi pamer atau Langit yang berandalan.
"Jee, dengerin gue baik-baik," ucap Langit serius. "Semalem, pas kita... lo tau kan, gue nggak pake pengaman?"
Wajah Jelita langsung memerah padam sampai ke leher. Dia hanya bisa mengangguk pelan sambil menunduk.
"Gue nggak lupa, Jee. Gue sengaja," lanjut Langit, membuat Jelita mendongak dengan tatapan tidak percaya. "Gue sengaja karena gue mau punya ikatan yang nggak bisa diputus sama siapa pun dengan lo. Gue mau kalau suatu saat nanti ada badai yang coba misahin kita, kita punya alasan yang sangat kuat buat tetep bertahan. Gue mau lo jadi rumah gue, dan gue jadi pelindung lo selamanya."
Langit merogoh sesuatu dari saku celananya. Bukan kotak perhiasan seperti biasanya, tapi sebuah kunci kecil dengan gantungan kunci berbentuk awan.
"Ini kunci apartemen baru gue di Jakarta Selatan. Atas nama lo, Jelita. Itu bakal jadi rumah kita nanti kalau kita udah lulus. Gue mau kita bangun semuanya dari awal. Tanpa bayang-bayang masa lalu, tanpa ketakutan."
Jelita terdiam, air matanya menetes satu per satu. Dia tidak menyangka Langit sudah merencanakan masa depan mereka sejauh itu. Di tengah ketakutannya akan Yayan, Langit justru memberinya kepastian yang sangat nyata.
"Lang... lo beneran sayang ya sama gue?" isak Jelita.
Langit menarik Jelita ke dalam pelukannya, mendekapnya sangat erat. "Bukan sayang lagi, Jee. Gue udah gila karena lo. Jadi jangan pernah takut. Mau seberapa besar hantu masa lalu lo, dia nggak akan punya tempat di rumah yang kita bangun ini."
Siang itu, di bawah langit Sukabumi yang biru cerah, mereka menghabiskan waktu dengan bercanda, berpelukan, dan saling melempar janji. Langit benar-benar menjauhkan Jelita dari dunia luar. Tidak ada satu pun gangguan yang masuk. Mereka benar-benar larut dalam cinta yang makin dalam, makin dewasa, dan makin terkunci.
Langit benar-benar memperlakukan Jelita seperti ratu. Dia bahkan menggendong Jelita kembali ke villa saat Jelita mengeluh kakinya pegal. Dia menyiapkan teh hangat, memakaikan kaos kakinya yang tebal ke kaki Jelita, dan mendekap gadis itu sepanjang sore sambil menonton film dari laptop.
"Tutor..." bisik Jelita saat mereka kembali meringkuk di bawah selimut sore itu.
"Apa, Muridku yang cantik?"
"Jangan pernah bosen ya tutorin gue."
Langit menyeringai nakal, lalu memberikan ciuman dalam di bibir Jelita. "Nggak akan bosen, Sayang. Pelajaran kita masih panjang. Dan gue nggak sabar buat liat hasil 'lulusan' kita"
Jelita tertawa sambil mencubit perut Langit, namun dalam hati dia berdoa, semoga rencana Langit untuk menguncinya selamanya ini benar-benar diberkati semesta. Dia merasa sangat aman, sangat dicintai, dan sangat siap untuk menghadapi Jakarta kembali.
Sesi "Bulan Madu" itu berakhir dengan mereka yang tertidur berpelukan di sofa, dengan sinar matahari sore yang hangat menyinari wajah mereka. Tidak ada ketakutan, tidak ada rahasia. Hanya ada dua jiwa yang sudah resmi menjadi satu di atas bukit yang paling sunyi.
susah jadi dirimu Jee. mana sodaraan pula. 🤦♀️
hohoho jawbanya ada di tangan kk author tercinta ini 🤣🤣🤣