Adrianne Hana kehilangan ayahnya akibat kesalahan operasi yang ditutupi keluarganya sendiri. Alih-alih mendapat keadilan, ia dan ibunya justru disalahkan, membuat hubungan Hana dengan keluarga Soediro dipenuhi kebencian—terlebih karena ia memilih jalan hidup berbeda sebagai aktris dan pengusaha.
Dipaksa menghadiri perjodohan dengan Reiga Reishard, Hana berencana menggagalkannya. Namun, pertemuan mereka justru menghadirkan hal tak terduga yang perlahan mengikat dua hati dengan prinsip bertolak belakang—antara luka, penolakan, dan kemungkinan cinta yang tak pernah direncanakan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eireyynezkim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
LDCYTD
Hana menghela napas. Harusnya ia bersikukuh untuk menolak tumpangan dari Arnold. Kenapa mobilnya sampai mogok di tengah jalan sepulangnya dari pilates. Di tempat yang sepi pula. Sialnya, kenapa Arnold bisa lewat di jalan itu. Iya sih, tempat pilates Hana satu tempat dengan arena gym langganan Arnold. Hana sampai merencanakan mengganti jadwal pilates-nya, kalau bisa sih.
"Ngopi di kafe favorit kamu mau nggak, Han?"
tanya Arnold yang begitu sumringah dengan kesempatan luar biasa ini.
Kesempatan yang diciptakannya sendiri.
Sengaja ia mengempeskan ban mobil Hana di parkiran tadi. Memang brengsek si Arnold.
"Enggak usah! Aku mau langsung pulang aja," ucap Hana menolak tanpa menoleh.
Arnold sontak berwajah muram.
"Okay, langsung ke rumah kan? Udah lama juga nggak ketemu Tante Sara," ujar Arnold seakan hatinya baik-baik saja. Meski faktanya tidak.
Perjalanan mereka tanpa obrolan. Jauh berbeda dengan masa lalu yang mana Hana pasti tidak berhenti bicara. Suara tawa Hana akan berderai sepanjang perjalanan. Membuat mood Arnold selalu baik. Kini yang terjadi sebaliknya.
Mobil Arnold sudah memasuki komplek perumahan di mana rumah Hana berada. Makin dekat rumah, Hana bisa melihat ada sebuah Ferrari merah terparkir di depan rumahnya. Ferrari yang dikenalinya sebagai milik Reiga. Asam lambung Hana naik seketika. Jantungnya berdebar lebih cepat. Ekspresinya berubah takut. Sosok pria tinggi tegap berdiri di samping Ferrari merah tersebut.
Memakai kaos casual polos berwarna abu-abu dipadukan jeans sebagai bawahannya.
"Reiga," ucap Hana makin menyesal naik ke dalam mobil ini.
Arnold mendengarnya dan melihat kearah pandang Hana. Ia menyunggingkan senyum jahat. Tuhan sepertinya memang sayang dengannya. Sebuah rencana jahat terancang cepat dikepalanya. Mobil Arnold berhenti, sengaja tidak disejajarkan dengan Ferrari Reiga ataupun memilih parkir di belakang.
Di luar sana, Reiga menduga dengan ekspresi santai. Tidak terlalu kaget, Hana naik mobil Arnold karena sebelumnya Tante Sara sudah memberi informasi pada Reiga bahwa mobil Hana mogok dan terpaksa ikut Arnold.
Kenapa bisa dikasih tahu Ibu-nya Hana?
Tak lain dan tak bukan karena Reiga sengaja masuk ke rumah untuk memberikan oleh-oleh. Iya. Berbekal suruh Dimas beli oleh-oleh sebanyak manusia yang menghuni rumah Hana.
Iya! Kamu nggak salah baca? Semua dibeliin sama Reiga! Tas brand ternama! Mulai dari Tante Sara sampai satpam rumah.
Hana keluar mobil dengan wajah cemas sampai tidak memikirkan lagi bahwa Reiga mungkin membaca pikirannya. "Reiga pasti salah paham sama gue! Sialan banget! Kenapa ban mobil gue pakai kempes sih!" sebal Hana dalam hati.
Sebuah pemikiran yang menyenangkan hati Reiga. Tanda bahwa Hana telah menganggapnya lebih dari sekedar teman.
"Rei, aku ..."
Reiga menyambut Hana tanpa penghakiman. Ia malah menyunggingkan senyum. Hana sampai tertegun.
