NovelToon NovelToon
BANGKIT DARI LUKA

BANGKIT DARI LUKA

Status: sedang berlangsung
Genre:Poligami
Popularitas:23k
Nilai: 5
Nama Author: santi damayanti

Amira 3 Tahun Jadi TKI, melunasi hutang keluarga suami
meninggalkan dua anaknya yang masih kecil
saat pulang di mendapatkan
arjuna anak sulungnya usia 7 tahun sedang di pukul oleh seorang wanita
wanita itu adalah istri muda suaminya
anak keduanya saat itu usia 1 tahun tidak ada di rumah
Hati Amira hancur namun dia harus tetap hidup
sebuah kisah kebangkitan wanita

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi damayanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 5 MENJUAL PONSEL

Lima juta sebenarnya bukan uang banyak bagi Amira. Setiap bulan sepuluh juta sampai dua belas juta dia kirim ke Rudi dan keluarganya. Namun saat ini Amira benar-benar tidak punya uang sebanyak itu.

“Bagaimana, Bu?” suara petugas administrasi menyadarkan Amira yang sedang melamun.

“Saya akan usahakan, Bu. Besok pagi saya usahakan ada, Bu, tapi saat ini saya benar-benar belum ada uang.”

Petugas hanya bisa menghela napas panjang.

“Ibu tadi katanya jadi TKI, kok enggak punya uang, Bu?”

Amira hendak menjawab, namun melihat banyaknya antrean, petugas itu akhirnya berkata, “Ya sudah, saya tunggu sampai pagi, ya.”

Amira merasa lega. Setidaknya dia bisa menjual ponselnya untuk membayar biaya rumah sakit Arjuna.

Amira berdiri lalu meninggalkan ruang administrasi klinik. Di luar, dia menghela napas lagi.

Benar-benar malang nasibnya. Usaha tiga tahun tidak menghasilkan apa pun, benar-benar jadi sapi perah keluarga Rudi.

Langit sudah gelap. Melihat jam digital, sudah pukul 20.30. Perutnya minta diisi, pinggangnya mulai terasa nyeri bekas ditendang Rudi.

Amira melangkah menuju ruang perawatan Arjuna.

Air matanya kembali menetes. Arjuna sedang disuapi oleh Yuni.

Orang yang datang saat senang tentu saja hal biasa.

Tapi orang yang datang saat susah tentu saja harus dikenang sepanjang masa.

Harusnya Rudi yang ada saat ini, tapi malah Yuni, wanita yang dulu dia musuhi.

“Mamah,” Arjuna memanggil Amira yang sedari tadi berdiri di ambang pintu.

Yuni pun menoleh, kemudian berdiri. “Kemar, Mira.”

Amira mendekat dan berkata dengan nada haru, “Terima kasih, Yun. Kalau tidak ada kamu, aku benar-benar bingung.”

“Sudah, jangan dipikirkan. Bagaimana kata dokter?” tanya Yuni.

Kemudian Amira menceritakan semuanya, termasuk biaya yang harus dibayar.

“Ah, si Rudi memang gila, sampai-sampai BPJS saja enggak diurus. Kalau tahu begini, aku bawa saja Arjuna ke mantri, bisa dirawat di rumah.”

“Arjuna memang harus dirawat. Kalau terlambat saja….”

Amira tidak sanggup melanjutkan ucapannya.

“Yang sabar, ya, Mir.” Yuni memegang pundak Amira.

Tak kuasa, akhirnya Amira memeluk Yuni. Yuni menepuk-nepuk pundak Amira dengan lembut.

“Maafkan aku, Yun,” ucap Amira, melepaskan pelukannya.

“Mamah,” ucap Arjuna. Kali ini wajahnya sudah mulai segar.

“Sayang… kamu makan yang banyak, ya, biar cepat sembuh.” Amira menggenggam tangan Arjuna.

“Iya, Mamah, Juna akan banyak makan.”

“Terima kasih, sayang,” ucap Amira.

“Yuni, aku mau keluar dulu. Aku minta tolong lagi.”

“Pergilah,” ucap Yuni. “Aku hanya bisa bantu tenaga. Kalau uang, jujur saja aku tidak punya.”

Amira tersenyum. “Terima kasih, Yun.”

Amira menasihati Arjuna agar tidak rewel. Selama ini Arjuna ditekan oleh Ambar. Dia jadi anak penurut, namun sedikit penakut.

