NovelToon NovelToon
Sovereign Asura

Sovereign Asura

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Akademi Sihir / Epik Petualangan
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Ilfar Aksara

‎"Aku akan menanggung semua kebencian di dunia ini sendirian."

‎Kalimat itu lahir saat dadamu ditembus cahaya.
‎Duniaku runtuh seketika tanpa suara,
‎Meninggalkan kepal tangan yang mengutuk semesta.

‎Kau adalah detak jantung dari raga yang pincang,
‎Satu-satunya alasan bagi sepasang kaki untuk pulang.
‎Kini, kau terbujur kaku di bawah langit yang menghitam,
‎Membuat seluruh kenyataan ini tak lagi berarti untuk dipandang.

‎Dunia yang membiarkanmu mati adalah dunia yang salah,
‎Maka biarlah sejarah kukoyak hingga menyerah.

‎Aku akan membangun surga di atas puing yang bersimbah,
‎Tempat di mana bayangmu tak akan pernah lagi berdarah.

‎Dunia sihir ini tidak akan bisa dihancurkan hanya dengan kegelapan yang ada di dalamnya. Sebelum mencapai tahap kedua di mana dunia terbebas dari siklus kebencian, seseorang harus menjadi target bagi dunia.

‎"Seseorang harus memikul semua rasa sakit dan dendam itu sendirian, dan akulah orangnya."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ilfar Aksara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 22 - Pertemuan Emberwind II

‎Pulau Emberwind terjaga dalam dekapan malam. Hari berganti dan tak terasa pertemuan yang menjadi penentu masa depan akan terjadi hari ini di Pulau Emberwind.

‎Suara kicauan burung kembali terdengar disekitar pulau. Asap tipis menari, membawa aroma pinus dan belerang.

‎Di keheningan Pulau Emberwind, untaian takdir mempertemukan para elf di bawah naungan pohon kuno yang dicintai oleh mana.

‎Tampak dibawah pohon yang dipenuhi mana dan dijaga ratusan penjaga hutan, ada sosok Raja Eldrin yang menyambut kedatangan pemimpin Wood Elf bernama Thalindra Greenleaf.

‎Sosok wanita tua yang seusia Thranduil itu datang bersama lima pengawal dan langsung bersalaman dengan Raja Eldrin. Thalindra berdiri tegak menentang anggapan bahwa masanya telah habis.

‎Rambut peraknya yang sepanjang pinggang itu, berkilau seperti benang rembulan. Thalindra menatap Raja Eldrin dan menanyakan kebenaran tentang kondisi Pulau Emberwind yang baru saja diserang Hewan Buas.

‎"Yang Mulia Raja, anda terlalu naif hanya membawa beberapa pengawal saja. Kita tidak akan tahu apa yang direncanakan olehku dan orang-orang yang kecewa pada kerajaan," ucap Thalindra mengingatkan.

‎Raja Eldrin tersenyum ramah, karena baginya sosok Thalindra adalah Gurunya dimasa lalu. Tidak pernah ia bayangkan sekarang Thalindra memimpin Wood Elf untuk melakukan kudeta.

‎"Desas-desus itu harus segera dihentikan, Senior Thalindra. Aku ingin dimasa kepemimpinanku semuanya berubah. Bangsawan High Elf tidak akan berbuat semena-mena seperti masa kepemimpinan mendiang Ayahku." Raja Eldrin menjelaskan niatnya.

‎Thalindra tertawa renyah dan menghela nafas panjang.

‎"Semuanya tidak akan berjalan seperti yang kau rencanakan, Yang Mulia Raja. Kami dari Wood Elf masih bisa saja bernegosiasi, tetapi Dark Elf tidak akan semudah yang kau bayangkan," ujar Thalindra pada Raja Eldrin.

‎Tak lama angin berhembus dengan kencang, suara kicauan burung pun berhenti terdengar. Tanah sedikit bergetar, saat sosok pemimpin Dark Elf datang bersama rombongannya yang berjumlah sekitar sepuluh orang.

‎Berbeda dengan Thalindra, sosok pemimpin Dark Elf memancarkan aura kewibawaan yang kuat dan tatapan yang tegas itu menunjukkan jika pria bernama Vaelor Moonthrone merupakan penyihir termuda yang memiliki kekuatan setara dengan Sembilan Penyihir Agung.

