NovelToon NovelToon
JALAN PENDEKAR NAGA

JALAN PENDEKAR NAGA

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Epik Petualangan / Balas Dendam
Popularitas:6k
Nilai: 5
Nama Author: Hamtaro Dasha

Seri Kedua dari Lahirnya Pendekar Naga!

___
Kemunculan Pendekar Naga telah mengguncang keseimbangan dunia—membangunkan makhluk kuno dan menarik perhatian kekuatan yang telah lama menunggu dalam bayang-bayang.

Dunia berubah.

Sekte-sekte hancur tanpa sisa. Jejak kehancuran menyebar tanpa arah… dan pelakunya adalah sosok yang tidak pernah dibayangkan oleh Wei Zhang Zihan.

Chu Kai.

Sebagai Pendekar Suci, Wei Zhang Zihan tidak punya pilihan selain menelusuri jejak itu—mengungkap kebenaran yang tersembunyi, dan menghadapi satu kenyataan yang tidak ingin ia percayai:

Mungkin, orang yang harus ia hentikan… adalah orang yang seharusnya menjadi pelindung dunia.

Pendekar Naga itu sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hamtaro Dasha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

8 - Kota Hou

Meskipun bukan informasi tentang keberadaan Long Yang Wang, Wei Zhang Zihan tetap memperoleh sesuatu dari Tetua Besar Sekte Tianzhi.

Dia melanjutkan perjalanan dengan pedang terbang, menembus langit selama berhari-hari. Angin dingin terus mengiringinya, membawa aroma tanah asing yang perlahan berubah semakin berat, semakin pekat—seiring ia mendekati wilayah Hu Nang.

Tempat itu jauh dari wilayah Kekaisaran Zhou, dan termasuk bagian dari wilayah Aliran Hitam.

Wei Zhang Zihan menapak turun di hutan terdekat wilayah Hu Nang dan memutuskan untuk melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki.

"Udara di tempat ini benar-benar berbeda."

Wei Shezi akhirnya buka suara.

Roh cantik itu menampakkan dirinya, berdiri di samping Wei Zhang Zihan sambil menatap gerbang Kota Huo yang mulai terlihat. Kota itu adalah tempat pertama yang menyambut siapa pun yang datang dari wilayah utara Sekte Tianzhi.

Kabut tipis menyelimuti gerbang itu. Aura yang mengalir di sekitarnya terasa lebih gelap, seolah-olah menyembunyikan sesuatu di balik ketenangan semu.

"Aku menahan diri untuk tidak bicara padamu saat kau berada di Sekte Tianzhi," ujar Wei Shezi ringan. "Tetua sekte itu... meski terlihat tidak galak, dia sangat ketat dengan aturan. Jika dia tahu ada Roh Kuno yang ikut denganmu... aku mungkin sudah disegel."

Wei Zhang Zihan menoleh. Dia memang tidak pernah menanyakan alasan mengapa Wei Shezi tiba-tiba saja menghilang tanpa jejak saat ia memasuki wilayah Sekte Tianzhi. Sekarang ia tahu bahwa roh ini sangat ahli dalam menyembunyikan keberadaannya.

"Tampan," lanjut Wei Shezi sambil membelai helaian rambutnya, "Aku akan mengatakan ini untuk memperingatkanmu."

Dia menyilangkan tangan, tatapannya mengarah ke dalam kota. "Kau butuh penyamaran untuk masuk ke sana. Wilayah Aliran Hitam... tidak akan menyambut seseorang sepertimu. Kau mengerti maksudku, kan?"

Wei Zhang Zihan terdiam.

Tatapannya kembali pada gerbang Kota Huo yang berdiri jauh di hadapannya. Kini ia benar-benar merasakan... bahwa tempat itu bukan wilayah yang bisa dimasuki dengan sembarangan.

Wei Shezi memperhatikan saat pemuda itu mengeluarkan sesuatu dari Kantong Penyimpanannya.

Jubah hitam menutupi tubuh Wei Zhang Zihan. Tudung ditarik rendah, sementara topi jerami menutupi sebagian besar wajahnya.

"Hmm... sepertinya masih kurang." Wei Shezi memiringkan kepala, menilai. Lalu tangannya pun terulur.

Kabut merah tipis merayap keluar dari sela-sela jari Wei Shezi—pelan, namun membawa sensasi dingin yang aneh. Kabut itu menyelimuti tubuh Wei Zhang Zihan, meresap tanpa suara.

Dalam sekejap, corak biru dan putih pada pakaiannya memudar dan berubah menjadi hitam pekat sepenuhnya. Bahkan aura Pedang Wǎnshàng yang ada di pinggang Wei Zhang Zihan ikut tertelan, seolah kehilangan identitasnya.

