Arumi tidak pernah menyangka bahwa hari paling membahagiakan bagi kakaknya, Siska, akan menjadi awal dari penjara tak kasat mata baginya. Tepat di hari pernikahan megah yang telah dirancang keluarga, Siska melarikan diri demi kekasih lamanya, meninggalkan hutang besar dan kehormatan keluarga yang dipertaruhkan.
Demi menyelamatkan wajah orang tua dan melunasi hutang budi, Arumi terpaksa menggantikan posisi sang kakak di pelaminan. Ia menikah dengan Adrian Pramoedya, seorang CEO muda yang dingin, kaku, dan menyimpan luka mendalam akibat pengkhianatan Siska.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon putri Sefira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29: Krisis Identitas Sang Ahli Waris
Keputusan Adrian untuk melepaskan proyek mercusuar di Kalimantan menjadi buah bibir di kalangan elite bisnis Jakarta dalam sekejap. Di balik dinding kaca Pramoedya Tower, bisik-bisik ketidakpuasan mulai merayap. Mereka melihat langkah Adrian sebagai bentuk kelemahan, sebuah kepasrahan seorang CEO yang mulai "melunak" karena pengaruh istrinya. Namun, bagi Adrian dan Arumi, kepulangan dari Puncak bukan berarti menyerah; itu adalah persiapan untuk perang yang jauh lebih halus.
Abimanyu, yang baru saja melewati usia dua tahun, mulai menunjukkan kepribadian yang kuat. Ia adalah balita yang cerdas dengan rasa ingin tahu yang tak terbendung. Namun, justru kecerdasan inilah yang memicu krisis baru.
Keluarga besar Pramoedya—para sesepuh yang selama ini hanya mengawasi dari kejauhan—mulai merasa bahwa masa depan dinasti berada dalam ancaman jika Abi tidak "dibentuk" sejak dini.
Sore itu, kediaman Adrian kedatangan tamu yang tak diundang. Dua orang pria tua dengan setelan jas formal yang kaku duduk di ruang tamu dengan postur yang mengintimidasi. Mereka adalah bagian dari Dewan Penasihat Keluarga, lembaga non-formal namun memiliki pengaruh besar dalam menentukan siapa yang layak memegang kendali atas aset keluarga.
"Adrian," ujar salah satu dari mereka, Pak Hardi, dengan suara yang berat. "Kami sudah memantau perkembangan Abimanyu. Dia adalah pewaris tunggal. Dan kami melihat, cara kalian membesarkannya terlalu... longgar. Terlalu banyak buku cerita, terlalu sedikit disiplin."
Adrian, yang sedang menggendong Abi, merasakan otot rahangnya mengeras. "Dia baru dua tahun, Pak Hardi. Dia harus bermain, bukan belajar neraca keuangan."
"Kami sudah menyiapkan kurikulum khusus," sela pria satunya lagi sambil meletakkan sebuah map tebal di meja marmer. "Program Elite Successor Academy. Mulai minggu depan, Abimanyu harus mulai mendapatkan pengenalan bahasa Mandarin, kelas logika dasar, dan protokol publik. Ini bukan permintaan, Adrian. Ini adalah syarat agar dukungan dewan tetap berada di belakangmu setelah keputusan kontroversialmu soal Kalimantan."
Arumi, yang baru saja masuk membawakan minuman, tertegun. Ia melihat map itu seolah-olah melihat belenggu yang siap menjerat leher anaknya. Ia teringat surat-surat mendiang ibu Adrian di Puncak—tentang bagaimana masa kecil Adrian direnggut oleh tuntutan yang sama.
Setelah para sesepuh itu pergi, ketegangan menyelimuti rumah. Adrian duduk di ruang kerja, menatap map kurikulum itu dengan tatapan kosong.
"Mas, kamu tidak serius mempertimbangkan ini, kan?" tanya Arumi, suaranya sedikit bergetar karena emosi yang ia tahan.
"Arumi, jika aku menolak, mereka akan menggunakan hak veto mereka untuk membekukan dana operasional beberapa anak perusahaan. Mereka mencoba menekanku melalui Abi," jawab Adrian frustrasi.
Arumi mendekat, mengambil map itu dan membantingnya ke meja. "Ini bukan soal dana, Mas! Ini soal jiwa Abi. Kamu lihat apa yang dilakukan ayahmu padamu? Kamu menghabiskan sepuluh tahun di London mencoba menyembuhkan luka dari kurikulum-kurikulum seperti ini. Aku tidak akan membiarkan sejarah berulang."
"Lalu apa solusinya? Jika aku melawan mereka secara frontal sekarang, Paman Bram—yang masih punya pengaruh di dewan—akan punya alasan kuat untuk menyatakan aku tidak kompeten mengelola masa depan dinasti!"
Arumi terdiam sejenak. Otak penulisnya mulai bekerja, merangkai narasi dan strategi. "Kita tidak akan melawan mereka dengan penolakan kasar. Kita akan melawan mereka dengan substansi. Mereka ingin Abi menjadi pemimpin? Baik. Kita akan tunjukkan bahwa pemimpin terbaik lahir dari empati, bukan dari menghafal protokol di usia balita."
Kabar tentang penolakan Arumi terhadap Elite Successor Academy mulai bocor ke media sosial, diduga sengaja diembuskan oleh pihak Paman Bram untuk menjatuhkan citra Arumi sebagai "Ibu yang terlalu protektif dan menghalangi masa depan pewaris".
Komentar-komentar negatif mulai bermunculan.