‎Kulitnya yang sekelam obsidian tampak eksotis, kontras dengan rambut kuning keemasannya yang panjang.

‎Vaelor berjalan melewati kerumunan penduduk dan mengabaikan tatapan mereka kearahnya. Bahkan saat berada dihadapan Raja Eldrin, Vaelor tidak menyapa dan berjalan lurus menuju tempat keberadaan Magus Magnus berada.

‎"Lama tidak berjumpa, Guru Magus! Murid beruntung bisa bertemu denganmu kembali!" Vaelor menundukkan kepalanya dan memberi hormat kepada orang yang pernah mengajarkan sihir kepadanya.

‎Tentu saja tindakan Vaelor memancing reaksi sinis orang-orang yang berada disana, terlebih Vaelor mengabaikan Raja Eldrin dan lebih memilih menyapa Magus Magnus terlebih dahulu.

‎Terlihat Magus Magnus tersenyum canggung dan menyadari tatapan sinis yang mengarah pada dirinya.

‎"Kau membuat orang-orang disini salah paham, Vaelor. Aku memang pernah mengajarimu sihir, tetapi perkembanganmu murni karena bakat didalam dirimu dan aku hanya sedikit membantu saja." Magus Magnus berharap Vaelor tidak melakukan tindakan yang akan membuat orang lain salah paham lagi.

‎"Guru, anda terlalu merendahkan diri. Murid bisa berkembang seperti sekarang ini berkat ajaran Guru. Murid selalu mengingat apa yang Guru ajarkan." Setelah mengatakan itu, Vaelor pergi menyapa Raja Eldrin.

‎"Hormat kepada Yang Mulia Raja."

‎Raja Eldrin tersenyum dan menyapa Vaelor, namun reaksi tak terduga datang dari Tetua Galdur yang terlihat tidak senang.

‎"Dimana sopan santun mu itu?! Kau mengabaikan Raja Yang Agung dan menyapa manusia terlebih dahulu! Kau melakukan tindakan yang tidak pantas!" ujar Tetua Galdur dan terlihat urat-urat muncul dikepalanya karena menahan emosi.

‎Vaelor mengabaikan ucapan Tetua Galdur dan berjalan menyapa Thalindra.

‎"Senior Thalindra, senang bisa bertemu denganmu kembali." Vaelor menyapa Thalindra.

‎"Aku masih baik dan sehat sama seperti sebelumnya. Yang lebih penting kau terlihat begitu bersemangat, Vaelor." Thalindra menyentuh pundak Vaelor yang tegas dan mencengkeramnya.

‎"Seberapa jauh kau berkembang..." Thalindra bergumam pelan.

‎"Aku akan berkembang sejauh mungkin, demi menepati janjiku pada keluargaku, Senior," ucap Vaelor sambil tersenyum ringan.

‎Melihat sikap Vaelor membuat beberapa Tetua melepaskan serangan secara refleks kearah Vaelor.

‎"Apa yang kalian lakukan?!" Raja Eldrin berteriak geram namun serangan sudah dilepaskan.

‎"Apa maksud kalian?!" Vaelor mengeluarkan mana yang sangat pekat.

‎Mana yang mengandung aura intimidasi begitu hebat itu membuat semua orang terdiam. Hanya dalam satu kali ayunan tangannya, serangan yang diarahkan kepadanya terhempas.

‎BOOOMMM!!!

‎Melihat ledakan yang tercipta, serangan yang ditujukan ke Vaelor bukanlah serangan biasa, melainkan serangan yang bisa saja membunuhnya jika tidak sigap menangkis serangan tersebut.

‎"Sepertinya tidak ada yang perlu dibicarakan lagi disini! Aku bisa saja menghabisi semua Dewan Tetua yang berada disini termasuk kepala Sang Raja jika ini yang kalian inginkan!" ujar Vaelor yang melepaskan mana berwarna hitam pekat.

‎"Sepertinya kalian ingin membuat pertumpahan darah ini lebih cepat!"

‎Situasi ini diluar dugaan Raja Eldrin, dia menyadari Dewan Tetua sudah terlalu lama bertindak semena-mena, belum lagi dirinya juga sudah muak dengan Bangsawan High Elf yang merasa dirinya lebih agung dari ras lain.

