NovelToon NovelToon
Bos Baruku Ternyata Mantanku

Bos Baruku Ternyata Mantanku

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Cinta Seiring Waktu / CEO
Popularitas:8.6k
Nilai: 5
Nama Author: Muhammad Robby Ido Wardanny

Aira Maharani, 28 tahun, dikenal sebagai gadis mungil dan cantik dengan dedikasi tinggi di bidang keuangan. Kariernya di salah satu anak perusahaan Satria Group berjalan stabil hingga ia dipindahkan ke unit yang lebih besar, sebuah kesempatan yang seharusnya menjadi langkah maju. Namun, harapan itu berubah menjadi kecanggungan ketika ia mengetahui bahwa direktur barunya adalah Bimantara Dwi Cahyo, putra pemilik Satria Group sekaligus mantan kekasihnya di masa SMA.

Dulu, Aira memilih mengakhiri hubungan mereka karena merasa prestasinya menurun sejak berpacaran dengan Bima. Keputusan itu meninggalkan luka yang tampaknya belum sepenuhnya sembuh bagi Bima. Kini, dalam posisi sebagai atasan, Bima kerap memberi tekanan dan tugas berlebihan kepada Aira, seolah membalas masa lalu yang belum selesai.

Meski awalnya dipenuhi ketegangan dan konflik, interaksi mereka mulai berubah seiring berjalannya waktu

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad Robby Ido Wardanny, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 3

Aira melangkah keluar dari ruangan direktur dengan langkah yang terasa lebih berat dari biasanya. Pintu itu baru saja tertutup di belakangnya, namun pikirannya masih tertinggal di dalam. Wajahnya tampak lesu, matanya kehilangan fokus seperti seseorang yang baru saja tersadar dari mimpi yang terlalu nyata untuk diabaikan.

Dia tidak pernah menyangka bahwa pria yang tadi duduk di kursi direktur itu adalah Bima.

Bimantara Dwi Cahyo.

Mantan kekasihnya saat SMA.

Lebih mengejutkan lagi, pria yang dulu ia kenal sebagai anak pembuat onar itu ternyata adalah putra dari pemilik Satria Group. Fakta itu terasa seperti lelucon yang terlalu kejam untuk ditertawakan.

Aira menghela napas panjang saat berjalan melewati lobi perusahaan yang luas dan megah. Kilap lantai marmer dan hiruk pikuk karyawan yang lalu lalang terasa asing baginya saat ini. Semua terlihat sama seperti pagi tadi, tapi perasaannya sudah berubah.

“Jadi… selama ini dia…” gumam Aira pelan.

Dia berhenti sejenak di depan pintu keluar, menatap pantulan dirinya di kaca. Wajahnya masih sama, tapi hatinya terasa seperti baru saja diguncang.

“Kenapa aku tidak pernah tahu…” lanjutnya lirih.

Padahal, selama ini Bima yang dia kenal hanyalah seorang siswa SMA yang tampak bebas, santai, dan… sedikit menyebalkan. Tidak ada tanda-tanda bahwa dia berasal dari keluarga konglomerat. Tidak ada sikap angkuh. Tidak ada pengawalan. Tidak ada kemewahan mencolok.

Hanya seorang remaja yang suka membuat keributan.

Aira akhirnya melangkah keluar dari gedung dan berdiri di tepi jalan, menunggu angkutan umum. Angin sore menyapu rambutnya, tapi tidak cukup untuk mengusir kekacauan dalam pikirannya.

Tanpa sadar, kenangan lama mulai bermunculan.

 

Dulu, Aira adalah siswi teladan.

Kutu buku, begitu orang-orang menyebutnya.

Dia selalu duduk di barisan depan, mencatat setiap penjelasan guru dengan rapi, dan jarang terlibat dalam percakapan yang tidak perlu. Nilainya selalu sempurna. Namanya selalu berada di peringkat pertama.

Hingga suatu hari, hidupnya diganggu oleh seseorang.

“Eh, anak SD nyasar ya?” suara itu terdengar dari belakangnya.

Aira mengernyit dan menoleh dengan kesal. Di sana berdiri seorang siswa laki-laki dengan seragam yang sedikit berantakan dan senyum jahil yang menyebalkan.

“Apa maksudmu?” balas Aira dingin.

“Serius, kamu kecil banget. Tasnya juga kayak anak SD,” ejeknya lagi sambil tertawa ringan.

Aira menatapnya tajam. “Lebih baik kecil daripada tidak punya otak.”

“Ouch,” pria itu pura-pura memegang dadanya. “Pedes juga.”

Sejak hari itu, Bima seperti memiliki hobi baru: mengganggu Aira.

Kadang dia menarik kursinya saat Aira hendak duduk, kadang menyembunyikan bukunya, atau sekadar duduk di sebelahnya hanya untuk mengomentari caranya belajar.

