NovelToon NovelToon
JENDERAL PEMANAH LANGIT : DENDAM DIATAS LUKA DESA

JENDERAL PEMANAH LANGIT : DENDAM DIATAS LUKA DESA

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Balas Dendam / Identitas Tersembunyi
Popularitas:715
Nilai: 5
Nama Author: Diah Nation29

No plagiat 🚫

Jenderal Pemanah Langit : Dendam Di Atas Luka Desa

Dalam semalam, hidup Song Yuan hancur. Desa Songjia dibumihanguskan, meninggalkan 130 nyawa bersimbah darah, termasuk ayahnya, sang Jenderal besar, dan ibunya dari klan bangsawan Bai. Song Yuan yang sekarat dengan anak panah di dada, terpaksa menelan pahitnya pengkhianatan.

Berbekal dua lencana rahasia dan bimbingan sadis dari Mo Chen, si "Ular Hitam", Song Yuan bangkit dari abu kehancuran. Tanpa senjata, ia menempa raga di hutan monster untuk menuntut balas.

Akankah sang pewaris klan Song kembali sebagai pahlawan, atau iblis yang haus darah?

"Setiap embusan napas musuhku adalah utang nyawa yang harus dibayar lunas!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diah Nation29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tarian Api di Altar Pengkhianatan

Asap hitam pekat membubung tinggi dari reruntuhan kubah Aula Persembahan, menyatu dengan langit malam Ibu Kota yang mulai kacau. Yuan berdiri di tengah kawah ledakan, debu emas dari dekorasi istana menempel di jubahnya yang compang-camping. Di tangannya, Busur Naga bukan lagi sekadar senjata; benda itu kini berdenyut seperti makhluk hidup, mengeluarkan uap panas yang membakar udara di sekitarnya.

"BOCAH! LIHAT MEREKA! SEMUT-SEMUT ITU MULAI BERDATANGAN!" raung Ao Kuang di dalam kesadaran Yuan. Nada suaranya penuh dengan kegembiraan yang haus darah.

Dari segala penjuru koridor, ratusan prajurit Sayap Perak berlarian dengan tombak terhunus. Armor perak mereka berkilauan terkena sisa-sisa api hitam. Di barisan paling depan, Ketua Tetua Spiritual berdiri dengan wajah yang memerah karena murka. Jubah emasnya kini kotor oleh abu kristal yang hancur.

"Yuan...! Kau... kau seharusnya sudah menjadi mayat dingin di atas meja bedah!" teriak Ketua Tetua, suaranya gemetar antara amarah dan ketakutan yang tak terkendali. "Bagaimana mungkin kau bisa memutus segel pemurni itu tanpa bantuan siapa pun?!"

Yuan menarik sudut bibirnya, membentuk senyuman dingin yang sangat tipis—sebuah ekspresi yang belum pernah ia tunjukkan saat ia masih menjadi prajurit setia kekaisaran. "Secara logika, Tetua, segel buatan kalian hanya cukup kuat untuk menahan manusia. Tapi kalian lupa satu hal..." Yuan menarik tali busurnya perlahan. Sebuah anak panah yang terbuat dari bayangan dan api hitam mulai terbentuk. "...aku tidak lagi bertarung sendirian."

"BUNUH DIA! BAWA JANTUNGNYA HIDUP ATAU MATI!" seru Tetua itu sambil mundur ke balik barisan perisai.

"SERBUUU!!!"

Ratusan prajurit menerjang maju secara serentak. Hentakan kaki mereka membuat lantai marmer Aula Persembahan bergetar. Namun, Yuan tetap tenang. Ia mengatur napasnya, merasakan aliran energi naga yang kini menyatu dengan pembuluh darahnya.

"Satu tarikan untuk pengkhianatan kalian," gumam Yuan.

TWANG!

Anak panah itu melesat bukan sebagai satu titik tunggal, melainkan pecah di udara menjadi puluhan cakram hitam yang berputar. TEKNIK BUSUR NAGA: CAKRAM PENGHANCUR JIWA! Cakram-cakram itu menebas barisan perisai Sayap Perak seolah-olah logam itu hanyalah kertas rami yang basah. Teriakan kesakitan pecah seketika. Barisan depan prajurit kekaisaran itu kocar-kacir, terlempar oleh ledakan energi hitam yang korosif.

"Bodoh! Gunakan formasi panah energi!" komandan prajurit berteriak memberikan instruksi darurat.

Di tingkat atas aula, para pemanah Sayap Perak mulai mengambil posisi. Ribuan anak panah bercahaya putih—energi spiritual murni—dilepaskan secara bersamaan, membentuk tirai cahaya yang menyilaukan mata. Secara logika, tidak ada satu pun manusia yang bisa menghindar dari ribuan panah yang mencakup seluruh sudut ruangan itu.

"Yue Yin... Minyak Penyembunyi Rembulanmu memang hebat, tapi sekarang aku butuh sesuatu yang lebih kasar," bisik Yuan pada dirinya sendiri.

"BIAR AKU YANG MENANGANI INI, YUAN! AKTIFKAN SISIK NAGA!"

Yuan mengepalkan tangan kirinya. Seketika, pola sisik hitam muncul di kulit lengannya, menjalar ke dada dan wajahnya. Sebuah perisai transparan berbentuk kepala naga muncul di sekeliling tubuhnya. Ribuan panah putih itu menghantam perisai tersebut, namun alih-alih melukai Yuan, panah-panah itu justru diserap dan dikonversi menjadi energi hitam yang semakin memperbesar api di busurnya.

