Selly, gadis berusia 19 tahun, adalah putri kesayangan keluarga terkaya nomor dua di negara ini. Sejak kecil ia hidup dalam pelukan kasih sayang yang luar biasa—dimanja ayah, disayang ibu, dan dijaga mati-matian oleh kakak laki-lakinya, Rian, yang posesifnya level dewa.
Namun, ada satu hal yang selalu Selly inginkan namun sulit ia dapatkan: Hati seorang Darren Wijaya.
Darren, pria dingin berusia 32 tahun yang merupakan raja bisnis dan orang terkaya nomor satu. Luka masa lalu akibat pengkhianatan mantan kekasihnya, Natasha, membuat pria itu menutup hatinya rapat-rapat. Selama bertahun-tahun Selly mengejar, memberi perhatian, dan mencoba menembus tembok dingin itu, namun yang ia dapatkan hanyalah sikap acuh tak acuh dan penolakan.
Hingga suatu hari, rasa lelah dan sakit hati membuat Selly sadar. Ia tidak bisa terus memaksakan diri.
"Cukup, Om... Aku menyerah."
Selly memutuskan berhenti. Ia mulai fokus kuliah, bergaya lebih dewasa, dan mencoba membuka hati untuk Aron
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wiwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 7
Hari-hari berikutnya, Selly mencoba cara lain untuk tetap terhubung dengan Darren. Jika datang langsung ke kantor seringkali berakhir dengan kekecewaan, maka ia mencoba mendekati lewat dunia maya. Lewat pesan singkat dan telepon.
Selly berpikir, mungkin dengan begini Darren tidak akan merasa terganggu secara langsung. Pria itu bisa membalas saat ada waktu luang.
Dan benar saja, awalnya Selly sempat merasa senang karena setidaknya mereka masih bisa berkomunikasi, meski hanya lewat layar kaca. Tapi lama-kelamaan, gadis itu sadar... bahwa bahkan lewat chat pun, Darren Wijaya tetaplah Darren Wijaya yang dingin dan tak tersentuh.
Selly 💖: Om Darren! Lagi ngapain nih? Selly kangen lho~ 😘
Balasan Darren: Kerja.
Selly 💖: Oh gitu ya... jangan lupa istirahat ya! Selly tadi bela...
Balasan Darren: Hm.
Selly 💖: Om Darren! Lihat deh foto Selly tadi jalan-jalan sama temen kampus, cantik gak?
Balasan Darren: Tidak. Sibuk.
Itulah pola yang selalu terjadi. Selly yang mengirim pesan panjang lebar, penuh emoji, penuh perhatian, dan penuh rasa sayang. Sedangkan Darren... balasannya selalu singkat, padat, dingin, dan seringkali membuat hati Selly mencelos.
Bahkan seringkali, pesan yang dikirim Selly di pagi hari, baru dibalas saat malam tiba, atau bahkan tidak dibalas sama sekali sampai berhari-hari.
Siang itu, di ruang keluarga yang nyaman, Selly duduk bersandar di sofa sambil menatap layar ponselnya dengan tatapan berharap. Jari-jarinya dengan cepat mengetik sebuah pesan suara dan pesan teks.
"Om Darren... Selly cuma mau ngingetin, hari ini kan jadwal Om makan obat ya karena flu kemarin. Jangan lupa diminum ya, nanti parah lho. Selly sayang banget sama Om, semangat kerjanya ya! ❤️"
Pesan itu terkirim. Tanda centang biru pun muncul beberapa menit kemudian. Berarti Darren sudah membacanya.
Selly menunggu. Menunggu balasan 'terima kasih' atau sekadar 'iya'.
Lima menit... sepuluh menit... setengah jam berlalu. Tidak ada balasan.
Selly menghela napas panjang, lalu membaringkan tubuhnya di sofa dengan wajah kecewa. "Duh, kenapa sih susah banget ya ngomong terima kasih doang," gerutunya pelan, namun ia masih berusaha bersabar.
Tiba-tiba sebuah bantal lempar melayang dan mendarat tepat di wajahnya.
Buk!
"Aduh! Kak Rian apaan sih!" seru Selly kaget, lalu menoleh melihat kakaknya yang berdiri di belakang sofa dengan wajah datar namun matanya menatap tajam ke arah layar ponsel yang masih terbuka di tangan Selly.
"Lagi ngapain? Senyum-senyum sendiri atau malah ngelamun gak jelas?" tanya Rian sambil melipat kedua tangannya di dada, menatap curiga.
"Enggak kok... Selly lagi chat sama Om Darren doang," jawab Selly polos, buru-buru ingin menutup layarnya tapi terlambat.
Rian dengan sigap langsung meraih ponsel itu dari tangan Selly sebelum sempat ditutup. "Eh! Kakak apaan sih! Balikin!" Selly mencoba merebutnya kembali, tapi postur tubuh Rian yang jauh lebih tinggi dan besar membuatnya tidak berdaya.
