NovelToon NovelToon
System Pohon Ajaib Warisan Kakek

System Pohon Ajaib Warisan Kakek

Status: tamat
Genre:Sistem / Mengubah Takdir / Dikelilingi wanita cantik / Tamat
Popularitas:175.6k
Nilai: 5
Nama Author: ex

Lelah dengan kehidupan keras sebagai budak korporat di kota besar dan duka setelah kehilangan kedua orang tuanya, Lin Ye memutuskan untuk pulang ke Desa Qingshui, tempat kakeknya dulu tinggal.

Di sana, ia menemukan ladang dan rumah kakeknya yang sudah terbengkalai, kecuali sebatang pohon raksasa misterius di belakang rumah yang anehnya tetap subur dan hijau.

Saat tangan Lin Ye yang terluka menyentuh pohon tersebut, Sistem Warisan Alam yang terkunci sejak kematian kakeknya mendadak aktif, mengenali garis keturunannya sebagai pewaris sah.

Kini, dengan bantuan sistem yang memudahkan pekerjaan bertani dan kehadiran roh-roh alam fantasi, Lin Ye memulai kehidupan barunya yang santai namun penuh keajaiban untuk membangun kembali kejayaan ladang kakeknya, melawan intrik tetangga yang rakus, dan perlahan menjadi kaya raya di tengah kedamaian pedesaan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ex, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1

Ciiiiit.

Bunyi rem bus tua itu berderit nyaring memecah keheningan jalan tanah yang berdebu. Pintu bus terbuka dengan suara berderak kasar, memperlihatkan engselnya yang sudah karatan.

Lin Ye melangkah turun sambil membawa satu koper besar berwarna hitam di tangan kanannya dan sebuah tas punggung lusuh. Dia berdiri di tepi jalan, menatap hamparan sawah dan perbukitan yang mengelilingi Desa Qingshui. Angin sore meniup rambutnya yang sedikit berantakan, membawa aroma tanah basah dan jerami yang terbakar dari kejauhan.

"Terima kasih, Paman," kata Lin Ye kepada supir bus yang duduk di balik kemudi sambil menyeka keringat.

"Sama-sama, anak muda. Kamu yakin mau turun di sini? Ini ujung Desa Qingshui. Jarang ada orang kota yang datang ke bagian ini. Rumah-rumah di depan sana kebanyakan sudah kosong dan halamannya dipenuhi semak belukar," kata supir bus itu sambil mematikan rokoknya di asbak kecil dekat kemudi.

"Saya yakin, Paman. Ini tempat tinggal kakek saya dulu. Saya ingin melihat kondisinya setelah belasan tahun tidak kemari," jawab Lin Ye dengan senyum tipis.

Supir itu mengangguk pelan, matanya menatap Lin Ye dengan sedikit rasa kasihan. "Kalau begitu hati-hati. Kudengar tanah di sekitar sini sering jadi sengketa warga sejak orang tua yang punya ladang besar itu meninggal puluhan tahun lalu. Jangan sampai kamu bermasalah dengan orang lokal, apalagi kamu sendirian."

"Saya mengerti. Terima kasih banyak atas peringatannya, Paman," balas Lin Ye.

Brummm.

Bus tua itu kembali melaju, meninggalkan kepulan asap tebal dan debu jalanan yang berterbangan. Lin Ye terbatuk pelan sambil mengibaskan tangan di depan wajahnya. Dia memutar tubuhnya dan mulai berjalan menyusuri jalan setapak yang ditumbuhi rumput liar di sisi kanan dan kirinya. Suasana di sini sangat sunyi, hanya terdengar suara jangkrik yang mulai bernyanyi menyambut senja.

"Sudah lima belas tahun berlalu sejak terakhir kali aku ke sini bersama ayah dan ibu," batin Lin Ye sambil menatap jalanan berbatu di depannya. "Rasanya sangat sepi, sangat berbeda dengan hiruk-pikuk pusat kota."