"Bagus lah ada lo, Rei. Salah paham dan marahlah! Dengan begitu kekecewaan lo akan membawa Hana kembali pada gue. Seperti 4 tahun ini. Gue akan tetap memiliki Lana tanpa harus kehilangan Hana, "ujar Arnold dalam hati. Pria itu keluar dengan bibir tersenyum lebar. Raut wajah Reiga menegang mendengar isi pikiran Arnold. Kedua tangannya mengepal erat. "Si Anjing! Beraninya berpikir Hana kayak gitu, "umpat Reiga dalam pikirannya. "Gue akan tunjukin apa yang justru lo nggak mau lihat," ujar Reiga dingin.
"Rei ..."
"Hai," sapa Reiga ramah.
Hana terhenyak atas ramahnya Reiga. Bukannya pria itu harusnya marah? Atau paling tidak merasa terkhianati. Yang didapat Hana sungguh di luar prediksi. Lengan kanan Reiga malah terulur kearah Hana. Dengan sebuah senyum yang ramah nan menawan. Hana dan hatinya yang memang merindu pria didepannya ini berjalan ke dalam rengkuhan Reiga. Arnold menatap mereka dengan mata nanar. Hatinya sakit. Bukan ini yang tadi dibayangkannya.
"I miss you," ucap Reiga seraya mendekap erat Hana dengan lengan kanan miliknya. Lalu, bibirnya mengecup kepala Hana.
Arnold hanya bisa diam melihat Hana yang membiarkan Reiga memeluknya erat. Juga membiarkan kecupan itu bersarang dikepalanya.
"I miss you too. Kenapa nggak bilang kamu udah sampai?" ucap Hana seraya mendongak.
"Surprise," jawab Reiga.
Hana merengut.
"Ban mobil aku kempes, terus Arnold kebetulan lewat, jadi aku bareng sama dia. Aku ..."
"Nggak apa-apa, Sayang," potong Reiga atas aduan Hana.
Hana terhenyak lantas tersenyum kemudian menemui Reiga tersenyum padanya. Sorot mata yang tulus mempercayai dirinya. Hana kembali memeluk Reiga lagi. Pria itu menyambut pelukan Hana dengan menempelkan kepalanya pada kepala Hana.
Arnold mengepalkan dua tangannya di samping kanan kiri melihat adegan menusuk hatinya itu.
"Kenapa dia nggak marah?"runtuk Arnold. Reiga menyunggingkan senyum tipis melihat penderitaan Arnold. "Gue nggak akan pernah kasih apa yang lo mau, Nold!"
"Lama nggak ketemu ya, Rei," sapa Arnold mencoba tampak ramah.
Ia mengulurkan tangan. Mengajak bersalaman.
Pelukan Reiga dan Hana merenggang. Hana sudah berpindah ke sisi sebelah kiri Reiga dengan lengan kiri Reiga masih mendekap pinggangnya.
"Arnold Baskara kan?" sahut Reiga ramah seraya menjabat tangan Arnold.
Arnold mengangguk. Jabat tangan mereka terlepas.
"Waktu itu ketemu di ulangtahun Pak Mano di Bali," tambah Reiga.
Kening Hana mengerut.
"Kamu datang juga? Kok nggak ketemu ya? Aku nggak ngeh ada kamu?" celetuk Hana.
Reiga tersenyum kearah Hana.
"Pengen buru-buru ketemu calon suami ya," ledek Reiga membuat Hana bersemu merah.
"Heh!" sebal Hana.
Tukang gombalannya benar-benar sudah pulang seutuhnya.
Reiga terkekeh.
Arnold melihat percakapan akrab itu dengan begitu iri. "Kalau gitu aku pamit ya, Han," ucap Arnold berharap Hana menahannya meski sudah pasti tidak akan.
Hana mengangguk canggung.
"Makasih ya, udah anterin Hana pulang," ucap Reiga begitu gentle.
"Gue udah biasa kok nganterin Hana pulang," sahut Arnold hilang akal.
Caranya ia bicara seakan menantang Reiga.
Arnold ingin memberitahu pada Reiga, bahwa ia hanyalah orang asing di hidup Hana. Beda kasta dengannya.
Reiga berdecak.
"Mungkin kebiasaan itu akan jadi hal yang lo rindukan nantinya," ucap Reiga dengan sorot mata angkuh.
