Naura hanya seorang gadis yang jatuh cinta terlalu dalam… dan harus membayar semuanya dengan kehilangan.
Ditinggalkan oleh lelaki yang ia cintai 'tanpa pernah tahu bahwa itu semua hanyalah kebohongan kejam'. Naura memilih pergi, membawa luka dan kehidupan baru yang tumbuh dalam rahimnya sendirian.
Selama delapan belas tahun, ia bertahan di tengah kemiskinan, mengorbankan segalanya demi satu alasan: anaknya, Genesis.
Namun saat dunia Genesis hanya tersisa ibunya… takdir kembali merenggut satu-satunya alasan ia bertahan hidup.
Kini, di antara sepi, kehilangan, dan batas tipis antara kewarasan dan kegilaan…
Satu minggu kemudian, Alexa datang menyelamatkan Genesis yang sedang terpuruk setelah Naura meninggal.
Namun ternyata, Alexa adalah Naura...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zhafira nabhan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 13
Malam itu, suasana di dalam rumah terasa sangat berbeda. Hujan turun dengan rintik-rintik pelan di luar, membuat udara menjadi sejuk dan nyaman. Di atas meja kayu kecil yang sudah digosok bersih oleh Alexa, tersusun rapi beberapa piring berisi makanan hangat.
Menunya sederhana saja, nasi putih mengepul, sayur bening dengan aroma bawang merah yang menggugah selera, tahu dan tempe goreng yang masih renyah, serta sambal terasi buatan tangan yang baunya langsung membuat perut keroncongan.
Tapi bagi Genesis, ini bukan sekadar makanan. Ini adalah sebuah pesta. Ini adalah kehangatan yang sudah lama hilang dari hidupnya.
“Wah… hari ini spesial banget kayaknya?” tanya Genesis sambil menarik bangku kecil untuk duduk.
Matanya berbinar-binar menatap hidangan di hadapannya, lalu beralih menatap wajah Alexa yang sedang menuangkan air putih ke gelasnya.
Alexa tersenyum lembut, ada kilatan bangga dan sayang di matanya. “Iya dong, kan hari ini kamu dapat bonus dari kerja kan? Jadi kita harus rayain sedikit. Lagian… aku pengen liat kamu makan banyak dan kenyang.”
Ia duduk di hadapan Genesis, tepat di seberang meja. Mereka berhadapan, hanya dipisahkan oleh jarak beberapa puluh centimeter yang terasa begitu hangat.
“Makasih ya, Lex. Serius deh,” kata Genesis lagi, suaranya terdengar tulus dan dalam.
Ia mengambil sendok dan garpu, tapi tangannya berhenti sejenak di udara. “Dulu, sebelum Ibu sakit, setiap pulang sekolah atau pulang kerja, gue selalu disambut sama makanan hangat gini. Suasananya persis banget. Baunya juga… persis banget.”
Ia menatap mata Alexa lekat-lekatkan. “Kenapa ya? Kenapa semuanya tentang kamu tuh selalu ngingetin gue sama Ibu?”
Alexa menelan ludah yang terasa berat di tenggorokan. Dadanya sesak, tapi ia memaksakan senyum tetap terukir di bibirnya.
“Mungkin… karena caranya mengurus rumah dan masak itu kan standarnya ya, Gen. Siapa juga yang masak sayur pasti baunya gitu,” jawabnya berusaha santai, meski suaranya sedikit bergetar. “Ayo makan, nanti keburu dingin.”
“Hmm.” Genesis tidak memaksa, ia mulai menyendok nasi dan memasukkannya ke mulut.
Satu suapan. Dua suapan.
Wajah Genesis yang tadinya tersenyum perlahan berubah. Gerakan tangannya terhenti. Matanya membelalak sedikit, seolah ia baru saja menemukan sesuatu yang sangat ajaib dan mengejutkan.
“Lex…” panggilnya pelan, suaranya terdengar serak.
“Iya? Kenapa? Kurang asin ya? Atau kebanyakan pedes?” Alexa langsung bertanya cemas, siap bangkit ingin mengambil bumbu.
“Bukan!” Genesis menggeleng cepat, ia meletakkan sendoknya, lalu menatap Alexa dengan mata yang mulai berkaca-kaca. “Bukan soal rasa asin atau manis. Ini… ini rasanya.”
“Rasanya gimana?”
“Rasanya… rasanya kayak pulang, Lex. Rasanya kayak waktu kecil,” bisik Genesis, suaranya pecah. Ia menunduk, memainkan ujung sendoknya untuk menyembunyikan emosinya.
“Gue ngerasa… gue ngerasa kayak anak kecil lagi yang lagi makan masakan ibunya sendiri. Rasanya bikin kangen banget. Rasanya bikin rindu berat.”
Alexa memegangi dadanya sendiri. Jantungnya berdegup kencang, rasanya ingin meledak.
Itu karena memang ibu yang masak, Nak. Itu karena tangan ini yang selalu masakin kamu dari bayi sampai besar. Resep ini resep rahasia Ibu yang nggak ada yang tau!
“Enak ya?” tanya Alexa dengan suara parau.
“Enak banget. Enak sampai rasanya nyesek di dada,” jawab Genesis jujur.
Ia mendongak lagi, menatap Alexa dengan tatapan yang sulit dijelaskan. “Lex, coba kamu jawab jujur sama gue. Pernah nggak sih kamu ngerasa… kita ini tuh sebenernya udah terikat banget? Sampai ke hal-hal kecil gini?”
“Apa maksud kamu?”
