Sejak bangku taman kanak-kanak, sekolah dasar, menengah, hingga ruang kuliah, mereka selalu dipertemukan, seolah takdir tak ingin memisahkan langkah keduanya. Namun perbedaan watak dan sifat menjadikan mereka dua kutub yang selalu berlawanan, sering berselisih paham atas hal-hal kecil, dan saling memandang dengan dingin. Kini, dua jiwa yang dulu saling menjauh dan penuh pertikaian, terpaksa disatukan dalam satu ikatan pernikahan. Di atas janji yang tertulis di atas kertas, tersembunyi sebuah tanya besar: mungkinkah benci yang lama terjalin perlahan meleleh, berubah menjadi rasa cinta yang tumbuh diam-diam di tengah perbedaan dan perselisihan yang selama ini ada di antara mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jantung yang Berkhianat
Hari itu cuaca sangat cerah sekali. Langit biru bersih membentang luas tanpa sehelai awan pun yang menghalangi, matahari bersinar terang namun hangat, menyapa bumi dengan cahaya keemasan yang lembut. Udara terasa segar dan bersih, seolah alam pun sedang tersenyum menyambut hari yang indah.
Farzhan memutuskan untuk mengajak Vira pergi melepas penat, beristirahat sejenak dari segala kesibukan pekerjaan dan dinamika hubungan rumah tangga mereka yang penuh warna belakangan ini.
Ini adalah pertama kalinya Farzhan membawa Vira pergi berlibur ke luar kota, dan destinasi yang dipilihnya adalah sebuah pantai tersembunyi yang sangat indah, terkenal dengan hamparan pasir putih yang bersih lembut serta ombak yang tenang dan damai, jauh dari hiruk-pikuk keramaian kota.
Mobil mewah yang mereka kendarai akhirnya berhenti di area parkir yang tidak jauh dari bibir pantai, hanya berjarak beberapa langkah saja dari pinggir air. Farzhan turun lebih dulu dengan gerakan tenang dan tegap, lalu berjalan memutar ke sisi penumpang, membukakan pintu mobil untuk Vira dengan sopan.
"Ayo turun," katanya singkat namun lembut, tangannya terulur ke depan menunggu genggaman tangan istrinya.
Vira menyambut uluran tangan itu dengan hati yang mulai berdebar kencang tanpa sebab. Tangan mereka saling bertaut, hangat dan kokoh. Mereka berjalan berdampingan menyusuri jalan setapak kecil menuju area pantai. Angin laut berhembus kencang namun menyejukkan, menerbangkan helai-helai rambut panjang Vira dan membuat ujung baju mereka berkibar tertiup angin, membawa aroma garam dan kesegaran alam yang khas.
Suasana di sana sangat indah dan menenangkan. Birunya warna laut menyatu sempurna dengan birunya langit di kejauhan, menciptakan garis cakrawala yang kabur dan mempesona, pemandangan yang seolah mampu menghapus segala beban dan kepenatan di pikiran.
Mereka memilih tempat duduk yang nyaman, membentangkan tikar di bawah naungan pohon kelapa yang rindang dan teduh, jauh dari jangkauan sinar matahari langsung.
Farzhan tidak banyak bicara seperti biasanya. Ia hanya duduk bersandar santai di batang pohon kelapa, menatap luasnya hamparan lautan di depannya dengan tatapan yang tenang dan dalam. Wajahnya tetap datar, berwibawa, dan terlihat dingin seperti biasanya, tidak menampakkan ekspresi berlebihan apa pun. Namun, ketenangannya itu justru membuat suasana semakin damai dan aman.
Di sebelahnya, Vira tampak lebih sibuk. Matanya berkeliling mengamati butiran pasir putih di sekelilingnya, sesekali ia mengambil kerikil kecil lalu melemparkannya pelan ke arah air yang bergulung pelan.
"Indah sekali ya, Zhan..." gumam Vira pelan, memecah keheningan yang manis di antara mereka.
Farzhan mengangguk pelan sekali, pandangannya masih tertuju pada ombak yang datang dan pergi berirama teratur. "Iya. Udara di sini bersih sekali. Rasanya pikiran jadi tenang, segar kembali."
