NovelToon NovelToon
Tolong Rebut Suamiku Dan Ambil Takdirku

Tolong Rebut Suamiku Dan Ambil Takdirku

Status: sedang berlangsung
Genre:Time Travel / Balas dendam dan Kelahiran Kembali / Pelakor jahat
Popularitas:3.5k
Nilai: 5
Nama Author: Kak_Hans

Jihan Fahira memergoki suaminya selingkuh dengan sahabatnya. saat dia kembali dari rumah sakit. Saat itu suami dan sahabatnya sedang melakukan hubungan yang tidak pantas di dalam sebuah villa.

Saat itu Jihan tewas di tangan suami dan sahabatnya sendiri. Namun keajaiban muncul dalam hidupnya. Dia di beri kesempatan kedua. Jihan kembali hidup ke enam tahun yang lalu.

Kesempatan kedua untuk membalas dendam dan mengubah kembali takdir tragis yang akan terjadi di masa depan.

Mampukah Jihan membalas dendam dan mengubah takdir tragis yang akan menimpanya ?

Follow Ig: Hans_Sejin13.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kak_Hans, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 24

Paginya saat Hendrick terbangun, ia mengucek matanya pelan untuk menghilangkan rasa kantuknya. Namun seketika matanya terbelalak saat melihat Regina sedang berbaring di sampingnya.

"Huaammm... Astaga...! Regina! Kenapa kamu ada di sini...?" ujar Hendrick. Wajahnya yang tadi masih lelah dan mengantuk, seketika berubah menjadi sangat terkejut.

Regina terbangun kaget mendengar suara Hendrick yang terdengar ribut. Ia perlahan membuka matanya yang masih terasa berat.

"Kak Hendrick... Kamu sudah bangun... Huaammm..." ujar Regina sambil menguap lebar dan menggeliat manja di samping Hendrick.

"Re... Regina... Kenapa kamu tidur di sini...?" tanya Hendrick dengan suara yang terbata-bata. Wajahnya memerah padam dan matanya menatap Regina dengan rasa penasaran saat melihat Regina ada di sampingnya.

"Kak Hendrick... Semalam aku tidak bisa tidur... Aku takut sendirian di kamar... Makanya aku tidur di sini bersamamu..." ujar Regina dengan suara yang lembut dan terdengar polos.

Regina kemudian berdiri dan berjalan menuju jendela untuk membuka tirai. Sinar matahari pagi yang hangat langsung menyinari wajahnya yang terlihat segar dan cantik, membuat Hendrick yang melihatnya dari kejauhan merasa sedikit terpesona saat itu juga.

Hendrick benar-benar terpesona oleh kecantikan Regina yang tampak berbeda dari biasanya. Matanya terbelalak lebar menatap wajah Regina yang seolah bersinar terpapar cahaya matahari pagi.

"Kak Hendrick... Kak... Kak Hendrick...!" panggil Regina berkali-kali, menyadarkan Hendrick yang tampak asyik memandanginya.

"I... Iya...! A-apa ada apa...?" ujar Hendrick dengan suara yang sedikit terbata-bata dan wajahnya semakin memerah menahan rasa malu.

"Kak Hendrick, kenapa melamun begitu...?" tanya Regina. Wajahnya tersenyum manis menatap wajah Hendrick yang tampak gugup.

"Kak Hendrick...! Aku mau mandi dulu... Kak Hendrick tunggu sebentar ya...!" ujar Regina.

Regina kemudian berjalan menuju kamar mandi dengan langkah yang tampak lambat dan sedikit mengayun, seolah sengaja menarik perhatian Hendrick. Saat itu Hendrick terus menatap punggung Regina sampai tubuhnya hilang di balik pintu kamar mandi.

"Astaga...!" ucap Hendrick sambil menepuk-nepuk pipinya pelan lalu mengusap wajahnya kasar.

"Kenapa Regina terlihat sangat menggoda dibandingkan Jihan...? Aduh... Sadar Hendrick...!" tambah Hendrick. Ia mengibaskan kemejanya yang terasa agak sempit, seolah sedang kepanasan menahan gejolak di dalam dadanya.

Tak lama kemudian, Regina yang telah selesai mandi keluar dari kamar mandi. Saat itu ia hanya memakai handuk besar yang menutupi sebagian tubuhnya yang basah kuyup, membuatnya terlihat sangat seksi.

