Mita tidak pernah menyangka, satu ajakan sederhana dari suaminya akan mengubah segalanya.
Reuni sekolah yang seharusnya menjadi malam biasa justru membuka luka yang tak pernah ia sadari sebelumnya. Di tengah keramaian, Mita berdiri di samping Rio--namun terasa seperti tidak pernah ada. Terlebih saat Rio kembali bertemu dengan cinta pertamanya... dan memilih tenggelam dalam masa lalu.
Ditinggalkan tanpa penjelasan, Mita justru dipertemukan dengan Adrian-teman lama sekaligus rekan kerja Rio. Sosok yang dulu hanya sekadar kenangan, kini hadir sebagai satu-satunya orang yang benar-benar melihatnya.
Dan Reuni itu mengubah segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon rachmaraaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10
Perasaan Adrian tidak karuan. Ada senang dan takut yang menjadi satu. Belum tahu kapan ia akan bertemu dengan ibunya Mita dan keluarga. Namun, yang jelas... Hari-hari Adrian penuh dengan semangat. Karena sekarang dirinya memiliki tempat tujuan untuk pulang. Ada yang menunggu saat dirinya sedang bekerja. Hal itu membuatnya sanyam senyum sendirian.
"Akhir-akhir ini gue lihat, Lo senyam senyum Mulu. Nggak takut disangka gila lo?" Bagas menghampiri Adrian yang sedang duduk sendirian di rooftop.
"Nggak apa-apa dibilang gila. Biar nggak ada yang deketin," jawab Adrian dengan santai.
"Cerita dong! Bagi-bagi lah senengnya," ujar Bagas lagi. "Tentang cewek Lo, kan?"
Adrian mengangguk antusias. Ia menyerongkan badannya supaya bisa bicara dengan leluasa.
"Gue mau ngelamar Mita. Gue tau hubungan gue sama dia belum lama. Tapi, tujuan kita sama. Jadi, gue pikir-pikir nggak ada salahnya kan, kalau gue langsung ngajak nikah?"
"Oh... Namanya Mita. Ya... Kalau emang sama-sama udah yakin, mantap dengan tujuan, gue rasa nggak masalah. Gue tau, karena Lo menghindari zina. Toh, pacaran lama tapi kalau nggak ada tujuan juga percuma. Sia-sia dan buang-buang waktu. Tapi... Kok kayaknya namanya nggak asing ya?!" Bagas seperti berpikir pernah mendengar nama itu di mana.
"Pasti Lo kenal nama itu, Gas. Mita sebenarnya mantan istrinya Rio!"
"As-- ah... Mita yang itu? Yang benar Lo, Dri?" Bagas benar-benar nggak pernah menyangka kalau calonnya Adrian adalah mantan istrinya Rio.
Adrian mengangguk lagi. "Udah kenal lama, terus belum lama ini sering ketemu dan jalan bareng. Kita jadian, terus ya... Gue ajak nikah, dia mau. Kita ngerasa hubungan ini nggak ada yang salah."
Bagas manggut-manggut saja. Mendengar penjelasan hubungan Adrian dan Mita seperti apa, hingga akhirnya memutuskan untuk menikah.
"Gila ya... Dunia kayak sempit banget. Dari banyaknya perempuan di Jakarta, kenapa harus Mita? Gue paham, yang namanya perasaan itu kadang datang tanpa terduga. Tapi... Gue takut bakalan jadi masalah sama Rio. Tapi... Mudah-mudahan sih nggak ya. Gue doain yang terbaik untuk Lo sama Mita." Bagas menepuk pundak Adrian untuk menguatkan.
"Gue juga nggak nyangka, Mita orangnya. Padahal dia kaya cuek ke gue di awal-awal. Mungkin dia takut juga buat ladenin gue. Orangnya lembut banget dan nyambung aja ngobrol sama gue," jelas Adrian lagi. "Dan ini bukan urusan Rio, Gas. Gue nggak rebut Mita dari Rio. Ini terjadi setelah mereka lama pisah."
"Hmm... Paham! Gue sih seneng ya. Karena pada akhirnya Lo menemukan pelabuhan Lo. Mudah-mudahan pelabuhan terakhir Lo ya, Bro," ucap Bagas dengan tulus.
"Aamiin, Gas. Aamiin. Doa'in biar semua lancar ya."
Bagas mengangguk lagi.
。◕‿◕。
Mita sebelumnya sudah menghubungi ibu dan saudari-saudarinya tentang dirinya yang akan mengenalkan Adrian. Ibunya serta saudarinya menyambut hangat.
Adrian sudah menyiapkan buah tangan untuk dibawa ke rumah ibunya Mita. Berupa buah-buahan dan beberapa bingkisan dalam kaleng seperti biskuit dan semacamnya.
