NovelToon NovelToon
Eternal Memory [ Ingatan Abadi ]

Eternal Memory [ Ingatan Abadi ]

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Reinkarnasi / Epik Petualangan
Popularitas:593
Nilai: 5
Nama Author: muhammad rivaldi

Chapter 1 - 20 = Prologue Arc ( Arc Pembuka )

Chapter 21 - 30 = Daily Life in Thunder Division ( Arc Kehidupan Sehari-hari di Divisi Petir )

Chapter 30 - ? = Seven Divisi Tournament Arc ( Arc Turnamen Tujuh Divisi )

Di masa lalu yang jauh, dua sahabat—Dongfang dan Yuwen Feng—berdiri di puncak dunia kultivasi sebagai yang terkuat. Namun takdir memisahkan mereka. Dikhianati oleh jalan yang berbeda, Yuwen Feng jatuh ke dalam kegelapan dan bersumpah menghancurkan dunia, sementara Dongfang terpaksa menyegelnya demi menghentikan kehancuran—dengan harapan suatu hari sahabatnya akan bertobat.

Bertahun-tahun kemudian, seorang anak bernama Long Chen terus dihantui mimpi tentang masa lalu yang tidak ia pahami. Hidup damainya di Desa Daun Maple berubah menjadi tragedi ketika desanya dihancurkan oleh sosok misterius dari aliran kegelapan. Dalam sekejap, ia kehilangan segalanya—keluarga, rumah, dan masa kecilnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon muhammad rivaldi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 23 - Terpilihnya Tiga Pendekar Petir

Sore hari menyelimuti Hutan Bambu Ungu dengan cahaya jingga yang hangat, memantulkan kilau lembut di permukaan batang-batang bambu yang menjulang tinggi, sementara angin berdesir perlahan membawa ketenangan yang menipu, seolah alam menahan napas menunggu sesuatu yang akan terjadi.

Di sebuah area terbuka di tengah hutan, dua sosok berdiri saling berhadapan dengan jarak beberapa langkah, tanah di bawah mereka dipenuhi bekas latihan yang menunjukkan betapa sering tempat itu digunakan untuk bertarung.

Long Chen berdiri dengan tenang, pedang di tangannya terangkat ringan, tubuhnya tegap dan stabil, auranya terkendali namun terasa tajam seperti bilah yang siap dilepaskan kapan saja. Tatapannya fokus, tidak lagi seperti murid yang belajar, melainkan seorang kultivator yang siap menghadapi ujian berikutnya.

Di hadapannya, Mo Fan berdiri santai namun penuh kewaspadaan, sikapnya tampak ringan, namun aura yang menyelimutinya jauh lebih dalam dan berat, seperti gunung yang tidak mudah digoyahkan. Tangannya menggenggam pedang dengan alami, seolah senjata itu adalah bagian dari dirinya.

Di sisi lain area terbuka itu, Meng Wu berdiri dengan tangan di belakang punggung, tubuhnya tegap seperti pilar yang tak tergoyahkan, tatapannya tajam mengamati setiap detail kecil dari kedua muridnya yang bersiap bertarung. Di sampingnya, Mei Ling duduk di kursi roda yang didorong perlahan oleh Ling Er, wajahnya tenang namun matanya penuh perhatian, mengikuti setiap gerakan dengan serius. Sementara itu, Shi Hao berdiri sedikit menyamping dengan tangan terlipat di dada, ekspresinya santai namun sorot matanya menunjukkan ketertarikan yang dalam terhadap apa yang akan terjadi.

Hari ini bukan sekadar latihan biasa, melainkan sebuah uji perkembangan yang menentukan sejauh mana kemampuannya telah berkembang.

Sebuah penilaian diam-diam terhadap sejauh mana Long Chen telah melangkah dalam delapan tahun terakhir, dan apakah ia benar-benar siap untuk berdiri di panggung yang lebih besar.

Karena Turnamen Tujuh Divisi sudah semakin dekat.

Long Chen mengangkat pedangnya perlahan, bilahnya sejajar dengan pandangannya yang kini tajam dan penuh keseriusan. Tubuhnya tegap, napasnya teratur, dan seluruh fokusnya tertuju pada sosok di hadapannya. “Aku harap Senior mengeluarkan seluruh kemampuanmu,” ucapnya dengan nada tegas. Ia menambahkan tanpa ragu, “Aku juga tidak akan menahan diri. Kali ini… aku akan mengerahkan segalanya.”

Mo Fan tersenyum tipis, senyum yang tenang namun mengandung antusiasme. “Tenang saja, Junior,” jawabnya santai. “Aku juga tidak akan menahan diri kok. Kita lihat sejauh mana kau telah berkembang.”

Dalam sekejap, aura di sekelilingnya berubah.

Petir halus mulai bergetar di sekitar tubuhnya, menyelimuti pedangnya dengan cahaya ungu yang berdenyut seperti makhluk hidup, menciptakan tekanan yang langsung terasa di udara.

Angin di sekitar mereka ikut bergetar.

Meng Wu melangkah sedikit ke depan, tatapannya menyapu keduanya, memastikan tidak ada keraguan sedikit pun.

“Baik,” ucapnya tegas.

“Pertarungannya dimulai.”

CLANG!

Benturan pedang menggema keras di seluruh area, memecah keheningan sore dengan dentuman yang tajam. Percikan petir ungu menyambar keluar dari titik tabrakan, menyebar ke udara seperti kilatan kecil yang berbahaya.

Serangan pertama langsung dilancarkan dengan keras, tanpa ragu dan tanpa adanya uji coba sedikit pun.

