Dita, siswi kelas 12 SMA, harus menerima nasib pahit ketika ayahnya yang terlilit hutang dan terbaring sakit memaksanya menikah dengan Arjuna, seorang polisi duda beranak satu.
Pernikahan itu dijadikan tebusan atas kecelakaan yang melibatkan Arjuna dan membuat ayah Dita kritis.
Meski tak sepenuhnya bersalah, Arjuna menyetujui pernikahan tersebut demi menebus rasa bersalahnya. Di tengah perbedaan usia dan penolakan putri Arjuna terhadap ibu sambungnya yang masih belia, Dita dan Arjuna harus menghadapi ujian besar untuk mempertahankan rumah tangga mereka.
Apakah cinta diantara mereka akan tumbuh, atau pernikahan itu berakhir dengan perpisahan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eli Priwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menjaga jarak selama ujian
Mobil hitam itu akhirnya berhenti tepat di depan pagar rumah sederhana milik Dita. Suasana di dalam kabin mendadak sunyi, hanya deru mesin yang terdengar halus. Sebelum Dita menyentuh gagang pintu, Arjuna mematikan mesin dan menoleh, menatap istrinya dengan sorot mata yang sulit diartikan.
"Dit," panggil Arjuna pelan. "Ibu dan Ayahku memintamu untuk segera pindah ke rumah. Mereka merasa tidak baik kalau suami istri tinggal terpisah seperti ini."
Deg!
Dita tertegun. Jantungnya berdegup kencang bukan karena debaran cinta, melainkan rasa ngeri membayangkan harus tinggal satu atap dengan Angga. Menatap wajah mantan kekasihnya setiap hari di meja makan sementara ia berstatus sebagai istri kakaknya adalah siksaan yang tidak sanggup ia bayangkan saat ini.
Dita menelan ludahnya dengan susah payah, jemarinya meremas tali tas sekolahnya. "Aku... aku pikir-pikir dulu ya, Pak. Untuk saat ini, aku mau fokus ke ujian kelulusan saja. Dan kalau boleh..." Dita menjeda kalimatnya, memberanikan diri menatap Arjuna. "Sebaiknya kita jangan bertemu dulu sampai aku selesai ujian."
Arjuna terdiam mematung. Ada kilat kekecewaan yang melintas di matanya, namun ia tetap tenang.
"Aku hanya ingin konsentrasi saja menghadapi ujian, Pak. Anda tidak usah berpikir yang macam-macam!" tambah Dita cepat, takut Arjuna salah paham atau merasa tersinggung.
Keheningan menyelimuti mereka selama beberapa saat, sampai akhirnya Arjuna mengulas senyum tipis, senyum yang terasa tulus dan menenangkan. Ia mengulurkan tangannya, mengusap lembut puncak kepala Dita, sebuah gerakan yang membuat Dita terpaku.
"Kau tenang saja, aku tidak akan mengganggumu selama ujian," ucap Arjuna lembut. "Semangat ya.... Aku yakin kamu bisa melewati Ujian Nasional dengan hasil yang terbaik. Fokuslah pada masa depanmu."
Dita hanya mampu mengangguk kecil. Di dalam hatinya, ia merasa sedikit lega, namun juga sesak. Ia hanya ingin waktu untuk menjernihkan pikirannya dari benang kusut kenyataan yang menimpanya, yakni kematian ayahnya, pernikahan paksa ini, dan fakta pahit tentang Angga.
"Terima kasih, Pak," bisik Dita.
Ia segera keluar dari mobil. Belum sempat Dita menutup pagar, ponsel Arjuna berdering nyaring. Dari gerak-geriknya, itu adalah panggilan darurat dari Mabes Polri. Tanpa sempat turun untuk berpamitan lebih lama, Arjuna hanya memberikan isyarat tangan dan segera melajukan mobilnya pergi.
Dita berdiri mematung di pinggir jalan, menatap bayangan mobil suaminya yang kian mengecil dan menghilang di tikungan jalan. Angin siang berhembus memainkan rambutnya, membawa serta beban pikiran yang tak kunjung usai.
‘Maafkan aku, Angga... maafkan aku, Pak Juna. Aku hanya butuh waktu untuk bernapas,’ batinnya lirih sebelum berbalik masuk ke dalam rumah.
*
*
Senin pagi yang mendung seolah mewakili suasana hati para siswa kelas 12. Di koridor sekolah, kesibukan luar biasa terlihat; beberapa siswa komat-kamit menghafal rumus, sementara yang lain hanya duduk terdiam dengan wajah pucat. Ujian Nasional bukan sekadar tes, melainkan gerbang penentu masa depan mereka.