Yuan melompat ke udara, menggunakan ledakan energi di kakinya untuk terbang tinggi menuju langit-langit yang hancur. Dari ketinggian itu, ia bisa melihat seluruh kompleks istana. Lampu-lampu peringatan menyala di mana-mana, tapi ia juga melihat dua bayangan cepat—Ming Luo dan Yue Yin—yang sudah mencapai kaki Menara Pusat.

Waktunya berakting lebih gila lagi, pikir Yuan.

Ia menarik tali busurnya hingga maksimal, kali ini ia mengarahkan bidikannya ke Menara Lonceng di sebelah Barat. Jika lonceng itu jatuh, seluruh perhatian militer akan terfokus ke sana.

"Ao Kuang, pinjamkan aku suara aslimu!"

“DENGAN SENANG HATI, RAJA KECIL!”

Yuan melepaskan panah dengan kekuatan penuh. TEKNIK RAHASIA NAGA HITAM: PANAH RAUNGAN SEMESTA!

Anak panah itu berubah menjadi wujud naga hitam raksasa saat meluncur di udara. Naga itu meraung dengan suara yang begitu keras hingga kaca-kaca di seluruh Ibu Kota pecah berkeping-keping. Naga hitam itu menghantam Menara Lonceng, meruntuhkannya dalam sekejap dan menciptakan gelombang kejut yang merobohkan barak-barak prajurit di sekitarnya.

"DI SANA! DIA DI SANA!" teriak para prajurit yang masih selamat di aula.

Namun, saat mereka melihat kembali ke posisi Yuan tadi, pemuda itu sudah menghilang. Ia bergerak di antara bayangan pilar yang roboh, menggunakan kecepatan yang ditingkatkan oleh energi naga.

Di sisi lain, Ketua Tetua Spiritual sedang mencoba merapal mantra penghancur kutukan untuk menghentikan api hitam yang merayap di altar. Wajahnya pucat pasi. Ia menyadari bahwa Yuan yang sekarang bukanlah Yuan yang bisa mereka kendalikan dengan kata-kata "kesetiaan pada kedaulatan".

"Secara logika," suara Yuan tiba-tiba terdengar tepat di belakang telinga si Tetua.

Tetua itu berputar, mencoba menyerang dengan tongkat spiritualnya, namun Yuan lebih cepat. Ia mencengkeram leher pria tua itu dengan tangan yang sudah dilapisi sisik naga. Kekuatannya begitu besar hingga si Tetua terangkat dari lantai.

"Secara logika," ulang Yuan dengan nada yang mengerikan, "jantung naga ini tidak akan pernah menjadi milik Kaisar. Tapi jantungmu... mungkin bisa menjadi pesan yang bagus untuknya."

Yuan tidak membunuh si Tetua. Ia justru menggunakan kuas (dalam hal ini, energi jari-jarinya) untuk menggambar segel Segel Pemutus Aliran di dahi si Tetua. Dengan satu hentakan, seluruh energi spiritual si Tetua ditarik keluar dan dihancurkan, membuatnya menjadi manusia biasa yang lemah seketika.

"Beritahu Permaisuri," bisik Yuan sambil melempar tubuh si Tetua ke tumpukan puing, "bahwa Jenderal Pemanah Langit sudah kembali untuk menagih utang darah orang tuanya."

Yuan kembali melompat, menghilang di balik kegelapan lorong rahasia menuju Menara Pusat. Ia hanya memiliki sisa waktu lima belas menit sebelum minyak penyembunyi aura itu benar-benar habis.

Di kejauhan, ledakan demi ledakan terus terjadi di wilayah Barat istana—hasil dari jebakan-jebakan kecil yang dipasang Yuan saat ia bergerak. Ibu Kota yang dulunya dianggap sebagai tempat paling aman di dunia, kini sedang gemetar ketakutan di bawah ancaman satu orang dengan satu busur.

Yuan mendarat di teras Menara Pusat. Di sana, Ming Luo dan Yue Yin sudah menunggunya di depan sebuah pintu besi raksasa yang dijaga oleh segel darah.

"Yuan! Kau gila! Seluruh istana terbakar!" Ming Luo tertawa meski napasnya terengah-engah. "Secara logika, kau baru saja menciptakan rekor penghancuran tercepat dalam sejarah militer."

"Waktunya habis untuk pujian," sahut Yuan, matanya menatap pintu besi itu. "Apa ini tempatnya?"

Yue Yin mengangguk, jarinya gemetar saat menunjuk pintu itu. "Di dalam sini... adalah Arsip Terlarang. Jika legenda itu benar, rahasia tentang kenapa ayahmu dieksekusi dan di mana ibumu disembunyikan... semuanya ada di sini."

Yuan melangkah maju, tangannya menyentuh pintu besi yang dingin. Di dalam kepalanya, Ao Kuang mendengkur pelan, seolah mencium bau rahasia yang sangat busuk dari balik pintu tersebut.

"Buka pintunya," perintah Yuan. "Secara logika... kebenaran akan terasa jauh lebih menyakitkan daripada panah-panah mereka."

1
HarusameName
namanya yang bener yang mana, bang?
Devilgirl: Yuan-er panggilan khusus ayah ke anaknya dalam gaya wuxia...kalau secara langsung panggilan sayang julukan
total 3 replies
Devilgirl
Hai,readers mampir sini dong!!
"Mereka bilang aku anak baik, tapi mereka tidak tahu hobi malamku. Menghitung detak jantung musuh dari kejauhan adalah melodi favoritku. Aku tidak butuh mendekat untuk menghancurkanmu; aku hanya butuh satu tarikan napas dan satu anak panah untuk mengaudit dosamu. Berani lari? Panahku jauh lebih cepat dari rasa takutmu!" 🏹💨😏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!