NovelToon NovelToon
Matahari Dibalik Kabut

Matahari Dibalik Kabut

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Perjodohan / CEO
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Chani Bae

Di koridor kampus berbasis agama di Kota T, Asyifa Humaira menjalani hari-harinya sebagai mahasiswi biasa. Namun, mendadak berubah saat sebuah perjodohan direncanakan untuknya. Sosok calon suaminya bukanlah orang asing di kampus, melainkan Fadhlan Ganendra, dosennya sendiri yang dikenal dingin, killer dan perfeksionis sekaligus pria yang menyimpan kunci masa lalu Syifa.

​ Sebuah kecelakaan tragis tiga belas tahun silam merenggut memori masa kecil Syifa, menyisakan lubang kosong tepat di bagian yang seharusnya diisi oleh nama "Fadhlan". Bagi Syifa, Fadhlan adalah orang asing yang dingin. Bagi Fadhlan, Syifa adalah kepingan masa lalu yang tak pernah ia lupakan.
​Di balik pernikahan ini, keluarga besar menyimpan harapan besar agar Syifa menemukan kembali ingatannya yang hilang.

Akankah ikatan suci ini menjadi matahari yang bersinar membuka kabut masa lalu, ataukah Syifa akan jatuh cinta kembali pada sosok yang sama untuk kedua kalinya tanpa pernah mengingat siapa dia sebenarnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chani Bae , isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 3

​Malam itu, di kediaman Abi Musthofa mendadak sesak oleh aura kewibawaan keluarga Ganendra. Di ruang tamu yang harum aroma kayu cendana dan melati, suasana terasa begitu khidmat. Kakek tak henti-hentinya menggenggam tangan pria muda di sampingnya, seolah takut jika dilepaskan, sosok itu akan menghilang lagi seperti tiga belas tahun lalu.

Kakek mengusap sudut matanya yang basah dengan sapu tangan lusuh. Suaranya bergetar saat menatap wajah pria itu lekat-lekat.

​"Rasanya baru kemarin Kakek melihatmu berlari di halaman depan sambil mengejar capung," suara Kakek serak oleh haru. "Waktu benar-benar cepat berlalu. Lihatlah, cucu sahabatku sekarang sudah tumbuh setegap ini."

​Pria itu, Fadhlan, hanya menarik sudut bibirnya tipis, sebuah senyum formalitas yang tidak sampai ke mata. "Maaf baru bisa berkunjung sekarang, kakek."

​"Tidak apa-apa, Nak. Kedatanganmu hari ini sudah membuat kami sekeluarga bahagia," sahut Abi Musthofa dengan nada rendah yang menenangkan.

Paman Romi berdehem, memecah suasana haru menjadi lebih serius. Beliau meletakkan cangkir tehnya perlahan.

​"Abang Musthofa, Om Ali... sebenarnya kedatangan kami bukan sekadar untuk melepas rindu," Paman Romi melirik Fadhlan.

"Beberapa hari setelah menginjakkan kaki kembali di kota ini, Fadhlan datang menemui saya. Dia mengatakan dengan tegas, bahwa tujuannya bukan hanya silaturrahmi, melainkan untuk memenuhi janji lama."

Syifa duduk bersimpuh di samping Ummi Salwa, jemarinya meremas ujung gamisnya kuat-kuat. Jantungnya berdegup tak keruan saat mendengar suara Paman Romi yang begitu lugas menyampaikan maksud kedatangannya.

​"Kami datang... untuk mengkhitbah putri Abang Musthofa, Ananda Asyifa Humaira, untuk keponakan kami, Muhammad Fadhlan Ganendra." ujar paman Romi, yang tak lain adalah adik kandung dari ayahnya Fadhlan.

​Deg!

​Dunia seolah berhenti berputar bagi Syifa. Ia mengira malam ini hanyalah perkenalan, namun ternyata ini adalah langkah besar menuju jenjang yang lebih serius. Air mata hampir saja tumpah.

"Ummi..." bisiknya lirih, mencari kekuatan.

​"Bismillah, Nduk. Mungkin ini jawaban dari istikharahmu," bisik Ummi Salwa sembari menggenggam tangan Syifa yang dingin.

