NovelToon NovelToon
Raja Ruang & Waktu Di Akademi Para Iblis

Raja Ruang & Waktu Di Akademi Para Iblis

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Balas Dendam
Popularitas:5.3k
Nilai: 5
Nama Author: RavMoon

Terlahir kembali di dunia yang dipenuhi Iblis dan Malaikat Jatuh bukanlah rencana Saiba Ren. Sebagai mantan Raja Dewa yang pernah mengguncang Alam Ilahi, ia kini harus memulai segalanya dari nol di Akademi Kuoh dengan identitas baru.
​Namun, Ren tidak datang sendirian. Di balik penutup matanya yang misterius, tersimpan kekuatan Six Eyes yang mampu menembus struktur semesta, dan di dalam jiwanya, istri-istri tercintanya masih tertidur dalam dimensi rahasia yang menunggu untuk dibangkitkan. Di dunia di mana Sacred Gear dan garis keturunan adalah segalanya, Ren hadir sebagai anomali yang tidak bisa diukur oleh logika sistem mana pun.
​Saat faksi-faksi besar mulai mengincar kekuatannya, Ren hanya memiliki satu prinsip: "Dunia ini boleh punya aturannya sendiri, tapi akulah yang menentukan kapan aturan itu berlaku bagiku." Bisakah ia membangun kembali kejayaannya sambil menjaga kedamaian haremnya yang perlahan terbangun?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RavMoon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11.Ikatan

Lampu minyak di dalam ruang utama gedung Klub Ilmu Gaib berkerlip pelan, melemparkan bayangan panjang yang menari di dinding kayu yang dipenuhi rak buku tua. Aroma teh hitam yang baru diseduh seharusnya memberikan ketenangan, namun suasana di dalam ruangan itu terasa sangat mencekam. Rias Gremory duduk di kursi kebesarannya, jemarinya yang lentik mengetuk-ngetuk permukaan meja kayu dengan irama yang tidak sabar. Di sampingnya, Akeno Himejima berdiri tegak dengan senyum misterius yang biasanya menenangkan, namun kali ini matanya menunjukkan kewaspadaan yang tajam.

Pintu ganda ruangan itu terbuka dengan suara berderit pelan. Kiba Yuuto dan Koneko Toujou melangkah masuk. Penampilan mereka jauh dari kata rapi; seragam Kiba robek di bagian bahu, sementara Koneko tampak sedikit pucat dengan debu yang masih menempel di roknya.

Rias berhenti mengetuk meja. Mata biru kehijauannya menatap kedua pionnya itu dengan saksama. "Laporannya," ucap Rias, suaranya rendah namun penuh otoritas yang tak terbantahkan.

Kiba menundukkan kepalanya dalam-dalam, sebuah gestur permintaan maaf. "Kami gagal, Buchou. Saiba Ren... dia bukan sekadar manusia yang memiliki kekuatan. Apa yang kami hadapi di taman tadi... itu bukan sesuatu yang bisa kami ukur dengan logika sihir."

"Gagal?" Akeno menyela, suaranya lembut namun mengandung nada terkejut. "Kalian berdua adalah petarung jarak dekat terbaik di klub ini. Bagaimana mungkin seorang murid pindahan bisa membuat kalian kembali dalam keadaan seperti ini tanpa luka luar yang berarti?"

Koneko maju satu langkah, suaranya yang datar terdengar sedikit bergetar. "Dia tidak memukulku, Buchou. Dia hanya menjentikkan jarinya, dan aku merasa seolah-olah seluruh ruang di sekitarku menghantamku. Dan saat aku mencoba memukulnya... tanganku berhenti. Ada jarak yang tidak bisa kutembus di antara kami."

Rias berdiri dari kursinya, berjalan perlahan menuju jendela besar yang menghadap ke arah taman belakang sekolah yang kini gelap gulita. "Jarak yang tidak bisa ditembus? Manipulasi ruang?"

