NovelToon NovelToon
Buku Harian Keyla

Buku Harian Keyla

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Fantasi Wanita
Popularitas:773
Nilai: 5
Nama Author: Pengamat Senja

Keyla, seorang mahasiswi berparas menawan dengan hati yang begitu lugu, menghabiskan bertahun-tahun masa remajanya hanya untuk mengejar punggung seorang pria yang tak ubahnya bongkahan es di kutub terdalam: Rendi.
Sejak hari pertama di bangku kelas 3 SMA, Keyla telah menambatkan hatinya secara mutlak. Namun, Rendi bukanlah pangeran dongeng yang siap menyambut cintanya. Di tengah rasa putus asa akibat penolakan Rendi yang terus-menerus, hadir sosok Indra, pria hangat yang merengkuh Keyla saat ia hancur. Mampukah Keyla bertahan ketika dunia dan sahabatnya sendiri berkonspirasi untuk menghancurkannya? Dan akankah Rendi, sang pria gunung es, menyadari bahwa ia telah mematahkan hati satu-satunya wanita yang bersedia mati untuknya, sebelum semuanya terlambat?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pengamat Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11: Biarkan

​"Biarkan aku mencintaimu dalam diam, tanpa menuntutmu membalasnya. Sebab menuntut secuil ruang di hatimu saat ini, sama saja dengan memintamu menaruh beban baru di atas pundakmu yang sudah berdarah. Biarlah aku menjadi angin yang tak terlihat, asalkan embusanku bisa sedikit menyejukkan peluhmu." (Buku Harian Keyla, Halaman 35)

​Pagi turun dengan lambat di langit Jakarta, membawa semburat jingga keabuan yang menyusup malu-malu dari sela-sela tirai kamarku. Aku duduk di tepi ranjang, menatap punggung tangan kananku yang semalaman tak kucuci pakai sabun. Di sana, memori tentang kasarnya telapak tangan Rendi, suhu tubuhnya yang sedingin es, dan urat-urat tangannya yang menonjol, masih tertinggal dengan begitu nyata.

​Kemarin sore di ruang kelas yang kosong itu adalah sebuah pencerahan bagiku. Aku akhirnya mengerti mengapa Deandra—gadis paling sempurna di sekolah ini—ditolak dengan begitu kejam dan menyakitkan. Deandra datang dengan membawa hadiah mahal, namun di saat yang bersamaan, ia menuntut Rendi untuk membuka hatinya. Deandra menuntut validasi, menuntut status, dan menuntut agar Rendi menatapnya.

​Bagi seseorang yang sedang berada di ambang kehancuran untuk bertahan hidup dan melindungi adiknya, tuntutan asmara adalah sebuah kemewahan yang menjijikkan.

​Maka, pagi ini, aku merajut sebuah resolusi di dalam kepalaku. Aku tidak akan menjadi Deandra kedua. Aku tidak akan memaksakan kehadiranku. Aku akan membiarkan Rendi tetap berada di dalam benteng esnya. Jika ia merasa aman di sana, maka biarkanlah. Tugasku bukanlah menghancurkan benteng itu, melainkan memastikan ia tidak mati kelaparan atau kedinginan di baliknya.

​Aku tiba di sekolah saat jarum jam baru menunjuk angka enam lebih sepuluh menit. Suasana kelas XII-IPA 1 masih sangat lengang. Kutarik napas panjang, lalu berjalan menuju mejanya di pojok belakang. Hari ini, aku membawakan sekotak susu full cream rasa stroberi dan dua buah pisang Cavendish yang kaya akan potasium. Aku meletakkannya di tengah meja dengan gerakan cepat dan rapi.

​Tanpa pesan. Tanpa nama.

​Aku kembali ke kursiku, membuka buku pelajaran Kimia, dan berpura-pura membaca. Namun seluruh indra pendengaranku kupertajam untuk menangkap suara langkah kakinya.

