11 tahun Yuse dilatih jadi ksatria. Tugas pertamanya membawanya ke Desa Angin yang hancur misterius 5 tahun lalu. Di sana ia bertemu Yamaika, gadis pengendali badai yang menyimpan trauma. Ternyata kehancuran desa itu bukan bencana... tapi pengkhianatan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon andre kurnia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Benang putus
Setelah mendengar perkataan tulus dari Yuse, wujud gadis itu perlahan berubah seketika.
Kabut gelap dan aura amarah yang selama ini menyelimutinya luruh perlahan bak embusan angin pagi, digantikan oleh sosok gadis yang sangat cantik dan menenangkan. Rambutnya yang berwarna perak berkilau tampak sejuk dan lembut, melambai pelan seirama tiupan angin yang kini tidak lagi mengancam.
Ia menatap Yuse dengan sepasang mata yang kini jauh lebih tenang dan jernih, seolah sedang hendak menanyakan sesuatu yang tersimpan lama di hatinya. Namun Yuse memilih untuk diam dan tidak mendesak. Ia tahu betul rasanya tertekan, dan ia tidak mau melakukan hal yang sama padanya.
Yuse menegakkan tubuhnya, lalu merapikan jubahnya yang sempat robek dan kotor terkena debu akibat pertarungan tadi. Langkah kakinya kembali ia arahkan masuk ke dalam wilayah Desa Angin. Instingnya mengatakan bahwa tragedi mengerikan yang menimpa tempat ini pasti memiliki benang merah yang kuat dengan rahasia besar yang selama ini disembunyikan rapat oleh Bibi Liana.
Melihat Yuse mulai berjalan maju tanpa ragu, gadis berambut perak itu memutuskan untuk mengikutinya dari belakang. Rasa penasaran yang besar memenuhi hatinya, ia ingin tahu sebenarnya apa yang akan dilakukan oleh pemuda asing ini di desa yang sudah lama mati dan terlupakan ini.
Keduanya akhirnya melewati batas gerbang yang sudah roboh, dan masuk ke dalam wilayah Desa Angin yang tampak sangat memprihatinkan. Rumah-rumah reyot, jalanan yang tertutup rumput liar, dan suasana yang sunyi senyap membuat tempat ini terasa seperti kuburan besar. Untuk mengumpulkan informasi sekaligus mengisi tenaga yang terkuras, Yuse mengajak gadis itu berhenti sejenak di sebuah kedai makan kecil yang tampak sudah tua dan hampir rubuh.
Saat makanan sederhana dihidangkan, Yuse mulai memasang telinga dengan saksama. Pemilik kedai itu adalah seorang nenek tua yang sudah bungkuk, suaranya lemah dan parau seolah membawa beban berat seumur hidupnya. Tanpa sadar, nenek itu mulai bergumam lirih menceritakan masa lalu yang menyedihkan dari tempat tinggalnya.
“Waktu itu… wabah penyakit terus menghantui desa ini tanpa henti,” kenang si nenek sambil menatap langit-langit kedai, matanya berkaca-kaca menahan rasa sedih. “Tapi untunglah… ada seorang gadis berhati malaikat yang datang menolong kami semua. Dia merawatku, memberi obat, dan menyembuhkan penyakitku yang sudah tak ada harapan sembuh lagi…”
Yuse tersentak kaget di tempat duduknya. Ia segera melirik ke arah gadis di sebelahnya. Ternyata… nenek tua yang ada di depan mereka ini adalah salah satu orang yang pernah diselamatkan langsung oleh gadis berambut perak itu!
Mendengar penuturan si nenek, tubuh gadis itu mendadak menegang dan kaku. Rasa takut yang dulu pernah ia rasakan kembali menyergap hatinya — ia khawatir identitas aslinya akan diketahui, dan ia akan kembali diburu serta dibenci seperti dulu. Melihat tangannya yang gemetar hebat di atas meja kayu, Yuse dengan lembut meraih dan menggenggam jari-jemarinya yang dingin. Sentuhan hangat dari tangan Yuse perlahan namun pasti mampu menenangkan kekacauan di dalam hatinya.
