Lelah dengan kehidupan keras sebagai budak korporat di kota besar dan duka setelah kehilangan kedua orang tuanya, Lin Ye memutuskan untuk pulang ke Desa Qingshui, tempat kakeknya dulu tinggal.
Di sana, ia menemukan ladang dan rumah kakeknya yang sudah terbengkalai, kecuali sebatang pohon raksasa misterius di belakang rumah yang anehnya tetap subur dan hijau.
Saat tangan Lin Ye yang terluka menyentuh pohon tersebut, Sistem Warisan Alam yang terkunci sejak kematian kakeknya mendadak aktif, mengenali garis keturunannya sebagai pewaris sah.
Kini, dengan bantuan sistem yang memudahkan pekerjaan bertani dan kehadiran roh-roh alam fantasi, Lin Ye memulai kehidupan barunya yang santai namun penuh keajaiban untuk membangun kembali kejayaan ladang kakeknya, melawan intrik tetangga yang rakus, dan perlahan menjadi kaya raya di tengah kedamaian pedesaan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ex, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1
Ciiiiit.
Bunyi rem bus tua itu berderit nyaring memecah keheningan jalan tanah yang berdebu. Pintu bus terbuka dengan suara berderak kasar, memperlihatkan engselnya yang sudah karatan.
Lin Ye melangkah turun sambil membawa satu koper besar berwarna hitam di tangan kanannya dan sebuah tas punggung lusuh. Dia berdiri di tepi jalan, menatap hamparan sawah dan perbukitan yang mengelilingi Desa Qingshui. Angin sore meniup rambutnya yang sedikit berantakan, membawa aroma tanah basah dan jerami yang terbakar dari kejauhan.
"Terima kasih, Paman," kata Lin Ye kepada supir bus yang duduk di balik kemudi sambil menyeka keringat.
"Sama-sama, anak muda. Kamu yakin mau turun di sini? Ini ujung Desa Qingshui. Jarang ada orang kota yang datang ke bagian ini. Rumah-rumah di depan sana kebanyakan sudah kosong dan halamannya dipenuhi semak belukar," kata supir bus itu sambil mematikan rokoknya di asbak kecil dekat kemudi.
"Saya yakin, Paman. Ini tempat tinggal kakek saya dulu. Saya ingin melihat kondisinya setelah belasan tahun tidak kemari," jawab Lin Ye dengan senyum tipis.
Supir itu mengangguk pelan, matanya menatap Lin Ye dengan sedikit rasa kasihan. "Kalau begitu hati-hati. Kudengar tanah di sekitar sini sering jadi sengketa warga sejak orang tua yang punya ladang besar itu meninggal puluhan tahun lalu. Jangan sampai kamu bermasalah dengan orang lokal, apalagi kamu sendirian."
"Saya mengerti. Terima kasih banyak atas peringatannya, Paman," balas Lin Ye.
Brummm.
Bus tua itu kembali melaju, meninggalkan kepulan asap tebal dan debu jalanan yang berterbangan. Lin Ye terbatuk pelan sambil mengibaskan tangan di depan wajahnya. Dia memutar tubuhnya dan mulai berjalan menyusuri jalan setapak yang ditumbuhi rumput liar di sisi kanan dan kirinya. Suasana di sini sangat sunyi, hanya terdengar suara jangkrik yang mulai bernyanyi menyambut senja.
"Sudah lima belas tahun berlalu sejak terakhir kali aku ke sini bersama ayah dan ibu," batin Lin Ye sambil menatap jalanan berbatu di depannya. "Rasanya sangat sepi, sangat berbeda dengan hiruk-pikuk pusat kota."
Langkah kakinya terdengar pelan bergesekan dengan kerikil jalan. Di kota besar, dia terbiasa dengan suara klakson mobil yang memekakkan telinga, dering telepon kantor yang tidak pernah berhenti dari pagi hingga malam, dan omelan atasan yang selalu menuntut target pekerjaan tanpa mempedulikan jam istirahat.
Menjadi budak korporat selama lima tahun telah menguras semua energi dan kewarasannya. Kematian mendadak kedua orang tuanya dalam kecelakaan mobil beruntun satu bulan lalu menjadi titik balik hidupnya. Lin Ye merasa hidupnya hampa. Dia memutuskan berhenti bekerja, menguras tabungannya untuk menutupi biaya pemakaman dan sisa hutang keluarga, lalu kembali ke satu-satunya tempat yang tersisa atas namanya. Ladang warisan kakeknya.
Tap. Tap. Tap.
Lin Ye berhenti berjalan. Di depannya berdiri sebuah pagar kayu yang sudah lapuk, patah di beberapa bagian, dan miring seakan bisa rubuh hanya dengan tiupan angin kencang. Di balik pagar itu, terdapat sebuah rumah kayu tradisional bergaya pedesaan dengan atap genteng yang banyak berjatuhan ke tanah. Halamannya tertutup tumbuhan liar dan alang-alang setinggi dada orang dewasa. Jendela rumahnya tertutup debu tebal dan beberapa kacanya pecah. Ini sama sekali tidak terlihat seperti tempat yang layak untuk ditinggali manusia.