‎"Hentikan-" Raja Eldrin hendak mengucapkan sesuatu tetapi Magus Magnus lebih dahulu menghentikan Vaelor.

‎"Vaelor! Aku mohon padamu! Selesaikan masalah ini tanpa ada pertumpahan darah!" ujar Magus Magnus yang membuat Vaelor menekan mana miliknya.

‎"Baik, Guru. Maafkan murid yang lepas kendali."

‎Sikap Vaelor ini membuat semua orang kembali tercengang. Vaelor mendengarkan ucapan Magus Magnus, namun tidak mendengarkan ucapan yang lainnya termasuk Sang Raja.

‎"Tuan Vaelor, tenangkan dirimu! Tujuan kita sudah jelas dan kita tidak boleh gegabah!" Salah satu pengawalnya datang menegur, Vaelor pun menarik napas panjang dan menenangkan dirinya.

‎"Aku mengerti."

‎Vaelor pun menatap seluruh Dewan Tetua yang menatapnya geram, ia kembali menghela napas seperti menahan diri untuk tidak marah.

‎"Yang Mulia Raja, sebaiknya kita mulai." Vaelor berkata kepada Raja Eldrin dan disambut hangat oleh Raja Eldrin.

‎"Terimakasih karena telah menerima undanganku untuk datang kemari, Saudara Vaelor. Rumor yang terjadi belakangan ini dan kekacauan yang terjadi dibeberapa titik kerajaan merupakan sebuah kabar yang sangat melukai perasaanku." Raja Eldrin pun mengungkapkan bahwa keinginan terbesarnya adalah melindungi kerajaan ini.

‎Kemudian Raja Eldrin menyambut Vaelor dan Thalindra dengan baik. Keduanya pun memahami keinginan Raja Eldrin, tetapi kabar provokasi telah menyebar dengan cepat.

‎Wood Elf dan Dark Elf tidak pernah melakukan penculikan Elf atau berencana melakukan kudeta. Tetapi rumor yang telah menyebar dengan cepat, membuat Wood Elf dan Dark Elf melakukan pertemuan untuk mengungkap dalang dibalik semua ini.

‎Namun hasil dari pertemuan keduanya membuat Kerajaan Slyph gempar, karenaq Bangsawan High Elf menuduh Wood Elf dan Dark Elf berniat melakukan kudeta.

‎"Aku sendiri cukup terkejut dengan situasi yang terjadi sekarang ini. Tuduhan yang kalian lakukan membuat kami tidak mampu mengendalikan kebencian dan kecemburuan yang telah lama mengakar di kerajaan ini." Thalindra menjelaskan.

‎Vaelor sependapat dengan Thalindra. Situasi yang terjadi sekarang ini diluar kendalinya.

‎"Yang Mulia, aku akan mengatakan yang sejujurnya dan berbicara terus terang tentang kondisi yang terjadi di kerajaan ini selama ratusan terakhir ini." Vaelor menceritakan sejarah pengusiran Dark Elf yang mencoreng nama baik mereka.

‎Bahkan sebelum dirinya lahir, kebencian sudah ada dan semakin membesar hingga sekarang ini. Sejarah diskriminasi tercatat jelas di benak kepala para Dark Elf, namun sejarah kerajaan mencatatkan jika kerajaan bersatu demi menghentikan pertumpahan darah yang telah berlangsung ribuan tahun.

‎Dark Elf sepakat berdamai, namun High Elf yang angkuh dan merasa mereka adalah ras yang paling agung dan mulia, melakukan diskriminasi terhadap Dark Elf dan mengasingkan mereka ke Hutan Terkutuk, Naggarond.

‎"Alfheim, nama itu terdengar seperti surga bagi kami. Kampung halaman ketiga ras Elf yang bersatu membangun kerajaan ini sekarang hanya dikuasai High Elf. Situasi ini sudah sangat jelas jika Dark Elf hanya sebuah pion bagi kalian para bangsawan High Elf di Kerajaan Slyph Yang Abadi," ujar Vaelor.

‎Raja Eldrin tidak memungkiri jika semasa kepemimpinan mendiang Ayahnya, kerajaan ini telah jatuh ke jurang diskriminasi dan membuat luka lama yang harusnya perlahan sembuh mulai kembali.

‎"Kesalahan itu adalah dosaku. Aku ingin mendapatkan dukungan dari semua pihak untuk mewujudkan kedamaian di kerajaan ini."

