Selama tiga tahun bekerja di perusahaan advertising ternama milik keluarga Mahardika Group, hidup Naura Azzahra nyaris seperti neraka. Semua gara-gara atasannya: Arkan Mahendra, direktur muda yang tampan, perfeksionis, dingin, dan hobi menghancurkan harga diri karyawan dengan satu tatapan.
Naura sudah berkali-kali berniat resign. Namun gaji besar dan cicilan rumah membuatnya bertahan.
Sampai malam presentasi besar itu datang.
Di depan seluruh direksi, Arkan tanpa ampun mengkritik konsep Naura habis-habisan. Bukan cuma mempermalukannya, pria itu juga menyebut Naura “tidak cukup kompeten untuk berada di perusahaan ini.”
Malu bercampur marah membuat Naura meledak.
Untuk pertama kalinya, ia membalas semua omongan Arkan—bahkan menyebut pria itu manusia paling menyebalkan yang mungkin akan mati sendirian karena tak punya hati.
Lalu ia resign malam itu juga.
Naura merasa hidupnya akhirnya tenang… sampai ibunya memaksanya datang ke acara makan malam keluarga seminggu kemudian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eunoia Fashion, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20
Aku sedang meninjau laporan akhir kampanye kosmetik terbaru ketika pintu kaca ruanganku diketuk dengan ritme yang terlalu santai—ritme yang sengaja dibuat untuk memancing emosi. Sebelum aku sempat menjawab, pintu terbuka lebar, dan sosok yang paling tidak ingin kulihat saat ini melenggang masuk tanpa dosa.
Dimas Mahendra. Sepupu Arkan yang memiliki ambisi terselubung untuk merebut kursi CEO, sekaligus duri dalam daging yang selalu saja muncul di saat yang salah.
"Selamat siang, Naura yang cantik," sapanya dengan senyum miring yang menyebalkan. Ia mengenakan setelan jas *slim-fit* berwarna abu-abu yang sengaja dipadukan dengan kemeja tanpa dasi, memberikan kesan santai namun tetap sombong. "Sibuk sekali ya? Sampai-sampai tidak punya waktu untuk menyapa sepupu suamimu sendiri?"
Aku meletakkan pena dengan dentuman pelan ke atas meja. "Ada perlu apa, Dimas? Kalau mau mencari Arkan, dia ada di lantai dua puluh. Ini kantor pemasaran, bukan tempat bermain sepupu-sepupu yang sedang kurang kerjaan."
Dimas tertawa renyah, berjalan mendekati mejaku dan dengan kurang ajarnya duduk di atas pinggiran meja, memaksaku untuk menatapnya dari bawah. "Aku ke sini justru untuk memberikan bantuan, Naura. Aku dengar dari dewan komisaris bahwa kampanye produk terbarumu ini dianggap terlalu berisiko. Arkan terlalu memanjakanmu karena dia tidak mau istrinya gagal di depan mata orang banyak, bukan?"
Aku memicingkan mata. "Tujuanmu?"
Dimas mengeluarkan sebuah map kulit berwarna cokelat dari balik jasnya dan meletakkannya tepat di atas dokumen laporanku. "Ini proposal kolaborasi agensi kreatifku dengan divisi pemasaran. Konsepnya jauh lebih inovatif daripada yang sedang dikerjakan timmu sekarang. Aku hanya ingin membantu Arkan agar dia tidak kehilangan muka saat laporan kuartal nanti. Kamu tahu sendiri, kan, betapa dia sangat terobsesi dengan citra 'sempurna'?"
Aku menatap map itu dengan jengah. "Aku tidak butuh bantuanmu, Dimas. Aku dan timku sudah punya rancangan yang matang."
"Oh, ayolah, Naura," Dimas mendekatkan wajahnya, suaranya merendah menjadi bisikan konspiratif. "Kita berdua tahu pernikahan ini hanyalah panggung sandiwara. Jangan terjebak terlalu dalam sampai kamu lupa siapa yang sebenarnya mengendalikan Mahardika Group. Kalau kamu menerima tawaranku, aku bisa memastikan posisi Arkan goyah di rapat pemegang saham bulan depan. Kamu akan aman, dan aku akan menjamin kariermu tetap gemilang."
Sebelum aku sempat membalas provokasinya, pintu ruang rapat kembali terbuka dengan cara yang jauh lebih brutal daripada sebelumnya. Suara debuman pintu yang menghantam dinding membuat Dimas tersentak dan segera berdiri tegak dari pinggiran mejaku.
Arkan Mahendra berdiri di sana, dengan napas yang sedikit memburu. Aura di sekelilingnya seperti listrik statis yang siap menyambar. Di belakangnya, Hadi berdiri dengan wajah meringis, memegang *tablet* seolah itu adalah perisai pertahanan.
"Dimas," desis Arkan. Suaranya rendah, bariton, dan penuh dengan peringatan bahaya level tertinggi. "Apa yang kamu lakukan di ruangan istri saya?"
Dimas tidak tampak takut sama sekali. Ia justru merapikan kerah jasnya dengan tenang, memberikan senyum kemenangan yang sangat memuakkan. "Halo, Arkan. Aku hanya sedang mendiskusikan masa depan divisi pemasaran yang menurutku sedang berada di tangan yang... kurang berpengalaman. Naura butuh bantuan yang lebih profesional, bukan begitu?"