Arnold menggemeretakkan giginya. Hana terhenyak seraya menatap Reiga yang tengah beradu tatap dengan Arnold. Menegaskan pada Arnold bahwa pria itu tidak bisa seenaknya lagi pada perasaan Hana.
Arnold mendengus lalu berbalik pergi. Masuk ke dalam mobilnya dan meninggalkan rumah Hana.
Reiga dan Hana masih memandanginya sampai akhirnya mobil itu tidak terlihat lagi.
"Rei, aku beneran nggak sengaja naik mobilnya Arnold. Aku..."
"Takut aku cemburu ya?" potong Reiga.
Pipi Hana memerah.
"Dih!" kilah Hana malu.
"Ketimbang menghabiskan waktu buat cemburu, aku lebih memilih menghabiskan waktu buat peluk kamu kayak gini, Han," ujar Reiga seraya meraih Hana dalam dekapannya.
Erat dan hangat.
"Kangen banget aku sama kamu," ucap jujur Reiga sambil mengecup kepala Hana beberapa kali.
Hana tersenyum dalam pelukan Reiga. Ia membalasnya.
"Aku emang ngangenin sih," sahut Hana.
Reiga terkekeh.
"Dinner yuk! Ada yang ngotot mau ketemu kamu," ucap Reiga seraya menatap Hana.
"Siapa?" tanya Hana.
"Papa," jawab Reiga.
Hana bengong. Ini pertama kalinya Hana diajak bertemu orangtua cowok gebetannya. Eh, tunggu! Emangnya sejak kapan Reiga jadi gebetannya?
Hana turun tangga sudah dengan gaun hitam atas-bawah. Bagian punggungnya sedikit backless berbentuk belah ketupat. Begitu elegan dan menawan. Reiga terpana. Sara tersenyum melihat reaksi Reiga.
"Cantik banget. Pergi ke KUA aja yuk daripada dinner," ucap Reiga membuat Hana melotot dengan hati penuh gelembung rasa senang.
Sara. "Heh!" ujar Hana lalu merangkul lengan kiri
"Anak Tante cantik banget ya, Rei?" goda Sara.
"Sama kayak ibunya," jawab Reiga mendapat jawaban bocoran dari kepala Sara.
"Bisa aja," ujar Sara kesenangan seraya menepuk lengan kiri Reiga.
"Udah sana. Kasian Om Rahardian kelamaan nunggu nantinya," ujar Sara seraya mengantarkan tangan Hana yang memeluk lengan kirinya kearah Reiga. Dan entah bagaimana melihat Reiga menyambut uluran tangan itu sambil tersenyum dan terus menatap putri semata wayangnya penuh kekaguman dan rasa sayang, Sara merasa terenyuh sendiri. Seakan Hana bukan akan pergi dinner.
Namun akan berkeluarga.
"Titip Hana ya, Rei," ucap Sara tercekat.
Sedihnya makin nyata. Apalagi ditambah wajah tersenyum Hana. Kebahagiaan yang selalu ingin dilihat Sara dari putrinya selepas kembalinya Denis pada pemilik-Nya.
Tangan Reiga yang langsung menggenggam erat tangan Hana. Tanpa ragu. Tanpa canggung. Bagi Sara, sikap Reiga itu menunjukkan betapa lelaki ini serius akan putrinya. Siap menjaga Hana.
"Sepenuh jiwa raga saya. Seumur hidup saya, Tan," jawab Reiga.
"Apa sih!? Mulai kambuh kan," cetus Hana dengan mata melotot yang kontras dengan senyum di bibirnya.
"Pergi dulu ya, Bu," pamit Hana.
"Hati-hati, Sayang. Berbahagia ya," jawab Sara.
Hana mendelik.
"Ih Ibu ketularan Reiga," ujar Hana.
Sara terkekeh.
"Udah sana," ujar Sara.
"Pergi dulu, Tan. Nanti kalau Tante mau dibawain apa, tinggal wa Reiga aja. Pasti Reiga beliin," ucap Reiga.
Sara tersenyum.
"Han, dengar kan? Di mana lagi kita bisa dapetin cowok kayak gini? Udah ganteng, bertanggung jawab, siaga pula mau jagain kita," puji Sara sambil menatap Reiga yang tersenyum begitu manis.
Hana bengong mendengar ucapan Ibunya. Malu hatinya.
