Sinopsis Ringkas
Kayla selalu menjadi wanita sempurna—cantik, pintar, dan selalu juara sejak kecil. Namun setelah menikah muda dengan pria yang dicintainya, Adrian, hidupnya perlahan berubah. Demi menjadi istri yang baik, Kayla mengorbankan impian, penampilan, dan dirinya sendiri.
Sayangnya, semua pengorbanan itu justru membuat Adrian bosan.
Saat Adrian mulai berselingkuh dengan Bianca, Kayla tetap bertahan… sampai akhirnya ia lelah menjadi satu-satunya orang yang memperjuangkan pernikahan mereka.
Setelah dua tahun penuh luka, Kayla memilih bercerai.
Tak ada yang menyangka bahwa setelah pergi dari Adrian, Kayla kembali bersinar. Ia melanjutkan kuliah, meraih karier impian, dan berubah menjadi wanita yang begitu mempesona.
Di saat Adrian mulai menyesal dan mati-matian ingin mendapatkannya kembali, hadir Julian—CEO muda sekaligus kakak senior kampus yang diam-diam telah lama mencintai Kayla.
Namun hati Kayla sudah terlalu hancur untuk percaya pada cinta lagi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wiwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Terlalu Banyak Diam
Kayla sama sekali tidak memejamkan matanya sepanjang malam.
Saat cahaya matahari pagi mulai menyelinap masuk lewat celah tirai jendela apartemen, ia masih duduk diam mematung di sofa ruang tamu, hanya dibalut selimut tipis yang sama sejak semalam. Punggungnya terasa kaku, matanya perih dan berat, namun pikirannya tetap terjaga sepenuhnya.
Ponselnya tergeletak diam di atas meja kecil di hadapannya. Foto itu sudah lama ia tutup, layarnya sudah gelap sejak berjam-jam lalu. Namun bayangan dalam foto itu terus berputar berulang-ulang di kepalanya, seolah tercetak permanen di sana.
Bayangan Adrian yang tersenyum lepas. Bianca yang bersandar manja di bahu suaminya. Dan suasana hangat, akrab, serta bahagia yang terlihat begitu nyata di sana, suasana yang sudah sangat lama tidak pernah lagi ia rasakan di rumah mereka sendiri.
Kayla memejamkan mata pelan, menarik napas panjang yang terasa berat dan pendek. Dadanya terasa lelah luar biasa. Bukan marah. Bukan kecewa.
Lebih dari itu… rasanya seperti kehabisan tenaga. Seperti seseorang yang sudah berlari terlalu jauh, terlalu lama, dan akhirnya sadar bahwa ia berlari sendirian.
Pukul tujuh pagi, ponselnya bergetar dan berdering nyaring memecah keheningan pagi itu.
Nama Adrian muncul di layar ponsel yang kini kembali menyala.
Kayla menatap nama itu cukup lama. Menatapnya seolah melihat orang asing, sebelum akhirnya ia mengangkat panggilan itu dengan tangan yang gemetar pelan.
“Halo,” suaranya terdengar parau dan rendah.
Di seberang sana, suara Adrian terdengar berat, serak, dan masih belum sepenuhnya jernih. Sepertinya ia baru saja bangun tidur.
“Kamu belum tidur semalam?” tanya Adrian langsung.
Pertanyaan sederhana itu langsung membuat tenggorokan Kayla terasa sesak dan penuh. Bahkan hanya dari mendengar nada bicaranya saja, Adrian sudah bisa menebak keadaannya.
Namun pria itu tidak tahu alasan di baliknya. Tidak tahu bahwa istrinya terjaga semalaman hanya karena memikirkan dirinya.
“Udah. Aku sudah tidur kok,” jawab Kayla pelan, berbohong demi ketenangan keduanya.
“Hm,” gumam Adrian singkat.
Keheningan menyelimuti sambungan telepon itu beberapa detik yang terasa panjang.
Lalu Adrian berkata lagi, “Aku mungkin pulang besok malam. Ada sedikit urusan tambahan yang harus diselesaikan.”
“Oh.”
“Kamu di rumah makan yang bener ya. Jangan lupa minum vitamin.”
Kayla hampir tertawa kecil mendengar ucapan itu. Tawa yang pahit dan menyakitkan.
Lucu sekali. Adrian masih ingat hal-hal kecil seperti mengingatkan makan atau minum vitamin. Masih berusaha terlihat peduli pada hal-hal dangkal. Tapi pria itu sama sekali tidak sadar… bahwa perlahan tapi pasti, ia sedang menghancurkan hati istrinya sendiri sampai berkeping-keping.
“Kay?” panggil Adrian karena tak ada jawaban.
“Hm? Iya, aku denger.”
“Kamu kenapa? Suaramu aneh banget,” tanyanya curiga.
Pertanyaan sederhana itu hampir membuat Kayla menangis di tempat.