​Lima belas menit kemudian, langkah yang sedikit terseret itu terdengar. Rendi masuk. Kemejanya hari ini tampak sedikit lebih rapi dari biasanya, meski tetap terlihat usang. Ia berjalan menuju kursinya. Dan seperti kemarin, langkahnya terhenti saat melihat makanan di atas mejanya.

​Dari pantulan kaca jendela, aku melihatnya menatap pisang dan susu itu cukup lama. Rahangnya berkedut kecil. Ia memandang ke sekeliling kelas. Saat matanya menyapu punggungku, aku menahan napas, memfokuskan mataku pada rumus-rumus di buku Kimia seolah buku itu adalah benda paling menarik di dunia.

​Karena tidak menemukan siapa pun yang mencurigakan, Rendi perlahan menarik kursi dan duduk. Dengan gerakan yang jauh lebih tenang dari kemarin, ia mengambil susu dan pisang itu. Ia tidak memakannya. Ia kembali membuka ritsleting ransel bututnya dan memasukkan makanan itu ke dalam, menyimpannya entah untuk dimakan saat istirahat, atau untuk dibawa pulang demi Nanda, adik kecilnya.

​Melihat itu, aku menghela napas lega. Biarkan, batinku. Biarkan dia menggunakannya untuk apa pun yang dia mau. Selama itu bisa meringankan sedikit saja bebannya, aku sudah bahagia.

​Kelas mulai ramai seiring berjalannya waktu. Lidya datang dengan rambut setengah basah, disusul Bella yang tak henti-hentinya mengeluhkan PR Matematika yang belum selesai ia kerjakan.

​Siska datang terakhir. Sahabatku yang selalu tampil anggun itu masuk dengan senyum manisnya yang menawan. Ia meletakkan tasnya, menatapku, dan seperti biasa, tatapannya langsung menembus mencoba membaca isi kepalaku.

​"Pagi, Keyla. Kamu cerah banget hari ini," sapa Siska lembut. Ia menarik kursi di depanku. Matanya melirik sedikit ke arah belakang, memastikan Rendi ada di tempatnya, lalu kembali menatapku dengan raut wajah penuh empati. "Tidur nyenyak semalam? Nggak mikirin hal-hal yang bikin sakit hati lagi kan?"

​"Tidur nyenyak kok, Sis. Banget malah," jawabku jujur, diiringi senyum simpul.

​Siska mengusap punggung tanganku. Sentuhannya sangat lembut, sangat keibuan, tipe sentuhan seorang sahabat yang tak pernah ingin melihat temannya terluka. Siska adalah orang yang selalu ada untuk mendengarkan curhatanku sejak SMP. Oleh karena itu, semua nasihatnya selalu terdengar seperti mantra kebaikan bagiku, meski ujung-ujungnya selalu mendiskreditkan Rendi.

​"Bagus deh. Aku senang lihat kamu udah nggak se-obsesif kemarin-kemarin," kata Siska pelan agar tak terdengar yang lain. "Kamu udah mulai sadar kan, Key, kalau mengagumi dari jauh aja udah cukup? Nggak perlu buang energi untuk sesuatu yang nggak ada masa depannya. Kamu terlalu berharga."

​Aku hanya mengangguk pelan. "Iya, Sis. Aku cuma mau ngebiarin semuanya ngalir apa adanya aja."

​Aku tidak berbohong, namun arti kalimat itu sangat berbeda bagi kami berdua. Bagi Siska, 'membiarkan' berarti aku menyerah dan mulai melupakan Rendi. Namun bagiku, 'membiarkan' berarti aku memilih untuk mencintainya dalam bentuk yang paling tak kasatmata.

​Bel istirahat pertama berbunyi. Lidya dan Bella langsung menyeretku ke kantin. Siska berjalan di sampingku dengan langkah tenang. Saat kami baru saja duduk di meja pojok kantin, sebuah suara riang memanggil namaku.

​"Keyla!"

