NovelToon NovelToon
Bangkitnya Pemilik Mustika Macan Kencana

Bangkitnya Pemilik Mustika Macan Kencana

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Balas Dendam / Penyelamat
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: suandra

Arga hanyalah pemuda biasa di sudut kota yang keras—hidup dari kerja kasar, dipandang rendah, dan selalu kalah oleh keadaan. Ia percaya hidupnya akan berakhir sebagai pecundang, sampai suatu malam hujan berdarah mengantarkannya pada sebuah benda terkutuk sekaligus suci: Mustika Macan Kencana.

Sejak saat itu, dunia Arga berubah.

Mustika itu bukan sekadar sumber kekuatan, tetapi suara di dalam batinnya—memberi pemahaman, strategi, dan jalan keluar dari situasi mustahil. Seolah takdir sendiri membisikkan langkah-langkah menuju kemenangan. Namun setiap kekuatan selalu menuntut harga.

Di kota yang dipenuhi kejahatan, pengkhianatan, dan rahasia gelap, Arga mulai bangkit dari nol—melawan preman, sindikat bayangan, hingga musuh yang memiliki kekuatan serupa. Di tengah pertarungan hidup dan mati, hadir cinta yang rumit: Sari yang tulus namun rapuh, dan Clarissa yang penuh misteri serta luka masa lalu.

Semakin Arga kuat, semakin besar pengorbanan yang harus ia bayar.
Rasa sakit, keh

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon suandra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11. Di Bawah Reruntuhan yang Menjerit

Gelap. Dingin. Dan bau busuk yang menusuk hingga ke tulang sumsum.

Arga terbaring di tumpukan sampah industri, kabel-kabel tembaga bekas yang terkelupas, serta genangan air limbah kimia yang berwarna keperakan dan mematikan. Tulang rusuknya terasa seperti dihantam palu godam raksasa, dan penglihatannya berkedip-kedip tidak stabil antara dunia nyata dan hamparan hutan rimba yang dipenuhi kabut pekat. Ia baru saja jatuh dari ketinggian tiga puluh lantai melalui lubang pembuangan sampah gedung Wijaya Holdings. Namun, secara ajaib, di sini—di perut bumi gedung itu—ia masih bisa mendengar detak jantungnya sendiri yang berdegup kencang.

Mustika Macan Kencana di dalam dadanya terasa panas, berdenyut keras layaknya jantung kedua yang sedang mengamuk menuntut kebebasan. Energi itu tidak lagi hanya mengalir; ia meledak, menambal setiap tulang yang retak dengan kecepatan yang tak masuk akal. Arga bisa merasakan jaringan ototnya menyatu kembali, suara kretek dari tulang yang kembali ke posisinya terdengar sangat nyaring di telinganya yang kini setajam pendengaran predator.

“Bangkit, Inang,” raungan itu bergema di kepalanya, bukan sebagai perintah, melainkan sebagai desakan biologis yang tak tertahankan. “Clarissa Wijaya telah menandatangani surat kematiannya sendiri dengan membuangmu ke sini. Di bawah sini, tidak ada hukum, tidak ada etika, hanya ada hukum rimba yang murni. Kau bukan lagi pelayan mereka, kau adalah mimpi buruk mereka.”

Arga mencoba bangkit. Tangannya yang berlumuran lumpur mencengkeram tumpukan logam tajam hingga logam itu melengkung di bawah tekanan jarinya yang mengeras. Ia memandang ke atas, ke lubang sempit yang kini tertutup oleh plat baja tebal yang diturunkan oleh tim keamanan gedung. Mereka pasti mengira ia sudah hancur menjadi bubur. Mereka pasti sedang merayakan keberhasilan mereka, tanpa tahu bahwa mereka baru saja melepaskan iblis ke dalam sarang mereka sendiri.

"Mereka pikir aku sudah mati," bisik Arga. Suaranya serak, terdengar seperti gesekan antara dua bongkahan batu di tengah badai.

Ia berdiri tegak. Sesuatu telah berubah secara fundamental. Di dalam kegelapan total ini, matanya tidak lagi membutuhkan cahaya sedikit pun. Ia melihat segalanya dalam spektrum warna panas yang bergetar. Ia melihat aliran listrik di dinding-dinding beton yang merambat seperti urat nadi, dan ia bisa mendengar detak jantung para penjaga di lantai paling bawah yang sedang berjaga di dekat lubang pembuangan utama.

Ada empat orang. Mereka bersenjata lengkap, membawa senapan serbu tipe terbaru dan detektor panas. Mereka berjalan dengan langkah yang disinkronkan, membelah kesunyian dengan suara sepatu laras panjang yang mengetuk lantai beton.

“Tiga di antaranya adalah mangsa empuk. Satu lagi... dia membawa alat pelacak frekuensi tinggi. Singkirkan dia terlebih dahulu sebelum dia menyadari keberadaan aura kita,” bisik suara itu di batinnya.

Arga bergerak. Ia tidak lagi berjalan seperti manusia; ia merayap di dinding beton seperti seekor kadal raksasa dengan kecepatan yang membuat udara di sekitarnya mendesing. Tubuhnya yang terbalut sisa-sisa pakaian compang-camping tampak seperti bagian dari bayangan itu sendiri.

Dalam hitungan detik, Arga sudah berada tepat di belakang penjaga pertama. Sebelum pria itu sempat menyadari kehadiran sosok bayangan di depannya, tangan Arga sudah mencengkeram tengkuknya. Arga tidak mematahkan lehernya—ia hanya menekan titik saraf yang membuat penjaga itu jatuh seperti boneka yang tali pengikatnya dipotong. Pria itu pingsan sebelum sempat menarik pelatuk.