Langkah kakinya terdengar pelan bergesekan dengan kerikil jalan. Di kota besar, dia terbiasa dengan suara klakson mobil yang memekakkan telinga, dering telepon kantor yang tidak pernah berhenti dari pagi hingga malam, dan omelan atasan yang selalu menuntut target pekerjaan tanpa mempedulikan jam istirahat.

Menjadi budak korporat selama lima tahun telah menguras semua energi dan kewarasannya. Kematian mendadak kedua orang tuanya dalam kecelakaan mobil beruntun satu bulan lalu menjadi titik balik hidupnya. Lin Ye merasa hidupnya hampa. Dia memutuskan berhenti bekerja, menguras tabungannya untuk menutupi biaya pemakaman dan sisa hutang keluarga, lalu kembali ke satu-satunya tempat yang tersisa atas namanya. Ladang warisan kakeknya.

Tap. Tap. Tap.

Lin Ye berhenti berjalan. Di depannya berdiri sebuah pagar kayu yang sudah lapuk, patah di beberapa bagian, dan miring seakan bisa rubuh hanya dengan tiupan angin kencang. Di balik pagar itu, terdapat sebuah rumah kayu tradisional bergaya pedesaan dengan atap genteng yang banyak berjatuhan ke tanah. Halamannya tertutup tumbuhan liar dan alang-alang setinggi dada orang dewasa. Jendela rumahnya tertutup debu tebal dan beberapa kacanya pecah. Ini sama sekali tidak terlihat seperti tempat yang layak untuk ditinggali manusia.

Baru saja Lin Ye hendak meletakkan kopernya untuk membuka gerbang kayu itu, sebuah suara teguran kasar terdengar dari arah ladang sebelah kiri.

"Hei. Siapa kamu? Jangan sembarangan masuk ke tanah orang yang sudah mati."

Lin Ye menoleh dengan tenang. Seorang pria paruh baya dengan kulit gelap terbakar matahari berdiri di perbatasan ladang. Pria itu memakai kaus lusuh berlubang di bagian bahu dan membawa cangkul bergagang panjang di pundaknya. Matanya menatap Lin Ye dari atas ke bawah dengan tatapan menyelidik dan penuh kecurigaan.

"Saya Lin Ye. Ini rumah mendiang kakek saya, Lin Tian. Saya cucunya yang datang dari kota," jawab Lin Ye dengan nada datar, tidak terintimidasi oleh tatapan pria itu.

Pria itu melebarkan matanya sejenak, lalu mendengus pelan dan tertawa meremehkan. "Cucu Lin Tian? Oh, anak dari kota itu rupanya. Pantas saja pakaianmu bersih dan kulitmu pucat begitu. Kenapa kamu ke sini? Tanah ini sudah lama ditinggalkan. Ayahmu bahkan tidak pernah kembali untuk mengurusnya."

"Saya adalah pemilik sah tanah ini sekarang karena ayah saya sudah meninggal. Tentu saja saya datang untuk melihat properti saya sendiri. Anda siapa dan ada urusan apa ikut campur urusan pribadi saya?" tanya Lin Ye balik dengan tatapan tajam.

"Saya Zhao He. Ladang jagung saya tepat di sebelah tanah berantakan ini." Zhao He menunjuk ke arah petak tanah yang ditanami jagung yang tumbuh cukup subur. "Karena kamu sudah ada di sini, kebetulan sekali. Lebih baik kamu jual saja tanah ini padaku sekarang juga."

"Menjual tanah ini?" Lin Ye mengerutkan keningnya.

"Benar. Kamu orang kota, tanganmu terlalu halus, kamu tidak akan bisa hidup sehari pun di desa ini. Tanah ini sudah mati. tumbuhan liarnya tebal dan akarnya dalam, tanahnya sekeras batu, rumahnya hampir rubuh dan bocor di mana-mana. Kamu butuh puluhan ribu yuan hanya untuk menyewa alat berat dan orang untuk membersihkannya. Jual saja padaku seharga sepuluh ribu yuan. Aku akan membayarnya tunai besok pagi. Kamu bisa pakai uang itu untuk ongkos pulang dan bersenang-senang di kota."