​Kami berempat menoleh. Indra berjalan menghampiri meja kami. Penampilannya sangat rapi dan segar, seolah ia baru saja keluar dari pemotretan majalah remaja. Di tangannya, ia membawa dua mangkuk bubur ayam hangat dan dua gelas teh manis.

​"Boleh gabung?" tanyanya sambil tersenyum hingga lesung pipinya terlihat jelas.

​"Boleh dong, Ndra! Kursi kosong banyak nih," sahut Bella heboh, buru-buru menggeser duduknya agar Indra bisa duduk berhadapan denganku.

​Indra meletakkan satu mangkuk bubur ayam tepat di depanku. Uap panas yang membawa aroma kaldu ayam langsung menyeruak. "Tadi aku lihat kamu belum beli makanan. Nih, buat kamu. Kata Lidya kamu suka bubur ayam yang kuahnya banyak."

​Aku tertegun. Kulirik Lidya yang sedang tersenyum jahil tanpa rasa bersalah. Aku merasa sangat canggung. "Eh, Ndra... makasih banyak. Tapi aku bisa beli sendiri kok, jadi ngerepotin kamu."

​"Nggak repot sama sekali, Key," ucap Indra tulus. Ia menatapku dengan matanya yang terang benderang. Tidak ada awan gelap di matanya, tidak ada rahasia kelam. Indra menawarkan transparansi dan kepastian yang sangat diidamkan oleh semua wanita. "Lagian, aku emang sengaja beliin. Anggap aja permintaan maaf karena kemarin sore aku nggak maksa kamu buat pulang bareng aku pakai mobil."

​"Cieeee!!" Bella bersorak tertahan sambil memukul lengan Lidya. "Aduh, pagi-pagi udah dapet breakfast in bed versi kantin nih. Meleleh nggak sih lo, Key?"

​Siska tersenyum lebar menatap Indra. "Indra emang peka banget ya. Jarang loh ada cowok yang merhatiin detail kecil kayak gini. Keyla ini kadang suka lupa makan kalau lagi pusing mikirin pelajaran."

​"Makanya, harus ada yang ngingetin terus," balas Indra sambil tertawa kecil, matanya tak lepas dari wajahku.

​Aku memaksakan diri untuk tersenyum dan mengambil sendok. "Makasih ya, Ndra."

​"Sama-sama. Dimakan yang habis ya."

​Di sela-sela obrolan yang didominasi oleh candaan Indra dan Bella, ekor mataku tak sengaja menangkap sebuah pergerakan di dekat gerobak siomay di seberang kantin.

​Itu Rendi. Ia berdiri di sana, menyerahkan uang kertas lecek pada abang siomay, menerima sebuah kantong plastik kecil berisi entah berapa butir siomay, lalu berbalik. Pandangannya menyapu kantin dengan cepat, dan untuk sepersekian detik, matanya bertabrakan dengan mataku.

​Rendi melihatku. Ia melihatku duduk berhadapan dengan Indra, dengan semangkuk bubur ayam yang dibelikan secara spesial untukku, diiringi tawa riang sahabat-sahabatku. Pemandangan yang sangat kontras dengan dunianya yang keras.

​Aku menahan napas, menatapnya, berharap menemukan setitik kecemburuan atau perubahan ekspresi di wajahnya. Namun, seperti yang sudah-sudah, Rendi hanya membuang muka. Wajahnya sama sekali tidak berekspresi. Ia berjalan keluar dari kantin dengan bahu yang menunduk, kembali ke dalam kesunyiannya.

​"Tuh kan, Key," bisik Siska tiba-tiba di telingaku, menyadarkanku dari lamunan. Ia rupanya menyadari arah pandanganku.

​Siska mencondongkan tubuhnya ke arahku, suaranya mengalun sangat halus bagai nyanyian pengantar tidur yang menghanyutkan. "Lihat bedanya? Indra ada di sini, beliin kamu makanan, bikin kamu ketawa, dan ngasih kamu kepastian di depan teman-teman kamu. Sementara laki-laki pengecut itu? Dia cuma bisa ngeliatin kamu dari jauh, lalu lari karena sadar dia nggak punya apa-apa untuk disombongkan. Kamu harus belajar membedakan mana emas yang sesungguhnya dan mana kuningan karatan, Key."