Karena untuk sesaat itu… ia ingin sekali jujur. Ingin berteriak dan bertanya "Kenapa kamu terlihat lebih bahagia dan lebih hidup bersama perempuan lain dibanding saat bersamaku? Kenapa kamu berubah sejauh ini?"
Namun seperti biasa… Kayla memilih untuk mengerti. Memilih untuk diam. Memilih menelan rasa sakitnya sendiri.
“Nggak apa-apa. Cuma sedikit kurang enak badan saja,” jawabnya pelan.
Dan lagi-lagi… percakapan mereka selesai dengan terlalu banyak hal yang sebenarnya ingin diucapkan, tapi terkunci rapat di dalam dada.
Siang harinya, Kayla memutuskan pergi ke minimarket dekat apartemennya. Ia hanya ingin keluar sebentar. Ingin menghirup udara luar yang mungkin lebih segar. Ingin mengalihkan pikiran dari segala sesak yang memenuhi kepalanya.
Namun saat sedang berdiri di depan rak makanan memilih bungkus mi instan, telinganya tak sengaja menangkap pembicaraan dua perempuan muda yang berdiri tak jauh di belakangnya. Suara mereka terdengar pelan, sedang bergosip santai.
“Cowok tuh emang gitu ya. Kalau udah nyaman sama cewek lain, keliatan banget bedanya. Mata sama sikapnya berubah total.”
“Iya bener. Apalagi kalau di rumahnya udah nggak seru, udah ngebosenin, pasti cari kesenangan di luar sana.”
Kayla langsung terdiam kaku. Tangannya yang sedang memegang bungkus mi itu berhenti bergerak.
Entah kenapa, kata “ngebosenin” itu terasa seperti menampar wajahnya tepat di depan umum. Terasa begitu tajam dan tepat sasaran.
Karena akhir-akhir ini… ia juga mulai takut. Takut kalau memang itulah yang dipikirkan Adrian tentang dirinya. Bahwa ia membosankan. Bahwa ia tidak lagi menarik. Bahwa ia hanya istri yang diam di rumah, memasak, dan menunggu.
Ia berjalan pulang dengan langkah yang semakin pelan dan berat. Dan sepanjang jalan itu, pikiran-pikiran buruk terus berputar liar memenuhi kepalanya.
Malam harinya, Kayla berdiri cukup lama di depan lemari pakaiannya yang terbuka.
Tangannya perlahan menyentuh gaun-gaun indah yang tergantung rapi di sana. Banyak di antaranya yang sudah jarang bahkan hampir tidak pernah ia pakai lagi. Beberapa masih terlihat baru, masih berbau toko, belum pernah disentuh kainnya oleh udara luar.
Dulu, Adrian sering sekali membelikannya baju. Sering mengajaknya berbelanja dan memilihkan gaun yang menurutnya paling cantik untuk istrinya.
Sekarang… bahkan sekadar memperhatikan keberadaan Kayla saja, Adrian jarang melakukannya.
Kayla akhirnya mengambil satu helai gaun sederhana berwarna hitam polos dengan potongan yang pas di badan. Lalu ia berdiri di depan cermin besar di kamarnya.
Perlahan, dengan gerakan lambat dan hati-hati, ia merias wajahnya. Hiasan yang tidak berlebihan, hanya cukup menonjolkan sisi lembut wajahnya. Merapikan rambut panjangnya, lalu memasang anting kecil berlian pemberian Adrian dulu.
Saat selesai, ia menatap bayangan dirinya sendiri cukup lama dalam diam.
Cantik.
Sebenarnya ia masih sangat cantik. Wajahnya masih lembut, kulitnya masih halus, tubuhnya masih indah.
Namun anehnya… ia tidak lagi merasa percaya diri. Tidak lagi merasa berharga.
Karena Kayla sadar betul… rasa percaya diri seorang wanita sering kali hancur bukan karena dirinya yang berubah menjadi jelek, tua, atau buruk rupa… tapi karena ia tidak lagi dicintai, tidak lagi dilihat, dan tidak lagi dihargai dengan cara yang sama seperti dulu.
Keesokan malamnya, Adrian akhirnya pulang.
Wajah pria itu terlihat sangat lelah saat melangkah masuk ke dalam apartemen, menarik koper kecilnya dengan malas, dan meletakkan tas kerjanya sembarangan di kursi.
Kayla berdiri perlahan dari sofa menyambutnya.
“Kamu pulang,” sapanya pelan.
“Hm,” jawabnya singkat sambil melepas jas luarnya. Ia mengusap tengkuknya yang kaku. “Aku capek banget.”
Kayla berjalan mendekat, berniat membantu melepas tas atau mengambilkan air. “Mau aku bikinkan teh hangat? Biar agak enak badanmu.”
“Nggak usah. Mau langsung istirahat saja,” tolaknya datar.