"Sepuluh ribu yuan?" Lin Ye tertawa pelan, tawanya terdengar dingin. "Saya mungkin lama tinggal di kota, tapi saya bukan orang bodoh yang buta huruf. Harga pasaran tanah sekecil apa pun di desa ini setidaknya menyentuh angka lima puluh ribu yuan, apalagi tanah ini cukup luas membentang sampai ke kaki bukit. Anda mencoba menipu saya karena saya baru datang dan terlihat kelelahan?"

Zhao He memajukan langkahnya, wajahnya terlihat kesal karena triknya terbongkar. "Anak muda, jangan sombong. Tanah kakekmu ini berbatasan langsung dengan hutan bukit liar. Sering ada babi hutan turun dan merusak tanaman. Tidak ada orang desa ini yang mau membelinya darimu. Aku menawari sepuluh ribu yuan karena aku kasihan melihatmu terlantar. Kebetulan aku butuh tambahan lahan untuk menanam lebih banyak jagung demi melunasi biaya rumah sakit istriku di kota yang sangat mahal."

"Masalah rumah sakit istri Anda itu bukan urusan saya," jawab Lin Ye tegas. "Saya tidak akan menjual tanah ini kepada siapa pun dengan harga berapa pun. Saya akan tinggal di sini dan mengurusnya sendiri."

"Tinggal di sini?" Zhao He tertawa keras sambil memukul gagang cangkulnya ke tanah. "Jangan bercanda. Kamu tidak akan bertahan tiga hari. Tanpa air bersih yang mengalir karena sumurnya sudah kering, tanpa listrik yang memadai, dan rumah yang penuh tikus, kamu akan lari menangis kembali ke kota sebelum akhir pekan."

"Kita lihat saja nanti siapa yang akan menangis. Sekarang, tolong menyingkir dari hadapan gerbang rumah saya. Anda menghalangi jalan," kata Lin Ye sambil mengangkat kopernya kembali.

Sebelum Zhao He bisa membalas ucapan Lin Ye dengan makian, suara langkah kaki yang lebih berat terdengar mendekat dari arah jalan utama desa.

"Zhao He. Apa yang kamu lakukan di sana? Jangan mengganggu tamu desa kita yang baru datang."

Seorang pria tua dengan rambut beruban penuh dan kemeja lengan panjang yang rapi berjalan menghampiri mereka. Dia memakai kacamata dengan bingkai tebal dan berjalan menggunakan tongkat kayu. Wajahnya penuh keriput namun memancarkan wibawa yang tenang.

