Enam tahun lalu, Alisha Husnah melangkah keluar dari kediaman mewah keluarga Raffasyah dengan hati hancur. Sebuah skandal menjijikkan yang dirancang rapi memaksanya percaya bahwa suaminya, Fardan, telah berkhianat. Alisha pergi, membawa rahasia besar tentang janin yang dikandungnya.
Kini, takdir membawa mereka bertemu dalam sebuah proyek besar. Fardan, sang CEO dingin yang menyimpan dendam atas kepergian istrinya, memberikan ultimatum kejam: kembali padanya atau kehilangan hak asuh atas putra mereka, Ghifari.
Namun, baik Fardan maupun keluarga besar Raffasyah tidak menyadari satu hal. Ghifari bukan sekadar bocah biasa. Dibalik wajah imutnya, tersimpan kecerdasan genius yang ia warisi dari ayahnya. Sementara orang tuanya terjebak dalam perang dingin dan sisa-sisa cinta yang luka, Ghifari mulai bergerak dibalik layar.
Dia bukan hanya ingin menyatukan Ayah dan Ibunya saja. Tapi misinya ingin membongkar topeng busuk para penghuni "istana" yang memisahkan keluarganya. Si kecil siap.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ramanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KARMA PENEBUSAN YANG MENYAKITKAN
Mobil hitam yang membawa Fardan berhenti di sebuah gang sempit di pinggiran Jakarta. Udara di sana terasa pengap, jauh berbeda dengan aroma melati yang selalu tercium di mansion Raffasyah. Fardan turun dengan pakaian yang lebih sederhana, namun sorot matanya kini lebih tenang dan tajam. Ia melangkah perlahan menuju sebuah rumah berpagar karat yang menurut laporan Dewa adalah tempat Maya dan ibunya menumpang.
"Tuan, haruskah saya memanggil anak buah untuk mengawal Anda?" bisik Dewa yang berjalan di belakangnya.
Fardan menggeleng pelan. "Tidak perlu, Dewa. Aku ingin melihat dengan mata kepalaku sendiri bagaimana mereka menjalani hidup yang mereka pilih sendiri."
Fardan berdiri di balik tembok rumah tetangga yang agak tinggi, memberinya sudut pandang yang jelas ke arah teras rumah milik keluarga Dody. Di sana, ia melihat pemandangan yang menyayat hati. Maya, kakaknya yang dulu selalu tampil glamor dengan tas bermerek, kini mengenakan daster kusam dengan rambut yang berantakan. Ia tengah berjongkok di depan tumpukan cucian yang menggunung.
"Maya! Cepat kau selesaikan cucian itu! Jangan hanya melamun seperti orang bodoh!" teriak seorang wanita tua dari dalam rumah. Itu adalah Rani, ibu mertua Maya.
Maya menyeka keringat di dahinya dengan lengan baju. "Ibu, aku sudah mencuci sejak subuh. Tanganku sudah perih karena sabun ini."
Rani keluar dengan wajah yang angkuh, berkacak pinggang di depan menantunya. "Di sini bukan mansion besarmu yang punya belasan pembantu. Kau sekarang orang miskin karena sudah dibuang oleh adikmu! Jadi kerjalah jika ingin makan. Dan suruh ibumu itu bangun, jangan hanya bermalas-malasan di kamar!"
Maya berdiri dengan sisa keberaniannya. "Ibu, rumah ini aku yang membelinya dengan uang pemberian Fardan dulu. Seharusnya aku punya hak di sini!"
Rani tertawa mengejek, suaranya melengking tinggi. "Enak saja kau bicara! Kau sudah memberikan rumah ini atas namaku tahun lalu sebagai tanda bakti. Kau tidak punya hak seujung kuku pun di sini. Sekarang, ambilkan aku minuman dingin!"
"Aku tidak mau! Aku bukan pembantumu!" bentak Maya dengan suara yang mulai serak karena amarah.
Pintu rumah terbuka kasar, dan Dody muncul dengan wajah yang jauh dari kata ramah. "Apa katamu? Kau berani membentak ibuku? Lancang sekali kau, Maya!"
