Merlin percaya bahwa cinta cukup untuk membuat seseorang tetap tinggal disisinya. Sampai suatu hari, ia menyadari bahwa, cinta tidak selalu kalah oleh cinta pada orang ketiga. Melainkan, ia kalah oleh tanggung jawab.
Reyno tidak pernah benar-benar pergi dari sisinya. Dia masih pulang. Masih memanggil nama Merlin seperti biasa.
Tapi perlahan, kehadirannya berubah. Perhatiannya terbagi. Waktunya bukan lagi milik satu hati. Dan tanpa disadari, Merlin mulai kehilangan seseorang yang masih ada di sisinya.
Di antara kewajiban dan perasaan,
siapa yang seharusnya dipilih?
Dan ketika semuanya sudah terlambat,
apakah cinta masih punya tempat untuk kembali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Green_Rose, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Yhtp *21
"Kamu ... kamu gak papa kan? Badan kamu enak? Nggak pusing atau apa?" tanyanya pelan, mencoba mencari tahu keanehan itu.
Merlin menatap wajah suaminya cukup lama. Lama sekali. Matanya terlihat lelah, sedih, namun juga penuh keraguan yang mendalam.
Haruskah ia memberitahu Reyno sekarang? Di saat pikiran suaminya masih penuh dengan nama Yara? Di saat bahkan begitu pulang ke rumah pun, hal pertama yang dibicarakan dan ditanyakan Reyno tetap saja tentang wanita itu? Di saat Reyno sama sekali tidak bertanya kenapa ia memasak makanan sebanyak itu, kenapa ia berdandan rapi kemarin sore, atau kenapa ia menunggu sampai dini hari begini?
Entah kenapa, rasa takut tiba-tiba merayap di hatinya. Ia takut kabar bahagia ini, kabar tentang kehadiran buah hati mereka, tidak akan terasa spesial lagi. Ia takut berita ini malah dianggap sebagai beban baru di tengah kekacauan hidup suaminya.
"Gapapa," jawab Merlin pada akhirnya. Pelan, namun tegas. "Aku gak papa kok."
Dan lagi-lagi, ia memilih menunda. Menunda kebahagiaannya sendiri. Menunda kabar yang seharusnya jadi hal paling indah untuk dibagi.
Reyno menghela napas kecil, lalu menyandarkan tubuhnya ke sandaran sofa, memejamkan mata sebentar karena rasa lelah yang luar biasa menyerang seluruh sendinya.
"Aku capek banget hari ini. Rasanya pingin tidur seharian," gumamnya pelan.
Merlin menatap wajah suaminya diam-diam. Menatap raut wajah yang masih sangat ia cintai, wajah yang dulu selalu menjadi sumber kekuatannya. Namun sekarang, setiap kali melihat wajah itu, setiap kali mendengar suaranya, hatinya selalu ikut sakit, selalu ikut perih.
"Rey," panggilnya pelan, suaranya bergetar sedikit.
"Hm?" Reyno membuka sedikit matanya, menoleh ke arah istrinya.
Kalimat itu hampir keluar dari mulut Merlin. Kalimat yang sudah ia siapkan sejak kemarin siang. «Aku hamil. Kita bakal punya anak, Rey.»
Namun belum sempat bibirnya bergerak mengucapkan kata-kata itu, suara nyaring ponsel Reyno kembali terdengar memecah keheningan di ruang tamu itu.
Layar ponsel yang tergeletak di meja samping sofa menyala terang. Nama itu kembali muncul di sana, jelas dan nyata. Yara.
Refleks, tubuh Reyno langsung menegang. Matanya yang tadinya setengah terpejam langsung terbuka lebar. Gerakan itu begitu cepat dan begitu biasa dilakukan, sampai rasanya sudah menjadi kebiasaan buruk yang mendarah daging.
Dan seketika itu juga, niat baik yang ada di hati Merlin langsung hilang lenyap. Ia langsung diam, menutup mulutnya rapat-rapat.
"Kayaknya dia belum tidur lagi deh," gumam Reyno pelan, lalu dengan cepat mengambil benda itu dan mengangkat sambungannya tepat di samping telinganya, seolah itu adalah hal yang paling mendesak di dunia saat itu.
Merlin menunduk perlahan, menatap jari-jarinya sendiri yang saling bertautan erat. Dadanya terasa semakin sesak, semakin penuh oleh rasa sakit yang tak berujung.
"Iya, Yara? Ada apa lagi? Kenapa?" nada suara Reyno langsung berubah menjadi lembut, penuh perhatian, dan sangat sabar. Nada suara yang dulu khusus untuk Merlin saja. Di seberang sana terdengar suara isakan tangis samar yang terdengar sampai ke telinga Merlin.