Dita berjalan menyusuri koridor dengan langkah berat. Di tangannya tergenggam kartu ujian yang sedikit lecek karena ia remas saking gugupnya. Namun, kegugupannya bukan hanya soal soal matematika atau bahasa, melainkan sosok yang kini berjalan dari arah berlawanan.
Angga.
Pria itu berjalan dengan tas tersampir di satu bahu, pandangannya lurus ke depan. Saat jarak mereka hanya tinggal dua meter, Dita menghentikan langkahnya. Ia berharap ada sapaan, atau setidaknya satu tatapan hangat seperti biasanya.
"Angga..." panggil Dita lirih, nyaris tertelan suara riuh siswa lain.
Angga berhenti sejenak. Namun, ia tidak menoleh. Rahangnya mengeras, dan sorot matanya yang tertangkap dari samping terlihat sedingin es. Tanpa sepatah kata pun, ia kembali melangkah, melewati Dita begitu saja seolah gadis itu hanyalah udara kosong. Bau parfum Angga yang familiar tertinggal di udara, namun rasanya kini mencekik Dita.
‘Sakit, Angga... lebih sakit daripada dibenci Siena,’ batin Dita.
Ia memejamkan mata, berusaha menghalau air mata yang hampir jatuh. Ia tahu, rasa bersalah ini akan menjadi beban terberatnya selama mengerjakan soal ujian nanti.
"kenapa rasanya begitu menyakitkan seperti ini, aku tidak rela jika Angga bersikap seperti tadi, tapi.... Aku juga harus tahu posisi dan status ku saat ini, bahwa aku sudah menikah dan Angga adalah adik iparku, ya tuhan... kenapa takdir seperti mentertawakan ku, apakah aku sebegitu menyediakan!" gumamnya pelan nyaris berbisik.
Tak lama Rena muncul sembari menepuk bahunya Dita.
"Woy.... pagi-pagi sudah melamun...kau kenapa Dit? mau ujian sekolah kok seperti tidak ada semangatnya?"
Dita menghela napasnya, ia ingin menceritakan apa yang telah terjadi di rumah suaminya sabtu malam kemarin, namun sepertinya saat ini bukanlah waktu yang tepat, ia harus fokus kepada Ujian kelulusannya.
Mabes Polri, Jakarta
Di saat yang sama, suasana di ruang rapat Mabes Polri tak kalah tegang. Arjuna berdiri di depan layar besar yang menampilkan skema jaringan geng motor "Black Cobra" yakni geng yang selama beberapa bulan terakhir terlibat perampokan dan kekerasan jalanan.
"Target utama kita adalah kelompok ini," ucap Arjuna tegas, menunjuk foto seorang pria dengan tato di lehernya. "Mereka tidak hanya merampok, tapi juga sering melakukan intimidasi di jalan raya."
Seorang intelijen polisi menyodorkan sebuah dokumen tambahan. "Komandan, ada temuan menarik. Berdasarkan keterangan saksi dan rekaman dashcam lama yang kita sinkronkan, kelompok inilah yang melakukan pengejaran terhadap seorang pria paruh baya bernama Indra pada saat kecelakaan itu."
Arjuna tersentak. Nama itu adalah nama ayah Dita.
"Maksudmu.... mereka yang mengejar Pak Indra sampai beliau pingsan di depan mobilku?" tanya Arjuna, suaranya berubah rendah dan berbahaya.
"Benar, Komandan. Sepertinya Pak Indra menjadi saksi kunci atau korban pemerasan mereka saat itu. Mereka mengejarnya tanpa ampun hingga beliau terkena serangan jantung karena ketakutan yang luar biasa."
Arjuna mengepalkan tangannya hingga buku-buku jarinya memutih. Matanya berkilat tajam. Ternyata, selama ini ia hanya melihat ujung dari sebuah masalah besar. Penangkapan geng ini bukan lagi sekadar tugas negara baginya, tapi juga janji untuk membersihkan nama baiknya di depan Dita dan memberikan keadilan bagi mendiang mertuanya.
"Siapkan tim," perintah Arjuna dingin. "Aku ingin mereka ditangkap hidup-hidup. Tidak boleh ada satu pun yang lolos."
Bersambung...
skrng saatnya hempaskan itu c ulat bulu Maudy jauh jauh Juna