Dulu, Alya hanya gadis pendiam yang selalu menjadi sasaran ejekan di sekolah. Hari-harinya dipenuhi rasa takut, terutama karena Reno,ketua geng paling disegani sekaligus pria yang paling sering membuat hidupnya terasa menyakitkan. Bagi Alya, Reno adalah luka yang ingin ia lupakan selamanya.
Namun takdir mempertemukan mereka kembali setelah bertahun-tahun berlalu.
Kini, Alya telah berubah menjadi wanita mandiri dan sukses, sementara Reno bukan lagi remaja arogan seperti dulu. Di balik sikap dinginnya, Reno menyimpan penyesalan yang tak pernah sempat ia ungkapkan. Pertemuan mereka kembali membuka kenangan lama, menghadirkan benci yang perlahan berubah menjadi perasaan yang tak terduga.
Bisakah seseorang yang pernah menyakitimu menjadi rumah terbaik untuk hatimu? Atau masa lalu akan tetap menjadi penghalang di antara mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nana_riana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 19 — Kebenaran yang Tidak Ingin Diketahui
Sejak malam di rumah sakit itu, suasana antara Alya dan Reno berubah lagi.
Bukan karena mereka bertengkar.
Namun karena rahasia yang belum terungkap mulai menciptakan jarak perlahan.
Alya berusaha tetap tenang.
Ia mencoba percaya pada Reno.
Tetapi setiap kali mengingat ucapan Dimas dan ekspresi Reno yang selalu berubah setiap topik masa lalu dibahas, hatinya kembali dipenuhi kegelisahan.
Dan Reno menyadari itu.
Pria itu tahu Alya mulai takut lagi.
Pagi itu, Reno mengantar Alya ke kantor seperti biasa.
Namun suasana di dalam mobil jauh lebih sunyi dibanding biasanya.
“Kamu marah sama aku?” tanya Reno pelan sambil fokus menyetir.
Alya menggeleng kecil.
“Aku cuma banyak pikiran.”
Tatapan Reno melembut penuh rasa bersalah.
“Aku nggak pernah niat nyakitin kamu lagi.”
“Aku tahu.”
“Tapi?”
Alya menggigit bibir pelan sebelum akhirnya berkata,
“Aku capek terus takut sama rahasia yang belum aku tahu.”
Kalimat itu langsung membuat Reno terdiam.
Mobil perlahan berhenti di depan kantor.
Namun Reno belum membuka pintu.
Pria itu justru menatap Alya cukup lama.
“Aku memang masih nyimpen sesuatu.”
Deg.
Jantung Alya langsung berdebar tidak nyaman.
“Tapi aku takut kehilangan kamu kalau kamu tahu semuanya.”
Tatapan Alya langsung melemah.
Karena untuk pertama kalinya Ia melihat ketakutan yang benar-benar nyata di mata Reno.
“Apa separah itu?”
Reno tertawa kecil hambar.
“Buat aku? Iya.”
Suasana mendadak hening.
Dan sebelum Alya sempat bertanya lagi, Reno perlahan menggenggam tangannya.
“Aku janji bakal cerita.” Suaranya rendah penuh penyesalan. “Tapi jangan pergi sebelum kamu dengar semuanya dari aku sendiri.”
Deg.
Hati Alya terasa semakin berat.
Namun akhirnya ia mengangguk pelan.
“Oke.”
Reno tersenyum kecil lega meski matanya masih menyimpan kecemasan besar.
Siang harinya, Alya sedang bekerja ketika sebuah pesan masuk dari nomor tak dikenal.
“Kalau mau tahu siapa Reno sebenarnya, datang ke rooftop gedung lama SMA kalian jam 6 sore.”
Jantung Alya langsung berdetak cepat.
Firasat buruk muncul seketika.
Ia tahu pesan itu pasti berkaitan dengan Dimas.
Dan seharusnya Alya mengabaikannya.
Namun rasa penasaran mulai mengalahkan logikanya.
Sore menjelang malam.
Langit terlihat mendung saat Alya berdiri di rooftop gedung lama sekolahnya.
Tempat itu masih sama seperti dulu.
Sunyi.
Sepi.
Dan penuh kenangan yang ingin ia lupakan.
“Akhirnya datang juga.”
Alya langsung menoleh.
Dimas berdiri beberapa langkah di belakangnya sambil memasukkan tangan ke saku jaket.
“Apa maumu?” tanya Alya dingin.
Dimas berjalan mendekat perlahan.
“Aku cuma capek lihat lo terus dibohongin.”
“Aku nggak percaya sama kamu.”
“Nggak masalah.” Dimas tertawa kecil. “Makanya gue bawa bukti.”
Deg.
Alya langsung merasa tidak nyaman.
Dimas kemudian menyerahkan sebuah flashdisk kecil ke tangan Alya.
“Apa ini?”
“Video.”
Tatapan Dimas berubah serius.
“Video yang jadi awal semuanya.”
Napas Alya terasa tercekat.
Dan entah kenapa, tangannya mulai gemetar saat memegang flashdisk tersebut.
“Apa maksudnya?”
