Catherina Lawrence (24 tahun) mengira pernikahannya dengan Adrian Mettond, senior di kampusnya dulu, adalah pelabuhan tenang setelah badai masa lalu yang kelam. Namun, belum genap satu tahun berjalan, kenyataan pahit menghantamnya. Adrian ternyata tidak siap menjadi ayah bagi putra mereka, Liam, dan sang ibu mertua terus memperlakukannya layaknya orang asing yang tak diinginkan.
Di tengah dinginnya sikap Adrian, Catherina dihantui oleh bayang-bayang Everest Cavanaught—mantan kekasih sekaligus "pangeran berandalan" dari masa Lalunya. Hubungan Empat tahun itu berakhir karena keegoisan Catherina, meninggalkan luka yang belum sembuh. Ironisnya, semakin Liam tumbuh, wajah sang bayi justru semakin menyerupai Everest, bukan Adrian.
Terjebak dalam rumah tangga yang hampa dan penuh tuntutan, Catherina mulai mempertanyakan segalanya.
Apakah Adrian benar-benar mencintainya?
.
.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#27
Hari-hari di Mansion Cavanaugh kini memiliki melodi baru, dan melodi itu bernama Clarissa.
Bagi Everest dan Catherina, melihat Liam tumbuh besar adalah sebuah kebahagiaan, namun mendengarkan ocehan tanpa henti pemuda itu tentang cinta monyetnya adalah ujian kesabaran yang menggelikan sekaligus mengharukan.
Setiap pagi di meja sarapan, setiap sore di pinggir lapangan basket, dan setiap malam sebelum mereka beristirahat, Liam selalu punya cerita baru.
"Dad, Clarissa hari ini memakai pita rambut warna biru, dia bilang itu warna keberuntungannya karena ada ujian sejarah," lapor Liam sambil mendribel bola basket di lapangan belakang.
Everest, yang sedang duduk di kursi santai sambil membaca laporan bisnis, hanya bergumam tanpa mengalihkan pandangan. "Lalu? Apa dia berhasil?"
"Tentu saja! Dia mendapatkan nilai tertinggi. Dia bilang, itu karena aku meminjamkannya pulpen keberuntunganku kemarin," Liam melakukan lay-up dengan sempurna, lalu berbalik dengan wajah berseri-berikan. "Dia sangat pintar, Dad. Hampir sepertimu."
Everest akhirnya menutup tabletnya, menatap putranya dengan senyum miring yang khas. "Sepertiku? Hati-hati, Liam. Membandingkan wanita dengan ayahmu adalah cara tercepat untuk membuat Mommy mu cemburu."
Di sisi lain, bagi Angelina Mettond, nama Clarissa telah menjadi seperti dengungan lebah yang tidak pernah berhenti. Setiap kali mereka berada di dalam mobil menuju sekolah, atau saat mereka sedang mengerjakan tugas bersama di perpustakaan, Liam seolah kehilangan kosakata lain selain nama gadis itu.
"Angel, kau tahu tidak? Clarissa suka sekali dengan pasta aglio olio, persis seperti seleramu. Besok aku ingin mengajaknya ke kafe dekat toko buku, menurutmu dia akan suka?" tanya Liam saat mereka sedang duduk di bangku taman sekolah.
Angelina menarik napas panjang, mencoba menahan rasa sesak yang entah kenapa semakin sering muncul. "Liam, kau sudah menanyakan hal itu lima kali sejak jam istirahat pertama. Ya, dia pasti suka. Semua orang suka pasta."
"Tapi Clarissa beda, Angel. Cara dia makan itu sangat anggun..."
"Liam!" potong Angelina sedikit lebih keras dari biasanya. Ia segera tersadar dan merendahkan suaranya. "Maksudku... aku sedang mencoba fokus pada latihan biolaku. Bisakah kita tidak membahas menu makan siang Clarissa sekarang?"
Liam tertegun sejenak, melihat raut wajah Angelina yang nampak lelah. Ia segera mendekat, merangkul bahu gadis itu dengan santai. "Maaf, Angel. Aku terlalu bersemangat ya? Kau tahu sendiri, ini pertama kalinya aku merasa... yah, kau tahu lah."
Angelina hanya mengangguk kecil, menyandarkan kepalanya di bahu Liam. Ia benci perasaan ini. Ia benci fakta bahwa ia merasa tersisih. Selama enam belas tahun, ia adalah pusat gravitasi dalam dunia Liam di luar keluarga Cavanaugh. Sekarang, orbit itu seolah bergeser, dan ia dipaksa untuk menonton dari kejauhan bagaimana Liam mulai memuja orang lain.
Sore harinya, keluarga Mettond berkunjung ke kediaman Cavanaugh untuk acara minum teh rutin. Di ruang keluarga yang hangat, Catherina dan Julie sedang asyik berbincang tentang yayasan sosial mereka, sementara Everest dan Adrian terlibat dalam diskusi serius mengenai investasi properti.
Namun, perhatian mereka semua teralih saat Liam masuk ke ruangan dengan wajah yang sangat cerah, memegang ponselnya dengan erat.
"Mom! Dad! Clarissa baru saja mengirimkan foto kucing barunya. Namanya Snow!" seru Liam tanpa sadar bahwa ada tamu di sana.
Catherina tertawa kecil. "Wah, benarkah? Sampaikan salam pada Snow, ya."