"Ibu apa sih!? Kan malu," protes Hana. "Yaudah kita pamit ya," ucap Hana seraya menarik Reiga keluar rumah.
Sara memandangi kepergian putrinya. Kedua tangannya bersidekap.
"Kamu lihat kan, Hon? Seandainya kamu masih di sini. Kamu akan lihat Hana kita menemukan pria yang siap menjaganya. Dengan cinta," gumam Sara.
Denis yang sejak tadi berada di samping kiri Sara, merangkul istrinya. "Aku lihat kok, Hon. Dari Reiga menghajar para pemuda brengsek di parkiran sampai barusan. Sekarang Hana kita, sudah ada di jalur yang benar, "ucap Denis.
*
Reiga menatap Hana yang sejak ada bunyi TUNG! lalu tenggelam dengan handphone-nya. Tangan pria itu meraih tangan kanan Hana lalu digenggam dan dikecupnya jari-jemari Hana. Yang punya tangan sampai menoleh.
"Mulai sembarangan cium-cium kan," ujar Hana yang sama sekali tak berniat menarik tangannya.
Iya.
Hana sadar, dia memang sudah gila. Bisa-bisanya ia membiarkan seorang pria menyentuhnya, tanpa status. Pacar bukan. Tunangan bukan. Calon suami bukan. Teman pun ditolak Reiga. Dan memang sesulit itu menolak Reiga. Ada rasa tenang, aman, dan nyaman yang begitu candu dirasakan Hana.
"Habisnya aku dicuekkin. Lihat apa sih?"
"Revisi skenario. Aku harus baca ulang buat development karakter. Jadi harus serius, Rei," jawab Hana.
Reiga mengecup tangan Hana sekali lagi.
"Kirain baca wa Pak Produser," ledek Reiga.
Hana langsung melotot mendengar Reiga menyebut Arnold.
"Heh! Sembarangan!" sewot Hana.
Reiga tersenyum.
"Papa kamu kenapa kok mau ketemu sama aku?
Karena gosip itu ya? Pasti berdampak buruk ya buat kamu? Buat perusahaan?" cemas Hana.
Jujur dalam hatinya ia merasa deg-degan sekarang.
"Emangnya aneh ya kalau calon mertua mau ketemu sama calon menantu?" jawab Reiga.
Hana tertegun. Pipinya memerah.
"Reishardddss," gemasnya.
"Aku serius Hana. Itu satu-satunya alasan Papa mau ketemu kamu. Nggak ada yang spesial. Dia cuma mau ketemu calon menantunya. Makanya aku baru pulang aja langsung diteror. Padahal rencananya mau kumpul sama anak-anak dulu," ungkap Reiga.
Hana langsung cemberut.
"Oh jadinya mau ketemu Zidane dulu ketimbang aku?" sebal Hana.
Padahal janji pulangnya sama Hana. Reiga terkekeh.
"Setor muka aja sebentar, biar bisa lama sama kamu," aku Reiga membuat Hana ge-er.
"Pinter banget ngomongnya," sinis Hana menyampingkan perasaan berbunganya.
Tawa Reiga renyah terdengar. Ia dengan gemas meraih Hana dalam satu tarikan lengan kiri. Mendekap Hana lalu mendaratkan kecupan di kepala Hana.
"Reishard, bahaya tahu!" protes Hana meski hatinya suka sekali diperlakukan begitu.
Hana sedikit memahami sekarang. Reiga mirip Ayah-nya, Denis. Si pemberi semua love languahe di waktu yang tepat dan di saat Hana butuh.
"Aku kangen banget debat nggak jelas sama kamu. Bosen ketemunya Dimas mulu," curhat Reiga.
"Terus nggak ada dinas luar lagi?" tanya Hana penuh harap.
Reiga menatap Hana sambil nyengir.
Hana sudah bisa menebak jawabannya.
"Kemana?"
"New York. Seminggu."
"Jauh banget," komen Hana dengan cemberut.
Reiga hanya tersenyum.
"Kapan?" tanya Hana.
"Tiga hari lagi," jawab Reiga.
Hana melongo. Sesibuk itukah CEO Reishard Corporation?
"Terus ngapain pulang? Tadi lanjut aja sekalian," omel Hana.
Reiga tertawa.
"Kangen sama anaknya dokter Denis Soediro," jawab Reiga sambil mengeratkan genggaman tangan mereka.