​Aku menelan suapan buburku yang tiba-tiba terasa seperti pasir di tenggorokanku. Logika Siska memang tidak bisa disalahkan. Siska berbicara berdasarkan apa yang ia lihat di permukaan. Tapi Siska tidak tahu apa yang kulihat. Siska tidak tahu tentang ayah Rendi yang kabur, tentang rentenir, dan tentang Nanda di panti asuhan.

​"Iya, Sis," jawabku pendek, memilih untuk tidak berdebat.

​"Nah, gitu dong. Indra itu jauh lebih pantas buat kamu," Siska mengusap punggungku lembut, tersenyum puas karena mengira sugestinya telah berhasil merasuk ke dalam benakku.

​Setelah bel istirahat berbunyi, kami kembali ke kelas. Sepanjang perjalanan di koridor, kejadian tak terduga terjadi.

​Di depan ruang laboratorium biologi, segerombolan siswi kelas IPS sedang berkumpul. Di tengah mereka, berdiri Deandra. Wajah gadis cantik itu terlihat kusut, riasan wajahnya sedikit lebih tebal dari biasanya seolah berusaha menutupi sisa-sisa tangisan yang gagal.

​Saat kami berjalan mendekat, Deandra tiba-tiba mengeraskan volume suaranya, sengaja berbicara agar semua orang di koridor mendengarnya.

​"Sumpah ya, gue tuh paling bengkak sama cowok yang miskin tapi sok jual mahal!" seru Deandra dengan nada meremehkan. Teman-temannya langsung mengangguk-angguk setuju, menjadi pendengar setianya. "Udah gembel, nggak punya masa depan, ditawarin beasiswa sama koneksi bapak gue malah sok nolak pake embel-embel harga diri. Harga diri apaan? Mending kalau gantengnya kayak oppa Korea, ini mah tampang pas-pasan, baju lecek, bau matahari!"

​Langkahku terhenti seketika. Darahku mendidih. Deandra sedang membicarakan Rendi. Ia sedang melampiaskan rasa sakit hatinya karena ditolak dengan cara menghancurkan reputasi Rendi di depan umum.

​Bella dan Lidya langsung saling tatap. "Gila, si Deandra mulutnya pedes banget. Lagi ngomongin siapa tuh dia?" bisik Bella.

​"Paling si Rendi," sahut Lidya cuek. "Kan rumornya Deandra ditolak mentah-mentah kemaren."

​Aku mengepalkan kedua tanganku di sisi tubuh. Langkah kakiku nyaris bergerak maju untuk melabrak Deandra. Aku ingin berteriak di depan wajahnya yang ber- make-up tebal itu, memberitahunya bahwa Rendi seribu kali lebih terhormat daripada gadis manja sepertinya yang mengira segalanya bisa dibeli dengan uang. Aku ingin membela Rendi. Aku ingin seluruh sekolah tahu betapa mulianya perjuangan laki-laki itu.

​Namun, sebelum kakiku melangkah, dari ujung koridor yang berlawanan, sosok Rendi muncul.

​Ia sedang berjalan membawa tumpukan buku referensi tebal yang sepertinya baru saja ia ambil dari perpustakaan atas perintah guru. Rendi harus melewati gerombolan Deandra untuk bisa sampai ke kelas kami.

​Koridor mendadak hening. Semua mata tertuju pada Rendi. Deandra melipat tangannya di dada, menatap kedatangan Rendi dengan dagu terangkat tinggi, memasang ekspresi sangat menantang dan merendahkan.

