NovelToon NovelToon
Asmara Setelah Menikah

Asmara Setelah Menikah

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Nikah Kontrak / Obsesi / Keluarga / Penyesalan Suami / Cinta setelah menikah
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: yesstory

Tara dan Devan sudah menikah selama tiga tahun. Hanya Tara yang jatuh cinta di sini. Selama tiga tahun, Tara berusaha membuat Devan jatuh cinta. Apakah Tara berhasil saat ia tahu persis pernikahannya dengan Devan berbeda dengan pernikahan normal lainnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yesstory, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11

Setelah bermenit-menit berlalu dengan duduk termenung, Devan beranjak turun dari ranjang dan melangkah ke kamar mandi. Untuk pertama kalinya dia merasakan jiwanya kosong walau badannya bergerak. Kesenangan yang ia dapatkan sebelumnya menguap begitu saja saat ia melihat Tara memergokinya selingkuh. Ia tak suka keadaan ini.

Devan membersihkan dirinya, mengusap kasar kulit tubuhnya dan berharap semua kotoran yang menempel segera hempas dari badannya. Ia ingin kembali suci kalau bisa.

Setelah mandi, ia keluar dan berhenti di depan pintu kamar mandi. Matanya memindai seluruh ruangan kamar. Ia masih bisa merasakan bayangan Tara saat duduk di meja rias, membaca novel di atas ranjang, bahkan saat Tara menggodanya di meja kerja. Ingatan itu masih jelas membuat satu tetes air mata turun tanpa bisa ia cegah.

Devan duduk di depan meja rias dan memandangi wajahnya. Hatinya berdenyut perih saat melihat raut wajah penuh kecewa dan terluka yang beberapa saat lalu Tara tunjukkan saat melihatnya bercumbu dengan Alan.

Perlahan, Devan mulai terisak. Ia sungguh menyesal. Tak perlu kata-kata untuk menunjukkan rasa penyesalannya. Devan merasa sudah kehilangan Tara. Devan yakin seratus persen sekarang, bahwa Tara tak akan mungkin kembali lagi padanya. Dan yang paling membuatnya menyesal nantinya adalah Tara pasti akan menggugat cerai dirinya. Kesalahannya sudah sangat fatal. Tara melihat dengan mata kepalanya sendiri apa yang telah dia lakukan bersama Alan di kamar mereka.

Devan terus terisak. Menangisi kebodohannya. Menangisi penyesalannya. Tak ada harapan lagi. Tara pasti membencinya sekarang. Dan semua itu karena kebodohannya.

Ponsel Devan di atas meja nakas berbunyi. Devan beranjak mengambil ponselnya berharap Tara yang menghubunginya. Namun, dia harus menelan kekecewaan karena bukan Tara yang menghubunginya melainkan nomor asing. Devan menerima panggilan itu.

“Halo.”

Devan menegang. Matanya terbelalak. Ponsel ia genggam erat.

“Nggak. Nggak mungkin.”

Tak butuh waktu lama, setelah panggilan berakhir, Devan segera memakai bajunya dengan cepat dan berlari keluar kamar. Dia bahkan sampai tersandung, namun segera bangkit dan berlari keluar rumah. Pikirannya tak tenang.

Devan mengendarai motornya ke lokasi yang dikirimkan oleh polisi saat menghubunginya tadi. Devan memarkirkan motornya asal, lalu melangkah pelan ke arah mobil yang ringsek bagian depan karena menabrak pembatas jembatan.

Mobil itu… mobil yang dibelikannya untuk Tara sebagai hadiah pernikahan karena Tara mau menjadi istrinya. Devan melangkah semakin dekat dengan mobil istrinya saat polisi memegang bahunya.

“Pak Devan. Benar?”

Devan menoleh. “Dimana istri saya, Pak?”

“Kami sedang berupaya melakukan pencarian terhadap istri Bapak.”

“Melakukan pencarian? Maksudnya istri saya hilang?”

“Iya, Pak. Saat kami datang, pintu kemudi terbuka dan tak ada siapapun di dalam. Kami hanya menemukan tas berisi identitas atas nama Antara Gunawan.”

Devan lemas. Dia berlutut dan menatap nanar mobil yang sudah ringsek di depannya. Dimana Tara?

“Kami akan terus mencari keberadaan istri Bapak.”

Devan tak menjawab. Tatapan matanya kosong dan semuanya semakin terlihat samar dan gelap. Devan pingsan.