“Kamu ini belajar terus. Hidup itu bukan cuma nilai, tahu,” kata Bima suatu hari.

Aira mendengus. “Dan hidup itu juga bukan cuma membuat masalah seperti kamu.”

Bima tersenyum, tidak tersinggung sedikit pun. “Berarti kita saling melengkapi.”

“Jangan percaya diri.”

Namun entah bagaimana, dari pertengkaran kecil itu, muncul sesuatu yang tidak mereka sadari.

Kebiasaan saling mengejek berubah menjadi obrolan panjang.

Obrolan panjang berubah menjadi kebersamaan.

Dan kebersamaan… berubah menjadi cinta.

 

Aira tersenyum tipis mengingat itu, meski senyum itu cepat menghilang.

Dulu, semuanya terasa begitu sederhana.

Mereka seperti dua orang yang tidak bisa dipisahkan.

“Aira, nanti pulang bareng ya,” kata Bima sambil menyandarkan dagunya di meja Aira.

“Aku masih ada tambahan kelas.”

“Ya sudah, aku tunggu.”

“Untuk apa?”

“Untuk memastikan kamu tidak diculik,” jawab Bima santai.

Aira memutar bola matanya. “Aku lebih khawatir kamu yang menculik orang.”

Bima tertawa. “Tenang, aku cuma menculik hati kamu.”

Aira langsung melemparkan buku ke arahnya. “Gombal.”

Namun di balik semua itu, Aira mulai berubah.

Dia yang biasanya fokus pada pelajaran, perlahan mulai terdistraksi.

Pikirannya sering melayang.

Bukunya terbuka, tapi yang terbayang justru wajah Bima.

Nilainya… mulai turun.

Tidak drastis, tapi cukup untuk membuatnya tergeser dari peringkat pertama.

Dan itu cukup untuk membuat ayahnya marah.

“Aira, ini apa?” suara ayahnya terdengar tegas sambil menunjukkan hasil ujiannya.

Aira menunduk. “Maaf, Yah…”

“Maaf tidak cukup. Kamu tahu harapan keluarga kita.”

“Iya, Yah.”

“Kamu harus fokus. Tidak ada yang lebih penting dari masa depanmu.”

Aira terdiam. Kata-kata itu terus terngiang di kepalanya.

Masa depan.

Tanggung jawab.

Harapan keluarga.

Semua itu terasa berat.

Dan tanpa sadar, dia mulai melihat Bima sebagai… penghalang.

 

“Bima… kita harus bicara,” kata Aira suatu sore.

Bima yang sedang tersenyum langsung mengernyit. “Kenapa serius banget?”

“Aku… ingin kita putus.”

Hening.

Untuk pertama kalinya, Bima tidak langsung merespons dengan candaan.

“Apa?” suaranya pelan, hampir tidak terdengar.

“Aku harus fokus belajar. Nilai aku turun, dan aku tidak bisa terus seperti ini.”

“Jadi… kamu ninggalin aku cuma karena nilai?” tanya Bima, nada suaranya mulai berubah.

“Bukan cuma itu.”

“Lalu apa? Aku ganggu kamu? Aku bikin kamu gagal?”

Aira menggigit bibirnya. “Aku tidak mau masa depanku hancur.”

“Dan aku bagian dari kehancuran itu?” suara Bima kini terdengar lebih tajam.

Aira tidak menjawab.

Diamnya sudah cukup.

Bima tertawa kecil, tapi tidak ada kebahagiaan di dalamnya. “Hebat. Jadi selama ini aku cuma penghalang.”

“Aku tidak bilang begitu.”

“Tapi itu yang kamu maksud.”

Aira menahan air matanya. “Aku minta maaf.”

“Jangan minta maaf kalau kamu sudah memutuskan,” balas Bima dingin.

Dia menatap Aira beberapa detik, lalu menghela napas.

“Kalau itu maumu… ya sudah.”

Bima berbalik dan pergi.

Dan Aira… tetap berdiri di sana, membiarkannya pergi.

Malam itu, tidak ada yang tahu bahwa Aira menangis diam-diam di kamarnya.

Keputusan itu bukan hal mudah.

Tapi dia merasa… itu satu-satunya pilihan.

 

Lamunan Aira terputus saat angkutan umum yang ditunggunya akhirnya datang.

Dia naik dan duduk di dekat jendela, membiarkan pemandangan jalanan berlalu begitu saja tanpa benar-benar dilihat.

“Sekarang… dia jadi atasanku,” gumamnya pelan.

Hubungan yang dulu penuh emosi kini berubah menjadi sesuatu yang dingin dan profesional.

Aira menghela napas.

Dia tidak menyesali keputusannya.

Tidak.

Setidaknya, itulah yang ingin dia yakini.

Namun satu hal yang mengganggunya adalah kenyataan bahwa… dia ternyata tidak pernah benar-benar mengenal Bima.

 

Setelah turun di sebuah gang kecil, Aira berjalan menuju rumah bibinya.