"Terima kasih ya, sudah mengajak aku ke sini," ucap Vira dengan nada tulus dan lembut, menatap sisi wajah suaminya.
Farzhan menoleh sekilas, menatap Vira sebentar, lalu kembali menatap ke depan. "Tidak usah berterima kasih. Kamu juga pasti lelah kan, mengurus rumah dan segala keperluanku terus-menerus. Sekali-kali harus refreshing, menyegarkan diri."
Momen-momen manis mulai tercipta tanpa mereka sadari, mengalir begitu saja di sela-sela keheningan dan gerak-gerik kecil mereka.
Saat Vira ingin berdiri untuk berjalan sedikit menjauh, kakinya sedikit terperosok ke dalam pasir yang lunak dan dalam, membuatnya hampir kehilangan keseimbangan. Belum sempat ia bersuara, tangan besar Farzhan dengan sigap dan cepat sudah mencengkeram pergelangan tangannya, menariknya perlahan agar tidak jatuh tersungkur.
"Hati-hati," katanya dengan nada datar dan dingin, namun genggamannya terasa kuat, kokoh, dan sangat melindungi.
"I-iya, terima kasih ya..." Vira tersipu malu, jantungnya kembali berdegup kencang begitu saja. Begitu Farzhan melepaskan tangannya perlahan, Vira masih bisa merasakan sisa kehangatan sentuhan itu yang menembus sampai ke ulu hatinya.
Aduh... kenapa sih jantung ini selalu berdegup kencang terus. Padahal cuma ditolong berdiri saja kan? batin Vira memaki dirinya sendiri yang terlalu mudah terbawa perasaan.
Atau saat matahari mulai condong ke barat, udara perlahan berubah menjadi lebih dingin seiring turunnya suhu. Tanpa diminta dan tanpa suara, Farzhan mengambil jaket tebal miliknya sendiri yang diletakkan di sampingnya, lalu menyodorkan dan melemparkannya pelan ke arah pangkuan Vira.
"Pakai ini. Angin mulai terasa dingin," ucapnya singkat, padat, dan jelas, matanya tidak menatap Vira, masih sibuk mengamati deburan ombak.
"Tapi kalau aku pakai, kamu tidak kedinginan?" tanya Vira ragu, namun ia tetap mengenakan jaket tebal dan besar milik suaminya itu. Seketika itu juga, aroma khas Farzhan — campuran aroma sabun dan wangi parfum lembut yang menenangkan — langsung memenuhi seluruh indra penciumannya, membuat kepalanya terasa pusing manja dan hatinya makin melayang.
"Aku laki-laki. Tahan terhadap dingin," jawab Farzhan tenang, nada bicaranya lembut dan pasti, meski sebenarnya suhu tubuh mereka berdua sama saja, sama-sama merasakan hawa dingin yang menusuk. Ia hanya tidak ingin melihat istrinya menggigil kedinginan.
Tak lama kemudian, mereka berjalan-jalan santai menyusuri pinggir pantai saat air sedang surut. Jejak kaki mereka tertinggal jelas di atas pasir basah yang halus, namun segera terhapus perlahan oleh sapuan ombak kecil yang datang berulang kali.
Jarak mereka berjalan selalu sangat dekat. Bahu mereka sering kali tak sengaja bersenggolan setiap kali angin berhembus kencang dan mendorong tubuh mereka saling mendekat.
Dan setiap kali sentuhan kecil itu terjadi...
Di dalam hati Vira:
Ya Tuhan... kenapa rasanya bahunya begitu hangat dan kokoh ya? Rasanya jantungku mau berhenti berdetak sebentar saja! Padahal kan aku sudah berjanji pada diri sendiri untuk jangan terlalu terbawa perasaan. Tapi kenapa sih dia selalu bersikap baik, perhatian, dan melindungi begini?! Dasar jantung... kamu ini berkhianat tahu tidak! Padahal aku sudah bilang jangan senang dulu, tapi kamu malah berdebar makin kencang!
