[Eksekusi penjahat berhasil! 1 Milyar telah dikirim.]
Luis, pengacara miskin yang selalu dihina karena tak pernah memenangkan kasus, mati tertabrak saat pulang.
Namun ia kembali ke masa lalu bersama Sistem Saldo Eksekutor, sistem misterius yang memberinya hadiah uang setiap kali berhasil mengeksekusi kasus dan menjatuhkan para penjahat.
Dari pengacara gagal, Luis mulai bangkit menjadi sosok mengerikan di balik hukum.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sistem One, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32: Mampir ke rumah
Hendri melirik putranya, lalu kembali fokus pada korannya. "Hm? Baik-baik saja. Kenapa? Kau ingin membeli perusahaan itu untuk Ayah?" candanya.
Luis terkekeh pelan, tawa yang terdengar sangat alami di telinga orang tuanya. "Haha, jangankan kubeli, Yah. Aku gaji semua karyawannya pun bisa."
"Hahaha, ada-ada saja kau ini, Luis," tawa Hendri pecah, menganggap ucapan anaknya hanyalah bualan anak muda.
Setelah makan, Luna yang sudah rapi dengan pakaian santainya berpamitan. "Aku pamit dulu, Ayah, Ibu. Dadah, Kak Luis."
"Luna mau ke mana?" tanya Luis.
"Main sama teman-temannya katanya," sahut Lidya.
Luis mengangguk. Setelah semua orang kembali ke kesibukan masing-masing, ia merasa waktu luangnya kembali datang. Ia ingin kembali ke kamar, berbaring seharian, dan merencanakan langkah selanjutnya. Namun, baru saja ia hendak melangkah, suara ketukan pintu terdengar.
Tok... tok... tok.
Hendri dan Lidya saling tatap.
"Ayah punya janji?" tanya Lidya.
"Tidak. Hari libur ini Ayah mau diam saja di rumah," jawab Hendri.
Mereka menatap Luis. "Tolong bukakan pintunya, Luis. Lihat siapa," perintah Lidya.
"Ya," jawab Luis dengan nada malas.
Ia berjalan santai menuju pintu depan. Pikirannya masih dipenuhi daftar target dan bagaimana cara memaksimalkan poin eksekusinya. Tanpa curiga sedikit pun, ia menarik gagang pintu dan membukanya dengan lebar.
Begitu pintu terbuka, sesosok gadis berdiri di sana dengan senyum yang sangat lebar, seolah menunggu momen ini selama berhari-hari.
"Luis! Akhirnya aku menemukan rumahmu!" seru Bella dengan nada penuh kemenangan.
Luis menatap Bella dengan mata sayu. Di balik topeng ketenangannya, ia merasakan kejengkelan yang luar biasa.
Baginya, Bella hanyalah gangguan lain dalam "permainan" besarnya. Namun, ia tetap mempertahankan ekspresi wajah yang datar, menatap Bella yang kini menatapnya dengan penuh harap, seolah-olah ia adalah pusat dari seluruh dunianya.
"Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Luis dengan suara yang sengaja dibuat terdengar lelah, namun Bella seakan tidak peduli dan justru melangkah maju, memaksanya untuk memberikan ruang bagi gadis itu memasuki dunianya yang selama ini ia tutup rapat-rapat.
"Kok gitu sih, Luis? Aku kan pacarmu. Aku sudah berusaha keras mencari rumahmu, lho," Bella mengerucutkan bibirnya. Ekspresinya menunjukkan kekecewaan yang sangat nyata, kontras dengan wajahnya yang biasanya dipoles riasan tebal di sekolah.
Luis hanya menatapnya datar. Di matanya, Bella hanyalah variabel yang mengganggu ketenangan dunianya. "Kalau begitu, sudah ya. Aku mau istirahat," balas Luis singkat, hendak menutup pintu.
Namun, Bella dengwn cepat menangkap pergelangan tangan Luis. "Luis, tunggu! Aku khawatir banget karena kau sudah sepekan tidak masuk sekolah. Aku bawakan sesuatu."
Bella menyodorkan sebuah kado yang dibungkus kertas cokelat sederhana. Kelihatannya tidak dibeli di toko mewah, melainkan dibungkus sendiri dengan pita yang sedikit miring. "Aku buat ini semalaman. Semoga kau suka."
Luis mengernyitkan dahi. Ia mengambil kado itu. Rasanya ringan. Ia teringat rumor di sekolah bahwa Bella adalah gadis yang sering berganti-ganti pacar, seorang primadona yang terkesan "mudah" dan haus akan perhatian.
Namun, melihat sikapnya yang begitu agresif dan nekat mencari rumahnya, Luis mulai memahami alasan di balik kegagalan hubungan-hubungan gadis itu sebelumnya.
"Terlalu lekat. Terlalu haus kasih sayang. Pria mana pun akan merasa tercekik," batin Luis dingin.
Tiba-tiba, sebuah ingatan dari kehidupan sebelumnya muncul. Saat upacara reuni sekolah, Bella tidak pernah hadir. Tidak ada yang tahu kabarnya, dan tak ada yang peduli. Keingintahuan Luis terusik. "Apa yang sebenarnya terjadi pada gadis ini?"
"Terima kasih," ucap Luis kaku, berusaha bersikap sopan meski hatinya enggan.