Long Chen bergerak cepat, tubuhnya melesat ke depan dengan langkah ringan namun eksplosif, pedangnya berayun dalam sudut yang tajam dan presisi, setiap gerakan dipenuhi aliran qi yang stabil dan kuat.

Mo Fan tidak mundur.

Ia menahan serangan itu dengan tenang, pedangnya terangkat tepat pada waktunya, menangkis dengan gerakan minimal namun sempurna, seolah setiap serangan Long Chen sudah ia baca sebelum terjadi.

Dentang demi dentang kembali terdengar saat kedua bilah saling beradu, menciptakan gelombang tekanan yang membuat udara di sekitar mereka bergetar.

Setiap langkah, setiap tebasan, dan setiap pertahanan terasa begitu nyata. Ini bukan lagi sekadar latihan—melainkan seperti sebuah pertarungan sungguhan yang mempertaruhkan segalanya.

Di sisi lain area pertarungan, Ling Er berdiri di belakang kursi roda Mei Ling sambil terus memperhatikan duel di depan mereka, namun pikirannya jelas tidak sepenuhnya berada di sana. Ia menggenggam pegangan kursi roda itu sedikit lebih erat sebelum akhirnya berbisik pelan.

“Guru…” ucapnya ragu, menoleh sedikit ke arah Meng Wu. “Untuk turnamen nanti… kita akan mengirim berapa perwakilan?”

Ia terdiam sejenak, lalu menunduk. “Kalau bisa sih… aku tidak ingin ikut,” lanjutnya lirih. “Aku lebih ingin tetap di sini sih selama turnamen berlangsung … untuk merawat Senior Mei Ling daripada ikut turnamen antar divisi…”

Kata-katanya menggantung, membawa suasana yang sedikit berbeda dari sebelumnya.

Namun Mei Ling langsung menggeleng pelan, ekspresinya tetap lembut namun kali ini lebih tegas. “Tidak perlu begitu, junior Ling Er,” ujarnya.

Ia menatap Ling Er dengan hangat. “Aku bisa menjaga diriku sendiri.”

Nada suaranya tidak keras, namun jelas tidak bisa dibantah. “Kau harus ikut turnamen itu. Itu kesempatan langka untukmu. Menang atau kalah bukan yang utama, pengalaman yang kau dapatkan jauh lebih berharga dibandingkan hanya tinggal di sini menjagaku,” lanjutnya.

Ling Er menggigit bibirnya, terlihat ragu, seolah ada sesuatu yang belum ia ungkapkan. “Bukan begitu maksudku, Senior…” ucapnya pelan.

Namun suasana itu tiba-tiba terpotong ketika Shi Hao menyela dengan nada santai, seolah tidak melihat betapa seriusnya pembicaraan tadi. “Sudahlah, jujur saja,” katanya sambil melirik Ling Er. “Kau itu takut, kan, kalau nanti terluka di turnamen?”

Ling Er langsung melotot ke arahnya, wajahnya memerah bukan karena malu, tetapi karena kesal. “Senior Shi Hao!” protesnya cepat.

Namun Shi Hao tetap terlihat santai, bahkan melanjutkan tanpa beban. “Ranahmu saja masih di Bintang Bumi tingkat delapan,” ujarnya ringan, seolah hanya menyampaikan fakta biasa. “Sedangkan peserta turnamen itu kebanyakan sudah berada di ranah Bintang Langit.”

Shi Hao mengangkat dagunya sedikit, lalu menunjuk ke arah arena di mana Long Chen masih bertarung sengit dengan Mo Fan. “Lihat itu,” katanya santai namun sengaja dibuat menusuk. “Junior Long Chen saja sekarang sudah berada di Ranah Bintang Langit tingkat dua.”

Tatapannya kembali ke arah Ling Er, senyumnya berubah sedikit nakal. “Padahal kau lebih dulu bergabung di Divisi Pedang Petir dibanding dia,” lanjutnya tanpa ragu.

Kata-katanya terdengar ringan, tapi jelas menyenggol.

Ia menyilangkan tangan, lalu menambahkan dengan nada bercanda yang tetap terasa tajam. “Kalau kau tetap memaksa ikut… mungkin saja kau cuma jadi ‘mainan’ lawanmu di turnamen nanti.”

Buk!

Ling Er langsung memukul lengan Shi Hao tanpa ragu, wajahnya memerah karena kesal. “Jangan bicara soal ranah di depanku!” protesnya dengan nada tinggi, jelas tersinggung oleh kata-kata tadi.

Shi Hao hanya meringis ringan sambil mengusap lengannya, namun tetap terlihat santai, seolah sudah terbiasa dengan reaksi seperti itu.

Di samping mereka, Mei Ling tersenyum kecil melihat tingkah keduanya, sementara Meng Wu juga menunjukkan senyum tipis sebelum akhirnya membuka suara dengan nada tenang.

“Aku tidak akan memaksa,” ucapnya.

Ia menatap Ling Er dengan lembut namun tetap tegas. “Kalau kau memang tidak ingin ikut, itu tidak masalah.”

Ia lalu melanjutkan dengan suara yang lebih datar, seolah menyampaikan keputusan yang sudah ia pertimbangkan. “Berarti Divisi Pedang Petir hanya akan mengirim tiga orang saja, yaitu Mo Fan, Shi Hao… dan Long Chen.”

“Terima kasih, Guru… kau memang baik sekali…” ucapnya lega, seolah beban di hatinya langsung berkurang.

End Chapter 23

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!