Julie melirik ke arah Angelina yang duduk diam di sampingnya, memutar-mutar sendok tehnya tanpa minat. Sebagai seorang ibu, Julie menangkap sesuatu yang tidak beres. Ia melihat bagaimana mata Angelina meredup setiap kali nama Clarissa disebut oleh Liam.
"Angelina, kau tidak ikut mengobrol dengan Liam?" tanya Julie lembut.
"Aku sedang tidak enak badan, Mom. Mungkin karena cuaca," jawab Angelina pendek, lalu beranjak berdiri. "Tante Catherina, Om Everest... aku permisi ke balkon sebentar ya, ingin mencari udara segar."
Catherina menatap punggung Angelina yang menjauh dengan tatapan prihatin. Ia kemudian menoleh ke arah Everest, dan mereka saling bertukar pandang.
Mereka berdua bukanlah orang bodoh; mereka pernah berada di posisi itu. Mereka tahu persis rasa sakit dari sebuah perasaan yang tak terkatakan.
Everest bangkit dari duduknya, memberikan kode pada Liam untuk mengikutinya ke ruang kerja. Setelah pintu tertutup, Everest bersandar di meja kerjanya.
"Liam, kau terlalu banyak bicara tentang Clarissa di depan Angelina," ujar Everest tanpa basa-basi.
Liam mengerutkan kening, bingung. "Memangnya kenapa, Dad? Dia sahabatku. Aku selalu menceritakan semuanya padanya."
"Ada hal-hal yang tidak seharusnya kau ceritakan pada seorang gadis tentang gadis lain, terutama jika gadis itu tumbuh besar bersamamu," Everest menghela napas. "Kau pintar dalam kalkulus, tapi kau sangat bodoh dalam hal perasaan wanita, Liam."
"Aku tidak mengerti, Dad. Angelina bilang dia mendukungku. Dia bahkan memberiku saran tentang kencan pertamaku nanti," bantah Liam.
Everest menatap putranya dengan tatapan yang sangat dalam, tatapan yang pernah ia gunakan saat ia menyembunyikan rahasia besar dari Catherina bertahun-tahun lalu. "Liam... terkadang seorang wanita berkata 'ya' hanya karena dia tidak ingin terlihat hancur saat berkata 'tidak'. Perhatikan matanya, bukan bibirnya."
Liam terdiam. Kata-kata ayahnya menghujam pikirannya. Ia mencoba mengingat kembali ekspresi Angelina selama seminggu terakhir. Setiap kali ia menyebut nama Clarissa, Angelina memang tersenyum, tapi senyum itu tidak pernah mencapai matanya. Angelina memang tertawa, tapi tawanya terdengar hambar.
Sementara itu di balkon, Angelina menatap cakrawala yang mulai berubah jingga. Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya jatuh juga. Ia merasa bodoh. Ia merasa seperti pengkhianat karena mencintai pria yang sudah ia anggap seperti saudaranya sendiri, pria yang kini sedang mabuk kepayang oleh gadis lain.
Tiba-tiba, ia merasakan sebuah tangan menepuk pundaknya. Itu Adrian, ayahnya.
"Ayah tahu rasanya, Angel," bisik Adrian lembut.
Angelina berbalik dan langsung memeluk ayahnya, menangis sesenggukan di dada pria yang dulu pernah merasakan perih yang sama. Adrian mengusap rambut putrinya dengan penuh kasih.
"Dulu, Ayah mengira Ayah bisa memiliki segalanya, tapi Ayah kalah oleh waktu dan takdir. Namun lihatlah sekarang, Ayah bahagia dengan ibumu," Adrian mencoba menghibur. "Perasaanmu pada Liam... itu wajar. Kalian tumbuh bersama. Tapi ingat, kau adalah putri seorang Mettond. Kau kuat."
"Tapi sakit, Dad... Sakit sekali mendengar dia terus menyebut nama gadis itu," isak Angelina.
Adrian menatap ke arah pintu balkon, di mana ia bisa melihat siluet Everest di dalam sana. Ia tersenyum getir. Sejarah seolah berulang.
Dulu ia dan Everest memperebutkan Catherina, dan sekarang, secara tidak langsung, anak-anak mereka terjebak dalam jaring perasaan yang sama rumitnya.
Malam itu, di bawah atap Mansion Cavanaugh, ada kebahagiaan yang meluap dari seorang remaja laki-laki yang sedang jatuh cinta, namun ada pula duka yang sunyi dari seorang gadis yang sedang belajar tentang patah hati pertama.
Dan di tengah-tengah itu semua, para orang tua hanya bisa mengawasi, menyadari bahwa di usia enam belas tahun, cinta bukan hanya tentang mawar dan cokelat, tapi juga tentang belajar melepaskan atau bertahan dalam diam.
Liam keluar ke balkon, menemukan Angelina yang sudah menyeka air matanya.
"Angel... kau mau melihat foto Snow lagi? Clarissa baru saja mengirim video saat kucing itu bermain benang," ajak Liam dengan nada yang lebih hati-hati.
Angelina menatap Liam, mencoba memberikan senyum terbaiknya meski hatinya hancur berkeping-keping. "Tentu, Liam. Perlihatkan padaku."
Dan di sana mereka berdiri, bersisian di bawah cahaya bulan. Liam yang asyik bercerita tentang Clarissa, dan Angelina yang asyik berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja.
Sebuah drama masa muda yang baru saja dimulai, di mana garis antara persahabatan dan cinta menjadi semakin kabur seiring berjalannya waktu.