Arkan melangkah mendekat, langkah kakinya yang berat dan mantap membuat Dimas mau tidak mau harus mundur selangkah. "Keluar dari ruangan ini sekarang juga, sebelum saya memastikan seluruh keamanan gedung ini mengusirmu dengan cara yang tidak menyenangkan."
"Wah, wah, santai, Sepupuku," Dimas mengangkat kedua tangannya, pura-pura menyerah. Ia menoleh ke arahku dan mengedipkan mata dengan nakal sebelum berbalik melangkah keluar. "Proposalnya sudah di sana, Naura. Pikirkan baik-baik. Keamanan posisimu di keluarga Mahendra tidak bertahan lama kalau kamu hanya mengandalkan keberuntungan menikahi CEO yang arogan ini."
Setelah Dimas menghilang dari balik pintu, ruangan itu jatuh dalam keheningan yang menyesakkan. Arkan masih berdiri tegak, matanya menatap tajam ke arah map yang ditinggalkan Dimas. Ia mengambil map itu dengan gerakan kasar, lalu melemparkannya ke tempat sampah di sudut ruangan tanpa membaca isinya sedikit pun.
"Jangan pernah mendengarkan satu pun kata yang keluar dari mulutnya," ujar Arkan, suaranya bergetar karena amarah yang ditahannya.
Aku bangkit dari kursiku dan berjalan menghampirinya. Melihat suamiku yang biasanya tenang kini terlihat begitu terganggu oleh provokasi Dimas membuat rasa kesalku pada sikap posesifnya sedikit berkurang.
"Dia hanya berusaha memancingmu, Arkan. Kamu tahu itu," kataku lembut, memberanikan diri menyentuh lengan kemejanya.
Arkan menatapku, matanya yang tadi penuh api perlahan melunak saat menatapku. Tangannya yang besar terangkat, menyelipkan helaian rambutku ke belakang telinga. "Dia tidak hanya memancing saya, Naura. Dia mencoba masuk ke dalam celah pernikahan kita. Dan saya tidak akan membiarkan itu."
"Aku tidak butuh bantuannya, dan aku tidak butuh jaminan karier darinya," ucapku tegas. "Aku punya kemampuan untuk berada di posisi ini, dengan atau tanpa marga Mahendra."
Arkan menatapku dalam diam sejenak, lalu ia mendesah panjang. Sisi tsundere-nya yang menggemaskan perlahan muncul kembali. "Tentu saja kamu punya kemampuan. Tapi tetap saja, kamu terlalu naif menghadapi ular seperti dia."
"Jadi, apa rencana Pak Direktur untuk mengusir ular itu?" tanyaku dengan nada menggoda.
Arkan menyeringai miring—sebuah senyuman yang jarang terlihat di kantor, senyuman yang membuat napasku tertahan. "Hadi akan membuat surel resmi bahwa agensi Dimas masuk dalam daftar hitam vendor Mahardika Group selamanya. Dan untuk kamu..."
Arkan menarik pinggangku mendekat, merengkuhku dalam pelukan yang tiba-tiba terasa sangat hangat.
"Untuk kamu," bisiknya tepat di depan bibirku, "kamu harus tetap berada di bawah pengawasan saya selama jam kantor. Tidak ada lagi pertemuan empat mata dengan siapa pun tanpa sepengetahuan saya."
"Itu namanya penyekapan, bukan pengawasan, Arkan!" protesku, meski aku tidak berniat sedikit pun untuk menjauhkan diri darinya.
Arkan mengecup ujung hidungku kilat. "Itu namanya memastikan istri saya tidak dicuci otaknya oleh sepupu yang gila kursi."
Keadaan berubah menjadi komedi ketika Hadi tiba-tiba berdehem dari depan pintu yang masih terbuka sedikit, memecah momen romantis kami. "Maaf mengganggu, Pak Arkan. Tapi... rapat direksi akan dimulai dalam lima menit, dan Pak Dimas sedang menunggu Bapak di depan ruang rapat untuk membahas 'masalah internal' katanya."
Wajah Arkan kembali mengeras. "Katakan padanya saya akan segera ke sana, dan beri tahu dia kalau saya tidak punya waktu untuk lelucon murahan lagi."
Arkan menatapku satu kali lagi, memberikan kecupan cepat namun tegas di keningku. "Saya akan selesaikan urusan dengan si tikus itu. Kamu, tetaplah di sini dan jangan buka proposal sampah itu lagi."
Saat Arkan berjalan keluar dengan aura pemimpin yang luar biasa, aku hanya bisa menggelengkan kepala.
Tiba-tiba, ponselku bergetar. Sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak kukenal.
*Aku tahu apa yang sebenarnya kamu rencanakan, Naura. Jangan sombong dulu. Arkan tidak sekuat yang kamu kira. - Dimas.*
Aku menatap layar ponsel dengan kening berkerut. Dimas memang benar-benar pengganggu yang tidak punya kapok. Tapi, saat aku menoleh ke arah jendela besar ruanganku dan melihat bayangan Arkan sedang melangkah penuh percaya diri di koridor gedung menuju ruang direksi, aku tersenyum.
Jika Dimas berpikir dia bisa mengguncang pernikahan kami dengan pesan-pesan receh seperti ini, dia jelas belum mengenal Arkan Mahendra—dan dia jelas belum mengenal aku.