Sheila Maharani hanya ingin hidup tenang sebagai karyawan baru yang kalem dan setia pada kekasihnya, Malik. Namun, impian itu hancur saat ia membuka pintu ruang CEO dan menemukan Jeremy Nasution—kakak tingkat masa kuliah yang dulu mengejarnya secara ugal-ugalan—kini menjadi bosnya.
Jeremy yang percaya diri maksimal (PD mampus) tidak membiarkan Sheila lari untuk kedua kalinya. Di antara tumpukan berkas properti dan aroma siomay kantin, Jeremy mulai menyusun strategi untuk merebut hati Sheila kembali.
Bisakah Sheila tetap profesional dan setia pada Malik, atau ia akan menyerah pada "perintah atasan" yang semakin hari semakin tidak masuk akal?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 9
Senin pagi yang seharusnya menjadi awal pekan yang tenang mendadak berubah menjadi medan pertempuran ego di depan pagar rumah Sheila. Sheila baru saja mengunci pintu depan, mengenakan blus broken white yang dipadukan dengan rok pensil berwarna abu-abu tua. Rambutnya diikat rapi, memberikan kesan profesional yang kalem namun tegas.
Begitu ia membalikkan badan dan membuka pagar, napasnya seolah tertahan di tenggorokan.
Di sebelah kiri, Malik sudah standby di atas motor matic hitamnya, mesinnya menderu halus, wajahnya tampak segar meskipun ada gurat protektif di matanya. Di sebelah kanan, mobil SUV mewah Jeremy terparkir gagah, menghalangi sebagian jalan masuk, dengan sang CEO yang bersandar di pintu mobil sambil bersedekap, kacamata hitam bertengger di hidungnya seolah-olah dia sedang berada di lokasi syuting film aksi.
"Astaga, kaget! Kok... kok kalian bisa barengan di sini?" pekik Sheila, matanya beralih dari motor Malik ke mobil Jeremy dengan bingung.
Malik segera mematikan mesin motornya dan turun, menghampiri Sheila dengan langkah mantap. "Aku duluan, Sayang. Ayo, nanti kita kejebak macet di lampu merah depan," ucap Malik sambil mengulurkan helm cadangan ke arah Sheila. Suaranya sengaja dibuat tenang namun penuh penekanan pada kata 'Sayang'.
"Iya, sebentar, ini aku kunci pagar dulu," jawab Sheila sedikit gugup, tangannya gemetar saat memasukkan kunci ke lubang gembok.
"Eh, nggak bisa gitu." Jeremy melangkah maju, memotong jarak. Ia melepaskan kacamata hitamnya, menatap Sheila dengan tatapan otoriter yang dibalut seringai tengil. "Sheila, kamu ada janji sama saya kemarin malam. Ingat? Penjemputan resmi asisten pribadi oleh CEO-nya."
Sheila memutar bola matanya, rasa dongkol yang kemarin sempat luntur di Bogor kini kembali meluap. "Siapa yang janji sih, Pak? Saya nggak pernah bilang 'iya'. Itu kan cuma klaim sepihak Bapak saja. Saya bareng pacar saya saja. Ayo, Malik!"
Sheila dengan sengaja mengabaikan Jeremy dan melangkah menuju motor Malik. Ia menerima helm itu, namun baru saja hendak memakainya, tangan Jeremy menahan pergelangan tangan Sheila dengan lembut tapi kuat.
"Sheila Maharani," suara Jeremy merendah, mode 'Bos' nya aktif. "Rapat jam delapan pagi ini sangat krusial. Kalau kamu naik motor, rambut kamu bakal berantakan, baju kamu bakal bau asap knalpot, dan yang paling penting... aku butuh kamu buat baca ulang draf anggaran di dalam mobil. Itu tugas kantor. Kamu mau denda penalti kamu bertambah karena membangkang perintah atasan?"
Malik yang melihat tangan Sheila dipegang, langsung menepis tangan Jeremy dengan tegas. "Tolong ya, Pak. Ini di luar jam kantor. Sheila masih punya hak buat milih mau berangkat sama siapa. Jangan bawa-bawa denda terus, nggak elegan."
Jeremy tertawa hambar, menatap Malik dari ujung kaki sampai ujung kepala dengan pandangan meremehkan. "Elegan? Elegan itu kalau kamu bisa kasih kenyamanan buat pacar kamu, bukan bikin dia kepanasan di atas aspal setiap pagi. Sheila itu aset perusahaan saya, kenyamanan dia adalah prioritas saya."
"Kenyamanan itu soal hati, Pak, bukan soal AC mobil," balas Malik telak, membuat Jeremy terdiam sejenak dengan rahang yang mengeras.