Abi Musthofa terlihat menarik napas dalam, sebelum menjawab pernyataan yang dilontarkan oleh paman Romi.

"Terimakasih atas niat baiknya, tentunya saya sebagai orang tua, sangat senang mendengarnya. Insyaa Allah, abi percaya kalau nak Fadhlan ini pria yang baik"

"Seperti yang kita tahu bahwa di antara tahapan menuju jenjang pernikahan adalah mengkhitbah atau melamar. Khitbah sendiri adalah satu cara untuk menunjukkan keinginan seorang laki-laki untuk menikahi perempuan sekaligus memberitahukan hal yang sama kepada wali si perempuan" tutur abi Musthofa.

"Hikmah dari melamar tentunya memberi peluang untuk mengenal lebih jauh antara kedua belah pihak" Beliau menjeda sebelum kembali melanjutkan "Untuk saling mengetahui perangai, tabiat, dan adat kebiasaan masing-masing, dengan tetap memperhatikan batasan-batasan yang diperbolehkan syariat"

"Tapi yang perlu diingat oleh nak Fadhlan dan Asyifa putriku, khitbah itu baru sekadar janji pernikahan. Jadi laki-laki yang melamar dan perempuan yang dilamar statusnya masih orang lain. Tidak halal bagi si pelamar untuk melihat si perempuan kecuali bagian yang diperbolehkan syariat, yakni wajah dan kedua telapak tangan. Insyaa Allah nak Fadhlan sudah faham tentang ini bukan semasa di pondok pesantren dulu kan?” lanjut beliau.

​Dari kejauhan, di balik tirai yang membatasi ruang tamu dan ruang keluarga, Syifa mendengar suara berat itu menyahut. "Insya Allah, Abi," jawab Fadhlan dengan nada yang begitu tenang namun penuh kepastian.

Suaranya terdengar sangat dewasa, berwibawa, dan Syifa benci mengakuinya sangat menenangkan.

......................

​Prosesi pemasangan cincin yang diwakilkan oleh Tante Silvi (istrinya paman Romi) berlangsung haru. Saat tiba waktunya Syifa diperbolehkan melihat calon imamnya, tirai ruang tengah terbuka. Fadhlan melangkah masuk membawa buket mawar merah.

​Fadhlan menyalami Ummi Salwa dengan sangat takzim. Ada air mata yang menggenang di sudut mata pria itu saat mencium tangan Ummi, sebuah gestur yang membuat Syifa bertanya-tanya, seberapa rindu dia pada sosok ibu sampai menangis di depan Ummi?

​"Syifa, putriku... lihatlah calon suamimu sebentar," tutur Ummi Salwa lembut.

​Dengan napas yang tertahan, Syifa memberanikan diri mendongak. Di depannya berdiri pria yang sama dengan pria di minimarket kemarin.

'Syifa, akhirnya kita bertemu kembali. Apa ini nyata Ya Rabb? Gadis kecil yang dulu bersamaku? Asyifa Humairaku'

 Fadhlan sedang menatapnya, ada senyum tipis yang tulus di bibirnya.

'​Subhanallah... aslinya jauh lebih tampan dari fotonya, apalagi kalau lihat dari jarak dekat seperti ini'batin Syifa jujur, sebelum akhirnya ia kembali menunduk karena menyadari calon suaminya sedang menatap wajahnya.

Keduanya salah tingkah ketika tengah digoda oleh tante, paman, saudara sepupu dan adik-adiknya Syifa.

"Duh manisnya kalian berdua" ujar tante Silvi menggoda Syifa dan Fadhlan yang terlihat serasi.

"Jangan lama-lama bang, belum sah!" seru Haikal, sepupu Fadhlan yang melihat dari ruang tamu.

"Mau langsung akad atau gimana nih?" imbuh Raihan terkekeh melihat wajah kakaknya yang salah tingkah.

"Jaga jarak aman kata abi!" imbuh om Andi.

"Kak Syifa sama Kak Fadhlan lihat ke sini ya, 1..2..3..."

CEKREK!!

Tasya mengabadikan momen dua sejoli yang masih terlihat malu-malu dan masih sangat kaku karena baru pertama kali bertemu.

