Pertemuan singkat di sebuah mess karyawan mengubah hidup Abraham. Saat Pramesti datang mengambil kucingnya bersama sang adik, Prita, Abraham langsung terpikat oleh pesona gadis itu. Ketertarikan yang tulus mendorong Abraham untuk menyatakan perasaannya.
Namun, kejujuran Abraham justru membentur tembok tinggi. Orang tua Prita menolak mentah-mentah hubungan mereka karena status sosial. Bagi mereka, seorang teknisi lapangan komunikasi tidak akan pernah cukup berdampingan dengan putri mereka. Di mata orang tua Prita, kebahagiaan hanya bisa dijamin oleh sosok setingkat CEO, bukan pria yang bekerja di bawah terik matahari.
Kini, Abraham dan Prita harus berhadapan dengan dilema: menyerah pada realita atau memperjuangkan cinta di tengah jurang perbedaan status.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11
Sinar matahari pagi menyelinap malu-malu melalui ventilasi kamar mess, menyentuh wajah Prita yang perlahan mulai mendapatkan kembali rona merahnya.
Saat ia membuka mata, aroma gurih kaldu dan wangi teh melati langsung menyapa indra penciumannya.
Prita sedikit meringis saat mencoba duduk, namun pemandangan di depannya membuat rasa sakit itu seolah memudar.
Di sana, di atas meja kayu kecil yang biasanya penuh dengan buku teknik, Abraham sedang sibuk menuangkan teh hangat ke dalam gelas.
Di sampingnya, sudah tersedia semangkuk bubur ayam hangat yang masih mengepul.
"Sudah bangun?" tanya Abraham dengan suara baritonnya yang lembut, jauh berbeda dari nada tegasnya saat berhadapan dengan Papa tadi malam.
Ia mendekat, meletakkan teh itu di nakas samping tempat tidur.
"Makanlah dulu, mumpung buburnya masih hangat. Setelah itu, kita berangkat ke rumah orang tuaku."
Prita menatap Abraham dengan perasaan campur aduk.
"Mas nggak kerja?"
Abraham menggeleng pelan sambil menyodorkan sendok pada Prita.
"Aku sudah izin tidak masuk kerja hari ini. Fokusku cuma satu sekarang, memastikan kamu aman dan ada yang menjaga. Di rumah ibuku nanti, kamu bisa istirahat dengan lebih tenang."
Melihat perhatian yang begitu besar dari pria yang baru dikenalnya ini, Prita merasakan tenggorokannya kembali tercekat.
Ada rasa syukur yang luar biasa, namun juga rasa bersalah yang menghimpit.
"Mas, maaf, aku kembali merepotkan kamu," ucap Prita lirih, matanya mulai berkaca-kaca.
"Hidupmu yang tenang jadi berantakan karena urusan keluargaku."
Abraham menghentikan gerakannya, ia menatap Prita lekat-lekat, lalu tersenyum tipis yang sangat menenangkan.
"Sudah kubilang kan, jangan minta maaf untuk hal yang bukan salahmu. Makan buburnya, Prit. Kita punya perjalanan panjang hari ini."
Setelah menghabiskan buburnya dan merasa sedikit lebih bertenaga, Prita naik ke boncengan motor besar Abraham.
Angin pagi yang sejuk menerpa wajah mereka sepanjang perjalanan menuju sebuah desa di pinggiran kota. Namun, ketenangan yang Prita harapkan ternyata belum juga kunjung datang.
Sesampainya di rumah kayu yang tampak asri namun kaku itu, suasana tidaklah sehangat yang Prita bayangkan.
Ayah Abraham dan seorang wanita paruh baya dengan tatapan tajam—yang ternyata adalah ibu tiri Abraham—menyambut mereka di teras.
Tatapan mereka menyapu penampilan Prita dari atas ke bawah dengan nada sedikit sinis.
Abraham menggandeng tangan Prita, menuntunnya masuk, lalu duduk di kursi rotan ruang tamu.
"Bu, Pak. Ini Prita, calon istriku. Kami datang ke sini ingin meminta restu kalian," ucap Abraham lugas, suaranya tetap rendah namun penuh keyakinan.
Seketika, suasana di ruangan itu mendingin. Ibu tiri Abraham langsung menggelengkan kepalanya dengan raut wajah tidak suka.
Ia melipat tangan di depan dada sambil mendecah.
"Ham, kamu ini bicara apa? Kamu tahu sendiri, kan, kalau Ibu sudah menjodohkan kamu dengan anaknya Bu Dessy?" ucap wanita itu dengan nada ketus.
"Dia itu bidan, cantik, pekerjaannya sudah jelas dan terpandang di desa ini. Bu Dessy juga sudah setuju kalau kalian menikah tahun ini."
Prita tersentak. Ia menundukkan kepalanya dalam-dalam, jari-jemarinya saling bertautan dengan sangat erat.
Rasa sesak yang ia rasakan semalam di hadapan Papanya kini kembali menyerang, namun kali ini posisinya terbalik.
Ia merasakan persis apa yang dirasakan Abraham semalam: dianggap tidak layak, ditolak karena rencana orang lain, dan direndahkan karena latar belakangnya yang belum diketahui.
Air mata Prita hampir jatuh saat menyadari bahwa pelariannya dari satu perjodohan justru membawanya masuk ke lubang perjodohan yang lain.
Ternyata, perjuangan untuk bersama Abraham tidak semudah yang ia bayangkan.
"Prit," bisik Abraham pelan, seolah merasakan kegelisahan gadis itu.
Ia mempererat genggaman tangannya, memberikan sinyal bahwa ia tidak akan menyerah di sini.
