NovelToon NovelToon
HUSH, LITTLE BIRD

HUSH, LITTLE BIRD

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Dark Romance / Konflik etika
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Senja_Puan

"Sepuluh tahun tanpanya adalah sunyi yang menyiksa. Tapi kepulangannya adalah badai yang tak terduga."

Dulu, Alea hanyalah gadis kecil yang menangis tersedu-sedu saat Uncle Bima—sahabat termuda ayahnya—memilih pergi ke luar negeri. Janji untuk memberi kabar ternyata menjadi kebohongan besar selama satu dekade penuh.

Kini, di usia 18 tahun, Alea bukan lagi "burung kecil" yang lemah. Namun, tepat saat ia akan memulai lembaran baru di bangku kuliah, pria yang pernah menghancurkan hatinya itu kembali muncul. Bima kembali bukan sebagai paman yang lembut, melainkan sosok pria dewasa yang posesif, penuh teka-teki, dan gemar melontarkan godaan yang membuat jantung Alea berpacu tidak keruan.

Terpaut usia 15 tahun, Bima tahu ia seharusnya menjaga jarak. Namun, melihat Alea yang kini begitu memesona, "paman" nakal ini tidak ingin lagi sekadar menjadi sahabat ayahnya.

"Sst, little bird... kau sudah cukup bersinar. Sekarang, waktunya pulang ke sangkarmu."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja_Puan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 13. Hutang Nyawa dan Harga diri

Malam di kota tua itu seharusnya berakhir dengan tawa manis di bawah lampu jalanan yang remang, namun justru berubah menjadi jeritan ban yang berdecit memekakkan telinga dan hantaman keras yang memuakkan. Sebuah motor tanpa lampu melaju kencang dari arah gang sempit, menghantam sisi trotoar tempat Alea dan Revan sedang berjalan santai menuju hotel.

Revan, dengan insting pelindung yang muncul dalam sepersekian detik, langsung merangkul Alea dan memutar tubuh mereka di udara. Ia membiarkan punggung dan bahunya menjadi tameng, menghantam aspal dengan suara berdebum yang keras sementara Alea jatuh di atas tubuhnya.

Rumah Sakit Umum Daerah, 02.30 WIB.

Bau antiseptik yang tajam menusuk indra penciuman Alea. Ia duduk di tepi ranjang ruang IGD dengan lutut dan telapak tangan yang dibalut kain kasa putih. Air matanya terus mengalir, bukan karena rasa perih di kulitnya, melainkan karena melihat Revan yang harus meringis menahan sakit di ranjang sebelah karena tulang lengannya yang retak.

Tiba-tiba, suara langkah kaki yang terburu-buru menggema di lorong. Pintu ruang perawatan terbuka lebar, menampakkan Baskara yang wajahnya pucat pasi karena panik, didampingi oleh Bima yang berjalan dengan langkah tenang namun tegas di belakangnya.

"Alea! Sayang, kau tidak apa-apa?" Baskara langsung menghambur memeluk putrinya, memeriksa setiap inci tubuh Alea dengan tangan gemetar.

"Daddy... aku tidak apa-apa, tapi Revan..." Alea menunjuk ke arah ranjang sebelah dengan suara parau.

Baskara menoleh ke arah Revan, wajahnya dipenuhi rasa bersalah dan terima kasih yang mendalam. Namun, sebelum Baskara sempat bicara, Bima sudah melangkah maju. Tidak ada amarah di wajah Bima. Tidak ada sorot mata predator yang Alea takutkan akan muncul melihat mereka berdua celaka. Bima justru menatap Revan dengan ekspresi yang sangat teduh, seolah ia benar-benar merasa berhutang budi.

"Revan," Bima memanggil namanya dengan nada berat yang penuh hormat. Pria itu berdiri di samping ranjang Revan, mengabaikan fakta bahwa ia bisa saja meledak karena Revan sempat memeluk Alea saat jatuh tadi.

"Terima kasih. Baskara menceritakan semuanya di jalan. Jika bukan karena refleksmu, Alea mungkin akan mengalami luka yang jauh lebih parah."

Baskara mengangguk cepat, menyeka keringat di dahinya. "Benar, Nak Revan. Om benar-benar berhutang nyawa padamu. Kau sudah menjaga putri Om dengan sangat luar biasa."

Revan mencoba duduk tegak meski lengannya digips. Ia menatap Bima, mencari-cari kilatan kelicikan yang biasanya ada di sana, namun yang ia temukan hanyalah ketenangan pria dewasa yang bijaksana. "Itu sudah kewajiban saya, Om Baskara. Saya hanya ingin Alea aman."

Bima meletakkan tangannya di bahu Baskara sejenak, memberikan dukungan pada sahabatnya, sebelum kembali menatap Revan.

