NovelToon NovelToon
SENTUHAN PAPA MERTUA

SENTUHAN PAPA MERTUA

Status: sedang berlangsung
Genre:Rumah Tangga / Balas Dendam
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: Nuna_Pena

"Pa, Papa mau apa??" Adelia terkejut saat papa mertuanya tiba-tiba mendekat dan memeluknya dari belakang. la tak pernah membayangkan, kalau setelah menikah papa mertuanya itu justru berubah dan bersikap seolah ia adalah istrinya.

Apakah Adelia mampu mengendalikan diri dari papa mertuanya?

Atau ia justru ikut terjerumus juga?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

DELAPAN

Pembicaraan pun bergeser ke topik kerjaan Lukas lagi.

Namun, Adelia tidak bisa melepaskan diri dari rasa tidak

nyaman yang terus menempel sejak tadi. Ia hampir tidak mendengar apa pun selain detak jantungnya sendiri.

Tak lama kemudian, ponsel Lukas bergetar. Sean mengirim pesan singkat.

"Maaf, Pa, Del... Aku harus berangkat sekarang. Klien dari Korea udah datang lebih cepat," ucap Lukas pamitan.

Lukas berdiri, meraih jasnya dari sandaran kursi.

Ia berdiri di dekat Adelia dan menunduk sedikit.

"Sayang..."

Adelia menoleh.

Lukas mengecup bibirnya pelan, tepat di depan Bastian.

Adelia tersentak kecil-bukan karena Lukas, tapi karena melihat ekspresi aneh di wajah Bastian. Mata pria itu menatap mereka berdua, tapi ada kilatan singkat... sulit diartikan... mungkin cemburu? Atau perasaan lain yang Adelia tidak berani tebak.

"Bye, Pa!" ujar Lukas sambil menepuk bahu ayah tirinya. "Jangan kerja berat dulu! Nikmati masa pensiun."

"Udah, pergi sana!" jawab Bastian sambil tersenyum. "Jangan bikin klien nunggu!"

Lukas pun melangkah keluar rumah, sempat melambaikan tangan kepada Adelia sebelum pintu tertutup.

Keheningan mengisi ruang makan.

Meskipun Bik Vivi dan Mbak Sisil mondar-mandir di dapur, suasana di sekitar meja tetap terasa sepi-dan tegang.

Bastian menyesap tehnya, kemudian menoleh pada Adelia. "Kalian romantis sekali," ucapnya pelan. "Papa suka lihatnya."

Adelia hanya tersenyum kecil. "Mas Lukas memang baik orangnya."

"Baik dan beruntung," lanjut Bastian, matanya tetap memandang Adelia. "Karena dia punya istri seperti kamu."

Adelia meneguk ludah.

Bastian kemudian memasukkan sendok ke piringnya, lalu berkata santai seolah sedang membicarakan hal remeh, "Del, nanti kamu mau pergi belanja? Papa antar, ya?"

Adelia langsung menunduk. "Pa... saya bisa naik mobil sendiri, nggak apa-apa."

Bastian tersenyum perlahan, senyum yang membuat Adelia semakin tidak tenang. "Papa ingin bantu. Kamu kan bilang kemarin capek. Papa nggak mau kamu kesusahan."

Adelia menatap meja, pikirannya kacau. Ia tidak berani menolak terlalu keras, takut dianggap tidak sopan oleh papa mertuanya. Tetapi setiap menit bersamanya membuat tubuhnya semakin ingin menjauh.

Akhirnya, ia mengangguk kecil. "Baik, Pa... tapi sebentar saja."

"Tenang," jawab Bastian sambil menatapnya lama. "Papa nggak akan lama."

Tatapan itu lagi. Tatapan yang tidak seharusnya dimiliki seorang mertua.

Dan untuk pertama kalinya pagi itu, Adelia merasakan sesuatu yang lebih kuat daripada ketakutan, yakni naluri untuk melindungi dirinya sendiri.

Pagi itu, matahari masih terasa lembut ketika Adelia menaiki mobil bersama Bastian Erlangga. Mesin mobil SUV mewah itu bergetar halus, sementara Bastian duduk di kursi pengemudi dengan tenang, kedua tangannya memegang setir seperti seseorang yang benar-benar menikmati kendali penuh.

Adelia duduk di kursi penumpang, merapat sedikit ke arah jendela. Ia memegang tasnya erat-erat seolah benda itu dapat menjadi tameng baginya.

Kaca mobil memantulkan bayangan wajahnya-tersenyum tipis, padahal hatinya kacau.