Penjaga kedua berbalik dengan panik. Arga sudah menghilang.

"Siapa di sana?!" teriak pria itu, tangannya gemetar di pelatuk. Ia menyorotkan senter taktisnya ke segala arah, namun yang ia temukan hanyalah kegelapan yang seolah menatapnya balik.

Arga muncul tepat di hadapannya, namun bukan sebagai sosok yang utuh. Ia bergerak begitu cepat hingga mata manusia hanya menangkap kilasan cahaya emas yang menyambar. Sebuah tendangan memutar mendarat di dada pria itu, mengirim tubuhnya menghantam pilar beton hingga retak. Pria itu tergeletak, napasnya terputus seketika.

Dua penjaga sisanya—termasuk pria dengan detektor frekuensi—mulai melepaskan tembakan membabi buta ke arah kegelapan.

Pew! Pew! Pew!

Peluru-peluru itu menembus tumpukan sampah dan pipa, namun Arga tidak lagi berada di posisi semula. Ia melompat dari satu pipa limbah ke pipa lainnya, menciptakan jejak kehancuran di belakangnya. Ia menyambar sebuah pipa besi berkarat yang lepas dari dinding dan melemparkannya seperti tombak dengan kekuatan yang luar biasa.

Pipa itu menembus bahu penjaga ketiga, memaku tubuhnya ke dinding beton dengan kekuatan yang menyakitkan. Penjaga terakhir yang memegang detektor frekuensi berbalik, wajahnya memutih saat melihat mata emas Arga yang berpendar terang di kegelapan, seolah-olah ada dua bola api yang menatap jiwanya.

"Kau... kau monster!" jerit penjaga itu, suaranya pecah karena ketakutan yang murni.

Arga melangkah mendekat. Ia tidak lagi merasa perlu untuk menyembunyikan sisi binatangnya. Ia meraih detektor di tangan pria itu dan meremukkannya menjadi bubuk baja di telapak tangannya, seolah detektor itu hanyalah selembar kertas.

"Katakan pada Clarissa," suara Arga kini berlapis, penuh dengan otoritas purba yang membuat nyali pria itu runtuh seketika, "bahwa monster yang dia buang ke neraka baru saja menemukan jalan pulang. Dan kali ini, aku tidak akan hanya mematahkan tulang, aku akan merobohkan seluruh menaranya sampai tidak ada batu yang tersisa."

Pria itu pingsan karena syok hebat bahkan sebelum Arga sempat menyentuhnya.

Arga berdiri di tengah ruangan bawah tanah yang sunyi itu. Ia menatap telapak tangannya sendiri yang kini bergetar hebat. Ia baru saja membantai mereka secara mental dan fisik, dan ia merasa... senang. Itulah bagian yang paling menakutkan. Ia menikmati rasa takut mereka. Ia menikmati dominasi yang ia rasakan.

Sari.

Sebuah nama melintas di kepalanya. Sesaat, kegelapan di dalam batinnya tersingkap oleh cahaya hangat yang redup. Ia ingat wajah gadis itu—ia ingat bintik cokelat kecil di bawah mata kirinya. Sari. Gadis itu adalah satu-satunya jangkar yang tersisa dalam hidupnya, penahan agar ia tidak terseret sepenuhnya ke dalam jurang kegilaan Mustika.

Arga memejamkan mata rapat-rapat, memaksakan ingatan itu masuk lebih dalam ke lubuk jiwanya, mengukirnya di dalam otaknya agar tidak bisa dihapus oleh energi macan yang jahat.

"Aku harus keluar dari sini," gumam Arga kepada dirinya sendiri.

Ia menoleh ke arah saluran pembuangan utama yang mengalir deras menuju sungai di luar gedung. Arga tidak ragu. Ia terjun ke dalam aliran limbah yang dingin dan deras itu, membiarkan arus membawanya keluar dari labirin bawah tanah Wijaya Holdings.

Sementara itu, di lantai atas gedung, di ruang kerja pribadinya yang mewah, Clarissa berdiri di depan layar monitor yang kini hanya menampilkan statis. Ia menatap lubang pembuangan di monitor dengan segelas sampanye di tangannya, wajahnya tenang namun matanya penuh dengan ambisi yang dingin.

"Kau tidak akan pernah bisa keluar dari sana, Arga," bisiknya pada layar kosong itu. "Karena bahkan jika kau berhasil merangkak keluar dari neraka bawah tanah itu, kau tidak akan lagi memiliki ingatan tentang untuk apa kau berjuang. Kau akan menjadi senjata yang kehilangan pemiliknya."

Di luar gedung, di bawah langit malam Jakarta yang tercemar, sesosok bayangan muncul dari pipa pembuangan utama di tepi sungai. Arga merangkak keluar, tubuhnya berlumuran lumpur dan limbah, namun matanya yang emas bersinar tajam menatap puncak menara Wijaya Holdings yang menjulang tinggi di kejauhan.

Ia tidak lagi ingat siapa teman dan siapa lawan dengan jelas. Ia tidak lagi ingat bagaimana caranya hidup sebagai rakyat biasa. Yang ia tahu hanyalah satu hal: dia adalah Arga, dan dia adalah predator yang baru saja bangun dari tidurnya yang panjang. Dan malam ini, Jakarta akan menjadi medan perang pribadinya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!