NovelToon NovelToon
Rumah Murah Di Desa Arwah

Rumah Murah Di Desa Arwah

Status: sedang berlangsung
Genre:Rumahhantu / Horor / Misteri
Popularitas:921
Nilai: 5
Nama Author: Na-Hyun

Niatnya mencari kontrakan murah.
Yang didapat justru desa yang dipenuhi hantu.

Endric belum sempat beradaptasi, sudah diajak berbicara oleh pocong. Ia juga belum sempat kabur, tetapi jalan di desa itu terus berputar tanpa arah. Belum sempat bersantai, namanya malah sudah masuk dalam daftar tumbal.

Di desa itu, aturan hidupnya sederhana, jangan pernah keluar malam, jangan menjawab saat dipanggil, dan jangan bersikap terlalu akrab dengan warga karena belum tentu mereka manusia.

Untungnya, Endric memiliki “teman”. Sayangnya, temannya adalah pocong.

Sekarang pilihannya hanya dua, kabur, yang hampir pasti gagal, atau bertahan sambil berpura-pura waras di desa paling tidak normal yang pernah ia temui.

Dan yang jadi masalahnya, besok malam adalah gilirannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Na-Hyun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Mencari Jawaban di Tengah Hutan

Ayam berkokok tepat di telinga Endric. Suaranya keras dan sangat dekat hingga membuatnya refleks bangun. Tangannya menepuk udara di sampingnya, tetapi tidak ada apa pun di sana.

“Woi!”

Endric langsung bangun sambil menepuk udara di sampingnya.

Tidak ada ayam. Tidak ada siapa pun. Hanya kasur tipis dan cahaya pagi yang masuk dari jendela.

Endric terdiam beberapa detik, lalu menatap kosong ke depan. Ia mencoba mencerna keadaan di sekitarnya yang terasa terlalu tenang. Setelah beberapa saat, ia bergumam pelan.

“Gue... masih hidup?”

Ia cepat-cepat melihat sekeliling. Dinding tampak utuh, lantai tidak bergerak, dan tidak ada retakan atau mata yang mengintai. Semuanya terlihat normal, justru terlalu normal hingga terasa mencurigakan.

“Ini yang bahaya,” katanya pelan.

“Setuju.” Suara Gandhul muncul dari sudut ruangan. Endric menoleh dan melihat pocong itu bersandar santai di dinding seperti biasa.

“Lo dari tadi di situ?” tanya Endric.

“Iya.”

“Ngapain?”

“Nunggu lo bangun. Mau lihat reaksi lo kalau masih hidup.”

Endric mendecak pelan. “Gue berharap lo lebih suportif.”

“Gue support dengan kehadiran.”

Endric mengusap wajahnya perlahan. “Semalam itu nyata, kan?”

Gandhul mengangguk. “Sayangnya iya.”

Endric menghela napas panjang. Ia berdiri dan berjalan ke jendela, membukanya sedikit. Cahaya matahari masuk dengan hangat, membawa suasana yang kontras dengan kejadian malam tadi.

Di luar, beberapa warga terlihat beraktivitas. Ada yang menyapu halaman, mengobrol santai, dan menjemur pakaian. Semuanya tampak biasa, seperti desa pada umumnya.

“Ini kok beda banget...” gumam Endric.

“Siang sama malam beda dunia,” jawab Gandhul.

Endric membuka jendela sedikit lebih lebar. Suara kehidupan masuk, berupa obrolan ringan, tawa, dan langkah kaki. Suasana itu terasa menenangkan, seolah tidak pernah terjadi hal aneh.

“Kalau gini, gue bisa lupa semuanya,” katanya.

“Makanya banyak yang kejebak.”

Endric menoleh. “Maksud lo?”

Gandhul melompat mendekat. “Siang itu buat nenangin. Biar lo mikir semua normal.”

Endric kembali melihat ke luar. Seorang bapak lewat sambil melambaikan tangan.

“Pagi, Mas!”

Endric refleks membalas. “Pagi, Pak!”

Setelah bapak itu pergi, Endric berbisik, “Kalau mereka kayak gini, gue jadi bingung siapa yang bahaya.”

“Semua berpotensi,” jawab Gandhul santai.

Endric menutup jendela lagi. “Oke. Fokus. Malam ini gue harus datang.”

“Iya.”

“Berarti siang ini gue harus cari info.”

Gandhul mengangkat alis. “Dari siapa?”

Endric tersenyum tipis. “Warga.”

Gandhul langsung tertawa. “Wah, nekat. Gue suka.”

Endric meraih jaketnya. “Kalau gue diam saja, gue mati. Jadi mending cari tahu.”

“Ya sudah. Gue ikut.”

“Jangan tiba-tiba muncul di depan mereka, ya.”

“Gue tahu diri, cok.”

Endric keluar rumah. Udara pagi terasa ringan, tanpa tekanan atau rasa diawasi. Namun, setelah pengalaman kemarin, ia tahu itu hanya ilusi.

Ia berjalan pelan menyusuri jalan. Beberapa warga menyapanya dengan ramah, seolah tidak ada yang aneh. Senyum mereka terlihat tulus, tetapi terasa terlalu sempurna.

“Mas Endric, sudah sarapan?” tanya seorang ibu.

“Belum, Bu.”

“Ke rumah saya saja.”

Endric hampir menjawab iya, tetapi langsung teringat aturan yang belum sepenuhnya ia pahami. Ia tersenyum tipis dan menolak dengan halus.

“Terima kasih, Bu. Nanti saja.”

Ibu itu mengangguk tanpa memaksa. Namun senyumnya bertahan sedikit lebih lama dari yang seharusnya.