...----------------...

​Atas saran Abi Musthofa, mereka diberi waktu sepuluh menit untuk berbicara di teras, tentu dengan pengawasan Paman Andi dari kejauhan. Lima menit pertama hanya diisi oleh suara jangkrik dan bising anak-anak di kejauhan.

​"Apakah harus saya?" tanya Syifa tiba-tiba, suaranya datar namun tegas. "Maksud saya... di luar sana banyak gadis yang lebih setara dengan latar belakang keluarga anda, pak ."

​Fadhlan tertegun. Panggilan "Bapak" itu terasa seperti tamparan dingin baginya. Apa kamu keberatan dengan perjodohan ini?" tanya Fadhlan, suaranya kembali dingin dan profesional.

​"Bukan keberatan, tapi saya rasa kita butuh waktu untuk saling mengenal. Kita tidak perlu terburu-buru, bukan?"

​Fadhlan menoleh, menatap Syifa dengan tatapan yang sulit dibaca. "Lalu, saya harus menunggu sampai kapan? Sampai kamu lulus? Kenapa tidak kamu katakan jika kamu keberatan sejak awal pada kakekmu?"

​"Saya tidak bilang keberatan! Saya hanya ingin kita lebih matang mempersiapkan diri. Bukankah dalam hadits dikatakan bahwa agama adalah hal utama dalam memilih pasangan? Apa yang membuat Bapak begitu yakin dengan saya?" Syifa balik menyerang, mencoba memancing alasan Fadhlan.

​Fadhlan menghela napas. Gadis kecil yang dulu manis ini sekarang telah berubah menjadi wanita dewasa yang pandai beradu argumen.

"Tentang alasan itu, saya tidak bisa memberitahumu sekarang."

​"Kenapa Bapak terkesan sangat tergesa-gesa? Apa ada yang Bapak sembunyikan?" sindir Syifa. "Anda cukup lama tinggal di luar negeri... bagaimana saya bisa yakin jika anda tidak terpengaruh pergaulan bebas di sana?"

​Pertanyaan itu membuat Fadhlan tersentak. Ia merasa harga dirinya sedikit terusik. "Sempit sekali pemikiranmu jika memukul rata semua orang yang kuliah di luar negeri seperti itu," balas Fadhlan tajam.

"Dengarkan saya, Asyifa Humaira. Allah sudah menetapkan takdir setiap makhluk sejak lima puluh ribu tahun sebelum langit dan bumi diciptakan. Dan saat ini, takdir saya adalah memilihmu."

​Syifa terdiam. Ia baru tersadar bahwa pria di depannya ini adalah dulunya pernah menuntut ilmu di pesantren, tentu dia sangat fasih bicara soal takdir.

​"Saya tidak suka mengulur waktu," lanjut Fadhlan dengan nada mutlak. "Saya anggap kamu setuju. Pernikahan akan dilangsungkan dua minggu lagi!"

​Fadhlan berbalik, melangkah masuk ke dalam rumah tanpa menunggu persetujuan Syifa.

​"Tunggu! Dua minggu? Hei, Pak!" Syifa mendesis kesal, namun Fadhlan sudah kembali ke ruang tamu dan dengan tenang mengumumkan keputusan sepihak itu kepada keluarga besar.

​"Insyaa Allah kami sepakat jika pernikahan dilaksanakan dua minggu lagi, Abi, Kakek, om" ucap Fadhlan di depan semua orang yang langsung disambut pekik bahagia Kakek Ali.

​Syifa yang berdiri di ambang pintu hanya bisa mengusap dada. 'Lelaki itu... dia benar-benar egois dan dingin seperti es batu! Bisa-bisanya aku tertipu dengan senyuman di ruang keluarga tadi' gerutunya dalam hati, tanpa tahu bahwa di balik wajah dingin itu, jantung Fadhlan sedang berdegup jauh lebih kencang darinya.

...****************...

1
Ulfa 168
bagus cerita nya kak ditunggu kelanjutannya
Idah Faridah
alhamdullilah sah 👍
Rian Moontero
mampiiirr😍
Chani Bae ✨: Terimakasih kak sudah mampir 🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!