NovelToon NovelToon
Anak Terbuang Milik CEO Arogan

Anak Terbuang Milik CEO Arogan

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Genius / Balas Dendam / Romansa Fantasi
Popularitas:5.6k
Nilai: 5
Nama Author: 羽菜

kisah perjalanan Marsha valerine yang kehadirannya ditolak oleh ibunya, dan saat merencanakan perjalanan ke Eropa bersama keluarga besar, ibunya dengan kejamnya meninggalkan Marsha valerine yang saat itu masih kecil.

Marsha Zaiva Dominic.

Angin malam menyentuh wajahnya, membawa hawa dingin yang tak mampu mengusik ketenangan yang ia bangun selama bertahun-tahun. Ia tidak tahu bahwa nama yang ia bawa sekarang bukanlah miliknya sejak lahir.

Ia hanya tahu—hidupnya dimulai kembali saat ia diadopsi oleh sepasang dokter.
Dokter Erlan Dominic dan Dokter Shafira Hanazawa.
Dari merekalah ia mengenal arti rumah. Bukan tempat yang megah, tapi tempat yang hangat. Bukan sekadar keluarga, tapi orang-orang yang memilih untuk mencintainya tanpa syarat.

Dari mereka pula, Marsha belajar tentang kehidupan tentang merawat, tentang bertahan, dan tentang menjadi seseorang yang berarti bagi orang lain.
Dan dari sanalah… ia memilih jalan yang sama.
Menjadi dokter.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 羽菜, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27 kenangan yang belum sepenuhnya

"Aku ingat dulu kamu hampir menyerah di tahun kedua karena kesulitan menghafal saraf kranial," goda Marsha sambil menyesap cokelat panasnya.

Damian terbahak. "Dan aku ingat kamu hampir pingsan karena terlalu banyak minum kopi demi menyelesaikan skripsi di bawah bimbingan Daddy Erlan yang super disiplin itu. Bagaimana kabar beliau? Masih segalak dulu di ruang operasi?"

"Daddy tetap perfeksionis kalau soal pasien, tapi di rumah, dia adalah Daddy yang paling lembut," jawab Marsha dengan binar mata penuh kasih. "Kamu tahu sendiri, aku tidak akan bisa menjadi dokter bedah jantung di usia sekarang tanpa bimbingan ketatnya. Dia bukan hanya guru, tapi juga kompas hidupku."

Damian mengangguk mengerti. "Itulah kenapa aku sedikit terkejut soal keluarga Halvard. Kamu adalah 'produk' didikan Erlan Dominic yang sangat murni. Mandiri, pekerja keras, dan tidak silau harta. Mengetahui kamu ternyata seorang Halvard... itu seperti menemukan mutiara di tengah lautan emas."

---

Tiba-tiba, ponsel Marsha yang tergeletak di meja bergetar hebat. Sebuah pesan masuk dari Archio.

Archio: "Siapa pria yang bersamamu di kafe? Ajudan bilang kau tampak sangat akrab. Jangan lupa jalan pulang, Marsha. Papah sudah menunggumu untuk makan malam kedua dia tidak mau makan sebelum kau sampai."

Marsha memutar bola matanya dan menunjukkan layar ponselnya pada Damian. "Lihat? Belum juga satu jam aku bertemu denganmu, 'Intelijen Halvard' sudah mulai bekerja," keluh Marsha, meski ada nada geli di suaranya.

Damian membaca pesan itu dan bersiul pelan. "Wow, protektif level dewa. Sepertinya aku harus berhati-hati agar tidak dituduh menculik putri mereka."

"Tenang saja, aku bisa menanganinya," ucap Marsha sambil mengetik balasan singkat: *'Ini Damian, teman lamaku. Aku akan pulang sebentar lagi. Jangan ganggu waktu pribadiku, Kak!'*

Marsha kemudian menatap Damian kembali. "Jadi, berapa lama kamu di London sebelum benar-benar bertugas? Aku ingin kita makan malam bersama Daddy dan Mommy. Mereka pasti sangat merindukanmu."

