Mati karena kelelahan melayani 10 istri cantik? Itu adalah akhir paling konyol dalam hidup Arka. Namun, takdir memberinya kesempatan kedua. Ia terlahir kembali sebagai Reno, seorang pemuda miskin di desa terpencil dunia Beast Tamer.
Di dunia di mana kekuatan ditentukan oleh hewan kontrak, Reno justru menjadi bahan tertawaan karena hanya mampu menjinakkan seekor cacing tanah kecil yang lemas. Semua orang menghinanya, menganggap masa depannya telah berakhir sebagai petani rendahan.
Tapi mereka tidak tahu... cacing itu bukanlah cacing biasa. Di dalam tubuh kecil itu, bersemayam jiwa Nidhogg, Naga Kuno legendaris yang pernah memusnahkan sebuah negara dalam satu malam!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon By Magus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Turnamen Tengah Semester
Episode 20
Pagi itu, lonceng besar di puncak Menara Elang berdentang tujuh kali, suaranya mengalun rendah ke seluruh penjuru akademi, membangunkan setiap jiwa yang sedang beristirahat. Namun, bagi Reno, tidur nyenyak adalah kemewahan yang sudah ia dapatkan semalam. Ia terbangun tepat sebelum lonceng pertama berbunyi, tubuhnya terasa ringan seolah-olah gravitasi tidak lagi memiliki kuasa penuh atas dirinya.
Tanpa Logam Gravitasi yang membelenggunya selama tiga minggu terakhir, setiap gerakan Reno terasa sangat presisi. Ia bangkit dari tempat tidur, melakukan gerakan peregangan sederhana, dan mendengar bunyi kretek halus dari tulang-tulangnya yang kini jauh lebih padat.
"Reno, kau merasa itu?" Nidhogg merayap keluar dari balik bantal, sisik hitamnya berkilau tajam meskipun di dalam ruangan yang remang. "Udara di akademi ini... dipenuhi dengan bau ambisi, ketakutan, dan energi binatang yang bergejolak. Aku tidak sabar untuk mulai menelan beberapa dari mereka."
"Tenanglah, Nidhogg," bisik Reno sambil mengenakan seragam akademi yang baru dan bersih. "Ingat tujuan kita. Kita butuh Cermin Jiwa itu. Jangan menelan siapa pun kecuali aku yang memerintahkannya. Kita harus tetap berada di bawah radar selama mungkin."
Reno bercermin sejenak. Wajahnya yang dulu terlihat seperti remaja desa yang polos, kini memiliki garis rahang yang lebih tegas. Tatapan matanya dalam dan tenang, mencerminkan jiwa seorang pria yang sudah pernah memimpin kerajaan bisnis dan kini sedang membangun kerajaan barunya di dunia ini.
Di kantin asrama, suasananya sangat riuh. Semua murid membicarakan turnamen. Reno duduk di meja pojok, mencoba menikmati sarapannya dengan tenang sebelum Dito dan Lani datang mendekat.
Suasana di antara mereka bertiga masih terasa sedikit kaku setelah percakapan terakhir yang dingin. Dito tampak ragu untuk memulai pembicaraan, sementara Lani hanya menatap mangkuk supnya tanpa selera.
"Kalian siap?" tanya Reno, memecah keheningan.
Dito tersentak, lalu mengangguk cepat. "A..aku gugup sekali, Reno. Kudengar sistem turnamen kali ini berbeda. Mereka bilang akan ada babak penyisihan massal di area hutan buatan sebelum masuk ke arena satu lawan satu."
Lani akhirnya menengadah, matanya menatap Reno dengan penuh selidik. "Reno, kau terlihat... sangat siap. Tidak ada rasa takut sama sekali di matamu. Apakah latihan dengan Instruktur Raka benar-benar sehebat itu?"
Reno meletakkan sendoknya. Ia menyadari bahwa ia tidak bisa terus menerus menjauhkan diri dari mereka jika ingin memiliki sekutu yang setia. "Lani, Dito... maafkan sikapku beberapa hari terakhir. Latihan itu sangat berat dan aku harus fokus. Tapi satu hal yang perlu kalian tahu di dalam hutan buatan nanti, jangan pernah berpisah. Kekuatan individu kalian mungkin tidak seberapa dibandingkan anak-anak bangsawan, tapi koordinasi kalian adalah kunci."
Lani sedikit tersenyum, merasa lega karena Reno akhirnya bicara lebih banyak. "Kami mengerti. Tapi bagaimana denganmu? Kau akan bersama kami?"