Rumah itu sederhana, tapi hangat.

Begitu pintu terbuka, suara lembut menyambutnya.

“Aira? Kamu sudah pulang, Nak.”

Aira tersenyum kecil. “Iya, Bibi.”

Fatimah, bibinya, langsung menghampiri dan memperhatikannya dengan penuh perhatian. “Kamu capek ya? Sana mandi dulu, nanti kita makan malam.”

“Iya, Bibi.”

Aira masuk ke dalam rumah, membersihkan diri, lalu kembali ke ruang makan.

Aroma masakan hangat langsung menyambutnya.

Mereka duduk bersama.

“Gimana hari pertama kerja?” tanya Fatimah sambil menyendokkan nasi.

Aira sempat terdiam sejenak, lalu tersenyum. “Menyenangkan, Bibi. Kantornya besar sekali.”

“Oh ya? Pasti banyak orang ya.”

“Iya. Aku juga sudah kenal beberapa orang. Ada Bu Ida, manajer finance, baik sekali. Terus ada Ayunda, teman baru aku.”

Fatimah tersenyum. “Syukurlah kalau begitu.”

Aira mengangguk. “Atasanku juga… baik.”

Dia berhenti sejenak sebelum melanjutkan makan.

Fatimah tidak menyadari jeda itu. “Kalau begitu kamu pasti betah di sana.”

“Iya, Bibi.”

Setelah beberapa saat, Aira berkata pelan, “Bibi… aku kepikiran untuk kost.”

Fatimah langsung menatapnya. “Kost? Memangnya kenapa? Di sini tidak nyaman?”

“Bukan begitu, Bibi. Aku cuma… ingin belajar mandiri.”

Fatimah terdiam sejenak, lalu tersenyum lembut. “Kamu memang sudah besar.”

“Tapi Bibi tidak keberatan kan?”

“Tidak. Bibi cuma khawatir.”

“Aku akan hati-hati,” jawab Aira meyakinkan.

Fatimah mengangguk. “Kalau itu keputusanmu, Bibi dukung. Tapi jaga diri baik-baik.”

“Iya, Bibi. Aku janji.”

 

Di tempat lain, suasana berbeda terasa.

Bima duduk sendirian di apartemennya.

Ruangan itu luas dan mewah, tapi terasa kosong.

Dia bersandar di sofa, menatap langit-langit tanpa fokus.

Pertemuan hari ini terus terulang di kepalanya.

Wajah Aira.

Cara dia berbicara.

Dan jarak yang kini terasa begitu jelas di antara mereka.

“Jadi… kita ketemu lagi,” gumam Bima.

Dia tertawa kecil, tapi terdengar hambar.

“Sebagai atasan dan bawahan.”

Tangannya terangkat, menutupi matanya.

Dia tidak menyangka akan bertemu Aira lagi, apalagi dalam situasi seperti ini.

Perasaan yang dulu dia kira sudah hilang… ternyata masih ada.

Atau mungkin, tidak pernah benar-benar pergi.

Bima menurunkan tangannya dan menatap kosong ke depan.

“Dia masih sama…” katanya pelan.

Tetap tegas.

Tetap kuat.

Dan tetap… sulit dijangkau.

Namun satu pertanyaan terus mengganggunya.

“Apakah dia… masih punya sedikit saja rasa?”

Dia menghela napas panjang.

“Atau… dia benar-benar membenciku sekarang?”

Tidak ada jawaban.

Hanya keheningan yang mengisi ruangan itu.

Dan di tengah keheningan itu, Bima hanya bisa duduk diam, terjebak di antara masa lalu yang belum selesai dan kenyataan yang tidak bisa dihindari.

1
Wayan Sucani
Lanjut thor...
Black Rascall: siap kak jangan lupa dukungannya
total 1 replies
Nurjana Bakir
lanjut thoor
Black Rascall: siap👍👍👍 jangan lupa likenya kak
total 1 replies
Cucu Rodiah
udah kalou begini terus tidak baca lagi
Black Rascall: makasih udah mampir kak semoga nanti mau mampir lagi
total 1 replies
Cucu Rodiah
komentar apalagi udah dua kali komentar
Black Rascall: tenang aja kak nanti kalau view nyentuh 5K saya update 10 bab sehari buat ngasih bonus ke pembaca yang sudah mendukung
total 1 replies
Cucu Rodiah
teruskan kan jangan di potong potong
Black Rascall: sabar ya kak udah saya siapkan bab terjadwal sampai bab 44 kok update setiap hari
total 1 replies
Cucu Rodiah
maki seru bagus
Black Rascall: makasih dukungannya bab berikutnya mungkin lebih parah ributnya
total 1 replies
Nana umi
bagus
Black Rascall: makasih kak bantu likenya
total 1 replies
Lempongsari Samsung
makasih crazy up nya thor❤❤❤
Black Rascall: yang penting likenya yang rajin kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!