cinta pertama jaman aku SMP sulit sekali aku lupakan... kenangan manis nya masih sama dan luka semasa SMA juga yang sulit aku lupa.. hingga suatu hari sahabat terdekat yang dari lahir udah barengan sama aku! kenalkan aku sama dia.. Tutor nakal ku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jee Jee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
27
.
...----------------...
Siang itu, parkiran Fakultas Ekonomi yang biasanya penuh sesak mendadak terasa lengang karena sebagian besar mahasiswa sudah pulang atau terjebak di kelas tambahan. Jelita berjalan cepat menuju gerbang depan, tangannya sibuk mengetik pesan untuk Langit yang sejak pagi "disandera" Windi dan Haikel di perpus pusat karena tugas kelompok mereka selalu ditolak asisten dosen.
Namun, langkah Jelita terhenti saat sebuah mobil Aston Martin berwarna abu-abu metalik—yang kemewahannya sanggup menyaingi Porsche hitam Langit—berhenti tepat di sampingnya. Kaca filmnya yang gelap perlahan turun, menampakkan sosok Yayan yang memakai kacamata hitam dengan seringai nakal yang sangat menyebalkan.
"Masuk, Jee," perintah Yayan singkat. Suaranya santai tapi penuh otoritas.
Jelita melotot, mundur satu langkah. "Gila lo ya! Mau ngapain lagi sih, Kak?! Pergi nggak, atau gue teriak nih!"
Yayan terkekeh rendah, suara tawa yang maskulin dan berat. Dia keluar dari mobil, berdiri menjulang di depan Jelita dengan aura berandalan yang makin kuat. "Teriak aja. Kampus lagi sepi, Jee. Paling yang denger cuma hantu hantu penghuni kampus. Ayo, ikut gue sebentar atau gue angkat lo paksa ke dalem?"
"Lo... lo bener-bener nggak punya urat malu!" Jelita mencoba lari, tapi dengan satu gerakan cepat, Yayan menangkap pergelangan tangan Jelita dan menariknya lembut namun kuat menuju pintu penumpang.
"Satu jam, Jelita. Gue cuma mau kita bicara di tempat yang lebih manusiawi daripada kelas berdebu kemarin," ucap Yayan sambil membukakan pintu.
"Gue nggak mau bicara sama lo!" Jelita meronta, tapi Yayan justru semakin mendekatkan wajahnya, membuat Jelita bisa mencium aroma parfum midnight musk yang tajam
"Masuk, atau gue cium lo di sini biar satpam kampus dapet tontonan gratis," ancam Yayan setengah berbisik.
Jelita mendengus kasar, wajahnya merah padam antara marah dan malu. Akhirnya, dengan hentakan kaki yang kesal, dia masuk ke dalam mobil mewah itu. Yayan menutup pintu dengan bunyi klik yang mantap, lalu memutar menuju kursi pengemudi.
Mobil itu melesat meninggalkan kampus. Di dalam kabin yang kedap suara, suasana bener-bener panas karena perang dingin.
"Mau dibawa ke mana gue? Kalau lo macem-macem, cowok gue bakal habisin lo, Kak!" seru Jelita dengan nada tinggi.
Yayan tetap fokus ke jalanan, tangan kanannya santai di setir sementara tangan kirinya bertumpu di sandaran kursi. Dia malah terkekeh kecil mendengar ledakan emosi Jelita. "Cowok lo lagi? Hebat banget ya dia sampe lo bawa-bawa terus namanya kayak jimat."
"Dia emang hebat! Dia jauh lebih gentleman daripada lo yang hobi nyulik orang!"
"Gentleman?" Yayan menoleh sekilas, menaikkan alisnya. "Gue cuma lagi ambil waktu yang sempet lo curi dari gue selama tujuh tahun, Jee. Itu bukan nyulik, itu namanya penagihan hutang rasa."
"Hutang pala lo peyang!" umpat Jelita beringas. "Lo yang ninggalin gue, lo yang ciuman sama cewek lain, sekarang lo bahas hutang? Sinting!"
Mendengar itu, Yayan bukannya marah malah tertawa lepas. Dia merasa Jelita yang meledak-ledak begini jauh lebih menyenangkan daripada Jelita yang kaku seperti beton. "Lo makin cantik kalau lagi ngumpet gitu, Jee. Tembok beton lo ternyata isinya petasan ya? Gampang banget meledak."
"DIEM LO! TURUNIN GUE SEKARANG!"
"Nggak akan. Sampai lo tenang dan mau dengerin gue," sahut Yayan santai sambil menambah kecepatan, membiarkan Jelita terus mengomel sepanjang jalan sementara dia hanya menikmati "musik" kemarahan bidadari masa lalunya itu.
Aston Martin itu membelah jalanan menuju arah pesisir Jakarta dengan kecepatan yang stabil. Di dalam kabin, Jelita sudah sampai pada tahap kelelahan karena terus-menerus memaki. Napasnya memburu, matanya menatap tajam ke arah dashboard mewah yang ada di depannya. Sementara itu, Yayan tampak sangat menikmati momen ini. Dia menyetir dengan satu tangan, sesekali jemarinya mengetuk kemudi mengikuti irama lagu jazz instrumental yang sengaja dipasangnya kecil-kecil.
"Kita hampir sampai, Tuan Putri. Simpan tenaga lo buat makan, jangan diabisin buat marah-marah," ucap Yayan santai, tanpa mengalihkan pandangan dari jalan.
"Gue nggak laper! Gue mau balik!" bentak Jelita.
Yayan hanya terkekeh kecil, sebuah tawa pendek yang terdengar sangat meremehkan sekaligus memuja. "Lo selalu bilang gitu, tapi perut lo nggak bisa bohong. Gue inget dulu pas SMP, kalau lo marah, lo pasti pesen bakso ekstra pedas dua porsi. Sekarang kita liat, apa selera lo masih sama."
