No Plagiat ❌
Namanya Zhara Chandrawinata, gadis berusia 20 tahun. Ia punya mimpi hidup tenang, bahagia, dan kaya raya.
Di balik senyumnya yang manis, Zhara tumbuh dari kluarga broken home, ia tidak menyangka hidupnya akan berjalan sulit, mimpi yang ia bangun, keputusan yang di ambil, kisah cintanya, selalu terbentur masalah.
Tahun demi tahun berlalu, Zhara mulai kehilangan arah. Pikirannya lelah, hatinya terluka, pada akhirnya tubuhnya menyerah. Zhara akhirnya meninggal karena Asam Lambung GERD yang ia derita.
Dewa kematian berkata. Jiwanya tidak dapat menyebrang, karena ada seseorang yang menukar jiwanya, agar Zhara hidup kembali.
Dalam gelap Zhara mendengar ada yang manggil namanya, “Zhaa.. bangun.. Jangan tidur dikelas! ” Zhara terbangun di ruang kelas dan melihat Tiara menggoyangkan lengannya.
Zhara kembali hidup dan siapa yang telah menukar jiwanya?
mengapa dewa kematian masih mengikutinya?
Apakah pertukaran jiwa itu tidak sempurna?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Luh Belong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
keputusan yang bulat
...“Ya... ibu, ada apa memanggil Zhara?” ia menghampiri ibunya....
...“Mengapa kamu menolak kuliah, jangan membantah lagi, kamu harus mendaftar kuliah?!” Tanya ibunya dengan serius....
...“Iya, Zhara rasa kuliah itu tidak harus.” Zhara memalingkan wajahnya....
...“Kuliah D1 hanya satu tahun. Kamu bisa memilih jurusan yang akan memudahkanmu mendapatkan pekerjaan,” kata ibunya dengan tenang....
...“Bu… Zhara serius. Zhara sudah memutuskan tidak kuliah. Sekarang kita memang tidak mampu, Bu,” Zhara meyakinkan ibunya....
...“Apa kamu pikir ibu tidak sanggup menanggung sekolahmu?” suara ibunya terdengar meninggi...
...“Biaya Zhara kuliah Diploma itu tidak sedikit, apalagi Biru sebentar lagi masuk SMA sudah pasti uang mukanya sangat besar...” jawabnya penuh hati-hati....
...“Semua temanmu melanjutkan pendidikannya, apa kamu yakin dengan keputusanmu?... apa kamu tidak malu hanya kamu yang lulusan SMA?...” tanya ibunya dengan lirikan tajam....
...“Tidak. Zhara tidak malu bu, ibu tenang saja.” Zhara melangkah pergi menuju kamarnya. ...
...Andai ayahnya tidak berjudi, andai keluarganya tidak banyak hutang, dan tidak ada masalah dalam keluarganya. Ia sangat senang bisa melanjutkan pendidikannya, apa lagi bekerja menjadi Chef di hotel adalah keinginannya. Sayangnya jalan hidup tidak dapat ditebak, keinginan dan usaha terkadang tidak sesuai dengan kenyataan....
...Seminggu setelah kelulusan, ibunya terus bertanya apakah Zhara masih ingin kuliah. Pertanyaan itu seolah tak pernah ada habisnya. Ia tahu ibunya tidak mampu membiayai kuliahnya. Ibunya juga merasa malu kepada orang tua teman-teman Zhara, karena di desa mereka hanya Zhara yang tidak melanjutkan pendidikan....
...Zhara memahami kondisi keluarganya. Ia tidak ingin menjadi penambah beban. Setiap kali ditanya, ia selalu menjawab bahwa keputusannya sudah bulat, ia tidak ingin kuliah, tanpa ragu maupun rasa malu. Ia sangat sadar, ekonomi Keluarganya belum membaik. ...
...Ia harus mencari pekerjaan tambahan di luar jam kuliah yang terbatas, terlebih dengan kondisi Biru yang akan melanjutkan pendidikan SMA. Zhara lebih mengutamakan biaya sekolah Biru daripada dirinya sendiri. Ia memilih bekerja demi membantu adiknya melanjutkan pendidikan....
...Zhara menghampiri Biru yang sedang duduk melamun di teras....
...“Biru... mengapa kamu tadi tidak sarapan? ibu masak kesukaanmu loh?...” ucap Zhara seraya duduk di sebalah adiknya....
...“Apa karena aku... akan melanjutkan pendidikan ke SMA,... Kak Zhara tidak mau kuliah?” potong Biru bertanya....
...Zhara tersenyum melihat raut wajah Adiknya yang terlihat cemas “Kamu dengar dari siapa?...”...
...“Tidak ada.” Biru menjawab singkat, ia menundukkan kepalanya....
...“Apa alasan kakak menolak untuk kuliah?” gumanya bertanya....
...“Kakak sangat bosan harus sekolah sambil bekerja. Itu membuat kakak tidak bisa fokus belajar… apalagi kuliah itu menghabiskan banyak waktu di kampus,” Zhara meyakinkan adiknya....
...“Apa kakak tidak iri dengan teman kakak?.” Sorot matanya penuh tanya. “Akan lebih iri... jika sudah sekolah tinggi tapi sulit mencari pekerjaan. Sudah bekerja dengan gaji minim gengsi, tapi jika tidak bekerja lebih gengi.” ...
...“Kata siapa?... banyak orang setelah kuliah, pergi bekerja ke kota. Mereka bekerja di Hotel dan di Restoran...” Jawab Biru dengan tegas....
...Zhara tersenyum mendengar pernyataan adiknya, dengan lembut Zhara menjawab....