"Aduuh..." Wei Shezi mengembuskan napas panjang. "Hanya begini saja sudah melelahkan. Nanti di dalam, carikan aku mutiara roh. Energi jiwaku terkuras."

Wanita itu mengibaskan tangannya, lalu berjalan lebih dulu. Senyumnya tipis dan nakal.

"Selanjutnya... rencana penyamaran lainnya."

"..."

Wei Zhang Zihan tidak menjawab. Ada sedikit keheranan dalam benaknya, namun ia tetap mengikuti sosok itu dari belakang.

*

*

Gerbang Kota Huo dijaga ketat.

Beberapa kultivator berdiri di sana, bersama pedagang dan pengembara yang mengantri untuk diperiksa. Setiap orang menunjukkan token giok sebagai bukti identitas sebelum memasuki gerbang kota.

"Tetap di dekatku."

Wei Shezi bergumam, lalu melangkah maju tanpa ragu. Sebuah token giok merah muncul di tangannya.

"Nona, identitas pengawal pribadimu juga," ujar penjaga.

"Hmph." Wei Shezi mendengus ringan. Tanpa peringatan, ia merangkul lengan Wei Zhang Zihan, menariknya lebih dekat. Tatapannya dingin dan sinis.

"Peliharaan kecilku ini hanya penghangat tempat tidur. Tidak punya identitas."

!!

Suasana di sekitar mereka seketika berubah.

Penjaga yang mendengarnya terkejut, begitu pun dengan beberapa kultivator yang ada di tempat itu. Ada beberapa orang yang melirik dan memberikan ekspresi berbeda. Sebagian kaget, mencibir, bahkan ada yang tersenyum samar penuh makna.

Di sisi lain, tubuh Wei Zhang Zihan menegang. Tatapannya berubah dingin—nyaris tajam.

Wei Shezi sama sekali tidak peduli dan justru menatap penjaga itu dengan senyum tipis. "Apa kau ingin tahu tugasnya sebagai peliharaanku?"

"Ti-tidak perlu. Silakan masuk."

Tanpa banyak bicara lagi, mereka diizinkan lewat.

Wei Shezi berjalan masuk dengan langkah ringan, masih merangkul Wei Zhang Zihan. Beberapa orang di belakang hanya bisa menghela napas atau menggelengkan kepala.

Baru setelah menjauh dan memastikan kondisi di sekitar mereka aman, Wei Shezi pun melepaskan rangkulannya.

Wajah roh cantik itu langsung berubah cerah. "Apa kau melihatnya? Itu tadi menegangkan~ Untung saja kita lolos—Hm?"

Wei Shezi menyadari sesuatu dan memiringkan kepalanya, mengintip wajah Wei Zhang Zihan dari balik topinya.

Mata Wei Shezi berkedip pelan. Senyumannya melebar, penuh godaan. "Apa kau sangat terguncang dengan yang kulakukan tadi? Kau ini... ternyata lebih polos dari yang kukira~"

Wei Zhang Zihan menatap Wei Shezi.

Tatapan itu dingin—namun kali ini, ada sesuatu yang lain di dalamnya. Sesuatu yang seolah tertahan terlalu lama.

"Kau... tidak tahu malu."

Suaranya rendah, namun jelas.

Setelah mengatakan itu, Wei Zhang Zihan berbalik dan berjalan pergi begitu saja, meninggalkan Wei Shezi yang untuk sesaat benar-benar tertegun di tempatnya.

"Hei, tampan~ tunggu."

******

1
enda harahap
👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍
Indah Hidayat
roh pedangnya cantik
Alw
orang tidak waras itu kembali
Nanik S
Kong Yang akhirnya bisa melihat ibunya
Nanik S
Ibunya mengenali Aura dari Anaknya
Nanik S
Keren dan keren
Nanik S
Ling Yang
Nanik S
Shen Quyang apakah juga akan mati ditangan Kai
Nanik S
Musuh baru Kai
Nanik S
NEXT
Hydro7
Shuxiang! Kau pikir Chu Kai adalah leluhur Bocah pengemis gila....?
Nanik S
Untung Wei Zhang Zihan dibawa melesat oleh sicantuk agar kepalanya tidak meledak
Nanik S
Cuuuuuust
Nanik S
Roh Pedang Cantik dan genit tapi bisa bermain usil juga
Nanik S
Long Wang Yang dikurung Ayahnya sendiri
Nanik S
apakah Wei Zhesi masih mengikuti Wei Zhang Zihan
Nanik S
Lanjutkan
Nanik S
Wei Zhise... roh pedang bisa suka dengan ketampanan Roh Pedang milik Kai🤣🤣🤣
Nanik S
Ternyata benar pembantaian dilakukan oleh Chu Kai
Nanik S
Dimana Kau berada
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!