Hana tertegun mendengarnya.
"Emangnya nggak kangen sama aku?" tanya Reiga dengan suara low tone mendayu. Jantung Hana berdebar tak karuan. Genggaman tangan Reiga semakin erat. Hana melirik genggaman tangan mereka. Sungguh nyata. Bukan lagi dalam khayalannya. Bukan hanya inginnya. Reiga membuat nyata semua yang dimaunya. "I guess i have to marry this one, God, "ucap Hana dalam hatinya.
"Cocok dong," cetus Reiga.
Hana terhenyak.
"For the first time in my life, i wanna marry someone too," tambah Reiga atas pikiran dalam diam Hana.
Wajah Hana memerah. Panas. Sekujur tubuhnya.
"Jangan baca pikiran aku," protes Hana.
"Maaf Sayang, kebiasaan," ujar Reiga sambil senyum.
Hana tidak tahan untuk bertanya. Daripada ia bunyikan dalam pikiran, lebih baik sekalian saja dia suarakan keluar agar Reiga benar-benar mendengar.
"You said you will tell me something?"
"Apa?"
"Jangan pura-pura lupa! Kalau di dunia ini ada manusia yang bisa mengingat semua. Udah pasti orangnya itu kamu, Rei," gemas Hana.
Tawa Reiga terdengar.
"Kalau aku cerita emangnya mau percaya dan bisa percaya?"
"Trauma aja terakhir kali berniat baik menjelaskan malah ditampar dan dicaci maki habis-habisan baik dalam pikiran maupun langsung," sindir Reiga hanya untuk mengganggu Hana.
"Katanya udah maafin aku," sebal Hana.
Reiga mengecup jemari Hana yang masih digenggamnya.
"Iya. Udah dimaafin. Cuma senang aja gangguin kamu," jujur Reiga.
Hana cemberut. "Idih! Nyebelin!" tukas Hana.
Reiga kembali tertawa.
"Berada di sekitar kamu memang hal terbaik," jujur Reiga.
Hana tertegun. Ia merasa ragu akan dirinya sendiri. Dia amat sangat takut menjadi penyebab kehancuran lelaki baik yang tengah duduk disampingnya ini. Rasa takut yang sama besarnya dengan betapa inginnya ia mencoba 'berpetualang' bersama Reiga. Sungguh perasaan yang membingungkan Hana. Kala memilih ngotot mencintai Arnold meski bertepuk sebelah tangan, Hana memang terombang-ambing dalam ketidakpastian namun semua kendali masih ada padanya. Hana masih menjadi pihak utama yang bisa memilih dan menentukan arah.
Tapi dengan Reiga?
Hana tak berdaya. Logikanya hilang. Hatinya kadung memuja dan mendamba. Pikirannya sudah lupa dengan yang namanya realita dan praduga. Tidak ada satu pun kendali yang dipegangnya.
"Kalau boleh jujur aku juga takut sih," ungkap Reiga dengan senyum tipis menawannya.
Ekspresinya itu bertolak belakang dengan pengakuan pada Hana barusan.
"Seperti dugaan kamu, Han. Aku memang punya kemampuan lain selain baca pikiran. I can see a future, clear, and on point. Karena itu jauh sebelum Mama akhirnya memilih cerai dan pergi tinggalin kami berdua. Aku udah lihat bahwa Mama lebih memilih laki-laki itu ketimbang aku dan Papa. Dan itu memang menyakitkan. Sangat amat menyakitkan sampai sekarang," ucap Reiga.
"Begitu juga dengan Cyila, dari awal dia bilang cinta sama aku, i already see the ending, dan kehancuran aku yang diakibatkan Cyila adalah satu dari kengototan aku berpikir bisa mengubah masa depan," tambah Reiga dengan sesekali menoleh pada Hana yang mendengarnya seksama.
Senyumnya yang seakan ini hal mudah dan sederhana. Hana heran sendiri. Ada manusia sekuat ini hidup di muka bumi?
"Makanya sejak saat itu aku membatasi diri aku. Aku takut patah dan remuk lagi. Karena efek yang ditinggalin di jiwa aku nggak seperti manusia normal biasanya."
"Terus kenapa nggak membatasi diri sama aku?" tanya Hana tak bisa lagi menahan keingintahuannya.
Reiga menatap Hana tersenyum. Ia mengecup jemari Hana. Sorot mata Reiga yang menunjukkan ketidakberdayaannya.