"Udah, udah... jangan nangis lagi ya. Nanti makin sesak napasnya," bujuk Reyno pelan, suaranya terdengar begitu menenangkan. "Aku gak marah kok sama kamu. Aku di sini aja, nggak ke mana-mana. Besok pagi aku ke sana lagi ya, nemenin kamu cek dokter lagi."
Sesuatu yang kecil namun berharga di dalam hati Merlin perlahan runtuh lagi. Runtuh untuk kesekian kalinya.
Karena bahkan saat berada di rumah, bahkan saat duduk tepat di samping istrinya sendiri, bahkan di jam dini hari begini... sebagian hati, pikiran, dan perhatian Reyno tetap berada di tempat lain. Tetap berada pada wanita lain.
Percakapan lewat telepon itu berlangsung cukup lama. Berlangsung sampai Merlin merasa dirinya seperti orang asing yang duduk di sebelah orang yang tidak dikenalnya. Ia hanya diam, mendengarkan, dan menahan rasa sakit yang menggerogoti dadanya.
Sampai akhirnya Reyno menutup sambungan telepon itu dan menghela napas panjang yang berat. Ia meletakkan ponselnya kembali ke meja.
"Dia takut sendirian katanya. Mimpi buruk terus kalau tidur sendiri," ucap Reyno menjelaskan, seolah perlu memberi alasan pada Merlin.
Merlin hanya tersenyum tipis. Namun kali ini, senyum itu terasa begitu rapuh, begitu hampa, dan begitu menyedihkan.
"Hmm," hanya itu jawabannya.
Reyno menoleh, menatap istrinya yang diam saja. "Kamu tadi mau ngomong apa sama aku ya? Tadi sempat mau ngomong sesuatu kan?"
Merlin terdiam beberapa detik. Tatapannya perlahan berpindah dari wajah suaminya, melayang jauh menuju kotak putih kecil yang masih setia menunggu di meja makan sana. Lalu kembali menatap mata Reyno.
Namun entah kenapa, semangat, keberanian, dan kebahagiaan yang ia miliki kemarin itu sudah hilang entah ke mana. Sudah luntur dimakan rasa kecewa yang menumpuk.
"Gak jadi," jawabnya pelan.
Reyno mengernyitkan dahi bingung. "Kenapa? Katakan aja apa itu. Ada masalah apa?"
Merlin menggeleng kecil, memaksakan nada bicaranya terdengar tenang. "Bukan hal penting kok. Lupa aja deh."
Padahal itu adalah hal paling penting, paling besar, dan paling indah dalam hidupnya saat ini. Dan untuk pertama kalinya malam itu, Merlin mulai merasa takut. Takut membawa anak mereka ke dalam hubungan rumah tangga yang perlahan retak, yang perlahan menjauh, dan yang perlahan kehilangan rasa seperti ini.
*
Keesokan paginya, sinar matahari pagi masuk menyelinap lewat celah gorden jendela. Merlin bangun dengan tubuh yang terasa jauh lebih lemas dari biasanya. Rasa mualnya semakin sering datang, kepalanya berdenyut nyeri, dan kakinya terasa goyah setiap kali melangkah. Namun ia tetap memaksakan diri bangun, memaksakan diri ke dapur, dan berusaha membuat sarapan seperti biasa.
Saat sedang memotong buah pepaya di atas talenan di meja dapur, tiba-tiba pandangannya kembali berkunang-kunang. Kepalanya terasa berputar hebat. Tubuhnya limbung tak tertahankan. Pisau di tangannya terlepas begitu saja, jatuh ke lantai keramik dengan bunyi keras dan tajam.
Brak!
Reyno yang baru saja keluar dari kamar tidur dan sedang merapikan kerah kemejanya langsung kaget bukan main. Ia berlari kecil mendekat ke arah dapur.
"Mer! Kamu kenapa?!" serunya panik.
Pria itu buru-buru menghampiri dan menahan tubuh istrinya yang hampir ambruk jatuh ke lantai.
"Pusing, kepalaku pusing banget," gumam Merlin lemah, tangannya mencengkeram pinggiran meja dapur untuk menopang tubuhnya.
Wajah Reyno langsung berubah pucat dan penuh kekhawatiran. Ia menyentuh dahi, pipi, dan tangan Merlin dengan cepat.
"Darah kamu dingin banget, Mer. Badan kamu juga dingin. Kamu keringatan dingin begini," suaranya terdengar panik. Ia memegang kedua bahu istrinya agar tetap berdiri tegak. "Kamu keliatan pucat banget, Sayang. Udah berapa lama kayak gini? Kenapa nggak bilang-bilang aku?"
🥹🥹