***

Haris tengah sibuk memeriksa dokumen di meja kerjanya saat sebuah pesan masuk ke ponselnya. Haris melirik sekilas dan terkejut saat salah satu temannya mengirim sebuah link.

Penasaran, Haris membuka pesan tersebut dan seketika jantungnya mencelos mendapati sebuah berita bahwa seorang wanita bernama Antara Gunawan dikabarkan hilang setelah mengalami kecelakaan tunggal di jembatan.

Haris menggeleng tak percaya dan segera menghubungi orang yang sudah mengirim pesan itu padanya.

“Lo ngirim berita hoaks kan?” tanya Haris to the point setelah panggilannya diangkat.

“Gue serius, Ris. Gue lagi lihat portal berita online terpercaya dan gue nemu berita itu. Awalnya gue lihat biasa aja, tapi setelah polisi bilang bahwa korban yang hilang itu adalah nama adik lo, gue langsung ngabarin lo. Dan bener aja lo nggak tahu kan kabar ini?”

Haris mematung. Pikirannya mendadak kosong.

“Halo, Ris? Ris, gue harap lo tenang dulu. Lo cek dulu kebenarannya ke sana.”

“Thanks, Bro.”

Haris mematikan panggilan dan segera menuju ruang atasannya untuk meminta ijin mendatangi lokasi kecelakaan adiknya. Setelah mendapat ijin, Haris bergegas ke tempat lokasi kejadian untuk memastikan dengan jelas benarkah mobil itu dikendarai oleh adiknya sendiri.

Masih banyak polisi di tempat kejadian. Haris semakin takut saat melihat mobil yang belum dievakuasi itu adalah mobil adiknya. Haris terus berjalan mendekat, namun seorang polisi langsung mencegahnya.

“Maaf, Mas. Dilarang mendekat.”

Haris menoleh.”Dimana adik saya, Pak? Bukan dia kan yang mengemudi?”

“Apa Mas adalah kakak dari korban atas nama Antara Gunawan?”

Haris mengangguk. Air mata sudah menggenang di pelupuk mata, tak kuasa memikirkan hal buruk yang sudah terjadi pada adik satu-satunya itu.

“Kami sedang berupaya melakukan pencarian, Mas. Tadi suami korban juga sudah datang dan sekarang beliau ada di rumah sakit karena pingsan.”

Haris terbelalak. “Maksudnya, adik saya mengemudi sendiri?”

“Kemungkinannya seperti itu, Mas. Namun saat kami datang, di dalam mobil sudah tak ada siapapun. Kami menduga bahwa adik anda sendiri yang berada dalam mobil.”

“Lalu apa kata suaminya, Pak?”

“Beliau belum bisa dimintai keterangan karena begitu sampai lokasi, beliau pingsan dan kami membawanya ke rumah sakit terdekat.”

Haris mengepalkan tangannya dan segera pergi dari tempat itu. Dia mengemudikan mobilnya dengan cepat menuju rumah sakit yang disebut polisi tadi. Dia harus menemui Devan dan meminta penjelasan atas apa yang terjadi sebelum para polisi mendahuluinya.

Setelah sampai di rumah sakit, Haris langsung bertanya pada bagian informasi dimana tempat Devan di rawat. Haris melangkah cepat dan membuka pintu ruang rawat dengan keras membuat orang yang berada di dalamnya terkejut.

Haris menatap tajam Devan yang sudah sadar dan tengah di dampingi dua orang polisi di sebelah kanan dan kirinya.

“Mohon maaf, Pak. Bisa tinggalkan kami berdua sebentar?” tanya Haris memandang kedua polisi itu bergantian.

“Maaf, Bapak ini siapa?”

“Saya kakaknya Antara Gunawan, Pak. Saya ingin bicara empat mata dengan suami adik saya,” jawab Haris.

Kedua polisi itu saling pandang lalu mengangguk dan melangkah keluar ruangan. Dua polisi itu tak pergi. Mereka berdiri di luar pintu ruangan karena harus meminta keterangan dari suami korban.

Setelah polisi itu keluar, Haris langsung mencekik Devan. Matanya memerah penuh amarah. Devan terdiam walaupun dia mulai kesusahan bernapas. Dia pasrah. Bahkan jika harus mati di tangan Haris. Dia sudah sangat keterlaluan hingga membuat Tara mengalami kecelakaan dan hilang.

Melihat Devan yang tak berontak sambil menatapnya kosong, Haris melepas tangannya dari leher Devan.

“Kenapa dilepas, Ris? Ayo bunuh gue. Dengan begitu gue bisa menebus semua kesalahan gue pada adik lo.”