​"Wah, kebetulan banget orangnya lewat," sindir Deandra setengah berteriak saat Rendi berada hanya dua meter darinya. "Eh, temen-temen, tutup idung dong, ada bau kemiskinan lewat nih. Kasihan ya, udah miskin, arogan pula. Hidupnya pasti bakal ngenes terus sampai tua."

​Teman-teman Deandra tertawa sinis. Beberapa siswa lain yang menonton ikut terkikik pelan.

​Tanganku semakin mengepal kuat hingga kuku-kukuku menusuk telapak tanganku sendiri. Mataku memanas karena marah dan sakit hati. Aku memandang wajah Rendi, bersiap melihatnya mengamuk atau setidaknya membalas ucapan kotor Deandra. Jika ia marah, aku akan langsung berlari ke sisinya dan membantunya membalas mereka semua.

​Namun, yang terjadi selanjutnya justru membuat hatiku mencelos.

​Rendi tidak menghentikan langkahnya. Ia tidak menoleh ke arah Deandra. Wajahnya sedatar beton. Ia berjalan lurus, melewati gerombolan gadis-gadis penggosip itu seolah mereka tidak lebih dari sekadar tumpukan angin kosong.

​Tidak ada emosi di matanya. Tidak ada rasa malu, tidak ada amarah. Ia membiarkan cemoohan itu menghantam tubuhnya lalu berjatuhan ke lantai tanpa bekas. Rendi kebal. Hinaan tentang kemiskinan tak lagi menyakitinya, karena ia tahu betul bahwa realita kehidupannya jauh lebih mengerikan daripada sekadar ejekan anak-anak SMA yang belum pernah merasakan kerasnya dunia.

​Deandra terlihat sangat kesal karena umpannya sama sekali tidak dimakan. Ia mengentakkan kakinya ke lantai dengan frustrasi. "Dasar cowok batu! Tuli lo?!" teriaknya.

​Rendi tetap berjalan. Dan saat ia semakin dekat denganku, tatapan kami tak sengaja bertaut.

​Kali ini, aku tidak membuang muka. Aku menatap matanya dalam-dalam. Aku tidak memberikan tatapan kasihan. Aku tidak menunjukkan raut wajah sedih. Aku menatapnya dengan penuh penghargaan dan penghormatan. Aku ingin ia tahu, melalui sorot mataku, bahwa bagiku, ia adalah laki-laki paling tangguh yang pernah kulihat.

​Dan seolah mengerti arti tatapanku, Rendi sedikit menundukkan kepalanya, menyembunyikan wajahnya dari pandanganku, lalu berjalan melewatiku masuk ke dalam kelas.

​Napas yang sedari tadi kutahan akhirnya terlepas. Keputusanku untuk diam dan tidak melabrak Deandra adalah keputusan yang tepat.

​Siska yang berdiri di sampingku tersenyum tipis. "Ckckck, kasihan ya dia. Harga dirinya diinjak-injak sama Deandra di depan umum tapi dia cuma bisa diam menunduk. Itulah Key, kenapa aku bilang laki-laki kayak dia nggak bisa ngelindungin perempuan. Ngelindungin harga dirinya sendiri aja dia nggak mampu."

​Aku menoleh menatap Siska. Untuk pertama kalinya, aku merasa mual mendengar suaranya yang lembut. Sahabatku ini terlalu dangkal dalam menilai sesuatu.

​"Dia bukan pengecut karena dia diam, Sis," jawabku dengan nada datar yang mengejutkan Siska, Bella, dan Lidya. "Terkadang, mengabaikan gonggongan orang yang nggak ngerti apa-apa itu butuh kekuatan mental yang jauh lebih besar daripada sekadar membalas dengan amarah."

​Aku meninggalkan mereka bertiga yang mematung di koridor, lalu melangkah masuk ke kelas. Siska menatap punggungku dengan rahang yang mengeras di balik senyum yang buru-buru ia paksakan. Bibit ketidaksukaan Siska padaku perlahan mulai menyemai akar yang busuk.