Reno menggeleng pelan. "Aku akan menjadi target utama banyak orang, terutama kelompok Bagas. Jika aku bersama kalian, kalian hanya akan ikut celaka. Aku akan menarik perhatian mereka, sementara kalian fokus mengumpulkan poin eliminasi."
"Tapi Reno" Lani ingin memprotes, namun Reno mengangkat tangannya.
"Ini strategi terbaik. Percayalah padaku," ucap Reno tegas.
Pukul delapan pagi, seluruh murid tingkat pertama dikumpulkan di Great Eagle Arena, sebuah stadion terbuka yang mampu menampung ribuan orang. Tribun penonton tidak hanya diisi oleh murid dan instruktur, tetapi juga oleh para tamu undangan dari kota, pedagang besar, hingga perwakilan dari militer kerajaan yang ingin mencari bakat baru.
Reno berdiri di tengah barisan. Ia bisa merasakan ratusan pasang mata menatapnya. Namanya masih menjadi buah bibir sebagai si pembawa cacing yang secara ajaib menang melawan serigala Bagas.
Di panggung utama, Master Gandos, sang Wakil Dekan, maju ke depan. Ia mengenakan jubah kebesaran berwarna hijau tua yang mewah.
"Murid-murid sekalian!" suara Master Gandos menggelegar melalui sihir pengeras suara. "Turnamen Tengah Semester bukan sekadar ajang pamer kekuatan. Ini adalah pembuktian sejauh mana kalian bisa bertahan dalam kondisi tertekan. Aturan tahun ini telah diubah oleh dewan instruktur!"
Gandos melambaikan tangannya, dan sebuah layar proyeksi sihir raksasa muncul di udara, menampilkan peta sebuah wilayah hutan yang dikelilingi pagar energi.
"Babak pertama: The Survival Hunt. Kalian semua akan dimasukkan ke dalam Hutan Simulasi ini. Di sana tersebar 200 buah Lencana Kristal. Kalian punya waktu enam jam. Hanya 64 orang yang memiliki lencana terbanyak yang berhak maju ke babak duel arena besok!"
Kerumunan murid seketika gaduh. Ini berarti akan ada perebutan berdarah di dalam hutan.
"Tidak ada aturan!" lanjut Gandos dengan senyum tipis yang mengerikan. "Kalian boleh bekerja sama, boleh mengkhianati, boleh mencuri. Selama kalian tidak membunuh teman sendiri, semuanya diizinkan. Ingat, para instruktur akan mengawasi melalui mata elang di langit. Siapa yang menggunakan cara yang terlalu kejam akan langsung didiskualifikasi!"
Reno menyipitkan mata. Tanpa aturan? Ini benar-benar menguntungkan mereka yang punya kelompok besar.
Ia melirik ke arah Bagas yang berdiri tidak jauh darinya. Bagas dikelilingi oleh hampir dua puluh orang murid, termasuk beberapa murid dari kelas lain yang tampaknya sudah disuap. Bagas menunjuk ke arah Reno, lalu membuat gerakan jempol ke bawah sambil tertawa mengejek.
"Reno, kelihatannya mereka sudah merencanakan pesta penyambutan untukmu," Nidhogg menyeringai di bahu Reno.
"Biarkan saja," balas Reno dingin. "Mereka pikir mereka adalah pemburu, padahal mereka hanya sedang menggiring diri mereka sendiri ke sarang naga."
Sebelum masuk ke portal hutan simulasi, para murid diminta untuk mengambil nomor urut dan posisi drop secara acak. Reno mendapatkan nomor 742, posisi drop di Sektor Utara wilayah yang penuh dengan rawa dan kabut tebal.
"Hati-hati, Reno," bisik Lani sebelum mereka dipisahkan menuju portal yang berbeda. "Kami akan berusaha bertahan di Sektor Selatan."
"Kalian juga. Jangan percaya pada siapa pun kecuali kalian berdua," pesan Reno terakhir kali.
Reno melangkah masuk ke dalam portal cahaya. Sensasi pusing sesaat melanda, dan detik berikutnya, ia sudah berdiri di atas tanah yang becek. Udara di sekitarnya lembap dan berbau busuk. Pohon-pohon rawa yang melengkung dengan akar-akar yang keluar dari tanah menciptakan pemandangan yang suram. Kabut putih menyelimuti area itu, membatasi jarak pandang hanya sekitar sepuluh meter.