"Sebagai bentuk rasa terima kasih kami, aku sudah mengurus semuanya. Kalian berdua akan dipindahkan ke paviliun VIP sekarang juga agar bisa beristirahat tanpa gangguan."

Bima kemudian mengeluarkan sebuah amplop kecil dari saku jasnya dan meletakkannya di meja samping ranjang Revan. Di dalamnya terdapat struk pelunasan administrasi dan sebuah cek deposit atas nama rumah sakit tersebut.

"Mengenai seluruh biaya pengobatan, operasi lenganmu, hingga terapi pemulihan nanti, semuanya sudah aku lunaskan atas namaku," ujar Bima tenang.

Revan tersentak. Harga dirinya yang masih muda merasa terusik. Ia tahu keluarganya mampu, dan ia tidak ingin berutang materi pada pria yang ia curigai. "Maaf, Pak Bima. Tapi Anda tidak perlu melakukan itu. Keluarga saya akan mengurus semua biayanya sendiri besok pagi."

Bima tersenyum tipis, senyum yang sangat manis, namun memberikan tekanan yang tak terlihat.

"Revan, jangan menolak niat baik seorang pria yang ingin membalas budi karena kau sudah menyelamatkan hal yang paling berharga di hidupnya. Anggap saja ini sebagai bentuk apresiasiku terhadap keberanianmu."

Baskara menimpali, "Benar, Revan. Biarkan Bima yang mengurusnya. Dia sangat terpukul saat mendengar kalian kecelakaan. Ini adalah caranya untuk merasa lebih baik."

Revan terdiam, lidahnya kelu. Ia menatap cek dan struk pelunasan yang sudah distempel LUNAS. Bima tidak melakukan kekerasan, ia tidak mencaci, tapi ia baru saja membungkam Revan dengan cara yang paling elegan.

Bima sedang menunjukkan bahwa setinggi apa pun harga diri Revan, pria itu bisa membelinya dengan satu tanda tangan. Di depan Baskara dan Alea, Bima terlihat seperti pahlawan yang sangat murah hati, namun Revan merasakan penghinaan yang sangat halus: Bima sedang menegaskan bahwa Revan hanyalah seorang "penjaga" yang baru saja ia bayar jasanya.

"Terima kasih... Pak Bima," ucap Revan dengan nada berat yang dipaksakan.

"Sama-sama, Revan. Cepatlah sembuh," sahut Bima santai.

Ia kemudian berbalik ke arah Alea, mengusap rambut gadis itu dengan sangat lembut di depan mata ayahnya. "Ayo, biarkan Revan istirahat. Kita pindah ke kamar sebelah."

Alea menatap Bima dengan mata berbinar haru. Segala kecurigaannya tentang SUV hitam di alun-alun atau manipulasi Bima selama ini menguap tanpa sisa. Tidak mungkin Uncle Bima mencelakakanku jika dia sampai membawa Daddy ke sini dan membayar semua biaya Revan dengan tulus, pikir Alea dalam hati.

Bima membantu Alea turun dari ranjang dengan sangat protektif, sementara Baskara berjalan di sisi lain. Saat mereka berjalan menuju pintu, Bima sempat melirik Revan dari balik bahunya. Selama satu detik yang sangat singkat, tatapan lembut Bima menghilang, digantikan oleh kilatan kemenangan yang dingin dan mematikan. Sebuah sinyal bahwa Revan tidak akan pernah bisa menang dalam permainan orang dewasa ini.

Di balik pintu yang tertutup, Revan hanya bisa mengepalkan tangannya yang tidak digips. Ia menyadari satu hal yang mengerikan: Bima tidak sedang menjadi manis. Bima sedang merencanakan sesuatu yang jauh lebih besar, dan kecelakaan ini hanyalah salah satu pion dalam papan catur pria itu untuk mengunci Alea selamanya.

1
Niaja
anjr serius baskara bilang cinta ke cowo? /Sweat/
Senja_Puan: Kalau ga baca lanjutannya, aku yang buat juga geli kak🤣but, yang dicintai Baskara kan kepintarannya 🤭
total 1 replies
Niaja
sukaa sama ceritanya
Senja_Puan: jangan lupa di like kakak😍
total 1 replies
Anom
Tumpengan Bima
Anom
akhirnya pecah telor 🤭
Anom
kaya ABG anjir🤣
Anom
Good Alea
Yasa
Kak, aku jujur aja ya. kayanya kamu lebih cocok garap novel yang hot/dark gini deh😄 lebih ngena dari pada yang komedi🤣
Yasa
Bima, U bener2 ya. Ini masih hari pertama kah???
Yasa
Gila kak, baru episode pertama udah sat set.
Senja_Puan: thanks kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!