Haris menatap Devan yang juga menatapnya. Kedua orang itu bisa melihat jika keduanya sama-sama terguncang dengan kabar ini. Mata Devan memerah dan meredup. Haris melihatnya dengan jelas jika Devan sedang lemah sekarang.

“Apa yang lo lakuin sama adik gue?”

“Gue selingkuh dan Tara melihatnya sendiri.” Devan berkata jujur. Dia tak ingin menutupi apapun lagi. Gara-gara dia, istrinya hilang. Devan yakin jika istrinya masih hidup walau entah berada dimana sekarang.

Haris terbelalak. “Dia kabur dari rumah?”

“Iya. Dia langsung pergi.”

“Kenapa lo nggak kejar dia, brengsek?” Haris mengepalkan tangan menahan emosinya. Ingin sekali dia menghajar atau bahkan membunuh Devan jika perlu seandainya dia tak sadar jika mereka sedang ada di rumah sakit dan di luar sana masih ada polisi.

“Dia kecewa. Gue cuma ngasih waktu buat dia nenangin diri seperti sebelum-sebelumnya.”

Haris mengernyit. “Seperti sebelum-sebelumnya? Maksud lo, ini bukan kali pertama Tara pergi dengan keadaan hatinya sakit? Iya?”

Devan mengangguk. “Udah beberapa kali, Ris. Tapi bukan karena gue selingkuh. Tapi karena gue nggak bisa nyentuh dia.”

Haris meninju kasur di sebelah tubuh Devan. Dia menatap Devan tajam dan mencekiknya lagi. “Lo… Lo nggak pantes hidup, brengsek! Lo harus mati di tangan gue!”

Haris terus mencekik Devan. Devan menggenggam erat sprei karena dia mulai kesusahan bernapas lagi. Tapi dia tak melawan. Dia membiarkan Haris mencekiknya sampai mati.

Tak mendapat perlawanan, Haris kembali melepaskan tangan dan mengusap wajahnya kasar. Walau rasanya ingin membunuh Devan, tapi Haris tak bisa melakukan itu. Akal sehatnya masih memikirkan nasib adiknya sekarang. Jika dia membunuh Devan, maka dia akan dipenjara dan tak bisa mencari keberadaan adiknya.

“Maafin gue, Ris. Gue udah ngehancurin semuanya. Tara pasti udah benci banget sama gue,” ucap Devan lirih.

Matanya berkaca-kaca. Ia tak mengerti kenapa hatinya terasa kosong setelah Tara pergi. Raut wajah kekecewaan dan sorot terluka itu, masih terbayang di depan matanya. Betapa hancur hati Tara sekarang. Dan dialah penyebabnya.

Haris melihat Devan. “Lo udah cinta sama adik gue?”

“Gue nggak tahu.”

Haris menghela napas kasar. “Apa yang lo rasain sekarang setelah dia pergi?”

“Hampa. Kosong. Gue nggak ngerti. Gue pingin ketemu sama Tara kalau masih ada kesempatan. Gue mau minta maaf. Gue pingin perbaiki semuanya. Gue bakal kasih apa yang dia mau. Apapun itu termasuk nafkah batin yang selama ini dia inginkan. Gue ingin Tara kembali, Ris.”

Haris berdecih.”Lo pikir dia bakal mau kembali sama lo setelah apa yang lo perbuat?”

“Kita lihat itu nanti. Yang penting kita harus kerja sama buat nyari Tara, Ris. Gue butuh bantuan lo. Please, kali ini gue janji gue bakal berubah. Gue bakal bahagiain Tara sepenuh hati gue.”

Haris menatap Devan. “Oke. Ini kesempatan terakhir buat lo. Gue bakal cari adik gue, begitupun lo. Apapun informasi yang kita dapetin, kita harus share. Yang penting Tara pulang dulu. Mengenai nasib pernikahan kalian, itu urusan belakangan.”

Devan mengangguk. “Thanks, Ris. Gue nggak bakal sia-siain dia lagi kalau dia mau kembali ke gue.”

Devan akan berusaha menemukan Tara dan meyakinkankannya untuk kembali. Dia sadar jika hatinya mungkin mulai mencintai Tara. Dia tak ingin kehilangan Tara untuk selamanya. Dan semoga Tara masih mencintainya.

Bersambung …

1
Atik R@hma
ok ka yes,salam kenal🤣🤣
yesstory: Terima kasih banyak kak Atik yang setia baca karyaku. Semoga suka ya.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!