"Kamu mungkin bisa disebut dengan teguran Tuhan buat manusia sombong kayak aku," ujar Reiga.
"Teguran?"
"Aku selalu berujar kalau di dunia ini nggak ada manusia yang ucapan dan isi hati serta pikirannya sama. Pertemuan aku sama kamu adalah tegurannya atas kesombongan ucapan aku. You impress me that much. Kamu yang nggak serakah. Kamu yang nggak ambil kesempatan dalam kesempitan. Kamu yang selalu memikirkan orang lain duluan. Tulus. Apa adanya kamu. Perempuan pertama dalam hidup aku yang berani dan nggak malu mengakui salah dan meminta maaf berulang kali. Yang nggak pernah ragu menuangkan isi pikirannya. Yang bangga akan pilihan hidupnya...."
"Karena kamu, untuk pertama kalinya aku nggak bisa mengendalikan diri sendiri, Han.
Sekalipun di masa depan aku lihat kamu mungkin nggak pilih aku, aku tetap nggak bisa berhenti menginginkan kamu. Aku mau kamu. Aku mau punya semua kenangan berisikan kamu dalam hidup aku. Sehancur-hancurnya aku nanti, aku nggak peduli, akan aku tanggung semua akibatnya. Aku nggak akan melewatkan momen ini. Bisa di sisi kamu. Mendapat peran untuk menjaga kamu. Melihat senyum dan mendengar tawa berderai kamu karena jokes receh tulus dari hati aku. I just wanna see that happy face from you. Dan mungkin meski nantinya aku akan benar-benar mati rasa atas yang namanya cinta. Kehilangan kepercayaan sama ketulusan manusia. Berkas kenangan bernama Adrianne Hana akan menjadi hiburan tersendiri buat aku," ucap Reiga panjang.
Hana menitikan airmata tanpa sadar. Inikah rasanya dicintai? Gigi Hana bergemeretak hanya agar tangisnya tetap tanpa suara.
"Aku sayang kamu. Mungkin sulit diterima akal sehat. Kita baru kenal. Jujur, kadang aku merasa, apa yang aku lakukan dan rasakan sekarang tuh agak nggak waras. Jadi, kalau kamu memang sulit menerima faktanya. It's okay. Let's just enjoy this looney moment with me," ucap Reiga dengan senyum tipisnya.
Pria itu menghapus airmata Hana.
"Why are you crying, pretty?"
"Curang banget! Udah bisa baca pikiran. Ternyata juga bisa lihat masa depan!" sahut Hana keluar konteks. Sengaja berbicara asal agar suasana dalam mobil ini tak sesedih sekarang.
Reiga Reishard?
Apa sebenarnya maksud Tuhan mempertemukan Hana dengan pria yang begitu gamblang menyuarakan perasaannya untuk Hana?
Tawa Reiga pecah.
Ia mengelus kepala Hana penuh sayang.
"Aku juga bisa lihat hantu tahu," ujar Reiga sekalian.
Ekspresi Hana yang sedih berubah takut.
"Bohong!" tukasnya.
Reiga senyum. Hana takut hantu. Salah satu alasan ia tidak pernah mau menerim tawaran film horor. Ya karena takut hantu. Dari kecil. Dan tentu Reiga mengetahui itu dari kenangan masa kecil Hana.
"Serius. Di rumah kamu tuh ada..."
"Stop ya, Rei! Jangan bikin aku takut di rumah sendiri deh!" potong Hana.
"Berarti percaya dong kalau aku bisa lihat hantu?" Cara Reiga bertanya sungguh menyebalkan.
Hana mendesis sebal.
Kesedihan dan keharuan yang dirasakannya tadi sudah hilang entah kemana berkat keisengan Reiga.
"Emangnya aku punya pilihan untuk nggak percaya!?" sewot Hana.
"Tenang aja, Sayangku. Hantu di rumah kamu tuh..."
"Bisa diam nggak! Nyebelin ih! Aku takut sama hantu, Reishard!!" potong Hana sekali lagi sambil ngomel.
Reiga terkekeh.
"Papa ajak kita omakase. Kamu suka makan sushi kan, Han?"
Hana mencibir.
"Abis takut-takutin aku, sekarang malah tanya suka makan sushi atau enggak!" gerutu Hana.
Reiga kembali tergelak dalam tawa.