NovelToon NovelToon
Ketika CEO & Perdana Menteri Saling Menghancurkan...Dan Saling Menginginkan

Ketika CEO & Perdana Menteri Saling Menghancurkan...Dan Saling Menginginkan

Status: tamat
Genre:CEO / Crazy Rich/Konglomerat / Tamat
Popularitas:625
Nilai: 5
Nama Author: Amila FM

Perhatian!!!
Harap bijak dalam membaca.Terima kasih 🙏 🫶

Elian sang Ice Prime Ministry selalu bersitegang
dengan Lyra the Iron Rose, CEO De La Vega Corporate yang menangani cyber security dan peralatan militer. Namun, siapa sangka keduanya memiliki hubungan terlarang yang sangat panas dan romantis dan penuh tantangan. Dimulai dari perjodohan dengan orang lain yang dilakukan oleh keluarga dan partai mereka, sehingga mereka memiliki misi untuk membatalkan perjodohan. Selain itu pengkhianatan yang dilakukan keluarga mereka sendiri tidak kalah peliknya.

Apak Elian dan Lyra bisa bersatu dan memiliki hidup normal?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amila FM, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rival

BAB 7: SANG RIVAL

Restoran L’Eclat bukan sekadar tempat makan; ia adalah altar bagi ego para penguasa Aethelion yang merasa dunia berada dalam genggaman mereka. Terletak di lantai enam puluh gedung pencakar langit tertinggi di distrik finansial, restoran ini menawarkan kemewahan yang mampu membungkam akal sehat. Langit-langitnya dihiasi dengan kristal yang disusun menyerupai rasi bintang yang megah, sementara pelayannya bergerak seperti bayangan yang terlatih dalam kesunyian mutlak. Namun bagi Lyra Selene De la Vega, kemewahan ini terasa seperti penjara kaca yang siap pecah kapan saja.

Ia duduk di meja sudut yang paling eksklusif, berhadapan dengan Count Julian. Pria dari utara itu tampak sangat percaya diri dalam setelan jas beledu birunya, terus membanggakan ekspansi tambang bajanya dan rencana masa depan "mereka" yang ambisius. Setiap kali Julian tertawa, tangannya sesekali merayap, menyentuh jemari Lyra di atas meja sebagai bentuk kepemilikan publik yang membuat Lyra mual. Ia tersenyum palsu, mengenakan topeng "The Iron Rose" dengan sempurna, meski di dalam hati ia merasa ingin segera pergi.

Kegelisahan Lyra mencapai puncaknya ketika sosok yang ia takuti sekaligus ia dambakan muncul. Elian Theron Valerius masuk bersama Isabella, putri menteri yang menjadi calon tunangannya. Pemandangan itu membuat darah Lyra mendidih seketika.

Kecemburuan yang Tak Terkatakan

Sepanjang makan malam, suasana di L'Eclat berubah menjadi medan perang tanpa suara. Elian ditempatkan di meja yang hanya berjarak beberapa meter. Meskipun mereka secara resmi adalah rival politik yang saling menghormati jarak, pandangan mata mereka menjadi jembatan bagi emosi yang meledak-ledak. Elian tidak lagi berpura-pura menikmati percakapannya dengan Isabella; matanya terus mengawasi setiap gerak-gerik di meja Lyra.

Rahangnya mengeras setiap kali Julian tertawa atau menyentuh tangan Lyra. Cemburu yang membara di mata Elian adalah api yang siap menghanguskan seluruh restoran itu. Begitu pula Lyra; melihat bagaimana Isabella bersandar mesra pada lengan Elian membuatnya merasa dikhianati oleh takdir yang mereka ciptakan sendiri. Kecemburuan ini tidak bisa diucapkan, namun frekuensi kemarahan itu terasa begitu nyata di antara dentingan alat makan perak dan musik piano yang lembut.

Himpitan di Cerukan Gelap

Saat hidangan penutup tiba, Lyra merasa dadanya mulai sesak oleh emosi yang tertahan. Ia beralasan ingin menghirup udara segar di balkon restoran. Ia melangkah keluar, namun alih-alih berdiri di tepi pagar, ia menyelinap ke dalam sebuah cerukan gelap yang tersembunyi oleh tanaman hias besar dan tirai beludru tebal. Di sana tidak ada pemandangan apa pun, hanya kegelapan yang pekat, tembok batu yang dingin, dan kesunyian yang mencekam.

Tak sampai semenit, pintu kaca bergeser pelan. Elian masuk, wajahnya gelap oleh amarah yang tak tertahan. Ia tidak bicara; ia langsung menerjang maju, menyudutkan Lyra di sudut terdalam cerukan itu.

"Berhenti tertawa bersamanya, Lyra," geram Elian.