Jelita memalingkan wajah ke jendela. Dadanya sesak. Bagaimana bisa pria ini masih mengingat kebiasaan kecilnya tujuh tahun lalu seolah itu baru terjadi kemarin pagi?
Mobil akhirnya melambat dan memasuki sebuah area privat di tepi pantai. Yayan memarkir mobilnya tepat di depan sebuah kafe yang bener-bener estetik. Bangunannya didominasi kaca dengan aksen kayu putih dan rotan, kursinya menghadap langsung ke arah laut dengan lampu-lampu warm white yang mulai menyala karena matahari sudah mulai turun ke ufuk barat.
"Turun," ajak Yayan sambil membukakan pintu untuk Jelita.
Jelita turun dengan ogah-ogahan. Dia terpaksa mengikuti langkah kaki Yayan menuju meja paling pojok yang sangat privat, jauh dari jangkauan pengunjung lain. Angin laut yang lembap menerpa wajah Jelita, sedikit mendinginkan kepalanya yang panas, tapi tetap tidak bisa meruntuhkan tembok permusuhan yang dia bangun.
Yayan menarik kursi untuk Jelita dengan gerakan gentleman yang sangat dipaksakan menurut Jelita. "Duduk, Jee. Jangan berdiri terus kayak mau jaga parkiran."
Jelita duduk, menghempaskan tasnya ke atas meja. "Satu jam, Kak. Inget janji lo. Kalau lewat semenit aja, gue nggak akan ragu lapor polisi atas penculikan."
Yayan duduk berhadapan dengan Jelita, dia melepas kacamata hitamnya, menampakkan sepasang mata yang sangat identik dengan Langit, namun malam ini mata itu terlihat lebih tajam dan penuh perhitungan. Seorang pelayan datang membawa menu, tapi Yayan langsung memesan tanpa melihat buku.
"Dua seafood platter spesial, satu jus jeruk tanpa gula buat dia, dan satu kopi hitam pahit buat gue. Oh, sama satu porsi camilan yang paling pedas yang kalian punya," ucap Yayan lancar.
Jelita tertegun. Jus jeruk tanpa gula? Itu adalah pesanan rahasianya setiap kali dia merasa stres atau marah, karena dia nggak suka rasa manis yang berlebihan saat hatinya lagi pahit. "Lo... lo beneran penguntit ya?"
Yayan menopang dagunya dengan tangan, menatap Jelita tanpa berkedip. "Bukan penguntit, Jee. Gue cuma punya daya ingat yang sangat baik kalau itu menyangkut Jelita. Kenapa? Lo kaget gue masih inget detail kecil tentang lo?"
"Gue nggak peduli!" Jelita memalingkan muka, menatap ke arah ombak yang mulai berkejaran di bawah sana. "Lo mau ngomong apa? Buruan. Gue nggak punya banyak waktu buat main drama masa lalu sama lo."
Yayan terkekeh kecil, terdengar sangat menyebalkan bagi Jelita. "Makin lo galak, makin gue nggak mau lepasin. Lo tau nggak? Selama lima tahun ini, satu-satunya yang bikin gue pengen balik ke Jakarta cuma buat liat gimana versi dewasa dari gadis kaku yang hobinya ngumpet di perpus."
"Dan sekarang lo udah liat, kan? Gue udah berubah! Gue bukan Jelita yang dulu bisa lo permainin!" Jelita mencondongkan tubuhnya ke meja, suaranya rendah tapi menusuk. "Gue udah punya cowok, Kak. Dia jauh lebih segalanya dari lo. Dia nggak butuh nyulik orang buat dapet perhatian."
Yayan menyeringai, matanya menyipit penuh tantangan. Baginya, siapa pun pria itu, dia hanyalah "penghalang" sementara.
"Oh ya? Siapa cowok beruntung itu? Pangeran dari mana sampe lo se-bangga itu?" tanya Yayan meremehkan. "Dia tau nggak kalau di balik sifat 'manis' lo sekarang, ada sejarah yang cuma gue yang punya kuncinya?"
"Nggak usah bawa-bawa sejarah! Lo itu nggak penting!"
"Kalau gue nggak penting, kenapa tangan lo gemeteran pas gue pegang kemarin? Kenapa lo lari pas liat gue di Alfamart?" Yayan meraih tangan Jelita di atas meja, mengunci jemari gadis itu dengan kuat. "Lo takut, Jee. Lo takut karena lo sadar, mau siapa pun cowok lo sekarang, dia nggak akan pernah bisa kasih sensasi 'bahaya' yang cuma bisa lo dapetin dari gue."
"Lo gila, Kak! Lo bener-bener sakit!" Jelita mencoba menarik tangannya, tapi Yayan justru menariknya lebih dekat hingga wajah mereka hanya berjarak beberapa senti.
"Gue emang sakit, dan lo obatnya. Jadi jangan harap gue bakal biarin cowok lo itu menang gitu aja," bisik Yayan tepat di depan bibir Jelita. "Gue bakal cari tahu siapa dia, dan gue bakal buktiin ke dia kalau lo itu... adalah milik gue yang tertunda."
Matahari sudah benar-benar tenggelam, menyisakan langit berwarna ungu kemerahan di cakrawala. Suasana kafe semakin romantis dengan lampu-lampu temaram, tapi meja mereka tetap menjadi pusat perang urat saraf yang mencekam.
Jelita menarik napas dalam, mencoba menetralkan detak jantungnya yang kacau. Dia harus tenang.
susah jadi dirimu Jee. mana sodaraan pula. 🤦♀️
hohoho jawbanya ada di tangan kk author tercinta ini 🤣🤣🤣