NovelToon NovelToon
Bos Baruku Ternyata Mantanku

Bos Baruku Ternyata Mantanku

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Cinta Seiring Waktu / CEO
Popularitas:61.9k
Nilai: 5
Nama Author: Muhammad Robby Ido Wardanny

Aira Maharani, 28 tahun, dikenal sebagai gadis mungil dan cantik dengan dedikasi tinggi di bidang keuangan. Kariernya di salah satu anak perusahaan Satria Group berjalan stabil hingga ia dipindahkan ke unit yang lebih besar, sebuah kesempatan yang seharusnya menjadi langkah maju. Namun, harapan itu berubah menjadi kecanggungan ketika ia mengetahui bahwa direktur barunya adalah Bimantara Dwi Cahyo, putra pemilik Satria Group sekaligus mantan kekasihnya di masa SMA.

Dulu, Aira memilih mengakhiri hubungan mereka karena merasa prestasinya menurun sejak berpacaran dengan Bima. Keputusan itu meninggalkan luka yang tampaknya belum sepenuhnya sembuh bagi Bima. Kini, dalam posisi sebagai atasan, Bima kerap memberi tekanan dan tugas berlebihan kepada Aira, seolah membalas masa lalu yang belum selesai.

Meski awalnya dipenuhi ketegangan dan konflik, interaksi mereka mulai berubah seiring berjalannya waktu

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad Robby Ido Wardanny, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 25

Sore itu suasana di area duduk kafe kecil terasa sedikit lebih ramai dari biasanya. Aroma kentang goreng yang baru diangkat dari minyak, sosis panggang, dan roti bakar bercampur menjadi satu. Di tengah suasana itu, Bima datang dengan nampan berisi makanan sederhana, lalu meletakkannya di meja dengan santai, seolah itu hal yang paling normal di dunia.

Aira yang duduk di kursi pojok hanya melirik sekilas. Wajahnya masih cemberut, bibirnya sedikit mengerucut, jelas menunjukkan kalau ia belum sepenuhnya memaafkan keberadaan laki-laki itu di dekatnya.

Bima duduk tepat di sampingnya tanpa permisi.

“Apa ini?” tanya Aira datar, tanpa menoleh.

“Makanan,” jawab Bima santai.

“Aku bisa lihat itu.”

“Bagus. Berarti penglihatanmu masih normal.”

Aira langsung menoleh, menatapnya kesal. Namun sebelum ia sempat mengatakan sesuatu, Bima sudah mengambil satu potong sosis dengan tusuk kecil, lalu mengarahkannya ke mulut Aira.

“Kereta datang. Buka mulut.”

Aira terdiam sesaat, jelas tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi. Wajahnya langsung memerah, bukan karena marah saja, tapi juga karena malu.

“Apa-apaan ini?” katanya, suaranya naik satu tingkat.

Bima tetap dengan ekspresi santainya, tidak merasa bersalah sedikit pun. “Kalau tidak cepat, nanti keretanya lewat.”

“Aku bukan anak kecil!”

“Belum tentu. Dari tingkahmu tadi, masih cocok masuk taman kanak-kanak.”

Aira langsung menepis tangan Bima. “Berhenti mempermalukanku!”

Bima mengangkat bahu. “Kalau kamu makan, aku berhenti.”

Aira mendengus kesal. Ia menatap sosis itu sejenak, lalu menatap Bima lagi dengan tajam.

“Kamu ini benar-benar menyebalkan.”

“Aku tahu.”

Keheningan singkat terjadi. Aira terlihat ragu. Ia sebenarnya lapar, tapi gengsinya jauh lebih besar dari rasa laparnya. Namun setelah beberapa detik, akhirnya ia menghela napas panjang, lalu membuka mulut dengan malas.

Bima langsung menyuapinya.

“Bagus,” katanya ringan. “Kereta berhasil masuk stasiun.”

Aira langsung mengunyah dengan wajah kesal. “Jangan ulangi lagi.”

“Kita lihat nanti.”

Di meja yang sama, Ayunda yang sejak tadi memperhatikan tidak bisa menyembunyikan rasa penasarannya. Ia menyandarkan dagunya di tangan, menatap Bima dengan ekspresi penuh curiga.