Arumi disebut sebagai "hambatan" bagi kemajuan Pramoedya Group. Tekanan psikologis ini mulai mengganggu konsentrasi Arumi dalam menulis. Namun, di saat-saat tersulit, ia teringat wasiat mendiang ibu Adrian. Tanah di Puncak yang diberikan kepadanya adalah simbol bahwa ia memiliki tempat untuk berdiri sendiri.
Suatu malam, saat acara jamuan makan malam korporasi yang dihadiri banyak pemegang saham, Arumi dikonfrontasi secara terbuka oleh salah satu istri pemegang saham senior.
"Nyonya Arumi, bukankah sayang jika potensi Abimanyu disia-siakan hanya karena idealisme pengasuhan yang... maaf, sedikit kurang realistis untuk kelas kita?" tanya wanita itu dengan senyum sinis yang dibuat-buat.
Seluruh meja mendadak sunyi. Adrian hendak angkat bicara, namun Arumi menyentuh tangan suaminya, memberinya isyarat agar tetap tenang.
Arumi tersenyum tipis, menatap wanita itu langsung di matanya. "Bagi saya, realitas yang paling menakutkan bukan ketika seorang anak tidak bisa bahasa Mandarin di usia tiga tahun, tapi ketika seorang pemimpin tumbuh menjadi pria yang tidak mengerti arti tangisan orang lain.
Pramoedya Group butuh pemimpin manusiawi untuk bertahan di masa depan, bukan sekadar mesin penghitung angka. Dan kemanusiaan itu... diajarkan melalui pelukan ibu dan buku cerita, bukan melalui protokol kaku."
Jawaban Arumi menjadi perbincangan hangat. Tanpa disangka, banyak pemegang saham muda yang mulai bersimpati padanya. Mereka, yang juga merasakan tekanan yang sama saat tumbuh besar, mulai melihat Arumi sebagai sosok yang berani mendobrak tradisi beracun.
Namun, Paman Bram tidak tinggal diam. Dari balik penjara, ia mengirimkan orang untuk mendekati salah satu pengasuh Abi. Tujuannya adalah mencari celah untuk membuktikan bahwa Arumi lalai dalam mengurus Abi, sehingga dewan punya alasan sah untuk mengambil alih hak asuh pendidikan sang ahli waris.
Suatu hari, Arumi menemukan pengasuh tersebut sedang mengambil foto-foto kegiatan pribadi Abi dan mengirimkannya ke nomor tak dikenal.
"Untuk siapa foto-foto itu?" tanya Arumi dengan suara dingin yang mengejutkan dirinya sendiri.
Pengasuh itu gemetar, menjatuhkan ponselnya. Penemuan ini menjadi pukulan telak bagi Arumi.
Ternyata, benteng yang ia bangun masih memiliki celah. Ia menyadari bahwa selama ia tinggal di rumah yang sepenuhnya dikendalikan oleh sistem Pramoedya, Abi tidak akan pernah benar-benar aman.
Adrian sangat murka saat mengetahui hal ini. Ia menyadari bahwa membiarkan Abi dalam pengawasan dewan sama saja dengan menyerahkan domba ke mulut serigala.
Malam itu, di bawah kerlip lampu Jakarta yang terasa mencekam, Adrian dan Arumi duduk di kamar Abi, melihat putra mereka yang tertidur lelap dengan napas teratur.
"Aku akan mengundurkan diri sebagai CEO, Arumi," bisik Adrian tiba-tiba.
Arumi terkejut. "Mas, apa maksudmu?"
"Aku akan mundur untuk sementara waktu. Aku akan menunjuk profesional luar yang netral untuk mengelola operasional harian. Dengan begitu, aku tetap memiliki saham pengendali, tapi dewan tidak punya hak lagi untuk mencampuri urusan domestik kita dengan alasan 'kesibukan CEO'.
Kita akan pindah ke rumah kecil kita sendiri. Tanpa pelayan dari dewan, tanpa mata-mata."
"Tapi Paman Bram akan menganggap ini sebagai kemenangan," ujar Arumi cemas.
"Biarkan dia berpikir begitu. Biarkan dia sibuk bertarung dengan CEO profesional yang tidak punya keterikatan emosional dengannya.
Sementara itu, aku akan fokus membangun perusahaan rintisanku sendiri dari nol, dan kita akan membesarkan Abi sesuai cara kita."
Adrian menatap Arumi dengan tatapan yang kini jauh lebih jernih daripada saat mereka pertama kali menandatangani kontrak pernikahan. "Aku sudah bosan menjadi bayang-bayang ayahku, Arumi. Aku ingin menjadi ayah yang diinginkan ibuku dalam surat-suratnya."
dengan langkah berani. Adrian menyerahkan surat pengunduran dirinya kepada dewan komisaris keesokan paginya, menciptakan kegemparan yang luar biasa. Namun, saat ia melangkah keluar dari gedung Pramoedya Tower, ia tidak lagi merasa berat. Ia menjemput Arumi dan Abi, lalu mereka berkendara menuju rumah baru mereka yang lebih sederhana, jauh dari sorotan kamera dan intrik menara gading.
Akar mereka kini benar-benar menghujam di tanah yang mereka pilih sendiri, bukan di tanah yang dipaksakan oleh nama besar keluarga. Namun, mereka tidak tahu bahwa Paman Bram sudah menyiapkan serangan sabotase ekonomi terakhir yang akan menguji apakah "perusahaan rintisan" Adrian bisa bertahan tanpa bantuan nama besar Pramoedya.