cinta pertama jaman aku SMP sulit sekali aku lupakan... kenangan manis nya masih sama dan luka semasa SMA juga yang sulit aku lupa.. hingga suatu hari sahabat terdekat yang dari lahir udah barengan sama aku! kenalkan aku sama dia.. Tutor nakal ku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jee Jee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
25
Jelita baru saja berdiri di lobi gedung dengan tangan gemetar, baru saja hendak menekan tombol order di aplikasi taksi online-nya, saat raungan mesin yang sangat ia kenal membelah kesunyian parkiran. Porsche hitam itu berhenti tepat di depannya dengan decitan ban yang kasar.
Pintu terbuka, dan Langit keluar dengan wajah lelah tapi matanya langsung menyala saat melihat Jelita.
"Jee! Untung gue ngebut! Gue pikir lo udah balik," seru Langit sambil menghampiri Jelita. Dia langsung menyadari sesuatu yang aneh. Wajah Jelita pucat, napasnya belum stabil, dan matanya tampak... ketakutan.
Tanpa banyak tanya, Langit langsung menarik Jelita ke dalam dekapannya, mengabaikan beberapa mahasiswa yang masih ada di sekitar lobi. "Lo kenapa? Kok gemeteran gini? Ada yang gangguin lo lagi?"
Jelita hanya bisa menggeleng lemah, menyembunyikan wajahnya di dada Langit. Dia, sangat kacau. Baru sepuluh menit lalu dia dikunci oleh Yayan di atas, dan sekarang dia dipeluk oleh pria yang wajahnya sama persis namun memberikan rasa aman yang berbeda.
"Ayo balik. Apartemen sekarang," tegas Langit. Dia membukakan pintu mobil untuk Jelita, lalu melesat keluar dari area kampus.
Suasana di dalam mobil terasa lebih dingin dari biasanya. Langit menyetir dengan satu tangan, sementara tangan satunya lagi menggenggam erat tangan Jelita yang masih dingin. Langit terus melirik Jelita yang hanya diam menatap jendela.
"Jee, dengerin gue," ucap Langit tiba-tiba, suaranya rendah dan serius. "Gue nggak tahu kenapa, tapi perasaan gue nggak enak banget hari ini. Gue rasanya nggak nyaman nggak liat lo sehari. Rasanya... kayak ada sesuatu yang mau narik lo jauh dari gue."
Jelita tersentak, dia menoleh ke arah Langit dengan tatapan serius.
"Gue takut kalau lo tiba-tiba direbut cowok lain kalau gue lengah sedikit aja," lanjut Langit sambil meremas pelan jemari Jelita. "Gue tau lo 'Tembok Beton', tapi gue juga tau kalau tembok itu bisa aja diruntuhin sama orang yang salah kalau gue nggak ada di samping lo."
Jelita menelan ludah. Kalimat Langit barusan bener-bener skakmat. "Lang... lo ngomong apa sih? Nggak ada yang bakal rebut gue."
"Gue harap gitu. Karena kalau sampe ada yang berani nyentuh milik gue..." Langit menyeringai dingin, seringai yang sangat mirip dengan Yayan di kelas tadi, tapi kali ini penuh dengan janji perlindungan. "Gue bakal pastiin dia nyesel seumur hidup udah lahir ke dunia ini."
Sesampainya di apartemen, Langit langsung "mengunci" Jelita di kamarnya. Dia tidak membiarkan Jelita melakukan apa pun sendiri. Dia memasakkan makanan, menyuapi Jelita, dan terus memeluknya seolah-olah Jelita adalah barang pecah belah yang baru saja hampir dicuri orang.
Jelita hanya bisa pasrah. Di bawah dekapan Langit, dia merasa sangat terlindungi, tapi di kepalanya, suara Yayan terus bergema: "Persetan pacar lo, karena sejak awal lo udah jadi milik gue."
