NovelToon NovelToon
Darah Di Bukit Manoreh

Darah Di Bukit Manoreh

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Istana/Kuno / Anak Genius
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Maya Melinda Damayanty

Mereka menyebutnya perempuan api dari Bukit Menoreh.
Putri seorang punggawa sakti yang tumbuh bersama pedang dan dendam.
Saat kematian ayahnya menyeretnya ke dalam pusaran perang dan kesalahpahaman, Srikandi percaya kerajaan telah mengkhianati darah ayahnya.
Namun semakin jauh ia melangkah… semakin ia sadar bahwa luka manusia tak pernah sesederhana hitam dan putih.
Terlebih ketika hatinya justru jatuh pada lelaki yang tak mungkin ia miliki.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maya Melinda Damayanty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

TIDAK PERNAH KEMBALI 2

Angin berembus keras saat tubuh Srikandi melesat di atas atap-atap rumah warga.

Caping bambunya nyaris terbang diterpa angin, namun gadis itu tak peduli. Dadanya berdegup semakin cepat.

“Berangkat lagi?” gumamnya bingung.

“Tapi Ayah baru pulang…”

Dari kejauhan suara terompet perang mulai terdengar.

Tuuuuutttt!

Tuuuuttt!

Rombongan itu makin jauh dari pandangan dan hilang. Srikandi kehilangan pandangan, bukit Manoreh terlihat menjulang di depannya.

"Mereka cepat sekali!" decak gadis itu, lalu ia mengerahkan seluruh kekuatannya untuk mengejar mereka.

Kedigdayaan pada prajurit Kali Ireng memang sudah terkenal di antero seluruh kerajaan sekitar. Bahkan sekelas prajurit biasa saja memiliki ilmu kanuragan tinggi.

Makanya pergerakan mereka menuju bukit Manoreh sangat cepat. Jika orang biasa bisa menempuh satu hari perjalanan.

Keringat Srikandi sudah menetas, bahkan membasahi punggung dan dadanya. Nafasnya mulai terengah-engah. Ia memilih berhenti di salah satu dahan pohon yang cukup besar.

Perutnya perih, ia lapar. Sebelum pergi tadi, dirinya hanya minum air kendi saja.

"Jika aku teruskan, maka aku yang tumbang," gumamnya pada diri sendiri.

Srikandi akhirnya turun dari dahan pohon, mulai berburu. Kali ini ia pergi ke hulu sungai, di sana ada ikan yang bisa dipancing dan jadi makanan.

Tentu dengan ilmu kanuragannya, Srikandi sangat mudah memperoleh ikannya.

Bara menyala, Srikandi mengasapi tangkapannya. Asap tipis mengepul dari sela-sela bebatuan di hulu sungai, membawa aroma gurih ikan bakar yang perlahan mematangkan dagingnya.

Srikandi duduk bersila di atas batu kali yang datar, tatapannya kosong menembus kobaran api kecil di depannya.

Perutnya yang semula perih kini perlahan mulai ditenangkan oleh suapan demi suapan daging ikan yang hangat.

Namun, ketenangan di hulu sungai ini sama sekali tidak mampu mendinginkan kepalanya.. Ia masih memikirkan ayahnya, tak biasanya ayahnya kembali memimpin perang.

Usai makan, ia kembali ke atas pohon, duduk di dahan besar. Angin semilir, bertiup pelan seakan memanjakan mata dan tubuh Srikandi yang kelelahan baik tubuh juga pikirannya.

Perlahan matanya sayu, lalu mengatup. Tak lama, terdengar suara halus keluar dari mulutnya, nafasnya begitu teratur. Srikandi tertidur pulas.

Waktu begitu lama, bahkan matahari sudah terbenam. Angin malam yang dingin mulai menusuk tulang. Belum lagi kabut yang menyelimuti.

Srikandi akhirnya terbangun karena hawa dingin itu. Ia nyaris jatuh dari atas pohon, jika saja ia terlambat sadar.

"Sang hyang Widhi!" jantung Srikandi seperti mau lompat saat ia nyaris jatuh tadi.

"Kenapa aku bisa di sini?" Srikandi lalu mengingat.

"Ah ... ayah!" ujarnya kemudian lalu ia berdiri, kembali menggunakan ilmu meringankan tubuh.