1
SENJA
hadeeeh bulshit semua 🤮
Jeffie Firmansyah
keren semangat suka cerita nya
Jeffie Firmansyah
terimakasih Thor saya sdh baca hingga selesai, ceritanya bagus , dengan genre yg berbeda, pada novel 2 , yg lain... sehat selalu Thor 💪💪💪💪
Yui: terimakasih banyak kak sudah membaca sampai selesai, maaf klo banyak kesalahan dalam penulisannya, dan mungkin bisa baca juga novel author yang lain😊😊😊
total 1 replies
Endro Budi Raharjo
tanamannya gak jelas.... cm panen sekali bubar ganti lg...
Memyr 67
𝗉𝖺𝗅𝗂𝗇𝗀 𝗆𝖾𝗅𝗈𝗇 𝗓𝖺𝗆𝗋𝗎𝖽𝗇𝗒𝖺 𝖼𝗎𝗆𝖺 𝗌𝖺𝗍𝗎 𝗂𝗍𝗎 𝖺𝗃𝖺. 𝗅𝗂𝗇 𝗒𝖾 𝗄𝖺𝗇 𝗌𝗂𝗌𝗍𝖾𝗆 𝖻𝖾𝗋𝖼𝗈𝖼𝗈𝗄 𝗍𝖺𝗇𝖺𝗆𝗇𝗒𝖺, 𝗌𝖾𝖽𝗂𝗄𝗂𝗍 𝗌𝖾𝖽𝗂𝗄𝗂𝗍, 𝖽𝗂𝖼𝗈𝖻𝖺 𝗌𝖾𝗆𝗎𝖺.
Memyr 67
𝖽𝗂 𝗍𝖾𝗇𝗀𝖺𝗁 𝖽𝖺𝗇𝖺𝗎 𝖺𝖽𝖺 𝗉𝗎𝗅𝖺𝗎? 𝗈𝗐 𝗂𝗍𝗎 𝖽𝖺𝗁 𝗇𝗒𝖺𝗆𝗉𝖾 𝖽𝖺𝗇𝖺𝗎 𝗍𝗈𝖻𝖺 𝖻𝖾𝗋𝖺𝗋𝗍𝗂 🤣🤣🤣
Memyr 67