Sheila berdiri di tengah-tengah dua pria yang sedang saling melempar tatapan tajam itu. Ia merasa seperti ditarik oleh dua gravitasi yang berbeda. "Cukup! Kalian berdua ini kayak anak kecil tahu nggak!"
Sheila menatap Jeremy dengan tajam. "Pak Jeremy, aku bakal sampai di kantor sebelum jam delapan. Aku janji. Tapi aku berangkat sama Malik. Urusan draf anggaran itu bisa aku kerjakan begitu aku duduk di meja aku. Sekarang, tolong pindahkan mobil Bapak karena menghalangi jalan motor Malik."
Jeremy menyipitkan mata, merasa harga dirinya sedikit terusik karena ditolak di depan "rival"-nya. "Kalau kamu telat satu menit saja, Sheila..."
"Aku nggak akan telat! Ayo, Malik, jalan!" Sheila langsung naik ke boncengan motor Malik dan memakai helmnya dengan cepat.
Malik menyalakan mesin motornya, memberikan anggukan kecil yang provokatif ke arah Jeremy sebelum memutar gas. Motor matic itu melaju gesit menyelip di antara mobil Jeremy dan pagar, meninggalkan sang CEO yang berdiri mematung di pinggir jalan dengan kepulan asap tipis.
Jeremy menendang kerikil di bawah sepatunya dengan gemas. "Sial. Dia bener-bener lebih milih motor butut itu?" gumamnya sendiri. Ia segera masuk ke mobilnya, membanting pintu, dan memacu mesinnya untuk membuntuti motor mereka dari belakang.
Sepanjang perjalanan menuju kantor, Sheila merasa seperti sedang dikawal oleh pengawal kepresidenan. Bedanya, pengawal ini sangat menyebalkan. Mobil SUV Jeremy terus-menerus berada tepat di belakang motor Malik. Setiap kali Malik mencoba menyalip, Jeremy ikut memepet.
"Malik, dia ngikutin kita ya?" tanya Sheila sambil melirik kaca spion motor.
"Biarkan saja, Shei. Dia cuma mau pamer. Pegangan yang erat ya, aku mau lewat jalur tikus yang nggak mungkin bisa dilewati mobil gedenya itu," ucap Malik dengan nada penuh kemenangan.
Malik membelokkan motornya ke sebuah gang sempit di daerah pemukiman padat. Jeremy yang melihat itu terpaksa menginjak rem mendadak karena mobilnya terlalu lebar untuk masuk. Dari dalam mobil, Jeremy memukul setir dengan kesal.
"Licik!" teriak Jeremy di dalam kabin mobil yang kedap suara.
Sepuluh menit kemudian, motor Malik sampai di depan lobi kantor lebih cepat dari biasanya. Sheila turun dengan perasaan lega.
"Makasih ya, Malik. Kamu beneran pahlawan pagi ini," ucap Sheila sambil mengembalikan helm.
"Sama-sama. Semangat ya 'perang'-nya di dalam. Aku tunggu kabar kamu nanti siang," Malik mengecup kening Sheila sekilas—sengaja dilakukan karena ia melihat mobil SUV Jeremy baru saja berbelok masuk ke area lobi.
Jeremy yang baru sampai langsung keluar dari mobil dengan wajah yang merah padam. Ia melihat adegan kecupan kening itu dan merasa hatinya seperti diremas-remas kertas dokumen.
"Sheila! Masuk! Rapat lima menit lagi!" teriak Jeremy dari kejauhan, suaranya menggelegar sampai membuat beberapa karyawan lain menoleh.
Sheila memberikan lambaian terakhir pada Malik, lalu berbalik menghadapi sang naga. Ia berjalan melewati Jeremy dengan langkah anggun dan wajah kalem andalannya.
"Selamat pagi, Pak Jeremy. Saya sudah sampai sebelum jam delapan. Saya tunggu di ruang rapat ya," ucap Sheila tanpa dosa, lalu melenggang masuk ke dalam lift meninggalkan Jeremy yang masih berdiri dengan napas memburu.
Begitu pintu lift tertutup, Sheila menyandarkan punggungnya dan membuang napas panjang. "Baru jam delapan pagi dan aku sudah merasa butuh libur lagi," gumamnya.
Namun, ia tahu, di balik pintu lift yang akan terbuka nanti, Jeremy pasti sudah menyiapkan seribu satu cara untuk kembali "menyandera"-nya. Dan benar saja, begitu pintu lift terbuka di lantai 25, Nilam sudah berdiri di sana dengan wajah panik.
"Shei! Gawat! Si Bos ngamuk di grup manajer gara-gara terjebak macet dan katanya asistennya 'diculik' pakai motor! Kamu diapain aja tadi?" bisik Nilam heboh.
Sheila hanya tersenyum tipis. "Biasa, Lam. Drama pagi sang CEO tengil. Ayo, kita kerja sebelum dia bener-bener meledak."