Sial! .
Lagi-lagi Dom dibuat menangis karena cinta.
Satu kali lagi pria itu berlutut, memohon maaf dan mengemis cinta kepada istri kecilnya. Namun, sebesar apa cinta yang dia tunjukkan, Bella tetap menggeleng dengan linangan air mata. Hukuman telah wanita itu jatuhkan sepenuh cinta.
"Bella, apakah pria brengsek sepertiku tidak layak untuk mendapatkan kesempatan kedua?" Gugu Dominic dengan suara bergetar.
Keduanya saling mencintai, namun Dom kembali terlena dengan masa lalunya, perselingkuhan pria itu dengan Sarah menjadikan boomerang hebat bagi bahtera rumah tangganya bersama Bella.
Bisakah Dom merebut kembali rasa cinta dan percaya istri kecilnya seperti semula?
"Aku begitu mencintaimu, Bella. Dan kau hampir membuat pria seksi ini menjadi gila!" Desis Dominic, saat cintanya kali ini tercampur dengan ambisi amarah dan gairah.
D O N ' T P L A G I A T ! ! !
H A P P Y R E A D I N G, S U G A R R E A D E R S ! !
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Prince Aurora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 7 — Jarak
Rumah itu tidak berubah.
Masih sama seperti kemarin, seperti minggu lalu, seperti hari-hari sebelumnya. Tidak ada yang bergeser, tidak ada yang hilang. Semua benda tetap berada di tempatnya, tertata rapi, seolah kehidupan di dalamnya berjalan baik-baik saja.
Namun ada sesuatu yang tidak bisa dilihat.
Sesuatu yang perlahan berubah… dan tidak bisa dikembalikan.
Pagi itu, Bella tidak menyiapkan sarapan.
Bukan karena ia tidak sempat, atau tidak ingin. Ia hanya… tidak melakukannya. Untuk pertama kalinya sejak menikah, ia membiarkan dapur tetap sunyi, tanpa aroma makanan, tanpa suara peralatan yang biasa ia gunakan setiap pagi.
Dominic keluar dari kamar dengan langkah seperti biasa. Rapi. Tenang. Seolah dunia selalu berjalan sesuai kendalinya. Ia sempat melirik ke arah meja makan, lalu berhenti sejenak.
Kosong.
Tidak ada apa-apa.
Alisnya sedikit berkerut, tapi tidak berkata apa pun. Ia hanya mengambil kunci mobilnya, lalu berjalan menuju pintu.
“Bella.”
Panggilan itu membuat wanita yang sedang duduk di sofa menoleh.
“Iya?”
“Aku berangkat.”
Biasanya, Bella akan berdiri. Mengantar sampai pintu. Tersenyum kecil, mungkin mengingatkan hal-hal sederhana seperti hati-hati di jalan atau jangan lupa makan.
Namun hari ini… tidak.
“Iya.”
Hanya itu.
Tidak ada tambahan.
Dominic menatapnya beberapa detik lebih lama dari biasanya. Ada sesuatu yang terasa berbeda, tapi ia tidak bisa langsung menunjuk apa.
Namun pada akhirnya, ia tetap pergi.
Pintu tertutup.
Dan untuk pertama kalinya… Bella tidak merasa perlu berdiri.
—
Hari-hari berikutnya berjalan dengan pola yang sama.
Bella tetap di rumah, tapi tidak lagi menunggu.
Ia mulai melakukan hal-hal untuk dirinya sendiri. Keluar tanpa memberi kabar, kembali tanpa bertanya. Waktu yang dulu ia isi dengan menanti, kini ia gunakan untuk hal-hal yang lebih… sunyi, tapi menenangkan.
Ia membaca lebih banyak.
Menulis sesuatu di buku kecilnya.
Kadang hanya duduk diam di dekat jendela, menikmati waktu tanpa harus memikirkan siapa pun.
Dan perlahan, tanpa ia sadari… ia mulai terbiasa.
Terbiasa tanpa Dominic.
—
Di sisi lain, Dominic mulai merasakan sesuatu yang tidak biasa.
Bukan karena Bella marah.
Bukan juga karena ada pertengkaran.
Justru karena tidak ada apa-apa.
Bella tidak lagi bertanya.
Tidak lagi menunggu.
Tidak juga menunjukkan ekspresi yang bisa ia baca.
Dan itu… mengganggu.
Malam itu, Dominic pulang lebih cepat dari biasanya. Entah karena pekerjaan yang memang selesai lebih awal, atau karena sesuatu di dalam dirinya yang mendorongnya untuk kembali.
Rumah itu sunyi.
Lampu ruang tengah menyala redup.
Bella duduk di sana, membaca buku seperti biasa.
Ia tidak langsung menoleh saat pintu terbuka.
Baru beberapa detik kemudian, ia mengangkat wajahnya.
“Oh, kamu sudah pulang.”
Nada suaranya datar. Tidak dingin, tapi juga tidak hangat.
Dominic melepas jasnya perlahan.
“Kamu belum tidur?”
Bella menggeleng. “Belum.”
Hanya itu.
Percakapan berhenti di sana.
Dominic berdiri beberapa saat, seolah menunggu sesuatu. Mungkin pertanyaan. Mungkin perhatian kecil yang dulu selalu ada.