Reno tidak langsung bergerak. Ia diam, mengatur napasnya, dan mulai mengaktifkan teknik Vibrasi Tanah. Melalui getaran di bawah kakinya, ia bisa merasakan ada tiga orang yang mendarat tidak jauh darinya.
"Nidhogg, kau merasakannya?"
"Ya. Tiga ekor tikus kecil. Mereka sedang mengendap endap mendekat. Sepertinya mereka satu kelompok," jawab Nidhogg.
Reno tersenyum tipis. Ia meraba kantongnya, memastikan lencana awalnya ada di sana. Di turnamen ini, setiap murid dibekali satu lencana awal. Kehilangan lencana awal berarti eliminasi instan.
"Ayo kita bermain sedikit, Nidhogg. Jangan tunjukkan kekuatan penuhmu dulu. Kita akan gunakan kabut ini sebagai sekutu kita."
Reno sengaja berjalan dengan langkah yang sedikit berat, seolah-olah ia sedang kebingungan mencari arah di dalam kabut.
"Itu dia! Si anak desa!" sebuah suara berbisik dari balik pohon besar di depan Reno.
Tiga orang murid muncul dari balik kabut. Mereka bukan Bagas, tapi mereka mengenakan pita merah di lengan mereka tanda bahwa mereka adalah anggota aliansi Bagas. Binatang kontrak mereka adalah dua ekor Anjing Tanah dan seekor Ular Hijau.
"Reno, serahkan lencana mu sekarang dan kami akan membiarkanmu keluar tanpa luka," ucap salah satu murid dengan sombong. "Jangan harap cacing mu bisa menyelamatkanmu di rawa ini. Ular hijauku adalah raja di tempat seperti ini!"
Reno berhenti berjalan. Ia menatap mereka dengan tatapan malas. "Tiga orang melawan satu? Kalian benar-benar pengecut, ya? Apa Bagas tidak mengajari kalian cara bertarung dengan jantan?"
"Berisik! Serang!"
Ular hijau itu melesat melalui air rawa dengan kecepatan tinggi, sementara kedua anjing tanah menggali ke bawah untuk menyerang kaki Reno.
Reno tetap diam di tempat. Saat ular itu melompat untuk menggigit lehernya, Reno hanya mengangkat tangan kirinya.
"Nidhogg."
Bukan ledakan energi yang keluar. Nidhogg hanya sedikit memanjangkan tubuhnya dan melilit rahang ular itu dalam sekejap mata. Dengan satu sentakan tangan Reno, ular itu terlempar menghantam pohon hingga pingsan.
Di saat yang sama, tanah di bawah kaki Reno meledak saat kedua anjing tanah muncul. Reno melompat ke udara dengan ringan, melakukan putaran balik yang anggun, dan mendarat tepat di atas kepala kedua anjing tersebut.
BAM!
Menggunakan berat energinya yang telah dilatih dengan Logam Gravitasi, hantaman kaki Reno membuat kedua anjing itu terbenam kembali ke dalam lumpur rawa.
Ketiga murid itu melongo. Serangan mereka yang sudah terencana matang hancur hanya dalam hitungan detik oleh seorang remaja yang bahkan tidak terlihat mengeluarkan senjata.
"Maaf, lencana kalian sekarang milikku," ucap Reno dingin.
Ia bergerak dengan kecepatan yang sulit diikuti mata. Sebelum mereka bisa memanggil kembali binatang kontrak mereka, Reno sudah berada di belakang mereka, memukul titik saraf di leher mereka hingga pingsan.
Reno mengambil tiga lencana tambahan dari saku mereka. "Baru sepuluh menit dan sudah dapat tiga lencana. Turnamen ini mungkin akan lebih cepat dari dugaanku."
"Reno, tunggu..." Nidhogg tiba-tiba menegang di bahunya. "Ada aroma yang berbeda... di arah rawa yang lebih dalam. Sesuatu yang sangat besar sedang bergerak ke arah kita. Dan ini bukan binatang simulasi biasa."
Reno menyipitkan mata, menatap ke dalam kabut yang semakin tebal. Suara deburan air yang berat terdengar dari kejauhan. Byur... Byur...
"Sepertinya akademi menyiapkan kejutan yang tidak ada di dalam peta," gumam Reno sambil mempererat pegangannya pada Nidhogg.
Turnamen baru saja dimulai, dan tantangan yang sesungguhnya mulai menampakkan taringnya.