‎Raja Eldrin ingin mencari titik temu diantara berita perang saudara yang akan terjadi. Peperangan ini harus dicegah, karena akan menghancurkan Kerajaan Slyph dari dalam. Itulah keinginan Raja Eldrin, tetapi Raja Eldrin tidak menyadari jika ada sosok pengkhianat diantara orang-orang kepercayaannya.

‎Thalindra yang sedari tadi diam pun memberitahu kebenaran yang membuat Raja Eldrin terkejut, sedangkan Vaelor sudah mengira jika di Kerajaan Slyph ada seorang pengkhianat dan tidak menginginkan kedamaian di negeri ini.

‎"Kedamaian tidak akan tercipta jika kerajaan ini tidak berdiri sendiri, Yang Mulia Raja. Selama ini Kerajaan Slyph bertahan karena mendapatkan bantuan finansial dari Bangsawan High Elf, aku tidak menuduh jika semua High Elf itu jahat tetapi selama Dewan Tetua masih ada, kedamaian tidak akan tercipta."

‎Tepat setelah Thalindra mengatakan itu, sebuah ledakan menggetarkan aula pertemuan dan membuat Thalindra berdiri.

‎"Sudah dimulai ya? Sepertinya mereka menginginkan kita semua mati disini." Thalindra bergumam pelan dan menatap Vaelor yang berdiri disampingnya.

‎"Vaelor, aku serahkan Yang Mulia Raja padamu! Aku akan mengatasi situasi yang ada diluar sana!" ujar Thalindra sebelum pergi meninggalkan aula pertemuan.

‎Raja Eldrin belum mencerna apa yang terjadi, tetapi ia merasakan firasat buruk yang akan terjadi.

‎"Apa yang terjadi diluar sana, Saudara Vaelor?" Raja Eldrin bertanya.

‎Vaelor pun menjelaskan jika orang yang menjebak mereka dalam situasi ini akhirnya menunjukkan diri.

‎"Yang Mulia, orang yang mengendalikan Raja Slyvaris sebelumnya telah muncul! Orang ini adalah musuh kami sebenarnya dan dia telah membunuh Yang Mulia Raja Slyvaris!" Vaelor memberitahu kebenaran kepada Raja Eldrin.

‎"Orang yang membunuh Ayahku?"

‎Raja Eldrin terkejut dan tak lama sebuah pedang yang dilapisi petir melayang ke arah Raja Eldrin.

‎Vaelor menangkap pedang tersebut dan menghancurkannya, lalu melepaskan mana dalam jumlah besar yang menghancurkan aula pertemuan.

‎"Tetap berada disampingku, Yang Mulia! Mereka berniat membunuhmu dan menjadikan kami sebagai kambing hitamnya!"

‎Situasi pun berubah menjadi pertempuran yang menenggelamkan Pulau Emberwind dalam malam yang berdarah.

1
Green Nord 1927
Wani!!!
Bontang FC
Lanjut Wal 💪
Jakarta Stay High
enjooooooy 👍
Republik Orange
hiks hiks
The Horizon
jincurikiii
Maung Bandung
Inget Narutooo
Cimol
Lanjuttt
Alia Chans
keren✍️
Indialys Emberwind: Kakak juga keren👋
total 1 replies
Protocetus
Min bagus cover yang kmrn 🥲
Indialys Emberwind: Disuruh ganti Thor sama pihak Noveltoon 🤣
total 1 replies
Haikal Blues
Lanjuttt💪
Ahmad Qoyum
🔥🔥🔥
Ahmad Qoyum
pelan-pelan, jangan hancurkan masa depan sikecil
Protocetus
Let's go Thor!
Indialys Emberwind: Siap Thor
total 1 replies
Endri Ningtyas
lanjut💪
Haikal Blues
Cool
Haikal Blues
gokillll
Goat: super gokil
total 1 replies
Ahmad Qoyum
Jangan koit dulu thor, ada anak istri yang harus di nafkahi
Ahmad Qoyum
Gas thor
Indialys Emberwind: Gracias por leer, amigo, Decul🤣
total 1 replies
Ahmad Qoyum
💪💪💪
Endri Ningtyas
novelny sihir tpi inget anime sedih/Sob/
Indialys Emberwind: Enjoy reading, Kakak. Semoga suka ya hehe🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!