Tanpa peringatan, tangan Dody melayang dan mendarat keras di pipi Maya. PLAK! Maya tersungkur ke lantai teras yang kasar. Ratna, yang sejak tadi mendengar keributan dari dalam, berlari keluar dengan panik. Ia melihat putrinya diperlakukan seperti itu dan langsung naik pitam.
"Dody! Beraninya kau memukul putriku di depan mataku!" teriak Ratna. Ia mengangkat tangannya, berniat membalas tamparan Dody.
Namun, gerakan Ratna terlalu lambat. Dody menangkap pergelangan tangan mertuanya itu dengan kasar, lalu mendorongnya hingga Ratna terjatuh menimpa Maya. "Diam kau, orang tua tidak berguna! Jangan ikut campur!"
Dody menatap Ratna dengan dendam yang sudah lama terpendam. "Dulu di rumahmu, kau bisa memerintahku seperti anjing! Kau merendahkanku setiap hari! Sekarang, di rumah ini, aku dan ibuku yang berkuasa. Kalian hanyalah sampah yang menumpang makan!"
"Dody, aku mohon... jangan begini," isak Maya sambil memeluk kaki suaminya.
Di saat drama itu memuncak, sebuah mobil sedan mewah berhenti di depan pagar. Seorang wanita cantik dengan pakaian sangat seksi turun dari mobil, menuntun seorang anak laki-laki berusia sekitar tujuh tahun. Wanita itu langsung merangkul lengan Dody dengan mesra.
"Mas, siapa mereka ini? Kenapa ada pengemis di teras kita?" tanya wanita itu dengan nada manja.
Maya menatap wanita itu dengan mata membelalak. "Dody, siapa dia? Siapa perempuan jalang ini?"
Dody menyeringai licik, ia merangkul pinggang wanita seksi itu di depan Maya dan Ratna. "Kenalkan, ini Ranti, istri sahku. Dan ini anak kandungku, pewaris sah keluarga Sanjaya."
"Istri sah? Lalu aku apa, Dody? Kita sudah menikah selama sepuluh tahun!" teriak Maya histeris.
"Menikah?" Dody tertawa terbahak-bahak. "Surat nikah yang kita miliki itu palsu, Maya. Aku hanya memanfaatkan kekayaan adikmu selama ini. Bagiku, kau dan anak-anakmu hanyalah anak haram yang tidak berhak atas nama besarku."
Dunia seolah runtuh bagi Maya. Ia merasa jiwanya tercabut paksa. Rasa malu, marah, dan hancur menyatu menjadi satu ledakan emosi. Ia melihat sebilah kayu panjang di dekat jemuran, meraihnya dengan membabi buta, dan berlari ke arah Ranti.
"Akan kubunuh kalian semua!" teriak Maya kalap.
Namun, Dody lebih sigap. Ia melayangkan tendangan keras ke perut Maya hingga kakaknya Fardan itu jatuh bergulingan di aspal teras. Ratna berteriak histeris melihat penderitaan anaknya. Dody bersiap untuk melayangkan tendangan kedua saat sebuah bayangan besar menutupi cahaya matahari di depannya.
BUGH!
Sebuah tendangan maut mendarat tepat di rahang Dody, membuatnya terpelanting menabrak pagar besi hingga berdarah. Dody tersungkur, memegangi wajahnya yang remuk. Ia menengadah dan seketika nyawanya seolah terbang saat melihat siapa yang berdiri di depannya.
"Fardan?" desis Dody dengan suara gemetar ketakutan.
Fardan berdiri tegak dengan tangan mengepal. Wajahnya yang tenang justru terlihat jauh lebih menakutkan daripada saat ia marah besar di mansion dulu. "Kau menyentuh kakakku lagi, dan aku pastikan tanganmu tidak akan pernah bisa memegang apa pun lagi seumur hidupmu."
"Fardan... tolong kami, Fardan!" tangis Ratna pecah. Ia merangkak mendekati putra bungsunya, memeluk kaki Fardan dengan penuh penyesalan. "Maafkan Mama, Nak. Mama sudah berdosa padamu dan Alisha. Lihatlah bagaimana mereka memperlakukan kami."