Kini ia ada di atas pucuk pohon waru. Matanya menatap rombongan prajurit yang sudah tidak terlihat. Kemungkinan mereka semua kini sedang berperang di atas bukit.

Srikandi kembali melompati pucuk-pucuk pohon. Tubuhnya melesat mendekati bukit. Angin malam yang dingin, tak dihiraukannya lagi. Ia mengerahkan kembali kecepatannya agar sampai di atas bukit.

Asap dari api kayu dibakar membumbung tipis di angkasa. Tak ada suara pedang beradu, tak ada teriakan semangat para prajurit atau tentara musuh yang menyerang. Bukit itu telah sunyi.

Panji merah tanda kemenangan besar berkibar. Tampak, para pemimpin pasukan tentang berkumpul di suatu tenda. Sementara beberapa di antaranya tengah berjaga-jaga.

Gerakan Srikandi memelan, kakinya menjejak ringan dahan-dahan pohon. Matanya mencari satu sosok di antara para prajurit itu.

Srek! Bunyi gemericik dedaunan membuat para prajurit siaga.

"Siapa itu!" teriak salah satu punggawa.

"Paman Buksa!" Srikandi mengenali pria itu. Wajahnya semringah.

Gadis itu keluar dari semak-semak, beberapa kulitnya tergores. Mata Buksa menyipit.

"Srikandi?"

"Paman ...!" Srikandi mendekat.

"Mana Ayah?" tanyanya langsung mencari keberadaan ayahnya.

Sementara di sebelah Utara istana. Baru saja berlangsung upacara pemakaman agung. Selain Ki Abda Sedah Nirah, ada beberapa prajurit yang ikut gugur di medan perang.

Semua keluarga prajurit datang untuk memberi penghormatan terakhir. Airmata duka mengiringi iringan jenazah yang di kebumikan. Tapi hanya Srikandi yang tak hadir di sana.

Sri Baginda Raja memberi seluruh keluarga prajurit peti-peti berisi uang.

"Sebagai penghormatan terakhir Raja. Aku Prabu Laksa Anartepa Ireng. Memberikan upeti untuk kelangsungan hidup bagi kalian, wahai keluarga prajurit-prajuritku! Gunakan dengan bijak!" seru Prabu Laksa tegas.

Setelah diberi peti-peti berisi kepingan emas dan perak. Seluruh keluarga pulang dengan menggunakan andong atau kereta kuda.

Permaisuri Ratu menatap suaminya yang tampak lelah dan sedih.

"Kangmas Gusti Prabu. Apa ini sudah benar? Srikandi tak diberi tau?" tanyanya lirih.

Prabu Laksa tak menjawab, tapi ia yakin dengan keputusannya.

"Tapi Srikandi pasti datang ke sini untuk menanyakan keberadaan ayahnya," Prabu Laksa menatap istrinya.

Perempuan itu langsung bersimpuh, ia takut menyinggung suaminya yang raja.

"Ampuni hamba Kangmas Gusti!"

"Berdirilah, Nyimas Ratu!" perintah Prabu Laksa.

Permaisuri Ratu bernama Raden Ajeng Gusti Sandika Pramesti, seorang putri keraton dari babatan Jawa.

Parasnya lembut bagai rembulan, tutur katanya halus, dan pikirannya setajam empu yang menempa keris pusaka.

Sejak kecil ia dididik membaca kitab-kitab kerajaan, memahami siasat perang, tata negara, hingga ilmu membaca watak manusia.

Bahkan di masa mudanya, banyak adipati segan pada kecerdasannya.

Namun setinggi apa pun cahaya seorang perempuan di zaman itu, harus redup di balik dinding-dinding istana.

"Jika Srikandi menuntut balas karena dia tak diberitahu. Aku sendiri yang siap menerima hukumannya," jawab Prabu Laksa rendah.

"Apa bedanya Kangmas Gusti?" tanya Permaisuri.

"Kalau sekarang ... Aku belum siap. Terlebih, luka Ki Abda menggores panjang di punggungnya," jawab Prabu Laksa.

Melihat begitu berat beban yang dipikul suaminya, membuat Sandika ikut sedih. Ia juga tak bisa membayangkan bagaimana kemarahan Srikandi.

"Aku akan meminta Punggawa Buksa untuk menenangkan gadis itu. Srikandi hanya menuruti pria itu selain ayahnya," ujar Prabu Laksa yakin.