Jelita benar-benar terjepit di antara dua raksasa identik. Dia tidak tahu bahwa malam ini, saat dia tertidur di pelukan Langit, Yayan sedang duduk di kamarnya yang hanya terpisah beberapa kilometer, sedang menatap papan tulis di pikirannya yang tertukis YAYAN ❤️ JELITA: TUJUH TAHUN LALU
Apartemen malam itu terasa lebih hening. Tidak ada dentuman musik house atau tawa sengklek Langit yang biasanya memenuhi ruangan. Yang ada hanya suara mesin AC yang mendesis pelan dan detak jantung dua manusia yang sedang bergelut dengan pikiran masing-masing.
Langit baru saja menutup laptopnya setelah bergulat dengan revisi bab empat yang nggak kunjung disetujui dosen pembimbingnya. Dia menghela napas panjang, lalu menoleh ke arah Jelita yang sedang meringkuk di sofa sambil menatap kosong ke arah jendela besar yang menampilkan gemerlap Jakarta.
Langit menghampirinya, duduk di samping Jelita dan langsung menarik gadis itu ke dalam pelukannya. Tidak ada ciuman menuntut seperti biasanya. Tidak ada godaan "tutor sesat" yang minta jatah "pelajaran tambahan". Malam ini, Langit hanya ingin mendekap Jelita seolah gadis itu adalah satu-satunya oksigen yang tersisa.
"Jee..." gumam Langit, menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Jelita.
"Iya, Lang?" Jelita mengusap lengan kokoh Langit yang melingkar erat di perutnya.
"Maafin gue ya, belakangan ini gue jarang bisa jagain lo se-intens dulu. Skripsi gila ini bener-bener nyita waktu gue. Gue ngerasa jadi pacar yang gagal karena biarin lo pulang sendiri atau nunggu kelamaan di kampus," suara Langit terdengar sangat tulus, ada nada frustrasi di sana.
Jelita memejamkan mata, merasakan kehangatan tubuh Langit. Di dalam hatinya, nama Langit sudah bertahta seutuhnya. Meskipun ada "setitik" memori tentang Yayan yang baru saja mendobrak pintu hatinya di kelas akuntansi tadi sore, itu tidak mengubah kenyataan bahwa seluruh jiwanya sudah menjadi milik Langit. Langit adalah rumah, tempat dia merasa hidup, bukan sekadar patung yang bernapas.
"Gue nggak apa-apa, Lang. Lo fokus aja lulus, biar kita bisa cepet-cepet lulus bareng," bisik Jelita, mencoba menenangkan pria itu.
Langit justru semakin mengeratkan pelukannya, seolah takut jika dia melonggarkannya sedikit saja, Jelita akan hilang ditarik oleh bayangan di luar sana. "Gue cuma takut, Jee. Gue takut pas gue lagi nggak ada di samping lo, ada orang lain yang coba ngetuk tembok lo. Gue takut ada yang lebih pinter dari gue buat bikin lo ketawa."
Jelita memutar tubuhnya, menatap wajah Langit yang kuyu karena kurang tidur. Dia menyentuh rahang tegas itu dengan lembut. "Denger ya, Lang. Mau ada seribu orang yang dateng, mau ada orang yang wajahnya paling mirip sama lo sekalipun, di hati gue cuma ada satu nama. Langit. Nggak ada yang lain."
Langit menatap mata Jelita lama, mencari kejujuran di sana, dan dia menemukannya. Dia tersenyum tipis, lalu mengecup kening Jelita sangat lama. Sebuah kecupan yang sarat akan rasa syukur dan janji kepemilikan.
Malam itu, mereka hanya tidur berpelukan di atas tempat tidur yang luas. Tidak ada gairah yang meledak-ledak, hanya ada dua pasang tangan yang saling bertautan erat di bawah selimut. Langit memeluk Jelita dari belakang, menjaganya dalam tidurnya seolah dia sedang melindungi harta paling berharga di semesta.
Jelita tertidur dengan perasaan tenang, meskipun dia tahu, besok pagi di kampus, "hantu" itu mungkin akan muncul lagi. Tapi selama dia punya pelukan hangat Langit untuk pulang, Jelita merasa dia sanggup menghadapi kiamat sekalipun.
susah jadi dirimu Jee. mana sodaraan pula. 🤦♀️
hohoho jawbanya ada di tangan kk author tercinta ini 🤣🤣🤣