Endric melanjutkan langkah. “Gue hampir kejebak,” bisiknya.

“Bagus. Lo mulai belajar,” jawab Gandhul.

Mereka sampai di warung kecil di ujung jalan, satu-satunya tempat yang tampak seperti pusat aktivitas. Endric masuk dan melihat beberapa orang duduk sambil minum kopi dan mengobrol santai.

Saat Endric masuk, semua mata tertuju padanya. Namun kali ini, mereka tersenyum.

“Mas baru, ya?” tanya seorang pria.

“Iya,” jawab Endric.

“Duduk, Mas. Ngopi dulu.”

Endric ragu sejenak, lalu duduk.

“Gue pantau,” bisik Gandhul dari belakang.

Endric mengangguk kecil. Seorang ibu datang membawa secangkir kopi.

“Ini, Mas.”

“Terima kasih.”

Endric menatap kopi itu. Aromanya biasa, tidak ada yang mencurigakan.

“Minum saja. Siang aman,” kata Gandhul pelan.

Endric akhirnya menyeruput. Rasanya hangat dan normal. Ia sedikit rileks.

“Mas kerja apa?” tanya pria tadi.

“Lagi cari kerja,” jawab Endric.

“Wah, cocok di sini.”

Endric tersenyum kecil. “Cocok gimana, Pak?”

Pria itu tertawa.

“Tenang. gak ribet. Hidup sederhana.”

Endric mengangguk. “Di sini sering ada pendatang, ya?”

Pria itu diam sebentar, lalu menjawab. “Kadang.”

“Terus mereka tinggal lama?”

Pria itu tersenyum. “Macam-macam.”

Endric mencondongkan badan sedikit. “Maksudnya?”

Pria itu menatapnya dalam, lalu berkata pelan. “Ada yang betah.”

Endric menelan ludah. “Yang gak betah?”

Pria itu tidak menjawab. Ia hanya menyeruput kopinya. Percakapan terhenti begitu saja.

Endric menghela napas pelan. “Informasi nol,” bisiknya.

“Ya gak bakal dikasih terang-terangan,” jawab Gandhul.

Endric menghabiskan kopinya, lalu berdiri. “Terima kasih, Pak.”

Pria itu mengangguk. “Hati-hati, Mas.”

Endric keluar dari warung dengan langkah lebih cepat. Ia berhenti di bawah pohon dan mencoba berpikir.

“Gue butuh sumber lain,” katanya.

“Selain manusia?” tanya Gandhul.

Endric menoleh. “Hantu?”

Gandhul tersenyum lebar. “Baru cocok.”

Endric menghela napas. “Oke. Kenalin gue ke yang lain.”

Gandhul berpikir sebentar. “Siang gini susah.”

“Kenapa?”

“Mereka malas muncul.”

Endric menatapnya datar. “Hantu bisa malas?”

“Ya bisa. Lo kira mereka robot?”

Endric memijat pelipisnya. “Gue serius, cok.”

“Ya gue juga serius.”

Endric menghela napas panjang. “Terus kapan?”

Gandhul menoleh ke arah hutan di kejauhan. “Kalau lo berani, kita ke sana.”

Endric mengikuti arah pandangnya. Pepohonan lebat terlihat gelap meski masih siang.

“Itu arah mana?” tanya Endric.

“Pinggir Alas Purwo.”

Endric langsung diam. “Gue baru sehari di sini.”

“Ya sekalian eksplor.”

Endric menatapnya lama. “Kalau gue mati di sana?”

Gandhul mengangkat bahu. “Setidaknya gak mati di rumah.”

Endric tertawa pendek. “Logika lo aneh.”

“Tapi valid.”

Endric menarik napas dalam, lalu mengembuskannya perlahan. “Oke. Kita ke sana.”

Gandhul tersenyum. “Gas.”

Mereka berjalan menuju arah hutan. Semakin dekat, suasana berubah. Udara terasa lebih dingin dan suara warga menghilang, digantikan oleh sunyi yang pekat.

Endric melangkah lebih pelan. “Gue gak suka ini,” katanya.

“Semua hal penting memang gak nyaman,” jawab Gandhul.

Mereka sampai di batas hutan. Endric berhenti dan menatap ke dalam. Gelap, meski matahari masih tinggi.

“Ndhul...”

“Hm?”

“Lo yakin ini ide bagus?”

Gandhul menoleh. “Gak.”

Endric mendecak. “Terus kenapa kita ke sini?”

“Karena jawabannya ada di dalam.”

Endric diam beberapa detik, lalu melangkah masuk.

Satu langkah.

Dua langkah.

Suara dunia luar langsung hilang. Sunyi total menyelimuti. Endric merasakan jantungnya berdetak lebih keras.

“Ini beda,” bisiknya.

“Ya. Ini bukan desa lagi.”

Endric berjalan lebih dalam. Tiba-tiba, suara perempuan terdengar pelan, seperti menangis. Endric langsung berhenti.

“Lo dengar?” tanyanya.

Gandhul mengangguk. “Dengar.”

Tangisan itu semakin jelas, berasal dari balik pohon. Endric menelan ludah.

“Gue lihat.”

Ia melangkah pelan mendekat, menyibak ranting.

Di sana, seorang wanita duduk membelakangi mereka. Rambutnya panjang menutupi wajah, dan bahunya bergetar pelan.

Endric berhenti.

“Permisi...” katanya hati-hati.

Wanita itu berhenti menangis. Ia diam beberapa detik, lalu perlahan memutar kepalanya dengan gerakan yang tidak wajar, hampir seratus delapan puluh derajat.

Tatapannya langsung mengunci Endric. Ia tersenyum.

“Kamu juga dipanggil, ya?”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!