𝖽𝗂 𝖼𝗁𝗂𝗇𝖺, 𝗌𝖺𝗒𝗎𝗋 𝖻𝖾𝗇𝗂𝗇𝗀 𝖽𝗂𝗇𝖺𝗆𝖺𝗄𝖺𝗇 𝖽𝗎𝗉 𝗃𝗎𝗀𝖺 𝗒𝖺? 𝗄𝖺𝗅𝖺𝗎 𝗈𝗋𝖺𝗇𝗀 𝗂𝗇𝖽𝗈𝗇𝖾𝗌𝗂𝖺, 𝗇𝗀𝗀𝖺𝗄 𝖺𝖽𝖺 𝖽𝖺𝗀𝗂𝗇𝗀𝗇𝗒𝖺 𝗂𝗍𝗎 𝗌𝖺𝗒𝗎𝗋 𝖻𝖾𝗇𝗂𝗇𝗀, 𝖻𝗎𝗄𝖺𝗇 𝗌𝗎𝗉.
Memyr 67
𝗌𝖺𝗐𝗂 𝖼𝖺𝗆𝗉𝗎𝗋 𝗆𝖾𝗅𝗈𝗇? 𝖺𝗉𝖺 𝗋𝖺𝗌𝖺 𝖽𝖺𝗎𝗇 𝗌𝖺𝗐𝗂𝗇𝗒𝖺 𝖺𝗄𝖺𝗇 𝗌𝖾𝗉𝖾𝗋𝗍𝗂 𝗆𝖾𝗅𝗈𝗇?
Reyzz: melonnya yang rasa sawi kak😭
tergantung genetik sih, kalo dominan melonnya ya sawi rasanya melon, kalo dominan sawi ya melon rasa sawi
total 1 replies
Memyr 67
𝗌𝖾𝗎𝗉𝗎 𝗐𝖺𝗇 𝗃𝗂𝗇 𝗇𝗀𝗀𝖺𝗄 𝗉𝖺𝖽𝖺 𝗌𝖺𝖽𝖺𝗋 𝖽𝗂𝗋𝗂, 𝗆𝖾𝗇𝗀𝗀𝗎𝗇𝖺𝗄𝖺𝗇 𝗈𝗋𝖺𝗇𝗀 𝗍𝗎𝖺𝗇𝗒𝖺 𝗎𝗇𝗍𝗎𝗄 𝗆𝖾𝗇𝖾𝗄𝖺𝗇 𝗐𝖺𝗇𝗃𝗂𝗇 𝖽𝖺𝗇 𝖺𝗒𝖺𝗁𝗇𝗒𝖺, 𝗉𝖺𝖽𝖺𝗁𝖺𝗅 𝗉𝖺𝗋𝖺 𝗈𝗋𝖺𝗇𝗀𝗍𝗎𝖺 𝗆𝖾𝗋𝖾𝗄𝖺 𝖽𝗂𝗍𝖾𝗄𝖺𝗇 𝖻𝖺𝗅𝗂𝗄, 𝗀𝖾𝗅𝖺𝗀𝖺𝗉𝖺𝗇, 𝖻𝖾𝗇𝖺𝗋 𝖻𝖾𝗇𝖺𝗋 𝗌𝖾𝗄𝖾𝗅𝗂𝗆𝗉𝗈𝗄 𝗆𝖺𝗇𝗎𝗌𝗂𝖺 𝖻𝗈𝖽𝗈𝗁. 𝗇𝗀𝗀𝖺𝗄 𝖻𝗂𝗌𝖺 𝗆𝗂𝗄𝗂𝗋
Memyr 67
𝗍𝖾𝗋𝗇𝗒𝖺𝗍𝖺, 𝗉𝖺𝗋𝖺 𝗉𝖾𝗍𝗂𝗇𝗀𝗀𝗂 𝗁𝗈𝗍𝖾𝗅 𝗀𝗋𝖺𝗇𝖽 𝗒𝗎𝗌𝗁𝖺𝗇 𝗈𝗋𝖺𝗇𝗀 𝗈𝗋𝖺𝗇𝗀 𝖻𝗈𝖽𝗈𝗁 𝗒𝗀 𝖻𝖾𝗋𝗉𝗂𝗄𝗂𝗋𝖺𝗇 𝗌𝖾𝗆𝗉𝗂𝗍. 𝗉𝖺𝗇𝗍𝖺𝗌 𝖺𝗃𝖺 𝖽𝗂𝗋𝖾𝗆𝖾𝗁𝗄𝖺𝗇 𝗈𝗅𝖾𝗁 𝗀𝗋𝗎𝗉 𝗄𝗎𝗅𝗂𝗇𝖾𝗋 𝗅𝖺𝗇𝗀𝗂𝗍
Memyr 67
𝖻𝖺𝗋𝗎 𝗌𝖾𝗇𝖾𝗇𝗀 𝗌𝖾𝗇𝖾𝗇𝗀 𝖽𝖺𝗉𝖺𝗍 𝖽𝗎𝗂𝗍 𝗋𝖺𝗍𝗎𝗌𝖺𝗇 𝗋𝗂𝖻𝗎 𝗒𝗎𝖺𝗇, 𝖽𝖺𝗁 𝗍𝖾𝗀𝖺𝗇𝗀 𝗅𝖺𝗀𝗂.
Memyr 67