Abraham menarik napas panjang, tatapannya yang semula tenang kini berubah menjadi setajam silet saat menatap ibu tirinya.
Ia tidak melepaskan sedikit pun genggaman tangannya pada Prita.
"Cukup, Bu," potong Abraham dengan nada suara yang rendah namun sarat akan ketegasan.
"Pernikahan itu bukan tentang profesi atau siapa yang paling terpandang di desa ini. Ini tentang hidupku. Aku menghormati Ibu, tapi aku tidak bisa membiarkan Ibu menentukan dengan siapa aku harus menghabiskan sisa hidupku."
Ayah Abraham hendak menyela, namun Abraham lebih dulu berdiri, menarik Prita untuk ikut bangkit bersamanya.
"Aku ke sini untuk meminta restu sebagai anak, bukan untuk meminta izin apakah pilihanku benar atau salah. Jika di sini Prita tidak disambut dengan baik, maka tempatku juga bukan di sini."
Tanpa menunggu jawaban lebih lanjut, Abraham menuntun Prita keluar menuju motornya.
Deru mesin motor itu seolah mewakili amarah yang tertahan di dada Abraham saat mereka membelah jalanan desa kembali menuju kota.
Sepanjang jalan, Prita hanya terdiam, menyandarkan keningnya di punggung tegap Abraham.
Setibanya di mess, saat matahari mulai meninggi, Prita turun dengan langkah gontai.
Ia menatap Abraham dengan mata yang kembali sembap.
"Mas, mungkin ini pertanda," ucap Prita lirih saat mereka berdiri di depan pintu kamar mess.
"Menikahlah dengan wanita pilihan ibumu itu. Dia bidan, dia punya masa depan yang jelas di sini. Keluargamu akan bahagia."
Prita menyeka air matanya, suaranya bergetar hebat.
"Aku akan ke Yogyakarta saja malam ini. Aku tidak mau menjadi beban dan perusak hubunganmu dengan orang tuamu. Kita tidak mungkin melawan dunia sendirian, Mas."
Abraham terdiam sejenak, lalu ia menggelengkan kepalanya dengan mantap.
Ia maju satu langkah, memegang kedua bahu Prita agar gadis itu menatap langsung ke matanya.
"Prita, dengarkan aku," ujar Abraham, suaranya sangat stabil.
"Aku tidak sedang bermain-main saat melamarmu di depan Papamu, dan aku tidak akan berubah pikiran hanya karena Ibu tiriku punya rencana lain. Yogyakarta bukan jawaban, Prit. Jawabanmu ada di sini, bersamaku."
Abraham menangkup wajah Prita, ibu jarinya menghapus air mata yang jatuh di pipi gadis itu.
"Kalau kita harus melawan dunia, maka kita akan melawannya berdua. Aku tidak akan membiarkanmu pergi ke mana pun sendirian lagi."
Baru saja Abraham hendak menenangkan Prita lebih jauh, suara ketukan pintu yang terburu-buru mengejutkan mereka.
Tok! Tok! Tok!
Abraham mengernyitkan dahi, lalu melangkah perlahan untuk membuka pintu kayu mess-nya.
Begitu pintu terbuka, ia tertegun mendapati Prameswari berdiri di sana dengan napas terengah-engah.
Wajah kakaknya Prita itu tampak sembap, dan di samping kakinya, terdapat dua koper besar serta beberapa tas plastik yang dijejalkan secara asal-asalan.
"Prames?" gumam Abraham kaget.
Prita yang tadinya duduk lesu di tepi tempat tidur langsung berdiri.
"Mbak Prames? Kenapa barang-barangku ada di sini?"
Prameswari menatap adiknya dengan tatapan hancur. Ia menyeka air mata yang terus mengalir.
"Papa, Prit... Papa benar-benar marah besar. Tadi pagi dia menyuruh orang untuk mengosongkan kamarmu. Semua barang-barangmu dikeluarkan, katanya... katanya kalau kamu lebih memilih pergi dengan laki-laki ini, maka jangan pernah bawa nama keluarga lagi ke mana pun kamu pergi."
Prita lemas, ia terduduk kembali di ranjang. Ternyata Papanya tidak main-main. Pintu rumah itu benar-benar telah tertutup rapat untuknya.
Prameswari beralih menatap Abraham dengan tatapan memohon.
"Ham, aku nggak bisa berbuat apa-apa di rumah. Papa mengancam akan membuang barang-barang ini ke tempat sampah kalau aku tidak segera membawanya pergi. Aku cuma bisa menyelamatkan ini saja."
Abraham melihat koper-koper yang tergeletak di lantai semen depan kamarnya. Itu bukan sekadar pakaian; itu adalah simbol bahwa Prita kini benar-benar tidak punya tempat untuk kembali.
Dunia seolah sedang menjepit mereka dari dua sisi—keluarga Prita membuangnya, dan keluarga Abraham menolaknya.
"Mas..." bisik Prita dengan suara yang hampir hilang.
"Aku sudah tidak punya siapa-siapa lagi sekarang."
Abraham mengepalkan tangannya, lalu ia berlutut di depan Prita, mengabaikan kehadiran Prameswari yang masih terisak di ambang pintu.
Ia menggenggam tangan Prita dengan sangat erat, seolah menyalurkan seluruh kekuatan yang ia miliki.
"Kamu masih punya aku, Prit. Barang-barang ini bisa kita pindahkan, tapi semangatmu jangan sampai hilang," ucap Abraham dengan nada yang sangat dalam.
Kemudian ia menatap wajah Prameswari. "Terima kasih, Pram. Kamu sudah menyelamatkan barang-barangnya. Sekarang, biarkan aku yang mengambil alih tanggung jawab ini sepenuhnya."