Amira keluar dari kamar perawatan, lalu pergi meninggalkan klinik.

Di samping klinik berjejer toko-toko, mulai dari sembako sampai penjual ponsel.

Amira melihat ponselnya. Andai saja majikannya tidak membelikan dia ponsel, mungkin selama bekerja di Taiwan tiga tahun dia tidak akan pernah memiliki ponsel. Dia bahkan tidak tahu harga ponselnya berapa.

Amira menatap ponselnya lama. Selama tiga tahun, benda itu menjadi barang paling berharga miliknya.

Melalui ponsel itu, dia belajar banyak hal. Belajar memasak, bahkan belajar menulis novel. Dan sekarang dia harus merelakannya.

Amira melangkah ke sebuah toko ponsel.

Tampak seorang pria sedang duduk sambil mengutak-atik ponsel.

“Mau beli ponsel apa, Mbak? Bekas atau baru?” tanyanya ramah.

Amira mengeluarkan ponselnya. “Saya mau jual ponsel ini.” Dia menyerahkan ponselnya itu.

Pemilik toko melihat ponsel Amira, membolak-baliknya.

“Sudah lama, ya?” tanyanya.

“Tiga tahun,” jawab Amira.

Pemilik toko mengangguk.

“Ponsel luar negeri, ya?”

“Iya, itu dari Taiwan, tapi bisa dipakai, kok.”

“Ya, saya tahu.”

Pemilik toko kembali memperhatikan ponsel itu.

“Saya beraninya sepuluh.”

Hancur sudah harapan Amira. Dalam hatinya dia berpikir, apakah orang-orang di Indonesia begitu kejam menghargai ponsel hanya sepuluh ribu?

“Yang benar saja, Pak. Masa ponsel saya dihargai sepuluh ribu? Memangnya ponsel mainan? Kalau saja anak saya tidak sakit, saya tidak akan jual.”

“Siapa yang bilang sepuluh ribu?”

“Terus?” Amira mengerutkan dahi.

“Sepuluh juta. Saya beraninya segitu. Kalau enggak mau, pergi sana ke Cikampek.”

Amira terperangah. Tak menyangka ponselnya akan seharga itu.

“Sudah malam, Mbak. Saya mau tutup. Kalau enggak jadi, mending pergi.”

“Jadi, Pak… jadi,” Amira segera menjawab.

“Baiklah kalau begitu. Sebenarnya kalau ada dusnya, saya bisa tambah satu juta.”

Amira menggelengkan kepala.

“Ya sudah, sepuluh juta, deal, ya.”

“Oke, Pak.”

“Transfer apa tunai?”

“Saya tidak punya rekening.”

“Waduh, saya harus ambil uang dulu kalau begitu. Saya ke ATM dulu, ya. Titip toko saya, ya.”

Amira menganggukkan kepala. Dalam hati dia berpikir, ternyata orang Indonesia begitu mudah percaya pada orang lain. Bagaimana kalau dia mengambil semua ponsel di toko ini?

Selang sepuluh menit, pria itu kembali.

“Maaf lama, soalnya antre.”

“Enggak masalah, Pak.”

Pemilik toko menghitung uang, lalu memberikannya pada Amira.

“Terima kasih, Pak,” ucap Amira.

“Iya, sama-sama.”

Amira melangkah pergi meninggalkan toko ponsel.

Sementara itu, pemilik toko tersenyum kecil.

“Aku punya dus ponsel ini. Aku bisa jual di marketplace harga delapan belas juta. Ah, selain tampan, aku ini hoki.”

Amira merasa gembira. Langkahnya menjadi ringan, walau harus menjual ponsel. Pemilik toko bahkan memberinya ponsel bekas seharga 500.000.

“Ah, orang Indonesia ini ramah dan baik hati,” gumam Amira.

Amira melangkah menuju tukang nasi goreng. Perutnya lapar. Dia membeli dua bungkus, satu untuk dirinya dan satu lagi untuk Yuni.

Setelah membeli nasi goreng, Amira kembali melangkahkan kaki ke klinik, lalu menuju ruang perawatan Arjuna.

Tampak Arjuna sedang tertidur.

Amira dan Yuni makan berdua dengan penuh keakraban.