Sementara di bukit Manoreh, Srikandi yang tak menemukan ayahnya menatap Buksa dengan tatapan menyelidik.

"Mana ayahku?" tanyanya lirih.

Sementara di tenda, ada suara tawa dari Senopati Sengko.

"Srikandi, tenangkan dirimu Nduk," pinta Buksa pelan.

"Aku bertanya sekali lagi Paman!" seru Srikandi dengan suara keras.

Suara itu bukan keras yang biasa, tapi ada tekanan tenaga dalam murni. Jika orang biasa mendengarnya, ia bisa tuli seumur hidup.

"Srikandi!" Buksa mengerahkan juga tenaga dalam untuk menyerap kekuatan tenaga dalam yang dikeluarkan gadis di depannya.

"Paman ... Mana ayahku!" Buksa menenangkan ritme jantungnya yang berdetak cepat.

Kini ia tahu, seberapa keras Ki Abda melatih putrinya.

"Kandi ... Ayahmu ... Gugur," jawab Buksa lirih.

Srikandi mundur satu langkah, matanya masih menatap lurus mata pria yang ia panggil paman itu. Mencari kebohongan, tapi ternyata apa yang dikatakan Buksa adalah kebenaran.

"Katakan sekali lagi ... Paman?" tanyanya lirih.

Senopati Sengko keluar dari tenda, ia juga mengerahkan seluruh tenaga dalamnya untuk menangkis ilmu yang dikeluarkan Srikandi.

"Ayahmu gugur. Punggungnya terkena sabetan pedang ...."

"Ayahku kebal senjata!" teriak Srikandi marah.

Srak! Drrrr! Bumi sedikit berguncang ketika Srikandi berteriak.

"Beliau tak mungkin gugur hanya terkena sabetan kecil! Siapa yang ingin kau bohongi Paman!"

Kaaak! Kaaak! Kaaak! Burung-burung malam bersuara, terbang dengan suara kepakan sayap yang sangat keras.

Binatang-binatang kecil berhamburan lari dari sarangnya. Sementara para prajurit yang ilmunya memang sudah tinggi, hanya berdiri tenang.

"Kalian mengkhianati ayahku!" tunjuk Srikandi.

"Atau mereka pengecut menyerang dari belakang!" Srikandi melesat, ia pergi dari pasukan itu.

Buksa menatap gadis itu dengan hati hancur. Airmatanya menetes, seribu penyesalan ada di dadanya kini.

"Maaf Srikandi ... maafkan Paman!"

Bersambung.

Wah ...

apakah benar jika Ayah Srikandi dikhianati?

Next?

1
Benny Badaruddin
keren
Deyuni12
hiiii
nyi padan serem akh
lanjut
Anita Barus
windu...windu. berharalmemanasi Ki abda Ter nyata kiabda malah senang dan memberi selamat PD mempelai 🤣🤣🤣🤣🤣
Anita Barus
raja pasti akan menuruti.apa yg di mau Ki abda .
Anita Barus
maka nya dia selalu saja mengganggu Srikandi weleh. weleh
Anita Barus
oh ternyata windu sejak dulu SDH jatuh cinta PD Ki abda namun di tolak .cinta bertepuk sebelah tgn to .
Anita Barus
ada2saja si windu ini masak sama keponakan suami nya sendiri cemburu kenapa pula sambil nangis nyebut ayahanda Srikandi dsr w😄Ong edan
Anita Barus
berarti ki abda sengaja menumbal kan diri nya utk melindungi kerajaan
vania larasati
lanjut
Deyuni12
lanjutkan
Deyuni12
seruuuuu
Deyuni12
lanjutkan
vania larasati
lanjut
Eni Istiarsi
Bibi Rukmi antara kesambet atau dapet hidayah😄
vania larasati
lanjut
Deyuni12
lanjut kan
vania larasati
lanjut
Anita Barus
sesuai dgn namanya srikandi.dia pasti menemukan penghianat pengecut trsbut
Anita Barus
akan kah Srikandi menuntut balas .lanjut Thor
Anita Barus
hati Srikandi pasti hancur saat mengetahui ayah nya gugur .dan tau pasti ada penghianat didlm pasukan tersbt .apakah penghianat itu Sasongko .
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!