...“Nanti Biru semangat sekolahnya, agar bisa bekerja di tempat impian yah. Menurut sama ibu, jangan sering sering ngambek!.”...
...“Tapi ibu berpikir kakak mulai tidak patuh.” Biru mengkerutkan dahinya....
...“Kakak hanya tidak patuh untuk hal ini saja,” ucapnya sambil tersenyum tipis....
...Ibunya tak henti mengajukan pertanyaan yang sama. Lama-kelamaan, ia pun merasa lelah menjawabnya....
...“Apa kamu sudah yakin dengan keputusanmu?ibu bisa meminjam biaya untuk kuliahmu,” pertanyaan itu masih saja menerornya....
...“Ibu Zhara minta maaf, jika Zhara tidak mau kuliah. Ini keputusan yang sudah Zhara ambil dengan matang.” Zhara menjawab dengan perasaan tidak nyaman....
...“Baiklah!... apapun itu jangan salahkan ibu jika suatu saat kamu menyesal.” Ibu memperingatinya. “Dan jangan iri pada Biru, jika ia suatu saat melanjutkan kuliah.... ibu tidak berniat pilih kasih Zhara... ibu ingin kamu mendapat pekerjaan yang layak,” ucapnya penuh tekanan....
...“Zhara paham bu.” jawabnya singkat....
...◦•●◉✿✿◉●•◦...
... Suatu hari, teman sekelas Zhara datang mengunjunginya. Gadis itu bernama Tiara Kirana, ia berasal dari desa sebelah, Desa Kamplora. Dengan rambut bob yang rapi, tinggi sekitar 162 cm, dan kulit kuning langsat, Tiara terlihat cantik dengan kesan yang tenang dan sederhana....
...Tiara ingin mengajak Zhara melamar pekerjaan bersamanya. Setelah lulus SMA, ia juga tidak melanjutkan kuliah karena keluarganya tidak memiliki biaya. Ia hanya tinggal berdua dengan ibunya, sementara ayahnya sudah tinggal bersama istri keduanya....
...“Zhara... aku dengar kamu tidak lanjut kuliah?...” tanya Tiara penasaran. ...
...“Iya tii... ekonomi keluargaku kurang baik saat ini,” jawabnya pelan sembari menyodorkan teh hangat di meja....
...“Sama dong.” Tiara tersenyum....
...“Bagaimana kalau kita melamar pekerjaan?... Aku dapat informasi di tempat kerja kakak sepupuku ada lowongan pekerjaan loh..." ajaknya dengan semangat....
..."Gimana caranya Tiara? ... Kita hanya lulusan SMA?.” Zhara bertanyanya dengan kening mengernyit. ...
...“Aku punya dua kakak sepupu. Yang satu bekerja di hotel sebagai chef, dan yang satu lagi bekerja di restoran sebagai waitress,” ujarnya semangat, penuh percaya diri. “Dia mau membantu menghubungkan kita... Diterima atau tidak, setidaknya kita bisa coba dulu Zhara.” ...
...“Em... gimana yah...” jawab Zhara ragu....
...“Ihh... Zhara coba dulu yah, kan kita sahabat, Zhaa...” Tiara menggoyang goyangkan lengannya sembari merengek....
...“Baik lah sahabatku, besok kita meluncur,” jawabnya sembari tersenyum lebar....
...Setelah kemarin seharian Zhara membuat surat lamaran, mencetak Foto, dan melengkapi dokumen lainya. Hari ini Zhara, dan Tiara menuju Kota Mahorena, untuk melamar pekerjaan. Dalam hatinya gusar, apakah tujuanya akan berjalan lancar....
...Tujuan pertama mereka adalah sebuah restoran lobster untuk melamar sebagai waitress. Namun, manajer restoran menolak dengan alasan hanya menerima pelamar yang sudah berpengalaman atau lulusan SMK yang telah menjalani pelatihan....
...Mereka menuju lokasi kedua, sebuah hotel tempat kakak sepupu Tiara bekerja. Namun di sana pun mereka ditolak dengan alasan yang sama. Dengan hati yang berat, Zhara dan Tiara pun pulang ke desa....
...“Zhara masih semangat kan?” tanya Tiara memastikan temanya tidak menyerah begitu saja....
...“Ternyata sesulit itu yah.” Zhara menunduk dengan wajah yang letih...
...“Baru segitu aja Zha!...kita belum ketemu yang lebih menantang loh...” ledek Tiara sambil terkekeh....
...“Iya... Iya... si paling kuat. Nanti kalau sudah ada informasi, kabari lagi ya,” jawab Zhara melambaikan tangan perpisahan....
...Zhara tidak menyerah mencari lowongan pekerjaan. Dari membaca koran, bertanya kepada orang-orang yang sudah bekerja, hingga akhirnya ia mendapatkan informasi pekerjaan dari pamannya, Bara, adik dari ibunya....
...Paman Bara, yang bekerja sebagai sopir travel pariwisata di Kota Pinovale, menyarankan Zhara untuk bekerja di spa tempat ia sering membawa tamu wisatawan. Saat itu, tempat tersebut sedang membuka lowongan pekerjaan....
...Dengan semangat, Zhara dan Tiara pergi ke sana untuk melamar pekerjaan. Keduanya diterima, tetapi pada bulan pertama tidak mendapat gaji karena masih dalam masa pelatihan. Kebetulan, spa tersebut memang menerima pemula....
...Namun, kabar itu membuat ibunya tidak senang. Ia tidak menyukai Zhara bekerja di spa, meskipun Zhara sudah menjelaskan bahwa tempat itu profesional....