"Benar, Buchou," tambah Kiba. "Bahkan Sword Birth milikku dihancurkan hanya dengan satu hentakan kaki. Dia tidak menggunakan lingkaran sihir, tidak memanggil senjata, dan tidak ada hawa keberadaan Sacred Gear. Dia hanya... berdiri di sana, dan alam semesta seolah-olah tunduk pada kehendaknya."

Kiba kemudian merogoh saku seragamnya dan mengeluarkan serpihan logam hitam yang telah kehilangan cahayanya—sisa dari pedang sihirnya yang hancur. "Dia juga mengambil sesuatu dari bawah air mancur. Sebuah fragmen dengan energi suci yang sangat murni. Tapi yang paling mengganggu adalah pesannya."

Rias menoleh, rambut merahnya berkilau terkena cahaya lampu. "Apa katanya?"

"'Jangan mencoba memancing di air yang terlalu dalam jika kalian tidak siap bertemu dengan apa yang bersembunyi di dasarnya,'" Kiba mengulangi kata-kata Ren dengan nada parau.

Hening sejenak menyergap ruangan itu. Akeno menuangkan teh ke dalam cangkir Rias, uapnya membubung tipis. "Dia sangat percaya diri, ya? Atau mungkin dia sedang memperingatkan kita agar tidak menjadi korban dari kekuatannya sendiri."

Rias mengambil cangkir teh itu namun tidak meminumnya. Ia menatap pantulan dirinya di permukaan air teh yang gelap. "Dia tahu siapa kita sejak awal. Dia menyebut nama keluargaku dengan sangat santai, seolah-olah gelar 'Gremory' tidak lebih dari sekadar nama belakang biasa baginya. Sona benar... dia adalah variabel yang merusak seluruh perhitungan kita."

[SISTEM: Deteksi pemantauan jarak jauh melalui media air. Rias Gremory mencoba melakukan pelacakan lokasi Anda melalui sisa energi di ruangan ini.]

[REN: Biarkan dia mencoba. Berikan dia bayangan sebuah ruang hampa yang tidak berujung agar dia tahu batasannya.]

Di dalam ruang klub, Rias tiba-tiba melepaskan cangkir tehnya hingga jatuh dan pecah di lantai. Ia memegangi kepalanya sejenak, wajahnya sedikit pucat. "Kosong... saat aku mencoba melacak jejak energinya, aku hanya melihat kegelapan yang tak terbatas. Seolah-olah dia tidak ada di dunia ini, namun ada di mana-mana pada saat yang sama."

"Buchou!" Kiba dan Akeno segera mendekat untuk membantu.

Rias menarik napas panjang, menstabilkan kembali energinya. "Aku baik-baik saja. Tapi mulai sekarang, jangan ada yang mendekati Saiba Ren sendirian. Jika dia benar-benar bukan musuh, kita harus menemukan cara untuk membuatnya setidaknya tetap netral. Tapi jika dia adalah ancaman..."

Rias tidak melanjutkan kalimatnya, namun kilatan energi merah di matanya memberikan jawaban yang jelas.

"Akeno, siapkan pertemuan dengan Sona besok pagi. Kita perlu menggabungkan informasi. Dan Kiba, Koneko... beristirahatlah. Besok kita akan menghadapi hari yang lebih panjang di sekolah."

Kiba dan Koneko membungkuk hormat lalu meninggalkan ruangan. Rias kembali menatap ke arah jendela, ke arah asrama tempat Ren kemungkinan besar sedang berada. Di dalam hatinya, rasa penasaran yang besar mulai berubah menjadi sesuatu yang lebih kompleks—rasa hormat yang dipaksakan terhadap predator yang jauh lebih kuat darinya.

1
Chandra
lanjut lagi lebih banyak lagi
Chandra
lanjut mana sih
Chandra
lanjut mana
Chandra
lanjut lagi
Chandra
mana lanjutnya
Chandra
lanjut lagi seru ini
Chandra
lanjut lagi
Chandra
lanjut
Chandra
mana lanjutnya 😭
Chandra
mana lanjutnya
Chandra
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!