Damian tersenyum hangat. "Aku punya waktu seminggu sebelum mulai di rumah sakit baruku. Mari kita buat rencana. Tapi malam ini, sebaiknya kamu segera pulang sebelum Papah kandungmu mengirim helikopter untuk menjemputmu di kafe ini."

Marsha tertawa lepas, namun dalam hatinya ia menyadari bahwa meski Damian memberikan rasa nyaman yang familiar, dunianya kini sudah tidak lagi sederhana. Ia memiliki dua ayah, tiga kakak laki-laki yang posesif, dan satu masa depan yang kini terasa jauh lebih kompleks daripada prosedur bedah jantung tersulit sekalipun.

______

Malam itu, ruang makan megah di mansion Halvard terasa sangat berbeda. Meja panjang yang biasanya hanya diisi oleh ketegangan bisnis, kini menjadi saksi pertemuan dua dunia yang selama ini menjaga Marsha. Andreas tampak duduk berdampingan dengan Erlan dan Shafira, sebuah pemandangan yang menunjukkan bahwa Andreas telah menurunkan egonya demi kenyamanan putri bungsunya.

Namun, kehadiran Theodore di sudut ruangan memberikan aura yang berbeda. Pria itu duduk dengan kaki bersilang, tatapannya sedingin es, seolah sedang memindai setiap orang di ruangan itu. Kehadirannya di sana jelas untuk membicarakan kondisi Liam, namun ia tetap tinggal, mungkin penasaran dengan dinamika keluarga yang unik ini.

"Selamat malam..." sapa Marsha pelan saat memasuki ruangan.

Ia tampak sedikit berantakan. Rambutnya yang diikat asal, wajah yang pucat karena kelelahan, dan aroma antiseptik rumah sakit yang masih menempel kuat di tubuhnya, mengalahkan wangi parfum mahalnya.

Erlan Dominic langsung berdiri, menghampiri putrinya dan mengusap bahunya lembut. Sebagai sesama dokter bedah, ia tahu persis apa arti tatapan kosong di mata Marsha saat ini. "Apakah lelah?" tanya Erlan dengan suara yang menenangkan.

Marsha mengangguk, menyandarkan kepalanya sejenak di bahu Erlan. "Lumayan, Daddy. Hari ini tiga kali masuk ke ruang operasi. Daddy tahu... pasien terakhir benar-benar membuatku kelelahan."

Semua orang di meja makan, termasuk Andreas yang sejak tadi menahan diri untuk tidak langsung memeluk Marsha, terdiam mendengarkan.

"Dia wanita hamil dengan riwayat penyakit jantung," lanjut Marsha, suaranya sedikit bergetar karena sisa adrenalin. "Jantungku ikut berdebar kencang. Si suami memaksa selamatkan istrinya, tapi istrinya memohon agar aku menyelamatkan anaknya. Dua-duanya kritis. Operasi itu... sangat menegangkan."

Andreas Halvard menatap Marsha dengan rasa bangga yang bercampur perih. Ia melihat putrinya bukan sebagai ahli waris hartanya, melainkan sebagai pejuang nyawa.

"Lalu... bagaimana hasilnya, Sayang?" tanya Andreas lembut, suaranya sarat dengan kekhawatiran seorang ayah.

Marsha menarik napas panjang, lalu sebuah senyum tipis yang tulus muncul di wajahnya. "Dua-duanya selamat. Bayinya perempuan, sangat cantik. Tapi aku merasa energiku benar-benar terkuras habis."

Shafira segera bangkit dan menarik kursi untuk Marsha. "Duduklah, Sayang. Mami sudah minta koki menyiapkan sup hangat. Kamu butuh asupan setelah bertaruh nyawa di meja operasi."

Dari posisinya, Theodore memperhatikan interaksi itu tanpa suara. Matanya beralih dari Marsha ke Andreas, lalu ke Erlan. Sebagai pria yang terbiasa hidup di tengah kekerasan, melihat seorang wanita muda yang begitu tenang menghadapi kematian di meja operasi membuatnya merasa tertarik.

"Dokter Marsha," suara Theodore yang berat memecah keheningan. "Liam bercerita padaku betapa 'galaknya' Anda di UGD kemarin. Sekarang aku mengerti kenapa. Seseorang yang memegang jantung manusia setiap hari memang tidak akan punya waktu untuk meladeni omong kosong pria arogan seperti putraku."