Fardan menatap ibunya dengan tatapan yang sulit diartikan. Ada rasa kasihan, namun ada juga ketegasan yang tak tergoyahkan. Ia membantu Ratna berdiri, lalu membantu Maya yang masih memegangi perutnya.
"Bangunlah, Kak. Berhenti merendahkan dirimu di depan pria sampah ini," ucap Fardan dingin pada Maya.
Rani, ibu Dody, mencoba maju untuk membela anaknya. "Eh, kau siapa tiba-tiba datang dan memukul anakku? Ini rumah kami!"
Fardan menoleh ke arah Rani dengan tatapan tajam yang membuat wanita tua itu langsung bungkam. "Rumah ini dibeli dengan uang hasil jerih payah Alisha dan aku. Dewa, panggil pengacara. Batalkan semua akta hibah yang dibuat secara ilegal oleh Dody. Aku ingin rumah ini dikosongkan dalam satu jam."
"Tapi... tapi kami tidak punya tempat tinggal lain!" teriak Ranti, istri sah Dody.
"Itu bukan urusanku. Kalian bisa tinggal di jalanan seperti cara kalian memperlakukan keluargaku," sahut Fardan tanpa ampun.
Dewa segera bergerak maju bersama beberapa anak buahnya untuk mengawal keluarga Dody keluar dari sana. Suasana menjadi riuh dengan teriakan dan tangisan, namun Fardan tidak peduli. Ia membawa Maya dan Ratna masuk ke dalam mobilnya.
Di dalam mobil, keheningan menyelimuti mereka. Maya hanya bisa menunduk malu, sementara Ratna terus menangis sesenggukan. Fardan tidak menyalakan musik, ia hanya menatap jalanan di depannya dengan tasbih kecil yang melingkar di lengannya.
"Mama minta maaf, Fardan. Mama benar-benar buta karena harta dan gengsi," ucap Ratna di sela tangisnya. "Mama pantas mendapatkan ini semua. Ini adalah menghukum untuk Mama."
Fardan menghela napas panjang. "Bagus kalau Mama sadar. Ingat bahwa ini adalah teguran dari Allah. Aku tidak membawa Mama kembali ke mansion. Aku akan menyewakan sebuah rumah kecil yang layak di dekat pesantren. Aku ingin Mama dan Kak Maya belajar tentang hidup yang sebenarnya di sana."
Maya menoleh dengan wajah terkejut. "Pesantren, Fardan? Kau ingin kami jadi ustadzah?"
"Aku ingin kalian jadi manusia," potong Fardan tegas. "Selama kalian belum bisa menghargai orang lain dan belum bisa bersujud dengan tulus pada Sang Pencipta, kalian tidak akan pernah bisa bertemu dengan Alisha dan Ghifari."
Mendengar nama Ghifari, Ratna tertunduk. "Apa cucuku akan memaafkan neneknya yang jahat ini?"
"Itu tergantung pada perubahan kalian. Aku sendiri pun sedang berjuang untuk dimaafkan oleh mereka," jawab Fardan tenang. "Aku akan berangkat ke Swiss setelah urusan kalian selesai. Aku sudah bertaubat, dan aku harap kalian juga melakukan hal yang sama."
Mobil terus melaju, meninggalkan puing-puing kesombongan masa lalu. Fardan merasa satu beban di pundaknya telah terangkat. Ia telah menyelamatkan keluarganya dari kehinaan, namun ia tidak akan lagi membiarkan mereka menjadi duri dalam hidupnya. Fokusnya kini hanya satu: Swiss. Tempat di mana belahan jiwanya bersembunyi dari luka yang ia torehkan.
Di dalam hatinya, Fardan terus berdoa agar Ghifari melihat apa yang ia lakukan hari ini. Ia ingin putranya tahu bahwa ia bukan lagi Fardan yang bodoh, melainkan seorang ayah yang siap membangun fondasi suci untuk masa depan mereka.
perjuangan
tapi di sebutkan anak anak maya