Namun tidak datang.
Akhirnya, ia berjalan mendekat, duduk di sofa yang sama, memberi jarak yang tidak terlalu jauh.
“Kamu sibuk apa hari ini?” tanyanya.
Bella menutup bukunya perlahan.
“Biasa saja.”
“Ke luar?”
“Iya.”
Dominic mengangguk, tapi tidak benar-benar puas dengan jawaban itu.
Ia menoleh, menatap wajah Bella yang terlihat tenang. Terlalu tenang.
“Kamu nggak bilang.”
Bella menatapnya balik.
“Perlu?”
Satu kata.
Namun cukup untuk membuat Dominic terdiam.
Bukan karena marah.
Tapi karena… ia tidak punya jawaban.
—
Beberapa saat kemudian, ponsel Dominic bergetar.
Ia melirik sekilas.
Nama itu lagi.
Diana.
Refleks, ia berdiri.
“Aku angkat sebentar,” katanya.
Bella tidak menjawab.
Ia hanya kembali membuka bukunya, seolah tidak peduli.
Dominic berjalan menjauh, menjawab telepon dengan suara pelan. Percakapan itu tidak terdengar jelas, hanya potongan-potongan kecil yang tidak membentuk kalimat utuh.
Namun Bella tidak perlu mendengar.
Ia sudah tahu.
Beberapa menit kemudian, Dominic kembali.
Wajahnya sedikit berubah. Lebih tegang.
“Aku harus keluar,” katanya.
Bella mengangguk.
“Iya.”
Tidak ada pertanyaan “ke mana” atau “dengan siapa”.
Tidak ada larangan.
Tidak ada apa-apa.
Dan untuk pertama kalinya… Dominic merasa itu tidak nyaman.
“Kamu nggak tanya?” ucapnya tiba-tiba.
Bella mengangkat wajahnya sedikit.
“Harus?”
Lagi-lagi, satu kata.
Dan lagi-lagi… Dominic tidak punya jawaban.
—
Setelah pintu tertutup, Bella tetap duduk di tempatnya.
Buku di tangannya terbuka, tapi matanya tidak membaca.
Ia hanya diam.
Membiarkan waktu berjalan.
Tidak ada lagi perasaan ingin mengejar.
Tidak ada lagi dorongan untuk mencari tahu.
Semuanya terasa… selesai.
Bukan karena sudah benar-benar berakhir.
Tapi karena ia sudah berhenti berharap.
Dan mungkin… itu lebih menyakitkan.
—
Larut malam, Dominic kembali.
Rumah itu masih sama—sunyi, rapi, tanpa perubahan.
Bella sudah berada di kamar, berbaring membelakangi pintu.
Dominic masuk pelan, memperhatikan sejenak sebelum berjalan mendekat.
Ia berdiri di samping tempat tidur, menatap punggung wanita itu.
Ada sesuatu yang ingin ia katakan.
Namun kata-kata itu tidak pernah keluar.
Karena untuk pertama kalinya…
Ia merasa tidak tahu harus mulai dari mana.
Perlahan, ia berbaring di sisi lain.
Jarak itu kembali ada.
Dekat.
Namun tidak bisa dijangkau.
Dalam gelap, Bella membuka matanya.
Tatapannya kosong.
Tenang.
Dan jauh.
Sangat jauh.
Sementara di sisi lain, Dominic menatap langit-langit.
Untuk pertama kalinya sejak semuanya dimulai…
Ia merasakan sesuatu yang tidak ia suka.
Kehilangan.
Namun anehnya…
Ia tidak tahu sejak kapan hal itu mulai terjadi.
END BAB 7
dulu aja alesannya sibuk Mulu
Ampe kita di abaikan
dasar...kalau ada maunya aja,so soan semua ditinggal demi kita
nanti kalau udah dapet lagi juga lupa🙄
tapi siapa yg ga yaaa🫣
kasih kesempatan ga ya?🙄🥹
.di otak para pelakor itu
dia cantik
dia sukses
tapi malah terobsesi sama milik orang lain
dan bodohnya para pria itu membuka pintu hati nya lebar"
aku bacanya ga nafas thor
ayo semangat bella
cape sama orang yg belum selesai sama masa lalunya
kita akan selalu sendirian
terabaikan
dan...bukan sesuatu yg jadi prioritas
dia datang hanya kewajiban 🥹
sebenarnya air mata bukan lah tanda kita lemah
tapi memberikan ijin buat tubuh kita mengeluarkan semua rasa
nangis aja..
yg kenceng.
tapi.....untuk saat ini aja
setelah nya kita bergerak maju ke masa depan
mereka kan selalu merasa di zona nyamannya
merasa kita akan ditempat dan rasa yg sama
walaupun apapun yg terjadi
tapi mereka lupa semua asalnya dr mereka 🥹🥹
kok aku yg emosi ya Thor
liat Diana yg ga tau malu
eh..mang lupa ya
pelakor mang semuanya ga tau malu🥹🥹
lelah itu sesuatu yg nyata tapi tida berasa🥹🥹
ini...memang dr awal seperti ada yg salah bukan?🥹🥹🥹