NovelToon NovelToon
One Night Stand

One Night Stand

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Genius / Romansa Fantasi / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:5.4k
Nilai: 5
Nama Author: septian123

Elvara Naysha kembali ke kota setelah lima tahun, membawa rahasia terbesar dalam hidupnya yaitu seorang putra bernama Rheon.

Ia ingin memulai hidup baru, sampai takdir mempertemukannya lagi dengan Zayden Alvero, CEO dingin yang pernah menghabiskan satu malam bersamanya.

Zayden tak mengingat masa lalu itu, tetapi ia tak bisa mengabaikan wajah Rheon yang terlalu mirip dengannya.

Saat Zayden mulai mengejar kebenaran, Elvara harus memilih antara lterus menyembunyikan rahasia itu, atau menghadapi pria yang mungkin masih memiliki hatinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon septian123, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 6 Anak Hilang Di Lobby

Sore itu Elvara menatap layar laptop dengan kepala yang mulai berat. Sejak siang ia berkutat dengan revisi presentasi, rapat mendadak, dan tumpukan email yang datang tanpa jeda seolah semua orang mendadak mengingat keberadaan divisi kreatif di hari yang sama.

Surat pengunduran dirinya masih tersimpan di folder draft, belum juga berani dikirim. Setiap kali kursor mendekati tombol kirim, ada suara lain yang mengingatkannya bahwa ia membutuhkan pekerjaan ini lebih dari sekadar harga diri.

Ia membutuhkan kestabilan. Ia membutuhkan biaya sekolah Rheon. Ia membutuhkan hidup yang aman dan teratur.

Sayangnya, aman adalah hal terakhir yang ia rasakan sejak bertemu kembali dengan Zayden Alvero.

Elvara menyandarkan punggung ke kursi sambil memijat tengkuk. Kantor mulai sedikit lebih sepi dibanding siang tadi, tetapi suara printer, dering telepon, dan langkah kaki di lorong masih terdengar bersahutan. Ia mencoba membaca ulang file presentasi di layar, namun isi kepalanya justru dipenuhi tatapan pria itu.

Cara Zayden menatap selalu membuat orang merasa sedang diuji. Seolah ia tak hanya melihat wajah seseorang, tetapi juga celah yang disembunyikan di baliknya.

Ponselnya bergetar di atas meja. Nama Nira muncul di layar.

Nira adalah babysitter yang baru dua minggu ia pekerjakan. Perempuan dua puluh enam tahun itu sabar, cekatan, dan cukup cepat akrab dengan Rheon. Hari ini daycare tutup lebih awal karena perawatan gedung, jadi Elvara meminta Nira menjemput Rheon lalu menunggu di lobby kantor sampai jam pulang.

Ia segera mengangkat panggilan.

"Halo?"

"Bu Elvara, maaf mengganggu," suara Nira terdengar panik dan terburu-buru. "Rheon... Rheon hilang."

Tubuh Elvara langsung menegang. Jari-jarinya mencengkeram sisi meja tanpa sadar.

"Apa maksudnya hilang?"

"Tadi kami duduk di area tunggu lobby. Saya cuma menoleh sebentar saat menjawab telepon ibu saya. Setelah itu Rheon sudah tidak ada di kursi."

Jantung Elvara seperti dijatuhkan dari ketinggian. Darah di wajahnya serasa surut dalam satu detik.

"Sudah cari ke mana?"

"Ke toilet, taman depan, area resepsionis. Security juga sedang bantu cari."

"Aku turun sekarang."

Ia menutup telepon dengan tangan gemetar. Kursi terdorong keras saat ia berdiri. Beberapa staf menoleh heran, tetapi ia tak peduli.

Rheon hilang.

Dua kata itu memukul semua logika dan ketenangan yang ia paksa sejak pagi. Ia meraih tas, ponsel, lalu berlari ke lift tanpa sempat mengambil napas panjang.

Tombol turun terasa bergerak terlalu lambat. Begitu pintu terbuka, ia masuk dan menekan lobby berkali-kali seolah itu bisa mempercepat laju lift.

"Ayo..." bisiknya pelan.