“Pak Bima,” katanya pelan, “kenapa Bapak sampai pura-pura jadi pelayan seperti ini?”

Desi yang duduk di sebelahnya ikut mengangguk. “Iya, ini agak… tidak biasa.”

Bima menoleh ke arah mereka, lalu tersenyum tipis. “Cuma ingin mencoba.”

“Mencoba?” ulang Ayunda.

“Iya. Aku tidak pernah kerja sambilan. Jadi penasaran rasanya bagaimana.”

Aira yang mendengar itu langsung memutar bola matanya. “Alasan yang buruk.”

Ayunda mengangkat alis, jelas tidak sepenuhnya percaya. Ia melirik Aira sebentar, lalu kembali ke Bima.

“Benarkah cuma itu?”

Bima bersandar santai. “Kamu tidak percaya?”

Ayunda tersenyum kecil. “Sejujurnya, tidak.”

Desi tertawa pelan. “Saya juga.”

Namun Bima hanya tersenyum tanpa memberikan penjelasan tambahan. Sikapnya terlalu santai untuk seseorang yang jelas-jelas sedang berbohong.

Ayunda akhirnya menghela napas, lalu bersandar. Dalam hati, ia tahu alasan sebenarnya. Semua ini hanya cara Bima untuk mendekati Aira. Tidak ada alasan lain yang lebih masuk akal.

Anehnya, melihat interaksi mereka barusan justru membuatnya merasa sedikit lega. Ia yang sebelumnya masih terbawa suasana hati buruk karena kejadian masa lalu, perlahan mulai melupakannya.

Melihat keduanya seperti itu… terasa lucu.

Desi tiba-tiba menepuk meja pelan. “Ngomong-ngomong, Pak… perusahaan kita baik-baik saja, kan?”

Bima menoleh. “Maksudnya?”

“Ya… siapa tahu kondisi keuangan sedang bermasalah sampai Bapak harus kerja paruh waktu begini.”

Ayunda langsung menoleh cepat. “Desi, jangan asal bicara.”

“Aku cuma tanya.”

Ayunda menggeleng. “Sebagai orang finance, aku bisa pastikan kondisi perusahaan sangat stabil.”

Ia menatap Bima, seolah ingin menegaskan ucapannya.

“Benar, kan, Pak?”

Bima tersenyum. “Tentu saja. Kalian tidak perlu khawatir soal itu.”

“Lalu ini semua cuma… eksperimen?” tanya Desi.

“Anggap saja begitu,” jawab Bima ringan.

Sebuah kebohongan yang terlalu jelas untuk disebut rapi.

Aira yang sejak tadi diam akhirnya bersuara. “Aku tidak peduli alasanmu.”

Bima meliriknya. “Aku tahu.”

Ia kemudian mengambil roti bakar, memotongnya sedikit, lalu meletakkannya di depan Aira.

“Habiskan.”

Aira mendengus. “Jangan menyuruhku.”

“Bukan menyuruh. Ini perintah.”

Aira langsung menatap tajam. “Kamu bukan atasanku di sini.”

“Belum.”

Aira terdiam.

Kalimat itu menggantung di udara, membuat suasana sedikit berubah.

Bima lalu melanjutkan dengan santai, “Ngomong-ngomong… bagaimana kalau kamu kembali bekerja?”

Aira langsung mengerutkan kening. “Tidak mau.”

“Kenapa?”

“Ibuku melarang.”

Bima tidak terlihat terkejut. Ia hanya mengangguk pelan. “Bibimu tidak masalah sekarang.”

Aira menoleh cepat. “Apa?”

“Aku sudah bicara dengannya.”

“Kapan?”

“Beberapa hari lalu.”

Aira terdiam, jelas tidak menyangka.

Bima melanjutkan, “Kalau masalahnya ibumu, aku bisa bicara langsung.”

“Aku bilang tidak mau,” jawab Aira tegas.

Namun suaranya tidak sekeras sebelumnya.

Ayunda yang mendengar itu langsung ikut masuk ke percakapan. “Aira… aku kangen kerja bareng kamu.”