Di dalam hati Farzhan:
Farzhan berjalan santai dengan kedua tangan dimasukkan ke dalam saku celana panjangnya, wajahnya berusaha terlihat tenang, dingin, dan biasa saja.
Gila... Rambutnya berantakan tertiup angin, tapi anehnya tetap terlihat sangat manis dan mempesona sekali. Rasanya ingin sekali aku rapikan rambut yang menutupi wajahnya itu pakai tanganku sendiri. Tapi rasa gengsi ini... ah, Farzhan, kamu kan laki-laki yang tenang dan berwibawa, jangan terlihat terlalu terpesona atau bucin begitu. Tapi... sumpah, rasanya ingin sekali berjalan terus sambil menggenggam tangannya erat-erat, tidak dilepas-lepas selamanya.
Matahari mulai bergerak turun ke ufuk barat, menciptakan pemandangan senja di pantai yang sungguh memukau dan menakjubkan. Langit berubah warna menjadi gradasi indah: oranye menyala, ungu lembut, hingga merah muda yang membaur satu sama lain. Cahayanya lembut, menerangi segala sesuatu dengan keemasan.
"Cantik sekali..." Vira berbisik takjub, matanya berbinar indah menatap garis cakrawala yang berwarna-warni itu.
Namun, Farzhan sama sekali tidak menoleh ke arah matahari terbenam. Matanya justru tertuju lekat-lekat pada profil wajah Vira yang disinari cahaya senja. Di matanya, wajah wanita itu terlihat begitu lembut, damai, bersinar, dan jauh lebih indah dibandingkan pemandangan alam apa pun di dunia ini.
"Iya... sangat cantik," jawab Farzhan pelan, suaranya terdengar serak dan dalam, penuh makna tersembunyi.
Vira menoleh cepat, dan mendapati Farzhan sedang menatapnya lekat-lekat, dalam, dan penuh kekaguman. Mata mereka bertemu tepat di bawah langit senja yang indah itu.
Waktu seakan berhenti berputar sepenuhnya.
Ada tarikan magnet yang kuat sekali di antara mereka, kekuatan tak kasat mata yang mendekatkan jarak wajah mereka semakin dekat tanpa sadar. Hembusan angin laut seakan ikut mendorong mereka untuk saling menyatu.
Vira menelan ludah dengan susah payah. Dadanya terasa sesak, penuh rasa yang bergemuruh. Jangan... jangan terlalu lama menatap begini... kita kan hanya suami istri yang belum ada rasa cinta. Jangan baper, Vi, jangan baper...
Farzhan memejamkan matanya sejenak, lalu menghela napas panjang berusaha menguasai diri dan menahan segala rasa yang meluap di dadanya. Ia memalingkan wajah perlahan, berpura-pura sibuk membersihkan butiran pasir yang menempel di celananya.
"Mau pulang sekarang?" tanyanya tiba-tiba, suaranya terdengar sedikit kaku namun tetap berusaha tenang.
Vira tersentak kaget, tersadar dari lamunan panjangnya. "Oh... iya. Ayo pulang."
Mereka berdiri perlahan, lalu berjalan kembali menuju mobil dengan langkah yang pelan dan sedikit ragu, seolah enggan meninggalkan tempat indah yang penuh kenangan manis itu.
Sepanjang perjalanan pulang, suasana di dalam mobil terasa hening dan tenang. Hanya terdengar alunan musik lembut dari radio serta suara halus mesin kendaraan yang membelah jalanan.
Namun, di dalam dada mereka berdua, badai besar sedang bergemuruh hebat.
Vira & Farzhan:
Mulut berkata tidak, namun jantung malah tidak berhenti untuk mendesak.
Mereka berdua sama-sama keras kepala. Mulut mereka masih enggan untuk mengaku, masih berlagak biasa saja, bahkan kadang sengaja bersikap dingin dan menjaga jarak. Tapi jantung mereka? Sudah lama sekali berkhianat, jatuh cinta jauh lebih dalam, jauh lebih cepat, dan jauh lebih kuat dari apa yang berani mereka akui atau sadari.