Lalu seperti biasa… keheningan kembali muncul dan merayap di antara mereka. Jarak yang sempit di ruangan itu terasa jauh sekali.
Namun kali ini, Kayla tidak tahan lagi. Ia tidak mau membiarkan suasana ini berlalu begitu saja tanpa bicara apa-apa.
“Perjalanan dan rapatnya lancar semua?” tanyanya berusaha biasa saja.
“Lancar.”
“Terus? Rapat terus saja sampai malam-malam?”
Pertanyaan itu membuat Adrian berhenti bergerak. Ia menoleh sedikit ke arah istrinya dengan dahi berkerut.
“Iya. Emang kenapa?”
Kayla menggigit bibir bawahnya pelan, menahan gugupnya, sebelum akhirnya ia mengucapkan kalimat yang sudah tertahan lama di kerongkongannya.
“Aku lihat postingan foto dari hotel itu. Yang diunggah rekan kerjamu.”
Dan untuk pertama kalinya malam itu… ekspresi wajah Adrian benar-benar berubah. Berubah menjadi kaku, waspada, dan tak nyaman.
“Postingan apa?”
“Foto… yang ada kamu sama Bianca duduk bersebelahan.”
Sunyi. Hening. Atmosfer ruangan langsung berubah menjadi berat dan tak enak.
Adrian mengembuskan napas panjang pelan, lalu meletakkan tas tangannya ke meja dengan agak kasar.
“Itu cuma foto biasa buat kenang-kenangan kantor saja. Nggak ada apa-apanya,” jawabnya cepat.
“Tapi kalian kelihatan sangat dekat. Sangat akrab,” ucap Kayla pelan namun tegas.
“Ya karena kita satu tim kerja, sering bareng, jadi akrab. Wajar kalau dekat,” jawabnya terlalu cepat, terlalu defensif.
Kayla mencoba tetap tenang, meski dadanya sesak. “Aku nggak bilang kamu melakukan kesalahan, Adrian…”
“Nah terus kenapa dibahas lagi?”
Nada suara Adrian mulai terdengar tidak sabar dan jengkel.
“Aku cuma pengen kamu ngerti aja.”
“Mengerti apa lagi?”
“Mengerti… kenapa akhir-akhir ini kamu terlihat lebih nyaman, lebih santai, dan lebih bahagia sama dia dibanding sama aku.”
Kalimat itu akhirnya keluar juga. Terucap lantang.
Dan setelah mengucapkannya, Kayla baru benar-benar sadar betapa sakit sebenarnya hatinya selama ini. Betapa dalam lukanya.
Adrian terdiam beberapa detik, menatap istrinya dengan tatapan yang sulit dimengerti. Lalu ia tertawa kecil samar. Bukan karena lucu. Lebih karena rasa lelah dan malas berdebat.
“Kayla…”
Pria itu mengusap wajahnya kasar dengan kedua tangan.
“Aku tuh udah capek kerja capek-capek dari pagi sampai malam tiap hari. Otak aku pusing mikirin kerjaan.”
“Aku tahu. Aku ngerti itu.”
“Terus pas pulang ke rumah, aku harus jelasin semua hal juga? Aku harus laporin semua gerak-gerik aku?”
“Aku cuma pengen ngobrol. Pengen kita deket lagi,” jawab Kayla parau.
“Tapi cara kamu sekarang itu… kayak orang lagi menyelidiki aku terus-terusan.”
Kalimat itu langsung membuat wajah Kayla memucat. Matanya memanas seketika.
“Aku nggak pernah menyelidiki kamu. Aku cuma tanya biasa saja.”
“Serius? Tanya biasa saja? Dikit-dikit Bianca. Dikit-dikit nanya ke mana. Dikit-dikit curiga.”
Karena aku takut kehilangan kamu.
Kalimat itu nyaris meluncur keluar dari mulutnya. Nyaris saja. Tapi tertahan keras di tenggorokan, tersumbat oleh rasa sakit.
Kayla menunduk cepat, menatap lantai.
“Aku cuma…”
“Kamu terlalu banyak mikir. Terlalu banyak berhalusinasi. Semua hal kamu jadiin masalah,” potong Adrian ketus.
Lagi.
Lagi-lagi semuanya dianggap hanya pikirannya. Anggapan istrinya. Masalah buatan Kayla.
Dan untuk pertama kalinya malam itu…
Kayla merasa dirinya benar-benar sendirian. Benar-benar sendiri dalam hubungan dua orang ini.
harus nya lebih banyak lagi tadi di balikin kata-kata soal kedekatan antara laki dan perempuan kepada si Adrian yg kemarin dia lebih parah deketnya sama si ulet Bianca itu 😡😡👍
dan saat hal tsb di lakukan oleh pasangan nya, dia gak terima..dan merasa sakit!!
tapi sebenarnya jauhh sebelumnya, dia sendiri melakukan hal tsb jauhhh lebih menyakitkan 😡😡