Di sisi lain gedung, lobby Alvero Group sedang lebih ramai dari biasanya. Beberapa tamu perusahaan datang bergantian, karyawan keluar masuk membawa map dan tablet, sementara pintu otomatis terbuka tutup tanpa henti.

Suara langkah kaki, bunyi sepatu hak, dan percakapan singkat bercampur menjadi satu. Bagi orang dewasa itu rutinitas biasa, tetapi bagi seorang anak lima tahun, tempat itu seperti labirin besar yang mengilap.

Di tengah keramaian itu, Rheon berdiri sendirian.

Bocah kecil tersebut memegang robot plastik di tangan kanan dan menatap sekeliling dengan rasa ingin tahu yang lebih besar daripada rasa takut. Tadi ia melihat air mancur kecil di sudut lobby, lalu berjalan mendekat karena cahaya lampunya menarik perhatian.

Setelah itu ia tertarik pada patung logam besar di dekat lift. Ketika menoleh kembali, kursi tempat Nira duduk sudah tertutup kerumunan orang dewasa.

"Mbak Nira?" panggilnya.

Tak ada jawaban.

Rheon mengerucutkan bibir. Ia tahu satu aturan penting dari Mommy. Kalau tersesat, diam di tempat dan cari orang dewasa baik.

Masalahnya, bagaimana cara tahu siapa orang dewasa baik?

Ia mengamati orang-orang yang lewat satu per satu. Pria berjas sambil bicara keras di telepon tampak menyeramkan. Wanita bertumit tinggi berjalan terlalu cepat. Satpam di pintu sedang sibuk membantu tamu membawa barang.

Rheon menghela napas kecil seperti orang dewasa kelelahan.

"Semua sibuk sekali," gumamnya.

Ia memutuskan berjalan pelan ke dekat meja resepsionis. Setidaknya di sana ada orang yang duduk diam dan terlihat tahu banyak hal.

Namun saat hendak berbelok, seseorang melintas dari arah lift dengan langkah panjang dan mantap. Rheon yang sedang menunduk melihat robotnya tak sempat menghindar.

Buk.

Tubuh kecilnya menabrak kaki pria itu dan hampir terjatuh. Sebuah tangan sigap menahan bahunya sebelum ia menyentuh lantai.

"Pelan."

Suara rendah dan tenang terdengar dari atas kepala.

Rheon mendongak.

Seorang pria tinggi berdiri di hadapannya. Setelan gelap rapi, wajah tampan tapi serius, dan mata tajam yang biasa membuat banyak orang dewasa gugup. Namun bagi Rheon, detail paling penting jauh lebih sederhana.

Pria ini sangat tinggi.

"Wah," ucap Rheon spontan.

Pria itu mengangkat alis.

"Wah?"

"Om tinggi sekali. Kalau jatuh pasti lama."

Dua staf yang berdiri tak jauh hampir tersedak menahan tawa. Sekretaris yang mengikuti pria itu bahkan buru-buru menunduk agar ekspresinya aman.

Pria tersebut menatap Rheon beberapa detik, lalu sudut bibirnya bergerak tipis. Sangat tipis sampai nyaris tak terlihat.

"Kamu sendirian?"

"Aku tadi sama Mbak Nira, terus lobby ini terlalu ramai."

"Nama kamu?"

"Rheon."

Pria itu mengulang nama tersebut dalam hati seolah menimbang sesuatu. Ada nada asing yang tertinggal di kepalanya.

"Orang tuamu di mana?"

"Mommy kerja di atas."

"Di perusahaan ini?"

"Iya. Mommy hebat."

Jawaban itu datang dengan kebanggaan penuh. Zayden, yang sedari tadi hendak menuju mobil untuk pertemuan luar kantor, justru berhenti total.

Ada sesuatu pada anak ini yang menarik perhatiannya sejak detik pertama. Bukan hanya karena keberanian menabrak lalu mengomentari tinggi badannya.

Wajah itu.

Garis mata tajam. Bentuk alis yang tegas. Cara menatap lurus tanpa rasa takut. Cara berdiri kecil dengan dagu sedikit terangkat.

Aneh sekali.

"Divisi apa ibumu?" tanyanya.

Rheon berpikir cukup lama.

"Divisi kerja keras."

Sekretaris Zayden memalingkan wajah karena hampir tertawa keras. Beberapa karyawan yang lewat juga menoleh penasaran.