"Sudah lama kita nggak pergi berdua begini, ya?" ucap Bastian sambil menghidupkan radio dengan volume rendah.

Adelia memaksakan senyum. "Seingat saya... kita belum pernah jalan cuma berdua, Pa."

"Oh ya?" Bastian meliriknya sekilas dengan senyum itu -senyum yang membuat Adelia ingin menahan napas.

"Berarti ini pertama kali kita pergi berdua, Papa senang."

Adelia tidak menjawab. Tangannya memainkan resleting tas, sekadar memberi kesibukan agar ia tidak menunjukkan ketegangan wajahnya.

Mobil melaju keluar gerbang rumah, melewati jalanan kompleks perumahan yang masih sepi. Pagi itu seharusnya terasa damai, tapi udara di dalam mobil justru penuh tekanan yang menekan pundak Adelia.

Bastian meliriknya lagi.

"Kemarin kamu bilang susah tidur, masih kepikiran sesuatu?" tanya Bastian.

Adelia menelan ludah. "Enggak, Pa. Aku cuma capek."

"Capek bisa hilang kalau ada yang nemenin," jawab Bastian dengan nada ringan namun ambigu. "Papa ada di sini, Del. Kamu nggak sendirian."

Adelia memalingkan wajah ke jendela, pura-pura melihat pohon-pohon pinggir jalan. "Tolong cepat sampai..."batinnya.

Supermarket besar itu sudah mulai dipenuhi pengunjung yang ingin berbelanja kebutuhan rumah tangga. Bastian memarkir mobil, lalu keluar dengan langkah mantap.

Ia menghampiri pintu mobil sebelah Adelia dan membukanya.

Refleks, Adelia melangkah turun sambil berkata, "Pa, saya bisa buka pintu sendiri."

Bastian tersenyum lembut. "Papa cuma ingin bantu."

Ketika mereka berjalan menuju pintu masuk supermarket, beberapa orang sempat melirik. Mungkin karena cara Bastian berjalan sedikit terlalu dekat dengan Adelia, atau mungkin karena gestur tubuhnya yang seperti melindungi.

Adelia mempercepat langkahnya sedikit, mencoba

menciptakan jarak. Tapi, Bastian ikut mempercepat langkah tanpa terlihat memaksa.

"Pa, saya ambil troli dulu, ya?" ucap Adelia buru-buru.

Namun, Bastian justru mengambil troli terlebih dahulu dan mendorongnya dengan santai.

"Biar Papa yang dorong. Kamu tinggal pilih barang yang kamu butuhin!" ujar Bastian.

"Itu biasanya tugas saya, Pa..."

"Sekarang jadi tugas Papa," jawab Bastian sambil tersenyum.

Adelia hanya mengangguk, walau dalam hatinya ia bingung harus bagaimana.

Lorong pertama dipenuhi rak-rak berisi deterjen dan pewangi pakaian. Adelia mengambil daftar belanja dari tasnya, tapi otaknya sulit fokus.

Ketika ia hendak mengambil sabun cuci, tangan Bastian tiba-tiba muncul di sampingnya-dekat sekali.

"Yang ini wanginya enak, Del," ujar Bastian sambil mengangkat botol pewangi.

Adelia mundur selangkah kecil. "I-Iya, Pa... tapi biasanya saya pakai yang biru."

"Yang ini lebih lembut, cocok buat kulit kamu."

Adelia terdiam. Kalimat itu terlalu personal, terlalu...

salah.

Beberapa ibu rumah tangga yang sedang belanja di lorong itu melihat mereka, lalu tersenyum hangat seolah melihat pasangan suami-istri yang sedang berdiskusi ringan.

Salah satunya bahkan berkata pelan pada temannya, "Romantis banget ya, bapak-ibunya."

Adelia langsung menunduk. Pipinya memanas, bukan karena malu, tapi karena salah paham itu menusuk seperti duri.

Bastian hanya tersenyum tipis mendengar itu, seolah

tidak terganggu sama sekali atau justru senang.

Di lorong makanan ringan, Bastian lagi-lagi berjalan terlalu dekat.

"Kamu suka keripik ini, kan?" tanyanya sambil mengambil satu bungkus.

Adelia mengangguk kaku. "I-Iya, Pa."

"Papa ingat kamu pernah makan ini di rumah waktu pertama kali ketemu Papa," ucap Bastian lirih namun jelas.

Adelia berhenti. Ia tidak ingat pernah menceritakan hal itu. Tapi, Bastian... ingat.

Dengan suara nyaris tidak terdengar, Adelia berkata, "Pa, saya ambil roti dulu ke lorong sebelah, ya."

"Papa ikut."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!