Ia langsung menghimpit tubuh Lyra ke dinding batu yang kasar. Lyra merasakan napasnya tertahan. Tubuh Elian yang masif dan keras seperti beton menekannya begitu kuat, membuat dada Lyra terasa sesak. Himpitan itu begitu dominan, seolah Elian ingin menyatukan tubuh Lyra ke dalam struktur bangunan itu sendiri.

"Aku melakukan peranku, Elian. Kau juga melakukannya dengan Isabella," balas Lyra, suaranya terputus-putus karena tekanan fisik dari dada Elian yang bidang.

"Aku tidak peduli," Elian mencengkeram pinggul Lyra dengan kasar, menariknya hingga tubuh mereka benar-benar bertabrakan tanpa celah udara sedikit pun. Hasrat dan rasa cemburu meledak dalam kegelapan yang pengap itu.

Dominasi yang Brutal dan Tersembunyi

Tanpa membuang waktu untuk membuka gaun Lyra yang rumit, Elian hanya mengangkat kain sutra mahal itu hingga ke pinggang Lyra. Tangannya bergerak dengan kecepatan yang mematikan, menurunkan celana dalam Lyra hingga jatuh tak berdaya ke lantai. Di saat yang sama, Elian membuka celananya sendiri dengan gerakan yang sangat tidak sabar, didorong oleh kebutuhan mendesak untuk mengklaim kembali miliknya.

Tanpa peringatan atau permainan awal, Elian langsung menghujamkan miliknya pada lubang sensitif Lyra dalam sekali hentakan yang brutal dan dalam. Lyra terpekik kaget, namun Elian langsung membungkam suara itu dengan ciuman yang kasar dan penuh tuntutan.

Ritme yang mereka ciptakan sangat brutal dan terburu-buru. Setiap gerakan Elian adalah pernyataan kepemilikan yang kasar, dilakukan dengan kecepatan tinggi karena mereka tahu Julian bisa saja menyusul keluar kapan saja. Lyra merasa paru-parunya hampir kehabisan ruang untuk mengembang; tubuh Elian menghimpitnya begitu kencang hingga ia hanya bisa menghirup aroma maskulin dan kemarahan pria itu.

Tidak ada pemandangan laut yang indah di sini; hanya ada tembok yang dingin di punggungnya dan tubuh panas Elian yang menghimpit di depannya. Di dalam cerukan yang gelap dan sempit itu, sensasi fisik Lyra berlipat ganda. Rasa sakit yang singkat berubah menjadi nikmat yang menyiksa karena ia bisa merasakan setiap otot Elian yang menegang akibat kecemburuan yang meluap.

Elian bergerak seolah-olah waktu mereka akan habis dalam hitungan detik. Ia tidak memberi ampun, setiap hentakan adalah cara ia menghapus bayangan tangan Julian dari ingatan Lyra. Dada Lyra naik turun dengan susah payah, terhimpit kuat oleh napas Elian yang memburu.

"Kamu... hanya... milikku," bisik Elian di sela ciuman mereka yang masih bertautan, suaranya terdengar seperti ancaman sekaligus janji.

Kembali ke Topeng

Setelah mencapai puncaknya dalam waktu yang singkat namun sangat intens, Elian segera merapikan pakaiannya. Ia menarik turun kembali gaun Lyra, memastikan tidak ada kain yang tersangkut atau terlihat berantakan. Ia menarik napas dalam, mencoba menormalkan detak jantungnya sebelum kembali ke dunia sandiwara.

Dengan satu kecupan terakhir yang posesif dan sedikit kasar di leher Lyra, meninggalkan sensasi panas yang akan tersembunyi di balik kerah tinggi gaunnya, Elian berbalik dan keluar lebih dulu melalui pintu samping yang gelap, kembali ke mejanya seolah-olah ia hanya menerima panggilan telepon penting.

Lyra berdiri sendirian di dalam cerukan itu selama beberapa saat. Dadanya masih terasa sesak, bukan lagi karena himpitan fisik Elian, melainkan karena jantungnya yang berpacu liar. Ia merapikan rambutnya yang sedikit berantakan dengan jari yang gemetar, memakai kembali topeng "The Iron Rose"-nya yang dingin, dan berjalan kembali ke meja makan. Di sana, Count Julian sudah menunggunya dengan senyum sombong yang sama sekali tidak menyadari bahwa di balik kegelapan balkon tadi, Lyra baru saja diklaim secara brutal oleh sang rival.

1
T28J
Awwwww... baru eps 4 udah enak enak 🤭👍
lanjutkan kak
Amila FM,IG:amilaeditslife: semoga suka ya kak 🙏
total 1 replies
T28J
hadir kk✍️
Amila FM,IG:amilaeditslife: terimakasih kk
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!