Zayden berjongkok agar sejajar dengan tinggi anak itu. Gerakan sederhana tersebut justru membuat dua staf dekat lift saling pandang diam-diam.

CEO mereka terkenal dingin, hemat bicara, dan tak suka membuang waktu. Melihatnya berjongkok di depan anak kecil terasa seperti pemandangan langka.

"Nama ibumu siapa?" tanyanya lagi.

Rheon menatap curiga.

"Kenapa Om tanya banyak?"

"Supaya bisa membantu."

"Kalau Om penipu?"

Zayden menahan napas sepersekian detik.

"Menurutmu saya penipu?"

Rheon mengamati wajahnya serius dari atas sampai bawah.

"Enggak sih. Om terlalu rapi buat jadi penipu."

Kali ini sekretarisnya benar-benar menoleh ke samping agar tak tertawa di depan bos. Bahkan satpam di pintu ikut tersenyum samar.

Zayden sendiri hampir tersenyum. Anak ini aneh, dan anehnya menyenangkan.

Ia belum sempat bertanya lagi saat dari arah lift terdengar suara tergesa dan nyaris pecah.

"Rheon!"

Elvara berlari keluar dengan wajah pucat. Rambutnya sedikit berantakan, napas memburu, dan mata panik mencari ke seluruh lobby.

Begitu melihat anaknya, lututnya nyaris lemas karena lega.

Namun langkahnya berhenti mendadak saat sadar siapa yang berdiri di depan Rheon.

Zayden Alvero.

Dan putranya.

Dunia terasa membeku beberapa detik. Semua suara di lobby seperti menjauh, menyisakan bunyi jantungnya sendiri.

Rheon melambaikan tangan riang.

"Mommy, aku di sini."

Elvara memaksa kakinya bergerak mendekat. Setiap langkah terasa seperti berjalan di atas kaca tipis yang bisa pecah kapan saja.

Ia langsung meraih Rheon dan memeluknya erat.

"Jangan pergi sendiri lagi."

"Aku cuma lihat air mancur."

"Rheon."

"Maaf."

Nada lembut namun tegas itu berhasil membuat bocah tersebut diam. Elvara lalu mengangkat wajah pada Zayden. Seluruh tubuhnya tegang meski berusaha terlihat tenang.

"Terima kasih, Pak. Maaf merepotkan."

Zayden tidak langsung menjawab. Pandangannya berpindah dari Elvara ke Rheon, lalu kembali lagi.

Lama.

Terlalu lama.

Anak itu berada di pelukan Elvara sambil memegang robot kecil. Dari dekat, kemiripan yang tadi samar kini terasa semakin mengganggu kepala Zayden.

Bukan hanya mata. Cara berdiri. Garis bibir saat menahan protes. Sorot wajah saat menatap sesuatu yang baru.

Ia tak menyukai perasaan ini. Seolah ada sesuatu yang hampir ia sentuh, tetapi terus lolos sebelum dikenali.

"Anak Anda?" tanyanya akhirnya.

Elvara merasakan jantungnya menghantam tulang rusuk.

"Iya."

"Namanya Rheon."

"Iya."

"Usianya?"

"Lima tahun."

Jawaban terakhir hampir membuat udara di sekitarnya berubah. Mata Zayden menyempit tipis, bukan karena marah, tetapi karena sedang menghitung sesuatu di kepalanya.

Lima tahun.

Ia menatap bocah itu lagi. Rheon balas menatap tanpa gentar, bahkan mengangkat robotnya dengan bangga.

"Om, tadi aku bilang Mommy hebat."

Elvara ingin waktu berhenti. Jika bisa, ia ingin menarik anaknya pergi sebelum satu kata lagi keluar.

Zayden mengalihkan pandangan pada Elvara.

"Dia banyak bicara."

"Dia memang aktif."

"Dia cerdas."

"Terima kasih."

Setiap jawaban Elvara pendek dan cepat, seperti orang yang ingin segera menutup pintu. Zayden menyadarinya dengan jelas.

"Kenapa Anda tampak tegang, Bu Elvara?"

"Aku..." Ia cepat memperbaiki diri. "Saya hanya kaget melihat anak saya di sini."

Rheon menarik lengan ibunya.