Regina kemudian memanggil Hendrick dengan suara yang terdengar lembut dan menggoda.

"Kak Hendrick..." panggilnya.

Hendrick berbalik badan dan melihat Regina yang hanya mengenakan handuk dan rambutnya yang masih basah, terlihat sangat seksi dan memikat.

"He-yah...! Re... Regina...?" ujar Hendrick yang terkejut melihat penampilan Regina yang begitu terbuka dan terlihat sangat seksi.

Regina kemudian menyuruh Hendrick untuk mandi di kontrakannya saja, terlebih lagi mereka harus segera berangkat ke kantor agar tidak terlambat.

"Kak Hendrick, kakak mandi di sini saja... Kalau kakak pulang dulu ke rumah, nanti bisa telat datang ke kantor..." ujar Regina.

Wajah Hendrick saat itu semakin terlihat gugup dan malu, pipinya semerah tomat yang sudah matang. Matanya semakin terbelalak memandangi tubuh Regina yang terlihat aduhai montok di balik kain handuk itu.

"I... Iya! A-aku mandi dulu...!" ujar Hendrick dengan tergagap, lalu segera bergegas berjalan cepat menuju kamar mandi.

Brak...!

Terdengar suara pintu kamar mandi ditutup agak keras. Di dalam kamar mandi, Hendrick hanya membasuh wajahnya dengan air dingin agar pikirannya menjadi lebih jernih. Jantungnya berdebar kencang tak karuan saat itu.

"Kenapa... Kenapa jantungku berdetak secepat ini hanya karena melihat Regina tadi...?" gumamnya pelan sambil memegangi dadanya yang masih terasa berdebar hebat.

"Lagi pula, kenapa dia tidur di sofa bersamaku...? Sudahlah... Jangan dipikirkan dulu...!" tambah Hendrick. Ia masih terlihat bingung dengan sikap Regina yang terlihat sangat berbeda bila dekat dengannya.

...•••☘☘☘•••...

Pagi itu, Jihan sudah berada di perusahaan lebih awal dari biasanya. Ia sedang duduk menyiapkan berkas proposal yang sudah selesai ia susun, berkas yang nantinya akan diserahkan kepada Bu Reni untuk diteruskan kepada atasan mereka yaitu Pak Toni.

"Sekarang... Aku tinggal menyerahkan proposal ini kepada Bu Reni... Setelah itu aku akan membuat Pak Toni mau tidak mau harus menandatangani proposal milikku ini..." ujar Jihan pelan sambil merapikan tumpukan kertas berkas itu agar terlihat rapi.

Jihan kemudian berjalan meninggalkan ruangannya menuju ruangan Bu Reni. Di tengah perjalanan menuju ke sana, Jihan berjalan dengan langkah yang tergesa-gesa karena takut terlambat. Tanpa ia sadari, ia tidak sengaja menabrak seseorang yang berjalan dari arah berlawanan.

BRUGGG...!

Terdengar suara benturan yang cukup keras. Proposal yang dipegangnya terlempar dan jatuh berserakan ke lantai. Kacamata yang ia pakai juga terlepas dari wajahnya dan jatuh di lantai.

"Aduh... Sakit...!" ujar Jihan yang ikut terjatuh terduduk di lantai. "Maaf... Saya tidak sengaja menabrak Bapak...!" ucapnya panik sambil tangannya menyasar mencari letak kacamatanya yang jatuh.

"Ini kacamata kamu..."

Seseorang memberikan kacamata miliknya. Jihan segera mengambil dan memakainya kembali. Saat itu ia bisa melihat dengan jelas siapa orang yang ditabraknya.

"Pak Direktur...! Maaf Pak, saya benar-benar tidak sengaja menabrak Bapak...!" ujar Jihan meminta maaf dengan tulus.

"Tidak apa-apa... Tapi kenapa kamu berjalan begitu tergesa-gesa sekali...?" tanya Direktur Hans.

Jihan segera membereskan semua kertas dan berkas proposal miliknya yang jatuh dan berserakan di lantai.

"Tidak apa-apa kok Pak! Saya cuma sedang buru-buru..." jawab Jihan sambil terus sibuk mengambil dan menumpuk kertas-kertas itu.

Direktur Hans kemudian ikut membantu Jihan mengambil dan membereskan kertas yang berserakan di lantai itu.