"Diem dulu sebentar, Kakak mau liat aja. Penasaran gimana cara cowok itu ngomong sama adik gue," kata Rian dingin.
Dengan mata yang mulai menyipit, Rian mulai men-scroll layar ponsel itu, melihat riwayat percakapan antara Selly dan Darren.
Awalnya wajahnya biasa saja, tapi semakin lama ia membaca, semakin kerut dahinya, dan semakin merah telinganya menahan amarah yang mulai memuncak.
Ia melihat bagaimana Selly mengirim pesan yang begitu panjang, begitu manis, begitu perhatian, penuh cinta dan kasih sayang. Gadisnya benar-benar menuangkan seluruh hatinya di sana.
Namun balasan dari si Darren?
Darren: "Hm."
Darren: "Tidak."
Darren: "Sibuk."
Darren: "Jangan ganggu."
Darren: "Kamu ini anak kecil ya? Kerjain hal yang berguna dikit."
Dan yang paling bikin darah Rian mendidih adalah pesan terakhir yang baru saja dikirim Selly soal mengingatkan minum obat. Balasannya? Tidak ada. Tapi statusnya sudah dibaca.
'Dia baca! Dia baca pesan adik gue yang sebaik dan seperhatian itu, tapi dia gak membalas sama sekali?!'
Rian menghentikan gerakan jarinya, lalu menatap Selly dengan tatapan yang sulit dijelaskan. Campuran antara marah, kecewa, dan sangat kasihan.
"Sel..." suara Rian bergetar menahan emosi. "Lo liat ini baik-baik? Lo sadar gak sih apa yang lo baca?"
Selly menunduk malu, pipinya memerah. "I... itu... Om Darren kan sibuk Kak, jadi gak sempat balas panjang..."
"SIBUK APANYA HAH?!"
Rian tidak bisa menahannya lagi, ia berteriak cukup keras membuat Selly terlonjak kaget.
"SIBUK MY ASS! Itu namanya GAK HARGAIIN! Lo liat kan? Lo ngetik panjang lebar, lo perhatiin dia, lo sayangin dia, tapi balasan dia cuma 'hm', 'tidak', 'sibuk'?! Itu aja pun jarang! Seringnya di read doang!"
Rian benar-benar geram setengah mati. Ia merasa tidak adil sekali. Adiknya sebaik itu, secantik itu, berharga segitu mahalnya, tapi di chat diperlakukan seperti pengemis perhatian!
"Dan liat ini! Lo ingetin dia minum obat karena lo sayang, dia baca tapi diem aja?! Seolah pesan lo itu sampah yang gak penting?! Dasar pria sombong! Dasar brengsek!" makian Rian meluncur lancar, ia benar-benar sudah di puncak kesabaran.
"Kak... jangan ngomong gitu dong..." Selly mencoba membela meski suaranya lemah.
"Terus Kakak harus ngomong gimana?! Lihat nih isinya!" Rian memperlihatkan layar HP itu lagi. "Suruh sibuk sendiri?!" Baca ini! 'Jangan buang waktu aku, kamu cari kegiatan lain.' HAH?!
Rian menghela napas panjang, lalu mencengkeram bahu Selly lembut tapi tegas, menatap mata adiknya dalam-dalam.
"Dengerin Kakak, Sel. Cowok yang beneran sayang sama lo, sepenting apa pun dia, sehebat apa pun dia, dia gak akan pernah bikin lo nungguin balasan chat kayak gini. Dia gak akan pernah balas seketus itu. Kalau dia sayang, dia bakal seneng dikirimin pesan sama lo, dia bakal ngerasa bersalah kalau telat balas."
"Tapi..."
"Gak ada tapi-tapian!" potong Rian tegas. "Lo itu Selly Adhitama! Putri raja! Jangan mau diperlakukan murahan kayak gini. Chat lo berharga, perhatian lo berharga, sayang lo berharga... Jangan buang semua itu buat orang yang bahkan gak sanggup ngetik dua kata lebih buat lo!"
Selly terdiam, air mata mulai menggenang lagi di pelupuk matanya. Kata-kata Rian itu benar adanya. Ia tahu itu semua benar. Tapi kenapa hatinya masih saja bertahan?
"Kakak gak mau liat lo sedih lagi, Sel. Cowok kayak Darren Wijaya... dia gak pantas dapetin lo. Dia terlalu kering hatinya," ucap Rian lagi, kali ini suaranya melunak, ia mengusap kepala Selly sayang.
"Udah ya, hapus nomornya kalau perlu. Jangan chat dia lagi. Dia gak layak dapetin perhatian lo yang seindah itu."
Selly mengambil kembali ponselnya dari tangan Rian, menatap layar yang menampilkan nama 'Darren ❤️' dengan perasaan yang campur aduk. Rasa sakit itu kembali datang, kali ini bukan cuma karena sikap Darren, tapi karena sadar bahwa selama ini ia memang terlihat begitu bodoh dan memaksakan kehendak.
(Bersambung...)