Nyx Morrigan, gadis yang terbuang dari keluarga konglomerat Beckham, Di usia ke-19 tahun Pelariannya membawanya bertemu Knox Lambert Riccardo, mahasiswa teknik sekaligus petarung jalanan.
Di bawah atap apartemen mewah Knox, rahasia Nyx perlahan terkuak, mengubah hubungan menjadi ikatan emosional yang intens.
Saat identitas asli Nyx terungkap, Knox justru menjadi pelindung utama dari kekejaman Dari keluarga nya.
Ketegangan memuncak ketika nama "Morrigan" ternyata menyimpan rahasia darah yang lebih besar dari sekadar skandal keluarga Beckham.
Di tengah konflik identitas, pengkhianatan keluarga, dan dunia yang berbahaya, Nyx harus memilih antara terus bersembunyi atau menyerahkan hatinya sepenuhnya kepada Knox.
Sebuah kisah tentang pencarian rumah, Untuk Rasa Sakit, dan penyembuhan luka.
.
Happy reading dear 🦋
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#7
Apartemen Knox Lambert Riccardo di pagi hari terasa jauh berbeda dari kekacauan semalam. Sinar matahari Los Angeles yang masuk melalui jendela setinggi langit-langit menyapu debu-debu halus yang menari di udara, memberikan kesan tenang yang kontras dengan detak jantung Nyx yang masih tidak beraturan.
Sambil menunggu Knox yang masih berada di dalam kamar mandi—dengan suara air yang sesekali terdengar samar—Nyx melangkah menuju dapur. Dapur itu adalah impian setiap koki: marmer hitam yang dingin, peralatan baja tahan karat yang berkilau, dan tata letak yang sangat efisien.
Nyx menarik napas dalam, mencoba menenangkan pikirannya yang kalut. Ia membuka lemari pendingin besar dua pintu di sudut ruangan dan seketika tertegun.
"Lengkap sekali..." gumamnya.
Rupanya, di balik gaya hidup Knox yang tampak berantakan sebagai petarung jalanan, isi lemari esnya sangat terorganisir. Ada berbagai jenis daging segar, sayuran hijau yang masih renyah, berbagai macam keju, hingga stok telur dan susu organik. Sepertinya Knox adalah tipe pria yang sangat memerhatikan asupan proteinnya, atau mungkin ia punya pelayan yang rutin mengisi stok ini.
Nyx mulai bergerak dengan cekatan. Memasak adalah satu-satunya hal yang membuatnya merasa memegang kendali. Sejak kecil, di paviliun belakang mansion Beckham yang sunyi, Nyx sering menyelinap ke dapur untuk membantu para pelayan atau sekadar bereksperimen sendiri saat Agnesia sedang dalam kondisi mental yang tidak stabil. Baginya, memotong sayuran dengan presisi adalah bentuk meditasi.
Ia mengambil beberapa butir telur, daging asap, asparagus, dan jamur. Tak butuh waktu lama bagi aroma mentega yang meleleh dan bawang putih yang ditumis untuk memenuhi ruangan. Suara desis penggorengan seolah menjadi musik latar yang menenangkan.
Klik.
Pintu kamar terbuka. Nyx menoleh sekilas dan hampir saja mengiris jarinya sendiri.
Knox keluar hanya dengan handuk putih yang melilit rendah di pinggangnya, memamerkan otot perut yang keras dan tetesan air yang masih mengalir di dada bidangnya yang penuh lebam. Rambut Hitamnya basah dan berantakan, memberikan kesan liar yang sangat menggoda.
"Wah, wah... sepertinya aku benar-benar melakukan investasi terbaik dalam hidupku semalam dengan menampung mu, Nyx," ujar Knox dengan suara serak khas bangun tidur. Ia berjalan mendekat ke arah bar dapur, menghirup aroma masakan dengan mata terpejam. "Ternyata masakanmu aromanya luar biasa enak."
Nyx berusaha keras menjaga matanya tetap pada papan potong. "Aku hanya tidak suka berutang budi tanpa melakukan apa-apa."
Knox tertawa kecil, melangkah masuk ke area dapur yang sempit hingga tubuhnya yang panas hampir bersentuhan dengan punggung Nyx. "Tapi kemari... biar aku lanjutkan bagian ini. Kau harus mandi."
"Aku bisa menyelesaikannya sebentar lagi," tolak Nyx.
"Mandi, Nyx. Kau tidak ke kampus hari ini??" tanya Knox sambil mengambil alih spatula dari tangan Nyx dengan gerakan halus.
Nyx terdiam sejenak, menatap butiran bumbu yang mulai meresap ke dalam daging. "Aku belum mau ke kampus hari ini. Aku ingin menyendiri."
Knox menghentikan gerakannya. Ia menatap sisi wajah Nyx yang tampak muram. Pria itu mungkin tampak ceroboh, tapi ia memiliki insting yang tajam. Ia bisa merasakan ada beban yang jauh lebih berat dari sekadar kelelahan fisik di bahu gadis 19 tahun ini.