Baru saja Lin Ye hendak meletakkan kopernya untuk membuka gerbang kayu itu, sebuah suara teguran kasar terdengar dari arah ladang sebelah kiri.
"Hei. Siapa kamu? Jangan sembarangan masuk ke tanah orang yang sudah mati."
Lin Ye menoleh dengan tenang. Seorang pria paruh baya dengan kulit gelap terbakar matahari berdiri di perbatasan ladang. Pria itu memakai kaus lusuh berlubang di bagian bahu dan membawa cangkul bergagang panjang di pundaknya. Matanya menatap Lin Ye dari atas ke bawah dengan tatapan menyelidik dan penuh kecurigaan.
"Saya Lin Ye. Ini rumah mendiang kakek saya, Lin Tian. Saya cucunya yang datang dari kota," jawab Lin Ye dengan nada datar, tidak terintimidasi oleh tatapan pria itu.
Pria itu melebarkan matanya sejenak, lalu mendengus pelan dan tertawa meremehkan. "Cucu Lin Tian? Oh, anak dari kota itu rupanya. Pantas saja pakaianmu bersih dan kulitmu pucat begitu. Kenapa kamu ke sini? Tanah ini sudah lama ditinggalkan. Ayahmu bahkan tidak pernah kembali untuk mengurusnya."
"Saya adalah pemilik sah tanah ini sekarang karena ayah saya sudah meninggal. Tentu saja saya datang untuk melihat properti saya sendiri. Anda siapa dan ada urusan apa ikut campur urusan pribadi saya?" tanya Lin Ye balik dengan tatapan tajam.
"Saya Zhao He. Ladang jagung saya tepat di sebelah tanah berantakan ini." Zhao He menunjuk ke arah petak tanah yang ditanami jagung yang tumbuh cukup subur. "Karena kamu sudah ada di sini, kebetulan sekali. Lebih baik kamu jual saja tanah ini padaku sekarang juga."
"Menjual tanah ini?" Lin Ye mengerutkan keningnya.
"Benar. Kamu orang kota, tanganmu terlalu halus, kamu tidak akan bisa hidup sehari pun di desa ini. Tanah ini sudah mati. tumbuhan liarnya tebal dan akarnya dalam, tanahnya sekeras batu, rumahnya hampir rubuh dan bocor di mana-mana. Kamu butuh puluhan ribu yuan hanya untuk menyewa alat berat dan orang untuk membersihkannya. Jual saja padaku seharga sepuluh ribu yuan. Aku akan membayarnya tunai besok pagi. Kamu bisa pakai uang itu untuk ongkos pulang dan bersenang-senang di kota."
"Sepuluh ribu yuan?" Lin Ye tertawa pelan, tawanya terdengar dingin. "Saya mungkin lama tinggal di kota, tapi saya bukan orang bodoh yang buta huruf. Harga pasaran tanah sekecil apa pun di desa ini setidaknya menyentuh angka lima puluh ribu yuan, apalagi tanah ini cukup luas membentang sampai ke kaki bukit. Anda mencoba menipu saya karena saya baru datang dan terlihat kelelahan?"
Zhao He memajukan langkahnya, wajahnya terlihat kesal karena triknya terbongkar. "Anak muda, jangan sombong. Tanah kakekmu ini berbatasan langsung dengan hutan bukit liar. Sering ada babi hutan turun dan merusak tanaman. Tidak ada orang desa ini yang mau membelinya darimu. Aku menawari sepuluh ribu yuan karena aku kasihan melihatmu terlantar. Kebetulan aku butuh tambahan lahan untuk menanam lebih banyak jagung demi melunasi biaya rumah sakit istriku di kota yang sangat mahal."
"Masalah rumah sakit istri Anda itu bukan urusan saya," jawab Lin Ye tegas. "Saya tidak akan menjual tanah ini kepada siapa pun dengan harga berapa pun. Saya akan tinggal di sini dan mengurusnya sendiri."
"Tinggal di sini?" Zhao He tertawa keras sambil memukul gagang cangkulnya ke tanah. "Jangan bercanda. Kamu tidak akan bertahan tiga hari. Tanpa air bersih yang mengalir karena sumurnya sudah kering, tanpa listrik yang memadai, dan rumah yang penuh tikus, kamu akan lari menangis kembali ke kota sebelum akhir pekan."
"Kita lihat saja nanti siapa yang akan menangis. Sekarang, tolong menyingkir dari hadapan gerbang rumah saya. Anda menghalangi jalan," kata Lin Ye sambil mengangkat kopernya kembali.
Sebelum Zhao He bisa membalas ucapan Lin Ye dengan makian, suara langkah kaki yang lebih berat terdengar mendekat dari arah jalan utama desa.
"Zhao He. Apa yang kamu lakukan di sana? Jangan mengganggu tamu desa kita yang baru datang."
Seorang pria tua dengan rambut beruban penuh dan kemeja lengan panjang yang rapi berjalan menghampiri mereka. Dia memakai kacamata dengan bingkai tebal dan berjalan menggunakan tongkat kayu. Wajahnya penuh keriput namun memancarkan wibawa yang tenang.