“Syukurlah, untung saja kamu punya ponsel. Kalau tidak…” ucap Yuni. “Soalnya aku juga enggak bisa bantu kalau soal uang.”

“Makasih, ya, Yun, sudah bantu aku,” ucap Amira tulus.

Mendadak Yuni meneteskan air mata. Amira terkejut. Dia merasa bersalah, takut ucapannya menyinggung.

“Kenapa, Yun? Apa ada yang salah dengan ucapanku?”

“Tidak, Mir, tidak.” Yuni menyeka air matanya. “Aku ingat kejadian tiga tahun lalu, tepatnya sebulan setelah kamu pergi.”

“Ada apa, Yuni?” Jantung Amira berdetak lebih cepat.

“Tiga tahun lalu suamiku sakit demam. Aku tidak punya uang untuk berobat. Aku pinjam ke sana kemari, tapi tidak dapat. Waktu itu Arjuna sedang main dengan anakku, lalu dia memberiku uang lima puluh ribu. Katanya itu uang dari kamu. Dengan uang itu, suamiku bisa berobat.”

Amira terdiam. Hatinya terasa hangat. Ada rasa lega, ada juga rasa bangga.

“Tapi setelah kejadian itu, Arjuna tidak pernah lagi bermain dengan anakku, Mir. Dia tidak diperbolehkan keluar rumah. Sebenarnya beberapa kali aku ribut dengan keluarga mertua kamu, tapi aku ini… selain bodoh juga miskin. Aku tidak bisa melindungi Arjuna, Mir.”

Air mata Yuni kembali jatuh.

“Mbak Yuni bohong, Mah,” tiba-tiba Arjuna bersuara.

Amira menoleh cepat. “Bohong kenapa?”

Ternyata sejak tadi Arjuna tidak benar-benar tidur.

1
sunaryati jarum
Anjani kalau tidak dipanggil Dewi tidak datang, jadi tidak ada yang tahu keberadaannya
Anonim
Gemes ih sama dewi pengen nyuel 🤣
nunik rahyuni
waduuuh dewi kamu bikin masalah untuk anjani...bisa bisa di tangkap sama damkar di tuduh meresahkan warga.kya aq jg klo ketemu ular bisa parno berminggu minggu..jangan di ulangi suruh anjani sembunyi lg. keluar di saat tertentu saja
sunaryati jarum
Hewan ditolong akhirnya balas budi
Test Baru
kak autothor udah 2 hari kok belum up lagi sih 🙏🙏🙏
falea sezi
ular gaib kah
falea sezi
amira ini tolol liat anak mu menderita buat TKW semua gaji Jagan di kasih suami🤣 iya klo suamimu setia
nunik rahyuni
hah untung cs sama anjani....klo g mana mau anjani membantu🤣🤣🤣dan kenapa dewi jd penakut biasanya suka kelahi
sunaryati jarum
Ular Dewi yang beraksi
nunik rahyuni
thor deei manggilnya kok ganti2..dlu mamah td kok jd bunda mana yg betul
besok ibu trus simbok ato biyung🤣🤣🤣
nunik rahyuni
mereka yg celaka ato mereka yg di celakai .
sebagai pelampiasan dewi karena g di izinkn anjani masuk ruko jadilah preman nya yg di hajar dewi dan dililit anjani🤣🤣🤣🤔
nunik rahyuni: iya..klo tidurnya terganggu kan langsung jd sumala🤣🤣🤣
total 2 replies
nunik rahyuni
waduh...mau ngapain mereka....anjani muncul lah
mama
syg up ny cm sekali sehari😄
sunaryati jarum
Malik kamu salah, kau sekarang tidak bisa menyentuh Niko.Jika kau menargetkan Amira kau salah cari lawan.Dino sudah jadi pantauan dan pengawasan Niko.
sunaryati jarum
Wah mungkin Mery suka sama Udin
sunaryati jarum
Lanjut , semoga penghasilan kamu makin banyak Udin
nunik rahyuni
thor dewi mana...kangen nyaaaa q sm bocah ni..
nunik rahyuni
dilanjuut....bnyak lho kisah udin ini di dunia nyata...anak dr pejuang yg di lupakan..mudah2 an mereka mendapat nasib yg beruntung jd g mengharspkan negara
Anonim
Lanjut lagi up nya thor seru
sukensri hardiati
ruko ukuran 2x3 m ...?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!