​Sepanjang sisa jam pelajaran hari itu, aku merasa jauh lebih tenang. Insiden di koridor tadi mengukuhkan keyakinanku. Rendi tidak butuh pembelaanku yang meledak-ledak. Ia tidak butuh Deandra, tidak butuh pengakuan dari siapa pun di sekolah ini.

​Ia hanya butuh seseorang yang membiarkannya bernapas tanpa menghakimi.

​"Hari ini aku belajar dari kebisuanmu. Cemoohan mereka tidak akan pernah bisa melukai kulitmu, karena kau sedang memakai zirah penderitaan yang tak tertembus. Aku akan membiarkanmu berjalan dalam sunyi, Rendi. Biarkan aku mencintaimu dengan caraku sendiri; tanpa paksaan, tanpa suara, dan tanpa menuntut satu kalipun kau menoleh ke belakang." (Buku Harian Keyla, Halaman 37)

​Saat bel pulang sekolah berbunyi, aku tidak lagi menunda kepulanganku. Aku merapikan buku-bukuku dan langsung berdiri. Aku tidak lagi menunggu Rendi beranjak dari kursinya, tidak lagi mencuri pandang berharap ia menyapaku.

​Aku berjalan melewati mejanya, dan hanya membisikkan satu kalimat di dalam hatiku. Berjuanglah dengan keras hari ini, Rendi. Besok pagi, aku akan memastikan ada roti dan susu yang menunggumu di meja itu lagi.

​Aku melangkah keluar dari kelas XII-IPA 1 dengan senyum yang tulus. Keputusanku sudah bulat. Aku akan mencintainya dalam bentuk yang paling tak terlihat, membiarkan semuanya berjalan mengikuti alur takdir yang Tuhan tuliskan, sambil terus menjadi bayangan yang mengamankannya dari rasa lapar dan putus asa.

​Biarkan aku mencintaimu dalam diam. Karena terkadang, cinta yang paling besar adalah cinta yang melepaskan segala bentuk kepemilikan.

1
Yuni Uni
bagus banget ceritanya kak ,,,,,,kayak zaman sma zamanku dulu
semangat ya kak
partini
benar an ini dah berakhir Thor
so happy next cerita mereka dah dewasa
partini
ko waktu buat indra ,buat kamu sendiri dong tata hatimu dulu kubur semua kenangan itu dalam" berjalan kedapan dengan nanggung urusan asmara nanti menyusul lah,, siapapun orangnya pasti terbaik buat kamu kalau jodoh sama Indra bagus sama Rendy nanti jug bagus,,cintai dirimu sendiri dulu
partini
sekarang kamu bisa bilang Kya gitu NDRA mencintai orng yg hatinya udah mati kusus untuk dia itu melelahkan sekali loh,,pikir dulu lah sebelum bertindak
partini: hati Kay udah ga bisa ke lain hati udah mentok ke satu orang jadi yg lain lewat
total 2 replies
partini
tapi kalau di pikir" Kayla sangat menggangu sih Thor
lama" muak ga sih di GITUIN Mulu udah tau ga mau masih aja
biarpun niatnya baik
partini
mereka bertemu lagi setelah beberapa tahun Thor ,i hope mereka bertemu udah pada kerja Rendi jug udah sukses biar saling bersaing ga Jomblang kaya sekarang
Pengamat Senja: iya kasian banget Keyla /Frown/
total 3 replies
partini
biarkan Rendi sendiri aja lah ,jangan di ganggu dulu mungkin lebih baik kamu pergi jauh dari pada Rendi makin stres
partini
orang sederhana yg apa ini mananya susah di Jabar kan si Rendi ini orangnya ,belagu iya, egois iya ,sok kuat iya padahall butuh seseorang untuk berbagi kesedihan
Nacill Chan
semangatt kakkk 😉
partini
kadang menurut kita baik belum tentu itu baik untuk mereka
partini
lanjut
Pengamat Senja: jangan lupa follow ya kak 🙏
total 1 replies
Pengamat Senja
👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!