"Sepertinya kau punya masalah yang sangat besar," ucap Knox pelan, suaranya kini lebih serius. "Bahkan mungkin lebih besar dari masalahku semalam."
Nyx mendongak, menantang mata Knox. "Masalahmu?"
"Ya," Knox menghela napas, memasukkan sejumput lada hitam ke dalam masakan dengan gaya santai. "Aku kalah taruhan boxing. Dan itu memalukan sekali. Mereka curang, Nyx. Lawanku menggunakan serbuk gatal di sarung tinjunya. Aku merasa seperti pecundang yang gatal di tengah ring."
Nyx sedikit tersenyum tipis, sebuah reaksi langka. "Masalahmu itu tidak ada apa-apanya, Knox," jawabnya sambil kembali mengaduk sayuran di wajan lain.
"Tidak ada apa-apanya?" Knox memekik pelan, memperagakan sesuatu dengan mulutnya. "Motor BMW S 1000 RR milikku... BUM! Hangus jadi abu! Dan kau tahu? Aku sangat menyesal menerima tantangan itu semalam. Itu motor kesayanganku, baru empat bulan!"
Nyx menatap Knox yang sedang meratapi motornya dengan ekspresi yang hampir lucu jika saja pria itu tidak sedang bertelanjang dada. Nyx menurunkan pandangannya ke arah handuk Knox yang tampak berbahaya.
"Apa kau tidak takut handuk mu terlepas?" tanya Nyx datar. "Sana pakai baju. Kau membuatku tidak fokus memasak."
Knox terkekeh pelan, bukannya menjauh, ia justru bersandar pada meja dapur dan menatap Nyx dengan seringai nakal. "Kenapa? Kau menginginkannya semalam, bukan? Tidak apa-apa jika terlepas sekarang, kau sudah menyentuh nya semalam."
Nyx memutar matanya dengan jengah, namun rona merah di pipinya tidak bisa disembunyikan. Ia kembali fokus pada masakannya, mencoba mengabaikan kehadiran pria yang terlalu percaya diri ini.
Knox tersenyum melihat reaksi Nyx. Ia sendiri merasa heran. Biasanya, ia butuh waktu lama untuk membiarkan seseorang masuk ke ruang pribadinya, apalagi seorang gadis. Knox bukan remaja labil yang belum pernah berpacaran; sejak usia 18 tahun, ia sudah mengenal dunia kencan. Ciuman, dan Berpacaran bukanlah hal yang awam baginya. Ia sudah sering dikelilingi wanita cantik di klub atau di kampus.
Namun, Nyx berbeda.
Ada sesuatu yang magnetis pada gadis ini. Dan soal ciuman panas mereka semalam... Knox harus mengakui dalam hati bahwa itu luar biasa. Meskipun Nyx sedang dalam pengaruh obat, cara gadis itu membalas ciumannya terasa begitu nyata dan haus akan kasih sayang.
Lebih dari itu, ada satu fakta yang membuat Knox merasa terikat secara aneh pada Nyx. Semalam, saat ia membantu meredakan rasa panas Nyx di kamar mandi, itu adalah pertama kalinya Knox menggunakan tangannya untuk menyentuh bagian paling intim seorang wanita dengan cara yang begitu protektif sekaligus penuh gairah. Dan entah kenapa ia merasa perlu memperlakukan gadis itu dengan kelembutan yang bahkan tidak ia sadari ia miliki.
"Kau melamun, Knox. Masakannya akan gosong," tegur Nyx, membuyarkan lamunan pria itu.
"Oh, benar," Knox berdehem, mencoba menutupi kegugupannya. "Jadi, kalau kau tidak ke kampus, apa rencanamu hari ini? Membersihkan apartemenku seperti janjimu?"
Nyx menata piring dengan rapi. "Mungkin. Atau mungkin aku hanya akan tidur sepanjang hari untuk memastikan tidak ada lagi zat kimia sialan itu di otakku."
"Pilihan yang bagus," sahut Knox. Ia mengambil piring yang disodorkan Nyx dan mulai makan dengan lahap. "Tapi ingat satu hal, Nyx. Selama kau di sini, kau aman. Tidak akan ada yang berani menyentuhmu tanpa izinmu. Dan soal rahasia atau masalahmu... aku tidak akan bertanya sampai kau sendiri yang ingin bercerita."
Nyx menatap pria di depannya. Knox mungkin adalah petarung jalanan yang kasar, mesum, dan sombong, tapi di balik itu semua, ia memiliki kejujuran yang menenangkan. Untuk pertama kalinya setelah meninggalkan Inggris, Nyx merasa tidak perlu terus-menerus waspada.
"Terima kasih, Knox," ucap Nyx tulus.
"Sama-sama, Gadis Pelayan," goda Knox sambil mengedipkan sebelah matanya, kembali ke mode menyebalkannya.
Nyx hanya mendengus, namun di dalam hatinya, sebuah tembok besar yang ia bangun selama 19 tahun mulai menunjukkan retakan kecil. Dan ia tahu, Knox Lambert Riccardo adalah orang yang bertanggung jawab atas itu.
gasss baca sampai habis.... 🤭😁😂