Desi mengangguk cepat. “Iya, benar. Kantin ini jadi sepi kalau cuma berdua sama Ayunda.”

“Apa maksudmu?” protes Ayunda.

“Maksudnya… kurang ramai saja.”

Aira memalingkan wajahnya, menghindari tatapan mereka semua. Tangannya menggenggam ujung bajunya pelan.

Sebenarnya… ia juga ingin kembali.

Ia merindukan suasana kerja bersama Ayunda dan Desi. Candaan mereka, makan siang bersama, dan rutinitas yang dulu terasa melelahkan tapi sekarang justru dirindukan.

Namun bayangan tentang perusahaan itu… dan Bima… masih membuat hatinya sakit.

Ia tidak bisa melupakan bagaimana dulu ia diabaikan. Bagaimana ia berdiri sendiri saat dihina oleh Pandu, sementara Bima hanya diam.

“Aku tidak mau,” ulangnya pelan.

Bima menatapnya sejenak, lalu sedikit mendekat.

Tanpa peringatan, ia berbisik tepat di telinga Aira.

“Ada kenaikan gaji.”

Aira langsung membeku.

Matanya sedikit terbelalak, napasnya tertahan sejenak.

“Apa?” bisiknya tanpa sadar.

Bima tersenyum tipis. “Lumayan besar.”

Aira menggigit bibir bawahnya pelan. Pikirannya langsung berputar.

Selama menganggur, kondisi keuangannya memang tidak baik. Tabungannya mulai menipis, dan ia tidak ingin terus bergantung pada keluarganya.

Tawaran itu… sangat menggoda.

Ayunda yang melihat perubahan ekspresi Aira langsung mengerti situasinya. Ia melirik Desi, lalu berdiri perlahan.

“Sepertinya kita harus pulang,” katanya.

Desi langsung berdiri juga. “Iya. Sudah sore.”

Aira menoleh. “Kalian mau ke mana?”

“Pulang,” jawab Ayunda santai. “Kalian berdua saja di sini.”

Desi tersenyum kecil. “Jangan berantem, ya.”

Mereka berdua pergi begitu saja, meninggalkan Aira dan Bima dalam suasana yang tiba-tiba terasa lebih sunyi.

Aira langsung berdiri. “Aku juga mau pulang.”

Namun langkahnya terhenti.

Bima masih duduk di sampingnya, dan posisi meja yang berada di pojok membuat jalan keluarnya terhalang.

“Geser,” kata Aira.

Bima tidak bergerak. Ia hanya menatap Aira dengan santai.

“Mau pulang?”

“Iya.”

“Aku antar.”

“Tidak perlu.”

“Kenapa?”

“Aku bisa naik ojek online.”

Bima menyeringai. “Nanti kamu diculik.”

Aira mendengus. “Tidak lucu.”

“Aku serius.”

“Aku tidak peduli.”

Bima sedikit mendekat. “Kalau begitu… lebih baik aku saja yang menculikmu.”

Aira langsung memukul pundaknya.

“Jangan aneh-aneh!”

Namun pukulannya tidak memberikan efek apa pun.

Bima bahkan tidak bergeser sedikit pun. Tubuhnya yang besar hanya bergoyang pelan, seperti menerima sentuhan ringan.

Aira memukul lagi, kali ini ke dada.

Tidak ada reaksi.

Ia mencoba lagi ke perut.

Tetap sama.

Bima bahkan tersenyum kecil. “Itu pijatan gratis?”

Aira semakin kesal. “Minggir!”

Ia terus memukul, dari pundak ke dada, lalu ke perut lagi. Semua sia-sia.

Tenaganya yang kecil tidak mampu membuat Bima merasa terganggu.

Akhirnya Aira berhenti, napasnya sedikit terengah.

Bima menatapnya dengan santai, lalu berkata pelan, “Sudah selesai?”

Aira menatapnya tajam, namun tidak menjawab.

Beberapa detik berlalu dalam diam.

Lalu Bima akhirnya berdiri.

“Baik,” katanya ringan. “Kita pulang.”

Aira mengerutkan kening. “Aku tidak bilang mau ikut denganmu.”

“Kamu tidak punya pilihan.”

“Aku punya.”