"Mommy, Om tinggi bilang pelan."

"Bagus. Sekarang kita pulang."

Elvara menggenggam tangan Rheon dan berniat pergi. Namun suara Zayden menghentikannya sekali lagi.

"Bu Elvara."

Ia menoleh dengan susah payah.

"Besok pagi bawa konsep kampanye baru ke ruang saya."

Nada profesional. Perintah biasa yang tak bisa dibantah.

Namun mata pria itu sama sekali tidak biasa. Mata itu sedang menghubungkan banyak hal.

"Baik, Pak."

Ia berjalan cepat menuju pintu keluar bersama Rheon. Nira datang dari sisi lobby dengan wajah pucat dan berkali-kali meminta maaf sambil hampir menangis, tetapi Elvara bahkan nyaris tak mendengarnya.

Ia hanya ingin keluar dari gedung itu secepat mungkin.

Di belakang mereka, Zayden masih berdiri di tempat.

Sekretarisnya berdeham pelan.

"Pak, rapat eksternal lima belas menit lagi."

Zayden tetap menatap pintu kaca tempat Elvara baru keluar.

"Hmm."

"Pak?"

"Jadwal ulang."

Sekretaris itu terdiam sesaat.

"Baik, Pak."

Zayden memasukkan satu tangan ke saku celana, rahangnya mengeras. Ia jarang terganggu oleh hal personal. Hampir tak pernah.

Namun hari ini, seorang perempuan yang jelas menyembunyikan sesuatu dan seorang anak kecil bermata tajam berhasil mengacaukan fokusnya.

Lima tahun.

Wajah familiar.

Kepanikan Elvara.

Dan bocah bernama Rheon.

Zayden menoleh ke arah asistennya.

"Cari seluruh data personal Bu Elvara Naysha yang tersedia di HR."

"Pak?"

"Sekarang."

Sementara di luar gedung, Elvara memeluk Rheon lebih erat dari biasanya saat menunggu mobil berhenti di depan lobby. Anak itu mengeluh karena terlalu sesak, tetapi ia belum bisa melepaskan.

Ia tahu satu hal dengan jelas.

Rahasia yang ia jaga selama lima tahun baru saja menabrak kaki ayahnya sendiri.

1
Wiewi Maulana
kenapa jadi mutar mutar thor,dari awal cerita nya menarik padahal
Anto D Cotto
menarik
Anto D Cotto
lanjut crazy up Thor
Lisa
Akhirnya Zayden menanyakan hal itu..ayo Elvara jawablah dgn jujur..
Lisa
Koq Elvara kabur sih..mestinya dihadapi toh Zayden mau bertanggungjawab sebagai papanya Rheon...kembali Elvara kasihan Rheon..
Lisa
Cepat sembuh y Rheon..
Lisa
Kapan y Elvara mengakui bahwa Rheon adalah putranya Zayden
✮⃝🍌 ᷢ ͩ ~ Ꮢнιєz༄⃞⃟⚡
masih mbulleeedd
Nindy bantar
mampir thor seperti nya seru👍
Nindy bantar
💪💪💪
𝐀⃝🥀Weny
ikatan darah gak bisa dibohongi😊
Lisa
Kapan y Elvara mengatakan yg sebenarnya pada Zayden bahwa Rheon adalah putranya
Lisa
Nah ini saatnya Elvara mengakui semuanya..kalau Rheon adalah putra dari Zayden.
✮⃝🍌 ᷢ ͩ ~ Ꮢнιєz༄⃞⃟⚡
pusing thor, berulang-ulang terus dgn fakta yg itu2 aja😒
Lisa
Akhirnya Zayden tahu bahwa Rheon adalah putranya
Lisa
Nah udh keliatan sekrg klo Zayden emg mencintai Elvara
Hennyy exo
di bab ini penasaran banget sama masa lalu mereka🤭
Hennyy exo
suka banget alurnya
✮⃝🍌 ᷢ ͩ ~ Ꮢнιєz༄⃞⃟⚡
gasskeun lah bang zay.. selidiki rheon anak mu apa bukan.. biar makin jelas posisi mu saat membela n mempertahankan keberadaannya
Lisa
Kapan y Zayden bisa mendekati Rheon lagi..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!