Nenek itu terus bercerita dengan lancar, sama sekali tidak menyadari siapa yang sedang duduk di hadapannya saat ini.
“Tapi sayang sekali… gadis sebaik dan setulus itu justru dikorbankan hanya karena hasutan kejam dari seorang orang asing yang jahat,” lanjut nenek itu dengan suara bergetar. “Saat kejadian itu mau terjadi, sebagian warga yang tidak percaya pada ritual konyol tersebut hanya bisa diam terpaku. Kami terlalu takut untuk melawan dan membela kebenaran…”
Nenek itu menghela napas panjang, napas yang terasa berat membawa sejuta penyesalan.
“Saat gadis itu berteriak meminta tolong dengan sangat menyedihkan, tiba-tiba badai angin yang sangat kencang berembus hebat dan membawanya pergi begitu saja… seolah ditelan oleh bumi. Sampai sekarang aku sangat bersyukur dia bisa selamat dari kegilaan kami. Tapi sejak hari itu, desa ini benar-benar dikutuk. Angin kencang terus melanda setiap hari, panen selalu gagal total, dan kami semua mulai menderita kelaparan yang tak ada habisnya…”
Tak sanggup lagi mendengarkan luka lama yang kembali dikoyak dan diperih, gadis berambut perak itu mendadak bangkit berdiri. Ia melepaskan genggaman tangan Yuse dengan pelan, lalu berlari kencang keluar dari kedai dan menjauh secepat mungkin dari tempat itu.
“Nenek, ini uangnya sebagai bayaran dan sedikit bantuan! Terima kasih banyak atas ceritanya!” seru Yuse terburu-buru. Ia meletakkan beberapa keping koin di atas meja, lalu langsung melesat keluar mengejar sosok yang sudah menjadi bagian dari hidupnya itu.
Yuse berhasil menyusul di sebuah sudut jalan yang sepi dan tertutup bayangan bangunan roboh. Ia mencengkeram lembut pundak gadis itu untuk menghentikan langkah larinya.
“Tunggu sebentar! Kenapa kamu malah lari menjauh? Bukankah kamu sendiri yang selama ini ingin tahu kebenaran yang sebenarnya?”
Gadis itu perlahan membalikkan badannya. Air mata mengalir deras membasahi pipinya yang mulus dan pucat. Sambil mengusap sisa air matanya dengan ujung jari yang gemetar, ia menatap lurus ke mata Yuse dengan pandangan yang kini sepenuhnya lunak dan tulus.
“Ternyata… perkataanmu benar semua,” bisiknya pelan namun jelas. “Tidak semua manusia itu sama jahat dan sama kejamnya. Masih ada mereka yang benar-benar mengingat kebaikanku, dan menyesali kesalahan yang sudah tak bisa diperbaiki…”
Mendengar hal itu, seulas senyum tipis namun hangat terukir di wajah Yuse. Ia mengembuskan napas panjang yang lega. Akhirnya, dinding es tebal yang selama ini melindungi sekaligus mengurung hati gadis itu runtuh sepenuhnya, setelah ia sadar bahwa tidak semua orang di dunia ini bermuka dua, egois, dan tega menyakiti orang lain.
Setelah suasana di antara mereka benar-benar tenang dan damai kembali, Yuse tiba-tiba menggaruk belakang kepalanya sambil terkekeh pelan karena merasa bodoh.
“Aduh, ngomong-ngomong ya… dari tadi kita bertarung mati-matian, lalu jalan bareng, dan sekarang duduk berdua begini, aku sampai lupa menanyakan hal yang paling dasar,” katanya sambil menatap mata gadis itu. “Siapa namamu sebenarnya?”
Gadis berambut perak itu perlahan menghapus sisa air matanya di pipi, lalu untuk pertama kalinya membalas senyuman tulus Yuse dengan senyumannya yang indah dan manis.
“Namaku… Yamaika Brisa.”