“Kita lihat nanti.”

Bima melangkah lebih dulu, meninggalkan Aira yang masih berdiri di tempatnya, antara kesal, bingung, dan… sedikit goyah.

Karena di balik semua sikap menyebalkan itu, satu hal tidak bisa ia abaikan.

Tawaran itu… terlalu sulit untuk ditolak.

1
Robi Atin
Luar biasa
onimaru rascall: Baru belajar kak🙏🙏🙏
total 1 replies
Azzuhri Siregar
membosankan novel nya agak kek mana gitu gak adil
onimaru rascall: maaf saya masih berproses dalam menulis jika mengecewakan saya minta maaf dan terima kasih karena mau memberi tahu apa yang kurang🙏🙏🙏
total 1 replies
Nina ayu554
semangat author 🙏
onimaru rascall: makasih 🙏🙏🙏
total 1 replies
susi_ambarsari
yuk crazy up yuk, 4 ato 5 bab mungkin 🤭
onimaru rascall: maaf setelah masalah sistem kemarin kayaknya gak bisa up banyak lagi karena reviewenya ga selesai-selesai 🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
Muna Junaidi
Kita simpan dulu biar gak kemana mana😄
onimaru rascall: tenang aja kak sudah terikat kontrak jadi gak bisa kabur👍👍👍
total 1 replies
sitanggang
inibaru mantap👍
onimaru rascall: belum kak masih belajar baru nulis 3 bulan 🤫🤫🤫
total 1 replies
susi_ambarsari
fix aira yg di ambil emaknya bima, bkn bima yg kekepin aira tp aira yg dkekepin emaknya bima, definisi camer yg mpokcecip 🤣
onimaru rascall: ya itulah daya tarik botol Yakult di kasih nyawa
total 1 replies
sitanggang
ambigu sekali 🙄
onimaru rascall: benar sekali
total 1 replies
susi_ambarsari
aspri bima kah? atw sekretaris bima?🤔🤔🤔
susi_ambarsari: 🤣🤣🤣🤣🤣
total 4 replies
susi_ambarsari
pinter si bocil 😂
onimaru rascall: mantap pengalaman pasti👍👍👍
total 3 replies
susi_ambarsari
enak y pemikiran laki laki, lbh terbuka biarpun sakit hati mereka gk baperan, beda klo cewe lebih baperan ujung2nya ngambek gk selesaikan mslh mlh bikin mslh stuck dsitu, klo pandu - bima menimpa cewek pasti berantem abz itu udahan persahabatan selesai, serumit itu y pemikiran cewe krn terlalu berpegang pd ego msg2 😮‍💨😮‍💨😮‍💨
sitanggang: ujung2nya dinaikin buaya🤣🤣
total 5 replies
McBos
Bapak temanku ternyata ibuku
onimaru rascall: maaf ga bikin karya BL kalau suka BL mungkin bisa cari yang lain kak
total 1 replies
Hennyy exo
suka banget alurnya thor
onimaru rascall: semoga terus baca sampai selesai
total 1 replies
Hennyy exo
wow awal yg bagus kk
onimaru rascall: terima kasih
total 1 replies
Uning Sodik
waduh. ru miiiit ya😄😄😄
onimaru rascall: kalau gak rumit kurang Indonesia aja kak karena rumit adalah budaya
total 1 replies
Uning Sodik
duuuh .... 😄😄😄😄
onimaru rascall: 🤫🤫🤫🤫🤫🤫
total 1 replies
Uning Sodik
eeeeh..blm ada yg komen
onimaru rascall: makasih kak udah komen
total 1 replies
Nurhasana Oppo
laaaanjuuuuttttt kak mantap ❤️😭❤️😭😭❤️
onimaru rascall: siap kak minta dukungannya dengan like dan komen biar saya makin semangat 🙏🙏🙏
total 1 replies
Sri Wahyudi
klo bisa up nya sehari 2x kak
onimaru rascall: maaf ya kak soalnya ada dua karya yang saya tulis jadi gak bisa 🙏🙏🙏
total 1 replies
Wayan Sucani
Lanjut thor...
onimaru rascall: siap kak jangan lupa dukungannya
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!