“Maksud gue, cara lo ngambil gelas itu, cara lo ngunyah, cara lo ngelap mulut, bahkan cara lo masak ini… semuanya terasa familier banget. Terasa banget kayak bagian dari hidup gue yang hilang, terus ketemu lagi di lo,” cerita Genesis panjang lebar, ia mencondongkan tubuhnya ke depan, ingin semakin dekat.
“Gue kadang mikir… jangan-jangan di kehidupan sebelumnya, lo itu orang yang sangat penting buat gue. Jangan-jangan lo itu…”
Ia berhenti sejenak, menatap tajam ke manik mata hitam Alexa.
“Jangan-jangan lo itu utusan Ibu yang dikirim buat nemenin gue? Atau jangan-jangan… jiwa Ibu pindah ke tubuh lo?”
Pertanyaan itu melayang di udara, menusuk tepat ke jantung Naura. Gadis itu tersentak hebat, wajahnya pucat pasi. Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya tidak bisa dibendung lagi, jatuh menetes satu per satu ke atas meja, membasahi ujung taplak.
“Kenapa kamu ngomong gitu…” isaknya pelan, tangannya gemetar memegangi ujung bajunya sendiri. “Kenapa kamu selalu ngomong hal-hal yang bikin aku… bikin aku pengen ngaku segalanya?”
“Ngaku apa?” Genesis menangkap kesempatan itu. “Ngaku kalau lo ada hubungannya sama Ibu gue? Ngaku kalau lo sebenernya kenal kita dari lama?”
Alexa mengangguk dan menggeleng bersamaan, ia bingung sendiri dengan perasaannya.
“Iya! Iya aku kenal! Aku kenal kamu lebih dari siapa pun!” akhirnya ia meledak juga, suaranya tinggi namun penuh tangis.
“Aku tau kamu gak suka makan sayur sawi tapi suka banget sama sayur bening! Aku tau kamu makan harus ada sambal, nggak pedas nggak nikmat! Aku tau kamu kalau lagi capek atau sedih, cuma butuh dimasakin makanan hangat dan didiemin sebentar!”
Ia menunjuk makanan di meja dengan tangan yang gemetar.
“Semua ini aku buat sesuai selera kamu! Semua ini aku buat karena aku hafal banget apa yang kamu suka dan apa yang kamu benci! Karena buat aku… ngeliat kamu makan lahap kayak gitu itu adalah kebahagiaan terbesar di dunia!”
Genesis terpaku diam. Mendengar deretan fakta itu keluar dari mulut AlexA, membuat bulu kuduknya meremang seluruhnya.
“Lo… lo tau semua itu dari mana?” tanya Genesis pelan, tak percaya. “Gue bahkan nggak pernah cerita detail sebanyak itu ke lo.”
“Karena aku perhatiin kamu! Karena aku peduli sama kamu lebih dari yang kamu tau!” Alexa membasahi bibirnya, berusaha menenangkan diri meski air mata terus mengalir. “Makan, Gen. Jangan dibahas dulu ya? Ayo kita makan bareng-bareng kayak gini. Nikmatin dulu momennya.”
Genesis menghela napas panjang, ia mencoba menelan rasa penasarannya. Ia tahu Alexa sedang berjuang keras. Dan melihat gadis itu menangis sedih begitu, ia tidak tega memaksa.
“Oke. Kita makan,” jawab Genesis lembut.
Mereka mulai makan lagi, tapi suasana kini terasa jauh lebih dalam. Setiap suapan yang masuk ke mulut Genesis terasa begitu bermakna. Ia tidak lagi makan hanya untuk mengisi perut, tapi ia makan karena ia tahu ada seseorang yang mencurahkan seluruh cinta dan hatinya ke dalam masakan itu.
“Lex,” panggil Genesis lagi di tengah makan.
“Hm?”
“Makan bareng lo tuh rasanya… rasanya kayak keluarga. Rasanya kayak kita suami istri gitu,” ucap Genesis tiba-tiba, membuat pipi Alexa memerah padam. “Gue suka. Gue pengen setiap hari kayak gini. Makan bareng, ngobrol bareng, tidur bareng.”
“Kamu tuh…” Alexa tersenyum malu-malu, mengusap sisa air mata di pipinya. “Mulut kamu manis banget sih. Bikin orang yang denger jadi lupa sama semua masalahnya.”
“Karena emang bener. Gue sayang sama lo, Lex. Bukan cuma sayang biasa. Sayang ini dalem banget. Aneh banget, tapi nyata banget,” Genesis menatapnya dalam.
“Dan mulai sekarang, apapun rahasia yang lo simpen, gue siap terima. Gue siap dampingi lo. Karena gue ngerasa… kita ini satu.”
Alexa tidak bisa menjawab lagi. Ia hanya bisa mengangguk berkali-kali, tersenyum di balik tangis bahagianya.
Malam itu, mereka menghabiskan makan malam dengan obrolan panjang, tawa, dan air mata. Momen itu mengukir kenangan indah yang tak terlupakan. Di meja makan kecil itu, ikatan mereka diperkuat kembali oleh rasa, oleh bau, dan oleh cinta yang melampaui logika.
Genesis semakin yakin bahwa Alexa adalah takdirnya. Dan Naura semakin yakin bahwa meski dunia berubah, cinta seorang ibu tidak akan pernah berubah.
Makan malam sederhana itu menjadi saksi bisu bahwa mereka saling membutuhkan, saling mencintai, dan akan saling menjaga apa pun yang terjadi nanti.