𝗉𝖺𝗋𝖺 𝗌𝖾𝗉𝗎𝗉𝗎 𝗐𝖺𝗇𝗃𝗂𝗇 𝖻𝗈𝖽𝗈𝗁. 𝖺𝗉𝖺 𝗒𝗀 𝖺𝗄𝖺𝗇 𝗆𝖾𝗋𝖾𝗄𝖺 𝖽𝖺𝗉𝖺𝗍 𝖽𝖺𝗋𝗂 𝗀𝗋𝗎𝗉 𝗄𝗎𝗅𝗂𝗇𝖾𝗋 𝗅𝖺𝗇𝗀𝗂𝗍, 𝗍𝗂𝖽𝖺𝗄 𝖺𝖽𝖺 𝖺𝗉𝖺 𝖺𝗉𝖺𝗇𝗒𝖺 𝖽𝗂𝖻𝖺𝗇𝖽𝗂𝗇𝗀𝗄𝖺𝗇 𝖺𝗉𝖺 𝗒𝗀 𝖺𝗄𝖺𝗇 𝖽𝗂𝖽𝖺𝗉𝖺𝗍 𝗀𝗋𝗎𝗉 𝗄𝗎𝗅𝗂𝗇𝖾𝗋 𝗅𝖺𝗇𝗀𝗂𝗍. 𝗄𝖾𝗁𝖺𝗇𝖼𝗎𝗋𝖺𝗇 𝗀𝗋𝖺𝗇𝖽 𝗒𝗎𝗌𝗁𝖺𝗇, 𝗒𝗀 𝖻𝖾𝗋𝖺𝗋𝗍𝗂 𝗄𝖾𝗁𝖺𝗇𝖼𝗎𝗋𝖺𝗇 𝗆𝖾𝗋𝖾𝗄𝖺 𝗌𝖾𝗆𝗎𝖺. 𝗍𝖺𝗉𝗂 𝗉𝖺𝗋𝖺 𝖺𝗇𝗀𝗀𝗈𝗍𝖺 𝖽𝖾𝗐𝖺𝗇 𝗅𝖾𝖻𝗂𝗁 𝖻𝗈𝖽𝗈𝗁. 𝖻𝗂𝗌𝖺 𝖽𝗂𝗍𝖾𝗄𝖺𝗇 𝗈𝗅𝖾𝗁 𝗉𝖺𝗋𝖺 𝗌𝖾𝗉𝗎𝗉𝗎 𝖻𝗈𝖽𝗈𝗁 𝗐𝖺𝗇𝗃𝗂𝗇.
Memyr 67
𝗍𝖾𝗀𝖺𝗇𝗀 𝗅𝖺𝗀𝗂
Memyr 67
𝗉𝖾𝗍𝖺𝗇𝗂 𝗎𝖽𝗂𝗄 𝗒𝖺? 𝗅𝗈𝗇𝗀 𝗐𝖾𝗂 𝖻𝗈𝖽𝗈𝗁 𝖽𝖺𝗇 𝖼𝖾𝗋𝗈𝖻𝗈𝗁 𝗀𝗂𝗍𝗎, 𝖻𝗂𝗌𝖺 𝗃𝖺𝖽𝗂 𝗉𝖾𝗆𝗂𝗆𝗉𝗂𝗇 𝖽𝗎𝗇𝗂𝖺 𝖻𝖺𝗐𝖺𝗁. 𝗅𝗈𝗅
Memyr 67
𝗉𝖾𝗍𝖺𝗇𝗂 𝗎𝖽𝗂𝗄? 𝗍𝗎𝗇𝗀𝗀𝗎 𝗌𝖺𝗃𝖺, 𝗌𝗂𝖺𝗉𝖺 𝗒𝗀 𝗅𝖾𝖻𝗂𝗁 𝗎𝖽𝗂𝗄. 𝗅𝗈𝗇𝗀 𝗐𝖾𝗂 𝗉𝗎𝗇𝗒𝖺 𝖺𝗇𝖺𝗄 𝖻𝗎𝖺𝗁, 𝖼𝗎𝗆𝖺 𝖻𝗂𝗌𝖺 𝗆𝖾𝗇𝗀𝖺𝗇𝖽𝖺𝗅𝗄𝖺𝗇 𝗈𝗍𝗈𝗍, 𝗍𝖺𝗉𝗂 𝗇𝗀𝗀𝖺𝗄 𝖺𝖽𝖺 𝗈𝗍𝖺𝗄𝗇𝗒𝖺.
Memyr 67
𝖺𝗄𝗎 𝖼𝗎𝗆𝖺 𝖻𝖺𝖼𝖺 𝖺𝗃𝖺, 𝗍𝖺𝗉𝗂 𝗂𝗄𝗎𝗍 𝗌𝖾𝗌𝖾𝗄 𝗇𝖺𝗉𝖺𝗌
Memyr 67
𝖾𝗉𝗂𝗌𝗈𝖽𝖾 𝗆𝖾𝗇𝖾𝗀𝖺𝗇𝗀𝗄𝖺𝗇
Memyr 67
𝖻𝗎𝖺𝗒𝖺 𝖻𝗎𝗇𝗍𝗎𝗇𝗀 𝗆𝖾𝗇𝖽𝖾𝗄𝖺𝗍𝗂 𝗍𝖺𝗋𝗀𝖾𝗍
Memyr 67
𝗍𝖾𝗀𝖺𝗇𝗀
Memyr 67
𝗆𝖺𝗍𝖺 𝖺𝗂𝗋 𝗄𝗈𝗄 𝖻𝗂𝗌𝖺 𝖽𝗂 𝖽𝖺𝗅𝖺𝗆 𝖻𝗈𝗍𝗈𝗅?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!