“Lo ingat video waktu lo nangis dulu?”
Wajah Alya langsung pucat.
Tentu saja ia ingat.
Hari paling memalukan dalam hidupnya.
“Video itu nggak cuma disebar ke sekolah.”
Deg.
“Apa?”
Tatapan Dimas perlahan berubah gelap.
“Video itu sempat viral di luar sekolah juga.”
Dunia Alya terasa berhenti sesaat.
“Aku bohong…”
“Reno tahu soal itu.”
Air mata Alya langsung mulai menggenang.
“Nggak mungkin…”
“Dia tahu lebih cepat daripada siapa pun.” Dimas tersenyum tipis pahit. “Dan lo tahu siapa orang pertama yang merekam video itu?”
Jantung Alya terasa seperti diremas kuat.
“Aku nggak mau dengar.”
Namun Dimas tetap melanjutkan tanpa belas kasihan.
“Reno.”
Deg.
Tubuh Alya langsung membeku total.
Angin malam berembus dingin di rooftop sekolah, tetapi semuanya terasa jauh lebih menusuk dibanding itu.
“Nggak…” suara Alya mulai bergetar. “Kamu bohong.”
Dimas langsung mengeluarkan ponselnya lalu memutar sebuah video pendek.
Dan saat layar itu menghadap Alya napasnya langsung berhenti.
Video dirinya yang sedang menangis di belakang sekolah.
Suara tawa beberapa siswa terdengar samar.
Dan di pojok video…
terlihat jelas suara Reno.
“Alya nangis lagi.”
Ponsel di tangan Alya hampir jatuh.
Matanya langsung dipenuhi air mata.
“Reno yang mulai semuanya,” ucap Dimas lirih. “Makanya dia nggak pernah berani cerita.”
Tubuh Alya mulai gemetar hebat.
Pikirannya kacau.
Dadanya terasa sesak.
Karena semua pengakuan Reno selama ini mendadak terasa berbeda.
Bukan lagi hanya pembully yang menyesal.
Tetapi orang yang mungkin menjadi awal kehancuran dirinya dulu.
“Alya.”
Suara berat Reno tiba-tiba terdengar dari belakang.Alya langsung menoleh cepat.
Reno berdiri di pintu rooftop dengan wajah pucat dan napas sedikit terengah.
Tatapannya langsung jatuh pada video di tangan Dimas.
Dan di detik itu Alya tidak perlu mendengar jawaban apa pun lagi.Karena ekspresi Reno sudah mengatakan semuanya.
“Alya…”
Suara Reno terdengar pelan penuh kepanikan.
Namun Alya justru mundur satu langkah darinya.Air matanya terus jatuh tanpa bisa dihentikan.
“Ini benar?” tanyanya dengan suara bergetar.
Reno langsung memejamkan mata sesaat.
Dan diamnya itu terasa jauh lebih menyakitkan daripada kebohongan apa pun.
“Jawab aku, Reno!”
Akhirnya pria itu mengangguk pelan.
Deg.
Dunia Alya benar-benar runtuh saat itu juga.
“Tapi aku nggak pernah niat nyebarin video itu,” ujar Reno cepat. “Awalnya cuma buat bercanda sama anak-anak lain.”
“Bercanda?” Alya tertawa kecil penuh luka. “Hidup aku hancur gara-gara itu!”
Rahang Reno mengeras penuh penyesalan.
“Aku tahu.”
“Nggak, kamu nggak tahu!” suara Alya mulai meninggi karena emosi. “Aku sampai takut datang sekolah! Aku malu ketemu orang!”
Setiap kalimat Alya terasa seperti pisau yang menusuk dada Reno tanpa ampun.
Karena semua itu benar.
Dan ia adalah penyebabnya.
“Aku nyesel setiap hari,” bisik Reno lirih.
“Tapi semuanya udah kejadian!”
Air mata Alya jatuh semakin deras.
Sementara Dimas hanya berdiri diam memperhatikan mereka dengan tatapan rumit.
“Aku benci diri aku waktu itu,” lanjut Reno dengan suara serak. “Makanya aku nggak pernah berani cerita.”
Tatapan Alya penuh kekecewaan.
“Jadi selama ini kamu pura-pura jadi orang baik sambil nyimpen rahasia sebesar ini?”
“Nggak pernah pura-pura.” Reno mendekat perlahan. “Perasaan aku ke kamu nyata.”
“Tapi luka aku juga nyata, Reno.”
Deg.
Kalimat itu membuat Reno membeku.
Dan untuk pertama kalinya sejak mereka bersama Alya menatap Reno bukan dengan cinta, melainkan dengan rasa sakit yang begitu dalam.
“Aku nggak bisa…” bisiknya lirih sambil mundur lagi. “Aku nggak kuat sekarang.”
“Alya, please jangan pergi.”
Namun Alya sudah terlalu hancur untuk bertahan lebih lama di sana.
Dengan air mata yang terus jatuh, ia akhirnya berbalik pergi meninggalkan Reno sendirian di rooftop sekolah tempat semua luka mereka dulu dimulai kembali.