Beberapa kali Mita mendengar jika Adrian menghembuskan napas karena gugup. Mita pun mencoba menenangkan dengan mengusap lengan Adrian.
"Tenang ya, Mas. Ibuku nggak gigit, kok," goda Mita. Membuat Adrian makin gugup.
"Sayang ... Jangan gitu dong. Ini pertama kalinya aku datang secara resmi ke rumah keluarga calon istri ku. Jadi, rasanya tuh luar biasa banget." Adrian berusaha tenang dalam keadaan menyetir mobil.
Sebelumnya Mita sudah bilang, kalau ke rumah ibunya naik roda dua saja alias motor. Tapi, Adrian yang baru saja pulang rapat sekalian beli buah tangan dan merasa ingin sedikit menunjukkan pada calon ibu mertuanya. Bahwa dirinya sudah mapan dan siap meminang putrinya. Tidak apa-apa dibilang pamer, karena memang itu tujuan Adrian. Ingin membuktikan jika dirinya jauh lebih layak dari pada Rio.
Mereka pun sampai di rumah ibunya Mita. Halamannya tidak begitu luas, tetapi bisa muat dua mobil.
"Bismillah, semoga Allah lancarkan dan mudahkan semuanya," ucap Adrian penuh harap.
Mita yang mendengar itu, mengaminkan dengan penuh ketulusan. Barulah setelah itu mereka turun, tidak lupa dengan buah tangan yang disiapkan sebelumnya.
Saudari pertama Mita keluar dari pintu. Ia tersenyum karena melihat Mita dan Adrian sudah datang. Ia berlari ke dalam dan langsung heboh mengabarkan pada ibu dan adiknya.
"Eh, eh, eh, Mita udah datang. Cowoknya ganteng, tegap. Mobilnya Audi. Keren deh..."
Adiknya Mita yang bernama Ifa pun penasaran. Ia mengintip dari jendela.
"Betul Bu yang dibilang sama Kak Meri. Cowoknya ganteng."
Suara salam menggema dari ruang depan. Mita masuk duluan untuk menyapa ibu dan saudarinya.
"Bu... Mita mau ngenalin Mas Adrian." Mita pun sebenarnya juga takut. Karena ini pertamanya lagi ia mengenalkan laki-laki ke keluarganya selain Rio dulu.
Setelah berkenalan dan beramah tamah, mereka duduk di dalam ruangan yang sama. Suasana yang agak tegang karena tiba-tiba hening.
"Bu, tujuan saya datang kesini, sebenarnya mau melamar Mita." Adrian melirik ke arah Mita yang duduk di sampingnya.
"Serius nih? Emang udah lama kenalnya?" Meri nyeletuk.
"Sebenarnya kami udah lama kenal. Waktu masih jaman sekolah. Terus lama nggak ketemu. Dan... Beberapa bulan ini kami dekat. Menghindari gunjingan orang, saya ingin mempersunting Mita menjadi istri saya. Emang terdengar buru-buru, tapi kami sudah tidak dalam usia yang muda lagi. Saya juga sudah menceritakan keluarga dan kehidupan saya selama ini, begitupun sebaliknya. Saya juga kenal Rio, karena dia itu teman kampus dan sekarang teman kantor saya. Saya berbeda darinya. Saya juga sudah cukup mapan dari segi finansial. Jadi, saya tidak akan mengajak Mita untuk memulai semuanya dari nol. Tapi, saya berjanji akan membuatnya mapan bersama saya." Adrian bicara dengan jelas, meskipun sebenarnya jantungnya berdebar kencang sekali.
"Kamu temannya Rio?" Ibunya Mita memastikan.
"Teman satu kampus aja, sekarang juga satu perusahaan tapi beda divisi. Rio itu... Bawahan saya." Kali ini Adrian sedikit menyombongkan dirinya. Tidak apa-apa, demi mendapatkan restu keluarga calon istrinya.
Ibunya Mita serta saudarinya saling menatap. Ada sirat tersembunyi di balik tatapan tersebut.
"Kalau ibu sih senang aja. Toh kalian sudah sama-sama dewasa. Ibu akan menerima setiap keputusan Mita. Kalau Mita sudah yakin dengan dirinya, ibu akan mendukung."
Semuanya mengangguk setuju mendengar jawaban dari ibunya Mita.
"Memang kalian sudah ada rencana kapan akan menikah?" tanya Meri.
Adrian menatap Mita sesaat.
"Secepatnya," jawab Mita. "Sederhana aja. Yang penting hubungan kami sah."
Adrian mengangguk, meskipun sebenarnya dalam hati ia kurang setuju dengan kata 'sederhana' yang dilayangkan oleh Mita barusan.
[]