Marsha menoleh, menatap Theodore tanpa rasa takut sedikit pun. "Tuan Theodore, bagi saya, nyawa adalah prioritas. Jika putra Anda ingin dihormati, ajari dia cara menghormati orang yang sedang berusaha menjaganya tetap hidup."

Andreas hampir saja tersedak kopinya mendengarnya, sementara Archio yang duduk di sudut ruangan tersenyum bangga. Belum pernah ada yang bicara seperti itu di depan wajah Theodore tanpa berakhir di dasar laut.

"Menarik," gumam Theodore dengan seringai tipis yang jarang ia tunjukkan. "Andreas, kau punya putri yang jauh lebih berbahaya daripada seluruh pasukan bisnismu."

Erlan Dominic hanya tersenyum tenang sambil mengusap tangan Marsha. Ia tahu, di balik identitas "Halvard" yang penuh kuasa, Marsha tetaplah putrinya yang memiliki hati seluas samudera hati yang dibentuk dari kerja keras dan empati, bukan dari tumpukan emas.

Suasana di ruang makan itu mendadak melunak. Kalimat Andreas bukan sekadar pujian, melainkan sebuah pengakuan tulus di hadapan pria sekeras Theodore. Ia mengakui bahwa kekuasaan Halvard tidak ada andil dalam membentuk karakter Marsha, keberhasilan itu sepenuhnya milik dedikasi Erlan dan Shafira.

Theodore mengangguk pelan, tatapannya beralih pada Erlan Dominic dengan rasa hormat yang baru. Sebagai pria yang hidup di dunia hitam, ia tahu bahwa loyalitas dan kualitas manusia tidak bisa dibeli dengan uang, melainkan dibentuk melalui bimbingan yang tepat.

"Itu benar," sahut Erlan dengan ketenangan yang luar biasa. Suaranya stabil, mencerminkan kebijaksanaan seorang dokter senior yang telah menghadapi ribuan situasi hidup dan mati. "Marsha menemukan tujuannya sendiri. Kami sebagai orang tua hanya memberi arahan. Ketika dia memutuskan ingin menjadi dokter bedah, dia harus tahu segala risikonya, termasuk kelelahan fisik dan mental seperti malam ini."

Shafira mendekatkan semangkuk sup hangat ke hadapan Marsha, seolah ingin memutus ketegangan profesional di meja itu dengan kehangatan seorang ibu. "Sudah, jangan bahas rumah sakit dulu. Makanlah, Marsha. Wajahmu sudah sangat pucat."

Marsha mulai menyuap supnya perlahan. Di meja ini, ia merasa seperti sedang berada di persimpangan jalan. Di sisi kirinya ada **Erlan dan Shafira**, lambang integritas dan kedamaian yang membimbingnya selama 20 tahun. Di sisi kanannya ada **Andreas dan Archio**, lambang garis darah dan proteksi tanpa batas. Dan di hadapannya, **Theodore**, simbol dari sisi gelap dunia yang kini mulai bersinggungan dengan hidupnya.

"Theodore," Andreas memecah keheningan sambil menatap rekannya itu. "Bagaimana kondisi Liam malam ini? Aku dengar dia sudah mulai protes karena tidak boleh memegang ponsel oleh Dokter Marsha."

Theodore terkekeh rendah, suara yang jarang terdengar dari pria sedingin dia. "Dia kesal, tentu saja. Tapi dia patuh. Dia tahu jika dia macam-macam, Dokter Marsha tidak akan segan-segan menjahit mulutnya daripada lukanya."

Archio menyambar percakapan dengan nada jenaka. "Yah, itu benar. Aku saja yang kakaknya tidak berani membantah kalau Marsha sudah pakai jas putihnya. Dia punya aura 'jangan ganggu' yang lebih kuat dari pengawal mana pun."

1
Risma Surullah
di bab lain marsha anak bungsu yg dibenci, di bab selanjutnya archio adalah adik marsha...hehe bingung bingung aq bingung
Muji Lestari
lanjut thorr
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!