Saat sedang mengambil berkas-berkas itu, Direktur Hans melihat sebuah sampul proposal yang menarik perhatiannya. Ia kemudian mengambilnya dan mulai membaca isinya sekilas.

"Apa ini...?" ujar Direktur Hans. Ia kemudian berdiri tegak dan terus membaca lembar demi lembar proposal itu.

"Direktur itu... Anu... Itu sebenarnya -" ujar Jihan ingin menjelaskan, namun perkataannya langsung dipotong oleh Direktur Hans.

"Apakah ini proposal buatanmu sendiri...?" tanya Direktur Hans memotong pembicaraan Jihan.

"I-iya... Pak." jawab Jihan dengan suara yang terdengar pelan sambil mengangguk pelan.

Direktur Hans saat itu terus membaca isi proposal yang dibuat oleh Jihan itu dengan serius. Jihan saat itu terlihat sangat gugup dan tegang menunggu reaksi dari Direktur Hans, keringat dingin mulai menetes di pelipisnya.

"Proposal ini sangat bagus sekali, kenapa kamu tidak memberi tahu saya lebih awal kalau kamu punya ide sebagus ini..." ujar Direktur Hans setelah membaca sebagian besar isi dari proposal itu.

Jihan kemudian teringat sesuatu. Di kehidupan sebelumnya, ia memang bertabrakan dengan Direktur Hans saat sedang membawa proposal miliknya. Namun saat itu Direktur Hans sama sekali mengabaikan proposal itu dan hanya membantunya berdiri saja tanpa berkata apa-apa.

Jihan saat itu melamun dan bergumam sendiri di dalam hatinya.

"Apa ini yang sedang terjadi...? Sebelumnya kejadiannya tidak seperti ini sama sekali. Aku ingat betul bahwa aku memang menabrak Direktur Hans... Namun saat itu dia hanya membantuku berdiri dan tidak berkata apa-apa... Tapi kenapa sekarang menjadi seperti ini... Apa yang sebenarnya telah berubah dari takdirku...?" gumam Jihan dalam hati dengan perasaan bingung.

Direktur Hans yang melihat Jihan hanya diam dan melamun, kemudian memanggilnya berkali-kali.

"Bu Jihan... Bu... Bu Jihan...!" panggil Direktur Hans. Suaranya semakin lama semakin keras agar terdengar oleh Jihan.

"I-iya Pak...!" jawab Jihan tersentak kaget dari lamunannya.

"Saya ambil proposal ini dulu... Untuk saya baca lebih teliti seluruh isinya nanti... Akan saya pertimbangkan dengan matang proposal milikmu ini..." ujar Direktur Hans.

Direktur Hans kemudian mengambil dan membawa serta proposal itu bersamanya. Ia berjalan meninggalkan Jihan menuju ruang kerjanya.

"Pak... Itu sebaiknya...!" ujar Jihan pelan, namun suaranya tidak terdengar oleh Direktur Hans yang saat itu sudah berjalan agak jauh menuju ruang kerjanya.

"Apa ini maksudnya... Ini seharusnya tidak pernah terjadi...?" gumam Jihan penuh dengan tanda tanya besar di dalam hatinya.

𝐵ℯ𝓇𝓈𝒶𝓂𝒷𝓊𝓃ℊ...ღ

1
Sandrina
cocok, emang munafik banget, sahabat macam apa itu 🤬🤬🤬
Sandrina
greget banget sama sahabat nya ini, playing fictim
Sandrina
astaghfirullah, baru baca udah di suguhin yg kayak gini 😭
Nana✨
Tabiat sahabatmu yang sangat kau percaya, Jihan🥺
Rahma
ini lagi
Rahma
astaga 😭 baru baru baca, udah di kasih yg becekbecek😭
Tina
Kopi untukmu Thor 🤗
Tina
Bisa²nya pembukaan aku langsung reflek istighfar 😭
Sishrye
ohhhhh......
Nana✨
Belahan jiwa maksudnya belahan suami apa gimana, jir!
한스Hans: , emm, makasih udah mampir kak🙏, pantai terus ya ceritanya, nanti ada
total 1 replies
Nana✨
Astaghfirullah😭😭
pojok_kulon
Jangan sampai Regina yang menjadi madunya 🤭🤭
한스Hans: 🤣 Kaka bisa aja🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!